200 baris pertama.
Hari ini, putriku, Salish, akan merawat sementara anjing telantar.
Masalahnya, kami tak menyangka
Salish akan secepat itu jatuh cinta padanya.
Dia sempurna.
Keluarga yang mau mengadopsi anjing ini membatalkannya.
Jadi, anjing ini tak punya rumah.
Sekarang aku harus membuat keputusan yang sulit.
Aku sedih jika tak bisa memelihara Moo.
Aku bingung.
Untuk mengetahui akhir cerita ini, kita harus kembali ke awal.
Lauren menuju penampungan untuk mengambil anjing itu.
Aku menyiapkan tantangan membuat kue tanpa melihat dengan Salish.
Dia pikir kami hanya membuat kue,
padahal itu camilan untuk anjing baru itu.
Dia akan pakai headphone peredam bising supaya tak bisa dengar.
Aku pakai penutup mata agar tak bisa lihat.
Kami harus membuat resep ini.
Jordan mengalihkan perhatian Salish selagi kujemput anjingnya.
Lalu aku pulang memberinya kejutan.
Apa kejutannya?
Selesaikan tantangan misteri untuk mengetahuinya.
Langkah pertama membuat camilan ini adalah membuat adonan.
- Siap? - Ya!
Cari oat dan buat tepung oat.
Akan kuhaluskan pisangnya. Jangan sentuh apa pun!
Kita harus bekerja sama. Ini mangkuknya?
- Ayah, stop! - Aduh, maaf.
Ayah kira mangkuknya di situ. Apa yang Ayah haluskan?
Salish!
- Salish tak bisa dengar, ya? - Ya.
Seru sekali.
Salish pasti bakal kaget.
Keseruan merawat anjing sementara
adalah kita bawa anjingnya tinggal bareng
sampai mereka dapat rumah tetap.
- Itu kegiatan hari ini. - Apa?
Tak ada. Ayah tak bicara.
Baiklah.
Anjing ini ditemukan telantar setelah berbulan-bulan hidup di jalanan.
Bulunya sangat kusut,
dan banyak luka di kaki dan bahunya.
Dan juga sangat kurus.
Mereka mencukur bulunya yang kusut,
membersihkan lukanya, dan dia menjalani dua operasi.
Semoga kondisinya sudah membaik.
Semoga anjing ini sehat
dan bisa menikmati minggu seru bersama Salish.
Sekarang, aku mencemaskan kesehatanku karena masak dengan Salish.
Ayah, cobalah. Buka mulut.
Enak?
- Itu labu? - Entahlah.
- Ini untuk apa? - Kita buat camilan kejutan misterius.
Tampak menjijikkan.
Tapi rasanya pasti enak.
Ari, ini makanan paling menjijikkan yang pernah kumakan.
- Menjijikkan. - Mau coba?
Salish, katanya Ari mau coba.
Tidak usah.
Jangan sampai kupecat.
Aduk ini pakai tangan.
Harus pakai tangan?
Salish?
Say dari dulu ingin punya anjing besar.
Husky sangat sulit diadopsi
karena ukurannya besar dan sangat energik.
Tapi kami baru bertemu dan dia sudah manja denganku.
Hudson, ayo cari anjing.
- Kita adopsi. - Tidak.
Setelah seminggu, akan ada keluarga yang mengadopsinya.
Dan seminggu waktu yang pas
untuk melihat apakah Salish sanggup merawat anjing besar.
Boomer tinggal di rumah orang tuaku,
jadi ini kesempatan yang pas
untuk memberi perhatian penuh pada anjing ini.
Ini terlalu lama.
Jika Lauren sampai dan camilan ini belum matang,
rencana kejutan untuk Salish akan berantakan.
Kami harus bertukar agar aku bisa melihat dan memanggang camilan ini.
- Lepaskan penutup mata Ayah. - Oke.
- Silau. - Sama-sama.
Pakai penutup matamu. Kita lanjut.
- Berhasil? - Bagus.
Tak ada cangkang.
Kami sampai di Sherman Oaks Veterinary Group.
Mereka sangat baik selama kami bekerja sama, jadi ayo!
Lauren akan bertemu anjing
yang akan jadi kejutan untuk Salish sepekan ke depan.
Hai.
Astaga, dia manis sekali.
Astaga. Hai.
Ya ampun.
Dia anjing yang manis.
Tahu apa yang cocok untuk kukis? Wortel.
Berikan aku wortel.
Tidak.
Masuk ke mangkuk, tidak?
Ya. Bagus. Tak apa.
Kami sudah menjemput anjingnya, semoga Jordan tak membocorkan kejutannya.
Salish, Hudson, dan Jordan juga pasti bakal menyukainya.
Kucek pesan. Lauren di jalan pulang. Kami harus cepat.
Sepertinya sudah siap untuk dipanggang.
- Ayah masukkan ke oven. - Mau kubantu?
Sudah masuk.
Kami baru sampai. Akan kubawa anjingnya masuk untuk Salish.
- Kami bikin kukis lezat ini. - Tampak menjijikkan.
- Ayo kita coba. - Aku tak mau.
Ini akan menjelaskan kejutannya apa.
Tiga, dua, satu.
Nah, 'kan?
Rasanya kira-kira cocok buat manusia?
Semoga tidak.
Ini sebenarnya camilan anjing.
- Kenapa kita bikin itu? - Buatan sendiri.
- Apa kejutannya? - Ayah rasa cukup jelas.
Bawa camilan ini keluar karena Ibu menunggumu dengan anjing baru.
- Dia ingin kau menemuinya. - Serius?
Dia tak sabar bertemu kau.
- Dia anjing asuh sementara. - Oke.
Kita akan merawatnya sementara,
lalu dia akan pindah ke rumah barunya.
Hai!
Penjelasanku pada Salish kurang,
tapi rencananya anjing itu diasuh sepekan
sampai urusan administrasi keluarga barunya beres.
Kau suka?
Kurasa dia suka.
Tapi aku baru dapat kabar mengejutkan dari penampungan.
Keluarga yang akan mengadopsi anjing ini membatalkannya.
Dia tak lagi punya rumah.
Kami belum siap punya anjing kedua, yang besar pula.
- Anjing pintar. - Salish tampak senang bersamanya.
Sepertinya dia suka bersama manusia.
Jika kami punya anjing kedua, Salish harus bertanggung jawab,
karena kami tak sempat.
Entah apa dia sanggup merawat anjing seberat 23 kg.
Kau bisa naik?
Ini di luar dugaan.
Kami kira hanya akan merawatnya sepekan,
tapi kini kami harus memutuskan apa akan memeliharanya selamanya.
Ini sangat sulit, karena di satu sisi,
terlihat jelas anjing ini sangat percaya pada Salish.
- Diam. - Beda, ya, kalau anjingnya besar?
Aku ragu dia siap untuk komitmen sebesar ini.
Duduk.
Anjing pintar!
Untuk menguji Salish dan komitmennya pada anjing ini,
mereka pergi ke toko hewan peliharaan,
dan Salish harus membeli semua kebutuhan anjing ini
selama bersama kami sepekan.
Lauren juga tak boleh membantunya.
Kita lihat apa Salish bisa menemukan semua keperluan untuk merawatnya.
Salish harus membeli kandang, kasur, tali, harnes,
tag anjing, mainan, mangkuk, dan pagar. Kita lihat apa dia menemukannya.
Ibu, ini bagus, 'kan? Bisa kasih tahu?
Tidak? Oke.
Kurasa butuh yang lebih besar.
Kau mau apa? Dia terus menyender padaku.
Bu, boleh kunamai Moo? Aku mau memanggilnya Moo.
- Oke. - Namanya Moo. Sini, Moo!
Lauren menelepon. Salish sangat menyukai anjing ini.
Dia menamainya Moo?
Moo itu nama yang dari dulu ingin dia berikan ke anjing berikutnya.
Dia merasa ini anjing yang dia tunggu.
Ini keputusan sulit.
Kukira kami cuma bikin video lucu soal merawat anjing sepekan.
Tiba-tiba, kami harus membuat keputusan.
Aku tahu jawaban Salish. Tapi aku bingung.
Bilang selamat malam! Suka ini? Dia duduki.
Aku butuh bantuan. Di mana trolinya?
- Salish. - Ukurannya pas, 'kan?
Aku menemukan yang lucu ini dan kita akan ukir nama M-O-O. Moo.
Apa ini? Wah, dia suka!
Kita dapat banyak barang lucu. Siap?
Harnes dipesan daring. Tapi semuanya sudah, 'kan?
- Ya. - Baiklah, ayo bayar.
Aku bisa mengedip. Siap?
- Lumayan. - Terima kasih.
Ayo, Moo.
Aku suka anjing, tapi banyak orang tak sadar
besarnya tanggung jawabnya, terutama anjing besar.
Selama sepekan ini, Salish dan Moo makin dekat,
dan dia membawanya ke mana-mana.
Dia sempurna, jadi kita harus memeliharanya.
Salish sangat menikmati waktunya bersama Moo,
tapi ini musim panas.
Saat sekolah dimulai,
aku tak yakin dia punya waktu untuk merawat Moo.
Aku ingin kami memelihara Moo, tapi mungkin terlalu berat bagi kami.
Dia sangat energik dan sangat besar.
Salish belum tahu keluarga yang akan mengadopsi Moo mundur,
jadi Moo bisa jadi milik kami selamanya.
Moo, sini.
Duduk.
Lihat.
Dia melatih Moo duduk.
Aku ingin dia senang. Entah apa kami siap punya anjing besar.
Merawatnya sulit.
Besok, kami harus mengembalikannya ke penampungan.
Masa asuhnya sudah berakhir kecuali kami memutuskan mengadopsinya hari ini.
Aku belum siap memutuskan,
No comments yet. Be the first to leave one.