200 baris pertama.
Alih Bahasa Oleh : Ry@Di, Samarinda, 11 Maret 2016.
Original English by : Black December.
"Hong Kong Tahun 1959."
"Putra sulung Ip Man menempuh pendidikan di Foshan."
"Ip Man besrta istri dan putra bungsunya menetap di Hong Kong."
"Dia mengajar Wing Chun, mengembangkan seni bela diri."
Guru Ip
Selamat pagi!
Pagi sekali kau datang?
Guru Ip, ini aku.
Kau tidak mengenalku?
Aku Siu Long (Bruce Lee).
Waktu kecil aku ingin belajar ilmu bela diri padamu.
Guru bilang tunggu aku dewasa dulu.
Sekarang aku sudah pantas jadi muridmu.
Mengapa aku harus menerimamu?
Karena aku akan jadi muridmu yang terbaik.
Mengapa kau begitu yakin?
Karena aku sangat cepat.
Seberapa cepat?
Kurang cepat, Nak.
Bisakah lebih cepat lagi?
Lumayan.
Tapi apa kau sungguh-sungguh menedang air itu
atau kau pikir sudah menendangnya?
Licorice, licorice.
SEKOLAH DASAR CHI
Ayo, ada yang berkelahi!
Ayo! Ayo!
Ayolah.
Cheung Fong dari Wing Chun.
Ip Ching dari Wing Chun.
Hentikan! Berhenti berkelahi.
Sudah ku bilang, kalian berdua jangan berkelahi.
Bikin masalah saja. Ini bukan yang pertama kalinya.
Pecahkan kulitnya, pisahkan kuning telurnya.
Untuk apa cincinnya?
Orang tua bilang perak bisa
mengurangi bengkaknya.
Jadi, kenapa kau berkelahi?
Itu selalu karena meributkan kungfu siapa yang paling baik.
Seharusnya aku mengawasi mereka.
Benar-benar deh, mereka sampai bengkak-bengkak begini.
Itu salah Ching. Dia nakal sekali.
Jadi, di mana ayah anak ini?
Cheung Fong masih baru di sini.
Ayahnya terlambat menjemputnya.
Fong, apa kerja ayahmu?
Apa dia selalu sibuk?
Penarik becak.
Maaf, maaf.
- Maaf, Nona Wong. - Guru Ip.
Aku sibuk sekali di sekolah kungfu-ku
jadi aku terlambat.
Coba ku lihat.
Ah Ching, soal apa ini?
Kedua bocah ini sama-sama bersalah.
Jadi aku ingin semua kepala keluarga hadir.
Benar. Apakah ayah Fong sudah datang?
Aku ingin minta maaf padanya.
Tidak, sama sepertimu dia juga terlambat.
Tak masalah, kerja lebih penting.
Jangan makan itu.
- Kau tak boleh makan itu. - Letakkan itu.
Anak ini lapar.
Nona Wong, bagaimana jika -
kami mengajaknya makan dulu.
Tolong beritahu ayahnya,
- Oke? - Baiklah.
Baiklah, Wing Sing?
Tentu.
Fong, ikut makan bersama kami, oke?
Bawa tas mu.
- Hati-hati ya. - Kami pergi dulu.
Terima kasih.
- Sama-sama, Guru Ip - Maaf sudah merepotkanmu.
- Terima kasih, Nyonya Ip. - Sampai jumpa.
Sampai jumpa.
Ah Fong, makanlah, jangan malu-malu.
Iya, Fong!
Anggap saja rumah sendiri, makanlah.
Ayo makan.
Sayang, ikannya lezat sekali.
Cheung Fong...
Lumayan juga.
Siapa yang mengajarimu?
Ayahku. Kau bisa berkelahi?
Sedikit.
Aku ayah Cheung Fong.
Anakku ada di sini?
Ya, dia di sini.
Senang bertemu denganmu Tuan Cheung.
Silakan masuk.
Fong, ayahmu datang.
Guru.
Murid.
Ceritakan apa yang terjadi hari ini.
Anak-anak nakal dan berkelahi.
Seiring waktu mereka akan belajar.
Kemarilah, Ah Ching.
Murid.
Kau akan minta maaf?
Ah Ching juga bersalah.
Ip Ching, aku minta maaf.
Aku minta maaf, Cheung Fong.
Bersalaman.
Sekarang kalian berteman.
Ku antar kalian keluar.
Aku minta maaf, Tuan Cheung.
Senang bertemu denganmu, Guru Ip.
Aku melihat Fong berlatih dengan orang-orangan kayu.
Dia bagus, dia sudah di latih dengan baik.
Terlalu berlebihan.
Tapi sekarang sudah larut.
Kau harus istirahat.
Sampai jumpa lagi.
Guru.
Paman Ip punya orang-orangan kayu juga.
Kau kenal dengannya?
Ya.
Paman Ip sangat terkenal.
Tapi suatu hari nanti,
aku akan lebih terkenal.
Siapa di antara kalian
yang lebih lihai kungfunya?
Siapa menurutmu?
Tentu saja kau!
Ayo.
Coba ku lihat... Sakit ya?
Tidak.
Baru saja mulai.
Cepat! Cepat!
Bertaruh untuk yang menang.
- Sudah ku bilang, ikuti aku. - Bagus.
Satu persatu!
Makin besar taruhan, makin besar menangnya.
Minggir, beri jalan.
Cheung Tin Chi! Cheung Tin Chi! Cheung Tin Chi! Cheung Tin Chi!
Apa kabar?
Ayo, ayo.
Kakak Sang, kakak Sang.
- Boss datang. - Apa?
Boss sudah datang.
Lumayan, Nak.
Ayo.
Yang keras, lebih cepat.
Hei boss.
Ayo.
- Tunggu di sini, aku akan kembali. - Oke.
Boss!
Jangan khawatir,
semua aman dan terkendali.
Uang hasil dua minggu.
- Bukalah. - Oke.
Kerjamu bagus.
- Terima kasih. - Bagaimana urusan yang lain itu?
Sekolah Dasar itu?
Tak masalah. Beri aku satu bulan.
Tidak. Dua minggu.
Ayolah...
Baik, aku suka tantangan.
Sepakat denganmu.
Ingat, aku ingin sekolahan itu.
Urusan yang lain aku tak peduli.
Ya. Aku paham.
Kungfu apa itu?
Wing Chun.
Sangat kuat.
Para ahli bela diri kemari setiap hari.
Kami ngobrol, minum teh...
Setiap sekolah punya meja masing-masing.
Guru Tin.
- Guru Chan, sedang naik daun - - Guru Tin.
Dia punya banyak murid.
Guru Chan.
Meja ini yang paling hebat...
terbaik dari yang terbaik.
Ini mejaku.
Guru Tin.
Bercanda.
Juara yang sesungguhnya duduk di sini...
Itu meja Wing Chun.
Guru Tin.
Ah Lik, di mana gurumu?
Itu dia.
Guru Ip.
Guru Tin, kau sudah makan?
Belum, kau yang traktir?
Tentu saja!
Kau sudah kenal Guru Ip?
- Guru Ip, halo. Aku Lee. - Apa kabarmu?
- Tuan Lee. - Halo.
Lee seorang wartawan, dia antusias sekali
menulis tentang ilmu bela diri.
Dia juga suka mengambil gambar.
- Bagus. - Kau tak masalah, Guru Ip?
- Tentu saja. - Terima kasih banyak.
- Guru Lee, di sini. - Baiklah.
- Ip Man, duduk di tengah. - Tidak, tidak.
- Itu kursimu. - Tidak, ayolah.
No comments yet. Be the first to leave one.