200 baris pertama.
Sejak dulu aku sudah tahu seperti apa pengalaman seksual pertamaku yang kumau.
Aku akan tampak keren secara alami,
sangat memikat…
Abby! Abby.
Abby, kau berayun sendirian dalam gelap?
Bisa bawa mobil Ibu untuk membeli makanan penutup?
Tamunya tiba 10 menit lagi.
Aku punya semua gerakan yang tepat.
Sial.
Nomor 71.
Tak peduli bagaimana atau di mana itu terjadi,
itu harus dilakukan bersamanya.
Max Warren.
Dengan mata hijaunya yang tajam, senyumnya yang mematikan.
Bahkan jerawat lehernya.
Bisa dipahami.
Interaksi pertama kami bagai adegan dari novel romantis.
Hai, aku Abby.
Aku Max.
Sampai jumpa.
Aku Mercedes. Aku pacarmu.
Saat usia kami 12 tahun, dia mengucapkan kata-kata yang mengubah segalanya.
Kurasa Abby.
Kurasa Abby.
Dia memilihku, dan aku langsung memilihnya kembali.
Nomor 72.
Satu porsi es krim ceri.
Permen cacing di atasnya. Dua cacing?
Tidak, satu porsi.
Kebanyakan cacing membuatku sakit.
Setiap kali aku pergi ke Harry's, percakapan kami sama.
Tapi kali ini berbeda.
Apa kabar?
Baik.
Agak aneh belakangan ini, tapi…
Ya ampun, kenapa…
Kenapa?
Mercedes dan aku… Kami putus.
Kami putus.
Mari beri sambutan, untuk pertama kalinya dalam pernikahan,
Tuan dan Nyonya Warren.
Aku ingin bersamamu selamanya.
Max, aku ingin menciummu seumur hidupku.
Kuharap kau sudah berlatih dengan tanganmu.
Sudah. Sungguh.
Tanda tangan di sini untuk KPR-kalian.
Rumah Impian
Bayinya perempuan. Selamat.
Kita namai apa?
Mercedes?
Itu kacau.
Nomor 73.
Nomor 73.
Aku turut prihatin soal kau dan Mercedes.
Tidak apa-apa.
Terima kasih.
Boleh aku minta dua mangkuk…
- "Apa kabar?" - Sisi satunya.
Dua mangkuk segera tiba, Cacing Ceri.
Di antara cacing ceri dan jalan garasiku, kenyataan menghantam.
Walau Max baru saja melajang, untuk apa dia memilihku?
Dalam fantasi seksualku,
kami tak pernah melakukan apa pun karena aku tak pernah melakukan apa pun.
Aku hanya perlu melangkah ke arah yang benar.
Sial.
Aku sekolah di St. Bernadette.
Sekolah Katolik swasta anak orang kaya yang hal seperti ini merupakan hal normal.
SATU PEKAN LAGI KELULUSAN!
- Jangan menangis, Mercedes. - Kukira Max jodohku.
Kami seharusnya menikah, punya bayi, dan punya KPR.
Ini tidak adil. Aku cantik.
MAX LAJANG!
Di St. Bernadette,
setiap anak dinamai seperti rasul atau merek mewah.
Luke, Paul.
Tiffany, Chanel, Max.
Max berbeda.
Jika ingin mendapatkannya, aku harus berpikir kreatif.
Gucci.
Matthew.
Hei. Oper ke Dior.
Dolce.
John!
Di sekolahku, jika ingin jawaban dari pertanyaan kehidupan,
kebanyakan berdoa kepada roh pria berjanggut.
Aku beralih ke sumber informasi yang jauh lebih tepercaya.
Maskot sekolah kami, Saint Bernard.
Alias Bernie.
Orang sering lupa di balik kostum itu ada orang,
jadi dia mendengar semuanya.
Jadi, kau ingin bisa bersama Max setelah kini dia lajang?
Katakan yang kau tahu.
Ini bukan kali pertama aku memakai maskot untuk pengetahuan terkait Max.
Max Warren, katakan yang kau tahu.
Ibunya bekerja di Bank of America. Pamannya hilang.
Dia tak terlihat sejak Pra-Paskah.
Pamannya stop minum soda, lalu dia menghilang.
Apa menurutmu aku punya kesempatan?
Tidak.
Awas!
Kudengar Mercedes akan pindah.
Tadinya, tapi Max meyakinkan ayahnya
bahwa St. Bernadette akan memberikan pengasuhan yang lebih beriman.
Sialan.
Awas!
Aku perlu tahu cara dapatkan Max
sebelum lulus dan mungkin tak akan bertemu lagi.
Hanya dia yang kuinginkan.
Kulakukan segalanya.
Lalu aku dapat apa?
Aku berhenti makan gula.
Aku pakai obat diabetes.
Aku bayar dengan uang.
- Dua puluh dolar. Baik. - Setuju.
Percakapan ruang loker.
Apa yang dia suka? Bercumbu, berciuman, atau bertukar ludah?
Max suka dengan 69.
Tanya siapa pun.
Max terobsesi pada enam dengan sembilan.
Hanya itu yang dia bicarakan dengan para lelaki.
Jelas itu posisi seksual favoritnya.
Tapi jika berciuman lebih cocok untukmu…
Tidak.
Aku punya pengalaman di kamar tidur.
Aku berasumsi dia akan sedikit lebih canggih untuk urusan kamar tidur.
Dia bertahun-tahun bersama Mercedes.
Itu waktu yang lama untuk urusan kamar tidur.
Kau harus berhenti menyebutnya begitu.
Dengar, kau tak perlu 69 dengan Max.
Tapi jika kau memutuskan 69 dengan Max, sudah pasti kau adalah cewek Max.
Aku 69 dengan Max, sudah pasti aku cewek Max.
Ya, jangan ucapkan itu juga.
Saat itulah aku tahu
akan kulakukan apa pun demi mendapatkannya.
Aku akan 69 dengan Max Warren.
Secara seksual.
Tim 69
- Awas! - Hei, Max.
Dia masih hidup.
Seseorang berjalan-jalan di lapangan sepak bola yang aktif.
Kenapa begitu?
Terkadang saat gelisah, aku berhalusinasi.
Ya. Aku pernah mengalaminya.
Aku sering berhalusinasi saat seusiamu.
Tapi itu karena aku memakai banyak sekali LSD.
Baiklah.
Pergilah, Nak.
Aku akan menemuimu sebentar lagi.
Ya Tuhan.
Aku sudah memikirkannya. Kita harus apa untuk ulang tahunmu?
Ayahku bilang akan sewa pelacur untuk itu.
Itu kacau, Bung.
Saat pertamamu adalah tentang keintiman, hubungan.
Aku dan Chloe, lupakan saja. Aku menangis setelahnya.
Satu kali aku melakukan seks oral, aku sangat emosional.
Aku belum menangis begitu sejak The Whale.
Ini sudah resmi.
Setiap orang di dunia lebih berpengalaman secara seksual daripada aku.
Aku butuh bimbingan.
Saat itulah aku tahu di mana bisa mendapatkannya.
Aku tidak tahu apa yang akan terjadi
atau bagaimana itu akan mengubah duniaku.
Tapi itu yang terjadi.
Baiklah, Penonton, tunjukkan cinta untuk Rhinestone yang punya dua pekerjaan.
Dia memakai sisa tenaganya.
Tenaganya hampir habis, tapi masih menunjukkan bokong.
Kawan, jika macam-macam, kalian akan diusir, ingatlah.
Hadirin sekalian,
akan naik ke panggung, favorit Diamond Dolls.
Dia inspirasi Syracuse.
Ini akan menjadi erotis, tepuk tangan untuk Santa Monica.
Santa Monica, aku penggemar nomor satumu!
Kali pertama melihat seseorang senyaman itu dengan tubuhnya sendiri,
itu hampir mengejutkan.
Setiap bagian diriku terasa hidup, seperti terbakar.
Dan dia ada di sana.
Jawaban untuk semua masalahku.
Aku menemukan ibu peri seksualku
di kelab striptis.
Ya!
Usiamu 18 tahun?
Ayolah. Usiaku 18 tahun 15 menit lagi.
Sampai jumpa 15 menit lagi.
Apa-apaan ini?
Itu jangan dimakan.
Tepuk tangan untuk Santa Monica.
Apa maksudmu bisa saja? Ini cat kuku.
Tapi itu bisa jadi pengilap bibir. Lihat.
Astaga. Ini panas.
Aku baru bekerja keras untuk 82 dolar dan permen karet.
Ponselmu bergetar semalaman. Aku hampir mendudukinya.
- Ya. - Tak berhenti bergetar. Siapa?
Itu utas payah dari reuni SMA-ku.
Diam, Pecundang.
Kuharap kau tak mengirim pesan itu.
Tunggu. Itu seru sekali. Reuni SMA.
Mau pakai apa? Mau tiduri siapa?
- Aku tak akan datang. - Apa?
Aku bisa tunjukkan apa sepuluh tahun terakhir ini?
Sayang, begitu banyak permen karet.
No comments yet. Be the first to leave one.