200 baris pertama.
'Aku mencintaimu!'
'Aku mencintaimu!'
'Tuhan mengetahui siapa yang mengucapkan kata-kata ini untuk yang pertama kali.'
'Dan kepada siapa.'
'Kapan pun seseorang mengulang-ulang kata-kata cinta ini...
...orang tak bersalah menjadi terpesona.'
Chandni (Bulan)
Chandni (Bulan)
Chandni (Bulan)
Bergegaslah! Nanti kerjaannya tidak selesai-selesai!
Dan loteng atas masih belum didekorasi!
Hati-hati!
Dengar! Tenda ini masih belum beres!
Semua akan beres! Bunga-bunga di sini!
Di sini akan dihiasi bunga-bunga!/ Ok!
Tempat lilin akan ditaruh di tengah-tengah!
Jangan merusak bunganya! Kalian ngapain?
Ayo, cepat!
Lampu bohlam akan ditaruh di sini.
Dan rangkaian bunga di sana.
Kau bawa bunga-bunganya, berikan padaku kunyitnya.
Aku oles dengan tangan sendiri.
Oia, hari ini kakak datang!
Kau suruh seseorang ke stasiun?
Aku sudah suruh Anand.
Tebak siapa ini! Siapakah aku?
Orang yang tak bisa dilihat di siang bolong.
Anak kesayanganku... Chandni!
Apa rahasianya kau bisa mengenalku dengan mudah, Bibi?
Nak!
Selama seorang gadis belum menikah...
...dia mudah dikenali.
Dan saat ia sudah menikah, maka...
...keluarganya yang tidak dikenali.
Aku kemari untuk pernikahan Neelu.
Dan kau di sini merencanakan pernikahanku.
Aku tidak mau nikah.
Sesudah menyusun rangkaian bunganya...
...taruh tempat lilinnya.
Dan...
Apa kabar, Bibi?
Aku baik, tapi mengapa kau tidak sabaran?
Apa?/ Kau sudah diolesi kunyit.
Kami juga harus menikahkanmu?
Aku tak mau menikah!/ Chandni!
Apa kabar?/ Baik.
Tuhan melindungimu!
Mana Neelu?/ Lantai atas! Di kamarnya!
Kak Ipar, tak bisakah datang 4 hari lebih awal?
Mau gimana lagi, Manju! Pekerjaanku banyak.
Ya, pekerjaan.
Dia juga harus dapat He should get a leave too.
Kau selalu banyak alasan.
Chandni! Oh bulanku!/ Lepaskan!
Dari jadi adik, kau telah jadi tamu.
Kau datang pas H-2.
Akan kujawab keluh kesahmu kalau kau lepasin aku.
Kenapa kau tahan baju kotorku?
Cahaya bulan mana bisa kotor.
Astaga! Ledakan apa tadi?
Itu bukan ledakan. Itu cara dia datang ke rumah.
Siapa sih lelaki perusuh itu?
Sahabatnya Kak Anand, Rohit.
Siapa yang mengikat tenda ini begitu longgar!
Tuan, aku yang mengikatnya.
Kau?/ Ya.
Kau pasang tenda kotor ini...
...untuk pernikahan saudarinya Rohit Gupta?
Kini Anda takkan melihat tenda ini dimanapun, Tuan.
Takkan terlihat! Cepat ganti!
Ganti semua! Cepat! Kemarilah!
Pengantar bunga sudah datang?
Neelu! Neelu, lihat apakah koperku...
...sudah di lantai atas atau belum!
Tolong ambilkan pakaianku!
Kita tak berjumpa selama setahun!
Makanya tingkahmu begitu malu-malu.
Kini pakaianku pakaianmu juga!
Yey!
Di mana Chandni?
Aku tak tahu dia keluyuran ke mana!
"Aku memakai sembilan gelang."
"Sayang, tunggu. Aku tak berdaya."
"Aku memakai sembilan gelang."
"Sayang, tunggu. Aku tak berdaya."
"Masih ada satu malam lagi untuk kebersamaan kita."
Aku kedinginan, makanya aku menghangatkan tangan.
Ngehangatin tangan apa melihat dia?
"Sayang, tunggu. Aku tak berdaya."/ Sana, pergi!
"Di malam yang panjang."
"Mengapa gelang-gelang berdentingan di tanganku?"
"Di malam---
"Di malam yang panjang."
"Mengapa gelang-gelang berdentingan di tanganku?"
"Jangan terpengaruh oleh gelangku."
"Di malam yang panjang."
"Kawan, undur prosesi pernikahannya."
"Aku takkan pergi bersamamu."
"Undur..."
"Kawan, undur prosesi pernikahannya."
"Aku takkan pergi bersamamu."
"Kawan, kau akan mengusikku semalaman."
"Kawan, undur prosesi pernikahannya."
"Aku takkan pergi bersamamu."
"Jantungku berdebar kencang ketika aku berada di jalanan."
"Ada 8-10 pemuda di belakangku."
"Jantungku berdebar kencang ketika aku berada di jalanan."
"Ada 8-10 pemuda di belakangku."
"Jantungku berdebar kencang ketika aku berada di jalanan."
"Ada 8-10 pemuda di belakangmu."
"Kepangku tumbuh sampai lututku."
"Mataku memesona."
"Kepangku tumbuh sampai lututku."
"Mataku memesona."
"Ayah, jangan bilang kalau aku masih anak-anak."
"Kepangmu tumbuh sampai lututmu."
"Matamu memesona."
"Hari ini aku bertengkar dengan penjahitku."
"Kuberikan pakaianku untuk dijahit."
"Dan sekarang ini kesempitan."
"Hari ini aku bertengkar dengan penjahitku."
"Kuberikan pakaianku untuk dijahit."
"Dan sekarang ini kesempitan."
"Kau tumbuh begitu cepat."
"Hari ini kau bertengkar dengan penjahitmu."
"Sayang, kau tidak melakukan hal yang tepat."
"Kau menulis namaku di sebuah kertas kosong."
"Kau telah menodai citraku."
"Sayang, kau tidak melakukan hal yang tepat."
"Aku memakai sembilan gelang."
"Sayang, tunggu. Aku tak berdaya."
"Masih ada satu malam lagi untuk kebersamaan kita."
"Aku memakai sembilan gelang."
"Sayang, tunggu. Aku tak berdaya."
"Shava! Shava! Shava! Shava! Shava!"
"Shava! Shava! Shava! Shava! Shava!"
Tahu kenapa lampunya padam?
Supaya ada cahaya yang cukup bagiku untuk melihatmu...
...dan bagimu untuk melihatku.
Ketika Tuhan menciptakanmu... mungkin...
...Dia juga pasti merasa tergoda.
Mungkin kau tak tahu betapa cantiknya dirimu.
Begitu cantik hingga...
...kata 'cantik' adalah kata yang kecil untuk mendeskripsikan kecantikanmu.
Orang-orang berbasa-basi, tapi aku akan ungkapkan yang sebenarnya.
Aku sangat mencintaimu.
Aku ragu apakah ada yang mencintai seseorang begitu besar.
Dan sekarang kau pasti juga jatuh cinta padaku.
Katakan, ya atau tidak?
Kuberitahu satu hal lagi.
Kami orang Delhi tahu caranya menguasai negara dan hati.
Aku pasti akan memenangkan hatimu.
'Di Shahjanpur tidak ada yang bicara seperti ini padaku.'
'Aku dulu anak dari ibu yang biasa saja.'
'Di sana hatiku berdebar biasa saja.'
'Tapi di Delhi debaran jantungku begitu cepat.'
Aku seorang gadis desa yang sederhana.
Ketika waktunya berpisah datang...
...aku meraung begitu keras.
Menangis, kupeluk nenekku dan berkata...
Nek, aku tidak tahu apa-apa.
Apa yang akan terjadi? Bu, aku tak tahu apa-apa.
Chandni, sini! Kamu juga harus dengar cerita ini!
Tak ada guru yang bisa mengajari hal ini di dunia.
Ya, Chandni! Kemari duduk di samping Kak Anand.
Kemari.
Ini.
Bibi, kau tadi menceritakan tentang bulan madumu.
Nak, di zaman kami dulu kamar kami kecil.
Aku bosan duduk di sana.
Lalu pamanmu masuk ke dalam kamar.
Dan hanya aku dan dia di dalam kamar.
Kami berdua orang gila yang bodoh.
Menatapku, dia mencubitku.
Ada apa denganmu?
Dia mencubitku 55 tahun lalu dan hari ini kau berteriak.
Bukan apa-apa! Bukan apa-apa, Bibi!
Bibi, kemesraan baru saja dimulai, katakan ya atau tidak.
Dengar, lalu pamanmu perlahan menggenggam tanganku.
Lepaskan!
Persis seperti itu yang kukatakan!
Lalu apa yang terjadi, Bibi?
Apa lagi? Ia merangkul aku.
Terus terus terus! Jawab aku!
Kutahu kau sangat tidak sabaran.
Tapi kau tahu? Tidak terjadi apa-apa.
Ia memalingkan muka dan tidur.
Aku memalingkan muka ke sisi lain dan tidur.
Itu artinya, Bibi...
Tidak terjadi apa-apa?
Ini berlanjut selama 6 tahun lamanya.
Sesuatu terjadi saat aku berusia 16 tahun.
Dan dia berusia 18 tahun.
Bibi, kita hidup di zaman canggih. Semua serba instan.
Seperti makanan instan, kopi instan, teh instan.
Cinta instan. Ya kan, Kak Rohit?
Ya, kebetulan semua serba instan.
Jika ada sebuah kebetulan kita sebut... perubahan musim...
...tapi musim semi baru saja tiba.
Ya atau tidak?
No comments yet. Be the first to leave one.