200 baris pertama.
Halo, para junior favoritku.
Besok adalah awal dari Akhir Pekan Pra-Ospek...
Tempat mahasiswa yang baru diterima berkunjung...
Untuk merasakan Pengalaman pertama di Essex.
Menyenangkan sekali. Aku takkan lupa Pekan Pra-Ospek.
Tuan rumahku sangat menyenangkan.
Namun, dia mabuk berat...
Dan aku harus melihat mereka memompa perutnya.
Dan aku mencoba makanan Thailand untuk kali pertama.
Bukan seleraku.
Jika ada di antara kalian yang menjamu calon mahasiswa baru...
Tolong bertanggung jawab dengan mereka.
Sekadar informasi, kami menjamu satu orang.
Tunggu, benarkah?
Ya, itu temanku dari rumah. Namanya Priya.
Dia kutu buku India yang manis.
Aku baru saja mengirim foto lama kami ke utas kita.
Sial, jangan ada yang memperbesar. Itu membuatku sedih.
Bela, demi kebaikanmu, jangan kirim foto seperti itu.
Baiklah, tapi bersikap baiklah kepada Priya.
Dia selalu menghormatiku seolah-olah aku kakaknya yang keren.
Kau lebih keren darinya saat foto ini diambil?
Jelas.
Jangan membesar-besarkan ini, tapi ayahku...
Mengirim pesan bahwa dia mengajak sepupuku ke kampus...
Untuk Pekan Pra-Ospek.
Dan aku memutuskan untuk melela kepadanya.
- Benarkah? - Ya.
- Luar biasa. - Ya, aku siap. Sudah waktunya.
Mungkin kau bisa melakukannya dengan cara yang menyenangkan.
Sepupuku mengusulkan menggunakan flash mob panti jompo.
Itu lambat, tapi menyentuh.
Ya, kurasa aku akan memberitahunya...
- Dengan kata-kata. - Ya.
Aku muak merahasiakan ini.
Aku juga punya rahasia.
Astaga! Kau juga gay!
Apa? Tidak.
Tidak, aku bercinta dengan Andrew.
- Apa? Pria biokimia itu? - Benarkah?
Tunggu, bukankah kalian saling membenci?
Ya, dia menyebalkan.
Namun, dia juga punya otot lengan kejutan rahasia.
Namun, itu hanya sekali.
Meniduri rekan labku terlalu rumit.
Baiklah, astaga, itu Priya.
Semuanya, berhenti membicarakan seks.
Telinga kecilnya yang norak tak bisa mengatasinya.
Bicarakan Microsoft Excel.
- Bela. - Priya.
- Senang bertemu denganmu! - Hebat!
Aku bahkan tak mengenalimu. Kau menjadi seksi dan punya payudara.
Masuklah!
Aku senang kau masuk ke Essex.
Ini tempat yang pasti ingin kau kunjungi.
- Perpustakaan. - Hentikan.
Teman-temanmu akan berpikir aku pecundang.
Suatu musim panas, Priya menghabiskan banyak waktu membaca...
Hingga dia mengidap penyakit yang disebut bungkuk remaja.
Dia harus memakai penyangga.
Aku membuatnya terlihat keren.
Kau akan suka Essex.
Ini seperti tempat terbaik di dunia.
Aku sangat senang berada di sini.
Ini sebenarnya malam pertamaku jauh dari rumah.
Benar, kau tak diizinkan melakukan apa pun di SMA.
Kita harus selalu menginap di rumahmu.
Ingat saat kawat gigimu tersangkut di selimut rajut...
Dan kau menangis tersedu-sedu sampai muntah?
Kurasa kita tak perlu menceritakan kisah itu kepada teman-temanmu.
Aku akan melihat-lihat ke dalam gedung.
Ya.
- Dia tampak hebat. - Setuju.
Dia sangat keren.
- Tunggu, bahkan menurutmu dia keren? - Astaga, ya.
Dia punya gaya yang bagus, rambut indah...
Aura media sosial yang bagus tanpa terlihat berusaha keras.
Dia sangat keren.
Kau butuh berbulan-bulan untuk menyebutku keren.
Aku pernah menyebutmu keren?
Kurasa aku tak pernah mengatakan itu.
Aneh, aku merasa kau sering mengatakannya.
Kimberly, Jackson datang.
- Bagaimana penampilanku? - Siapa peduli? Bagaimana denganku?
Hei, aku ingin memesan kopi ala Kimberly.
Apa itu ala Kimberly?
- Ekstra panas. - Sial.
Sebenarnya kami harus menyajikan semua kopi dengan suhu standar...
Karena gugatan baru-baru ini.
Tak apa-apa. Aku hanya mampir untuk menyapa sebelum kelas.
Sampai nanti.
Sampai jumpa.
Jadi, kau masih bergaul dengan figur aksi, ya?
Jangan ganggu dia.
Aku bangga dengan gadis kita. Dia suka pria seksi.
- Apa maksudnya? - Pertama, Nico.
Sekarang, Petani Long John.
Kau pilih yang berotot dan seksi.
- Bukan hanya karena mereka seksi. - Yang benar saja.
Kau seperti Ruth Bader Ginsburg...
Tapi kau suka pria seksi.
Tak apa-apa jika sedikit dangkal.
- Aku tak dangkal. - Tak apa-apa.
Aku suka saat orang hanya menyukaiku karena penampilanku.
Itu sering terjadi.
Baik, sebutkan satu kesamaanmu dengan pria itu.
Kami berdua...
Lahir saat musim dingin.
Itu jawaban yang buruk.
Baik, mungkin aku belum tahu apa kesamaan kami...
Tapi aku akan menemukannya, ya?
- Astaga. - Astaga.
- Baiklah. - Baiklah, ini mulai memanas.
Kusarankan semua orang mengambil rehat tanpa bayaran.
Rehat tanpa bayaran!
Aku manajer yang hebat.
Astaga, Ayah suka kampus ini!
Bagus sekali di sini.
Aku senang kita sempat mengobrol.
Hanya saja ibumu dan Ayah...
Sedang melalui masa sulit...
Masalah dengan kakakmu, kau tahu?
Ya.
Lalu yayasannya sedang diselidiki oleh Jaksa Wilayah...
Jadi, dia bisa terkena masalah besar.
Ayah tak mau dipenjara karena itu. Tak akan.
Selain itu, tolong jangan beri tahu siapa pun soal ini...
Tapi transplantasi rambut Jepangnya tak berhasil...
Jadi, dia punya pitak kecil.
Namun, berpura-puralah tak menyadarinya.
- Banyak sekali. - Banyak sekali.
Namun, itu sebabnya Ayah senang berada di sini.
Jadi, ada apa denganmu?
Aku?
Tak ada.
- Sungguh tak ada. - Tak ada?
Tidak, tak ada. Hanya hal yang sama.
Hei, Andrew.
Kurasa kita perlu bicara soal tempo hari.
Ya, aku sudah berpikir, dan kita tak boleh bertemu lagi.
Itu tak sepadan bagiku.
Tunggu, maksudmu tidur denganku tak sepadan bagimu?
- Ya. - Apa kau tak melihat...
Betapa lebih seksinya aku darimu?
Dengar, aku sudah menghitung dan aku tiga persen lebih produktif...
Tanpamu sebagai pengalih perhatian.
Apa yang mengalihkan perhatianku?
Pertama, kau memakai rok ke lab...
Padahal seluruh kaki harus tertutup andai ada tumpahan bahan kimia.
Namun, kau malah...
Pengalih perhatian?
Sial.
Aku takkan bilang aku selebritas kampus...
Tapi tentu, kurasa orang lain akan bilang begitu.
Hei, kau Priya, 'kan?
- Ya. - Aku Graham.
- Hai, Graham. - Oh, seperti biskuit...
- Berengsek. - Sial, maafkan aku.
Aku tak melihatmu di sana...
Aku bahkan tak tahu ada orang lain di sini.
Beberapa dari kami merencanakan pesta di hutan...
Seperti api unggun dan semacamnya, jika kau mau datang.
Ya, aku belum pernah ke pesta seperti itu.
Kedengarannya sangat menyenangkan. Temanku boleh ikut?
Ini temanmu?
Kukira dia akuntanmu atau semacamnya.
Namun, jika itu artinya kau akan datang, tentu, ajak dia.
- Sebenarnya, kami sudah ada rencana. - Maaf. Benarkah?
Ya, asrama kami mengadakan pesta besar.
Itu akan besar! Kau tak berpikir aku akan mengundangmu ke kampus...
Dan tak menunjukkan seberapa keras kami berpesta, 'kan?
- Baiklah. Maafkan aku. - Tak apa-apa.
Ya, para pria selalu mengundangku ke pesta.
Aku hampir tak ingat semua undangannya.
Kita mengadakan pesta malam ini, dan itu harus bagus.
Namun, aku sudah punya rencana untuk menyelesaikan papan visiku.
Akhirnya aku menemukan foto AOC bermain catur.
Kau bisa melupakan itu, karena kita harus menunjukkan kepada Priya...
Betapa kerennya aku dengan mengadakan pesta.
- Tunggu, di mana Priya? - Di acara Pra-Ospek...
Yang memberi kita waktu untuk membereskan tempat ini.
Tunggu, kenapa kau stres?
Bukankah Priya mengagumimu?
Dulu, sebelum wajahnya bersih...
Dan tumbuh payudara sempurna dengan bokong indah.
Apa dia cukup dewasa bagimu untuk membicarakannya seperti itu?
Seorang pria tampan baru saja menggodanya di depanku...
Dan menegaskan bahwa aku sama sekali tak membuatnya ereksi.
Seolah-olah mahasiswa telah menjadi dosen.
Bukankah itu bagus? Bukankah itu yang diinginkan dosen?
Tidak. Dosen ingin mahasiswa jatuh cinta kepada mereka...
Dan memuja mereka selamanya.
- Tidak. - Kurasa tidak.
Kenapa persetujuan Priya sangat penting bagimu?
Karena dia dulu berpikir aku yang terbaik...
Dan itu membuatku merasa baik tentang diriku.
- Aku tak mau kehilangan itu. - Ya, aku mengerti.
Baik, kita harus pastikan ada banyak minuman keras...
Dan ramai. Leighton, ayahmu masih di sini?
Bisakah dia membelikan kita banyak barang mahal?
No comments yet. Be the first to leave one.