200 baris pertama.
Translate By Zambronk_lah
Mimpi yang berbunga dan sakit hati yang dalam
Masuk kedalaman jiwa aliran sungai kehidupan
Ketika sebuah gunung besar menghadang didepan
Membelah tebing - tebing melalui bebatuan
Tak terbendung
Tak pernah ada habisnya memberikan kehidupan
Ini bernama sungai kehidupan
Dewa Siwa!
Untuk semua dosa yang kuperbuat, silahkan Ambil nyawaku...!
Tapi anak ini harus tetap hidup.
Dia harus hidup demi ibunya yang menunggunya...
Ia harus hidup untuk naik tahta Mahishmathi...
Mahendra Baahubali harus hidup!
Astaga!
Hey! mengapa diam saja? Cepat!
Hey! Hati-hati!
Apa yang terjadi?/ Aku tak tahu, tuan.
Dilihat dari perhiasannya dia mungkin seorang Ratu atau Puteri.
Dia meninggal dengan tangan mengarah ke atas!
Tuan!
Apa yang terjadi?
Mereka pasti datang untuk membunuhnya.
Sepertinya wanita itu lebih hebat dari mereka.
Tuan!
Astaga! Gua!
Kita tak pernah tahu disini ada Gua!
Sepertinya ini jalan menuju puncak gunung!
Jika wanita ini tangannya menunjuk ke atas,
Mungkin dia ingin kita mengantar bayi ini ke sana!
Apa kau gila?
Mereka mengirim pasukan untuk membunuh bayi ini!
Bagaimana nasib bayi ini ....
Jika dikembalikan kesana!/ Tapi, Sanga ..
Ini adalah anakku.
Aku tak punya anak dan Dewi sungai memberi anak ini padaku.
Jika kalian ada yang tak setuju, Aku akan mematahkan lehernya.
Kalian tunggu apa? Tutup guanya.
Siwa!
Shiva!
Kau sedang apa disini, Nak?
Ibu, disana ada apa?
Disana ada hantu dan setan.
Mereka berburu dan memangsa anak kecil!
Tapi aku ingin ke sana, Bu!
Jangan pernah katakan itu! Ayo!
Berapa kali Ibu bilang jangan pernah memanjat kesana, kan?
Mengapa kau tak patuh?
Anakku sayang, jangan kau lakukan lagi, ya?
Sepertinya dia akan berhasil kali ini.
Tidak mungkin! lihatlah airnya!
Itu berasal dari awan.
Dan berapa kali ia jatuh saat hampir berhasil.
Ya, dia terjatuh berkali-kali.
Lihat saja! Dia pasti akan jatuh lagi.
Siwa!
Ibumu sedang mendoakanmu disana!
Dewa Siwa! Dewa Siwa! Dewa Siwa! Dewa Siwa!
Sudah lima belas!
Tinggal 101 lagi dan doamu akan dikabulkan!
Guru, jika aku melakukan ini anakku akan mendengarkanku, kan?
Apa ia akan berhenti menaiki gunung itu?
Tentu saja! Ini adalah ritual yang kuat!
Tuang air ini pada Siwa dengan segenap hatimu...
Dia akan membimbing anakmu ke jalan yang benar.
Baiklah, Guru!./ Salam Dewa Siwa!
Ibu, sudah tidak muda lagi, kan?
Kau akan sakit jika terlalu banyak bekerja!
Minggir!/ Ibu, tolong dengarkan aku!
Mengapa? apa kau pernah mendengarkan Ibu?
Ayah, tolong katakan pada Ibu untuk berhenti!
Sanga?/ Apa?
Dimana bunganya?/ Ayah! Ayah!
Lepaskan!
Baiklah, aku yang akan melakukannya, Ya?
Tidak! Dewa Siwa takkan menerimanya.
Orang yang berdoa yang harus melakukannya!
Guru, lanjutkan kegiatanmu./ Salam Dewa Siwa!
Ibu./ Apa lagi?
Aku akan menggendong Ibu.
Dan Ibu bisa menuangkan air pada Dewa Siwa? Ya?
Tidak! Dewa Siwa takkan menerimanya.
Orang yang berdoa yang harus melakukannya!
Dan dia harus berjalan untuk melakukannya!
Guru, apa kau dan Dew Shiwa berencana untuk membunuh ibuku?
Bagaimana aku tahu apa yang direncanakan Dewa Siwa?
Dewa Siwa!
Sanga!
Lihat yang diperbuat anakmu sekarang!
Apa yang ia perbuat kali ini!
Siwa, berhenti!
Kau akan masuk neraka karena perusakan ini! Siwa, berhenti!
Siwa.
Siwa, tunggu.
Sungai mengalir bergerak melintasi rambut kusutnya
Yang membuat kepalanya bersinar dengan gelombang air yang lembut
Dan Dahinya bersinar bagaikan kobaran api
Bulan sabit menghiasi kepalanya
Membuat diriku semakin menyukainya
Siapa dia dan dari mana asalnya?
Dia membawa cahaya abadi bersinar di mana-mana
Lengannya yang kuat dapat mengubah gelombang sejarah
Sungai Bhagirathi lihatlah sendiri Dewa Siwa datang mendekatimu
Dia berjalan sendiri dengan menggotongnya
Siapa yang tak suka saat berada disisinya
Dengan tampang yang penyayang dia menghilangkan kesulitan
Membuat diriku semakin lama semakin menyukainya
Dengan permata berkilau Pada tombak yang digenggamnya
Dia bagaikan mempelai pria yang siap menghiasi mempelai wanita
Dengan menggunakan bahu yang kuat bagai belalai gajah
Membuat pikiranku tenang yang sedang diganggu setan
Ibu!
Bukan hanya seribu kali Dewa akan mandi.
Dia akan mandi selamanya. Ibu, senang sekarang?
Ya ..
Guru, doaku dikabulkan seperti prediksimu!
Anakku tak pernah memanjat sejak kejadian itu.
Apa kau meragukan kekuasaaan Dewa Siwa?
Tapi sekarang dia duduk menatapi topeng kayu...
...yang jatuh dari atas tepat dihadapannya.
Sekarang bagaimana?
Dewa Siwa bekerja dengan cara yang tak diduga.
Hanya dia yang tahu.
Aku ragu karna anakku memastikan Dewa Siwa mandi selama-lamanya...
Akankah keinginannya mendaki gunung akan terwujud
Atau keinginan Sanga yang akan terwujud?
Persetan dengan keraguanmu. Anakku melakukannya demi diriku!
Keinginanku akan terpenuhi. Benar kan Guru?
Dewa Siwa melakukan apa yang dia inginkan. Salam Dewa Siwa!
Salam Dewa Siwa!
Apa katanya?
Siwa!
Sampai kapan kau akan memegang topeng kayu itu?
Ada seseorang di atas sana.
Mungkin ada, tapi ibumu memanggilmu.
Mari kita pulang./ Duluan saja, aku nanti menyusul.
Mari pulang.
Siapa kau? Mengapa kau datang padaku?
Hatiku tersesat
Bagai hilang ditelan ombak
Cuma diriku mata yang bersinar di tengah-tengah bintang
Cuma diriku yang bernyanyi di tengah-tengah air terjun
Dengarkan suaraku yang menggema
Dengan keberanian dirimu pasti akan berhasil
Kau melompat lebih tinggi meraih dahan dengan pasti
Dengan keberanian dirimu pasti akan berhasil
Kau melompat lebih tinggi meraih dahan dengan pasti
Aku bernapas untukmu
Hanya untukmu
Kemarilah dan kita akan hidup bersama
Akan kuberitahu dirimu sesuatu
Aku memilihmu sebagai belahan jiwaku
Walau aku terjatuh aku bangkit dan mengejarmu
Karna hembusan angin tiba-tiba aku berhenti tanpa alasan
Aku akan menghancurkan semua gunung dalam waktu sekejap
Dia kuat dan tak ada musuh seimbang yang bisa melawan
Kemurkaanya akan membuat musuhnya semakin khawatir
Dia kuat dan tak ada musuh seimbang yang bisa melawan
Kemurkaanya akan membuat musuhnya semakin khawatir
Kau telah datang dengan sendirinya
Dengan membawa hadiah cinta
Bicaralah dan aku bersumpah
Akan kuserahkan hidupku padamu
Mendaki puncak yang tak mungkin, darahnya mengalir bagai anak sungai
Tubuhnya kokoh bagai senjata Dunia merasa takjub padanya
Serangan darat dan udara tak bisa menang melawan semangat juangnya
Seorang prajurit bengis akan berubah menjadi berhati lembut
Membunuh ketakutan tanpa rasa lelah
Berjuang tanpa henti tapi tetap tenang
Membunuh ketakutan tanpa rasa lelah
Berjuang tanpa henti tapi tetap tenang
Membunuh ketakutan tanpa rasa lelah
Berjuang tanpa henti tapi tetap tenang
Dengan keberanian dirimu pasti akan berhasil
Kau melompat lebih tinggi meraih dahan dengan pasti
Dengan keberanian dirimu pasti akan berhasil
Kau melompat lebih tinggi meraih dahan dengan pasti
Dengan keberanian
Hei, prajurit. Mendekatlah!
Hei, tampan. Kau adalah milikku
Hey!
hEy! berhenti!
Berhenti!
Di sana!
Kasi!
Ini perangkap. Bunuh mereka semua!
Astaga!
Dari mana kau mendapatkan ini?
Salah satu orangmu menyelinap ke kerajaan.
Dia mencoba menyelamatkan Devasena. Kami membunuhnya.
Ini diikat ditangannya. Aku mengambilnya dari dia.
Aku tak tahu apa-apa lagi.
Ampuni aku! ampuni ..
Bakar semua mayat, jangan tinggalkan jejak.
Dilip juga telah mati syahid, ketua!
Jangan biarkan air mata keluar dari matamu.
Raksasa dari Istana itu telah mengurung Ratu kita...
...dan merantainya di tengah kota.
Ratu kita Devasena diperlakukan seperti sapi yang dipertontonkan.
Kebanggaan dan kehormatan kita terluka dan kita sudah lama menderita.
No comments yet. Be the first to leave one.