180 baris pertama.
Myne yang akhirnya diperbolehkan pulang,
berikrar dalam hatinya kalau akan membuat buku lebih banyak lagi demi adiknya, Kamil.
Di sisi lain...
Sayang sekali, rencana menculik novis saat upacara pendoaan berakhir gagal.
Benar-benar sangat disayangkan, Viscount Gerlach.
Selain novis berjubah biru yang merupakan rakyat jelata,
saya juga ingin Tuan Ferdinand merasakan penderitaan.
Viscount Dahldolf, saya mengerti perasaan Anda.
Karena anak Anda dipaksa tiada dengan cara seperti itu...
Setengah pasukan kondisi terlahap yang saya kerahkan juga telah dihancurkan, ya.
Saya minta maaf Count Bindewald.
Dibanding minta maaf, lebih baik tambah pasukanku.
Apa maksudnya?
Jual saja si novis berjubah biru itu.
Saya memahaminya melalui surat dari Viscount Gerlach.
Seingatku, kalau diadopsi oleh bangsawan dari wilayah lain,
izin dari Aub Ehrenfest tidak diperlukan.
Count Bindewald merupakan bangsawan Ahrensbach...
...yang bertetangga dengan Ehrenfest.
Ahrensbach...
Saya rasa itu bukanlah kesepakatan buruk.
Bagi Anda, novis yang merupakan rakyat jelata itu...
...adalah sosok yang menjijikkan, 'kan?
Jika novis yang menyatakan di depan kesatria bahwa dia...
...berada dalam perlindungan Tuan Ferdinand itu dijual,
Tuan Ferdinand pasti akan menderita.
Ayunda Veronica juga pasti senang.
Demi mendapatkan kontrak dan informasi tentang novis berjubah biru,
kerja sama Tuan Bezewanst selaku Uskup diperlukan.
(Episode 32 - Anak Telantar di Katedral dan Pewarnaan)
Kamil kami sangatlah imut!
Saat dia lahir, tubuhnya sangat kecil.
Saat nangis, wajahnya merah dan lembap.
Aku tak menyangka adik laki-laki ternyata seimut ini!
Sudahlah. Membanggakan anak sudah kudengarkan sampai capek di tempat Otto.
Eh, Corinna juga lahiran?
Lahir di akhir musim dingin.
Namanya Renate.
Putri pewaris Perusahaan Gilberta.
Mohon bantuanmu ke depannya.
Pak Benno enggak begitu semangat, ya.
Padahal dia pewarismu.
Yah, soalnya Otto sudah semangat menggantikanku.
Mau ngapain juga, Renate itu imut, ya!
Mau ngapain juga, Renate itu imut, ya!
Enggak boleh main-main sama makanan.
Karena ada Corinna, Perusahaan Gilberta aman, ya.
Yang lebih penting, ayo lekas bahas mesin cetak.
Baik.
"Jangan melakukan pencetakan sementara waktu," Imam Agung menghentikanku.
Kalau terus dilanjutkan,
pertentangan kepentingan pribadi akan meningkat ke skala bangsawan.
Kepentingan pribadi bangsawan, ya?
Lebih baik melarikan diri.
Maka, untuk sementara waktu, aku akan berjuang sekuat tenaga untuk membuat buku bergambar.
Berjuang sekuat tenaga?
Apa yang kamu pikirkan?
Salah satunya, pengembangan tinta warna supaya bukunya berwarna.
Yang satunya lagi, pengembangan teknologi cetak mimeograf.
Pengembangan teknologi cetak mimeograf untuk tinta warna.
Ya, kalau tak segera bersiap, maka takkan sempat.
Takkan sempat? Pada apa?
Tentu saja, aku mau buku bergambarnya sesuai pertumbuhan adik imutku, Kamil.
Demi Kamil, aku akan membuatnya sekuat tenaga!
Sudah dapat izin Imam Agung?
Boleh saja kalau sudah dapat izin.
Dalam waktu dekat, mari bertemu bos atelir.
Terima kasih banyak.
Tempo hari, adik laki-lakiku lahir.
Selamat atas kelahirannya.
Wah, aku sama sekali tak mengetahuinya.
'Gimana, nih? Saking senangnya, aku sendiri yang membocorkan.
Nona Myne, siapa nama adikmu?
Tanggapan bagus, Gil! Yey!
Namanya Kamil.
Saat dia lahir, tubuhnya sangat kecil. Saat nangis, wajahnya merah dan lembap.
Imut banget, deh!
Nona Myne, dari cara bicara Anda, malah terkesan tidak imut.
Siapa, ya?
Permisi.
Wilma, ada apa dengan bayi itu?
Soal itu...
Saya persembahkan pada Dewa.
Karena tak sanggup membesarkannya, makanya ditaruh di sini.
Ya, seperti itu.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Apa, ya...
Saya juga baru pertama kali mengalami hal ini.
Agar bisa berdiskusi dengan Imam Agung, Fran pergi untuk menjadwalkan pertemuan.
Imut, ya.
Dia juga imut, sih...
Tapi Kamil-ku jauh lebih imut, ya!
Karena dia lagi tidur, makanya aman. Tapi kalau dia bangun, kita harus bagaimana?
Kita akan menyusuinya.
Mustahil.
Biarawati berjubah biru yang melahirkan sudah tidak ada di sini.
Apakah Nona Myne tahu caranya membesarkan anak tanpa Ibu?
Iya, ya...
Aku pernah baca di buku,
ada kisah tentang Ibu yang tak bisa menyusui, lalu memberikan susu kambing pada anaknya.
Susu kambing, ya?
Terima kasih banyak.
Akan saya persiapkan.
Bagaimana? Dia menangis.
Tangisannya ini pertanda lapar!
Saya akan membawa susu kambing.
Duh, dia basah!
Gawat! Popoknya harus diganti!
Popok?
Apa ada kain?
Ada kain!
Anak telantar, ya?
Kamu boleh merawatnya seperti biasa.
Karena tak ada biarawati jubah abu yang bisa membesarkannya, makanya aku mengajak diskusi.
Oh, begitu.
Namun, apa boleh buat kalau tidak ada.
Mau mempekerjakan pengasuh?
Sayang sekali, aku tak punya pengalaman membesarkan anak.
Pengasuh bisa dipekerjakan?
Bisa saja, kalau ada orang terpuji yang mau datang ke panti asuhan.
Sepertinya itu sulit...
Maka dari itu, mari kita merawatnya bersama.
Bersama?
Ya, kalau Wilma saja yang merawatnya, pasti takkan sanggup.
Bayi itu minum susu di tengah malam.
Saat siang, Wilma merawatnya di panti asuhan,
lalu saat malam, kalian merawatnya bergantian di ruang ketua panti.
Dimengerti.
Duh, kenapa aku juga harus melakukan itu?
Merawat itu hal wajar.
Soalnya Delia adalah kakaknya.
Kakak?
Ya, anggaplah dia sebagai keluargamu, dan perlakukanlah dengan rasa sayang.
Impianku menjadi selir!
Kalau memiliki urusan lain, mungkin dia tak ingin lagi menjadi selir!
Mari berlomba untuk menjadi Kakak yang terbaik baginya!
Tentu saja, itu kemenanganku.
Delia langsung terpicu perkataannya Nona Myne, ya.
Berisik!
Kalau begitu, mari langsung saja tentukan namanya.
Lebih baik namanya mirip denganku.
Biar terasa kekeluargaannya.
Nama yang mirip Delia?
Delia...
Dita...
Detria?
Dil...
Dirk...
Dirk.
Karena dia lelaki, namanya Dirk saja!
Kalau begitu, namanya Dirk!
Namamu itu Dirk.
Dia menangis.
Maaf, ya. Dirk. Jangan menangis.
Halo, Dirk.
Mulai hari ini, akulah Kakakmu.
Lus, elus. Anak baik, ya.
Apa kalian melihatnya? Dirk tertawa, loh!
Soalnya, Nona Myne memiliki Tuan Kamil, ya.
Kamil juga menangis terus padaku.
Kamil, ini Kakakmu.
Duh, kenapa nangis, sih?
Yah, kamu bikin dia nangis lagi.
Kamil langsung nangis saat melihat wajah Myne, ya.
Di panti asuhan pun, kami akan membesarkan anak telantar.
Tapi anak itu juga menangis padaku.
Apa yang salah, ya?
Anak telantar? Dibesarkan?
Ya, karena kami akan bergantian merawatnya, kayaknya ke depannya akan sibuk.
'Gimana kalau kamu memastikan waktu tidurnya?
Dia pasti akan lega kalau bisa tidur siang.
Oh, begitu! Terima kasih, Ibu.
Kamil, apa kamu suka buku bergambar?
Lihat? Kamil tak menangis, loh! Dia melihat buku bergambar.
Namanya juga adikku!
Nanti, Kakak akan membuat buku bergambar indah yang berwarna. Tunggu, ya!
Seharusnya dia sudah datang.
Permisi.
Ayah, dia?
Jangan menunjuk.
No comments yet. Be the first to leave one.