200 baris pertama.
Diterjemahkan oleh : Rizky Orama
- Permisi, Tuan. - Hebat, Tn. Sehgal.
Anda dan putri anda Aarti ulang tahun di hari yang sama.
- Itu langka sekali. - Ya
Kami berdua berbagi ulang tahun
dan tiap tahun kami merayakannya.
Manisnya. Dimana Ny. Sehgal?
Ny. Sehgal...
- Shalu. - Ya, Sayang.
Tamu-tamu kita ingin berjumpa.
- Hai, Anjali, apa kabar? - Baik.
- Kau harus berkenalan, ini saudaraku. - Halo.
Swaraj, dan... Kemarilah, jangan malu.
Kemarilah.
Ini Jai keponakanku. Tampan, 'kan?
Wah! Itu siapa?
Aarti!
Teman sekalian, inilah putri tercantik di dunia.
Putriku, Aarti. Berikan sambutan!
Selamat ulang tahun Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun, Aarti Sayang Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun Selamat ulang tahun
Selamat ulang tahun, Ayah Sayang
Selamat ulang tahun
Aku sayang padamu, Ayah.
Aku juga sayang padamu, Putriku.
- Oh, Ayah. / - Semoga berbahagia.
- Permisi, Ny. Sehgal. - Ya?
Melihat tampilan anda, tampaknya anda
bukan seperti ibu-ibu yang punya anak gadis.
Siapa bilang dia anakku?
Aku ibu tirinya.
Tapi saudariku menyayangi Aarti lebih dari menyayangi ibunya.
- Yah, Bibi agak bodoh, 'kan? - Bukan agak, memang bodoh.
Palankhet? Kau ingin ke Palankhet?
Apa yang lucu?
Aarti, orang-orang pergi ke Amerika dan Eropa.
Dan kau lebih memilih kota kecil di pegunungan seperti Palankhet?
Ya, Aarti. Kenapa tidak Swiss saja?
Karena Palankhet itu unik.
- Apa yang spesial dari Palankhet? - Kenangan ibuku.
Ayah berjumpa ibu pertama kali di Palankhet, 'kan?
Dengar, Aarti. Sekarang Shalu adalah ibumu.
Lupakanlah yang sudah meninggal.
Tak apa, Sayang. Biarkan saja dia pergi.
Dan kau akan ke Jerman beberapa hari lagi, 'kan?
Ya. Kapan kau pergi?
Kapan ayah berangkat ke Jerman?
Ayah berangkat besok.
Baik. Aku juga berangkat besok.
Tapi, Aarti, kau tak bisa pergi sendirian.
Apa kata orang-orang?
Ibu macam apa aku yang membiarkan putrinya...
- Tapi aku bisa... - Ibumu benar.
- Gulab. Kamal. - Ya, Tuan.
Besok kalian akan ikut Aarti.
- Ke Swiss? - Bukan Swiss, Gulab Singh.
Apa tadi nama tempatnya?
Palankhet.
Penerbangan Mumbai EWEE 431 siap lepas landas.
- Gulab Singh. - Ya, Sayang.
- Sudah hubungi Taj Hotel? - Sudah, Sayang.
- Sudah minta mereka kirimkan mobil? - Sudah, Sayang.
- Apa mobilnya sudah datang? - Belum, Sayang.
Mau bagaimana lagi, semua hotelnya payah.
- Andai saja kita ke London... - Tapi ini bukan London.
Sekarang kalian akan terus menatapku atau berbuat sesuatu?
Aku melihat taksi disana.
Jika dia pergi, kita terdampar disini.
- Gulabo. - Ya, Kamo.
Dia benar. Sayang, tetap disini.
- Kami akan panggil taksinya. - Ayo.
Tetap disini, ya.
Ya ampun.
Raja Hindustani?
Raja Hindustani?
Dan nomornya 420.
- Lagipula apa peduli kita? Ayo. - Ayo.
Pak Sopir? Pak Sopir?
Hei, Pak Sopir!
Dasar sopir taksi pemalas. Mereka sungguh pemalas.
Dia tidur. Lantas bagaimana, Kamo?
Akan kubangunkan dia. Hei!
- Hei, sedang apa kau? - Siapa kau?
Aku tukang bersih taksi ini, Rajnikant.
"Rajnikant!"
Hei, Bocah. Bangunkan sopirmu.
- Kami ingin ke Palankhet. - Kami tidak mau.
Hei, kenapa?
Ini waktunya Bos tidur, kau tahu?
- Tidur siang? - Ya.
Apa bosmu Putri Tidur yang tak bisa dibangunkan?
Gulabo, pegang kakinya. Aku pegang satunya.
Biar aku yang bangunkan.
Bangunlah, Putri Tidur. Bangunlah!
Diam, dasar bodoh.
Hei, Putri Tidur. Kau pikir siapa dirimu?
Siapa yang berani membangunkan Raja Hindustani?
- Bukan aku, Bos. Tapi mereka. - Mereka?
Siapa yang memanggilku Putri Tidur?
Bukan aku, Bos. Tapi mereka.
Mereka?
- Siapa yang memukul taksiku? - Bukan aku, Bos. Tapi mereka.
Ya ampun!
Hei, Pahlawan. Kau tak malu memukul wanita?
Wanita? Dia wanita?
Tentu saja. Kau tidak lihat?
Dan kau siapa? Saudarinya?
Menjijikkan! Aku pria, Gulab Singh.
Dia wanita. Kamal Pasha.
Bos, semuanya kacau disini.
Ini pria banci, dan ini sebaliknya.
- Bos, kau tak tahu? - Apa?
Jalanmu telah dihiasi
dengan lampu emas
Jalanmu telah dihiasi dengan lampu emas
Dengan lampu emas...
Hei, diam!
Kami perlu taksi untuk pergi ke Palankhet.
Kau bisa membawa kami bertiga atau tidak?
Tidak.
- Kenapa? - Ini keinginanku.
Aku tak mau pergi.
Lalu bagaimana kami kesana?
Bawa koper kalian dan berjalanlah sejauh 250 kilometer.
- Tolong dengarkan aku. - Kubilang tidak.
- Dengar aku. - Tidak mau.
- Tolong dengar dulu. - Kubilang...
Kumohon, kami baru datang kemari. Tak ada taksi lagi disini.
Bekerjasamalah dengan kami.
Anda boleh memeras kami. Berapa banyak yang anda mau?
500 rupee?
Baik, kalau begitu, bagaimana dengan 600 rupee?
Kumohon.
Baik, katakan, berapa upahnya?
Bos! Bos!
- 500 sudah lebih dari cukup. - Apa?
Ya, Nona. 500 sudah lebih dari cukup.
Aku juga dari Palankhet.
Hebat sekali! Sewaktu kami meminta, kau menolaknya.
Tapi kau setuju saat Nona yang minta. Kenapa?
Karena itu keinginanku.
- Rajni, bawa kopernya. - Baik, Bos.
- Kemari, Nona. - Kemari.
Kemari.
Mau kemana kalian?
Kami akan duduk didekatnya.
Tidak. Nona harus duduk nyaman dibelakang.
Kalau begitu kami didepan.
Tidak. Jangan didepan.
Tukang bersihku Rajnikanth duduk didepan.
Dan saat mengemudi aku sering meninju dan menendang.
- Lalu kami duduk dimana? - Ya, mereka duduk dimana?
Nona, anda jangan khawatir.
Aku sudah sediakan tempat berpendingin untuk mereka.
- Pendingin udara? - Ya.
- Dimana? - Diatas.
- Astaga, dia akan membunuh kita! - Duduk yang benar!
Kurasa dia gila!
Ya ampun! Sayang, tolong!
- Mengemudi yang benar. / - Tolong.
Tolong, Sayang.
Sayang!
Bos, lihat kedepan. Nanti kecelakaan.
- Diamlah. - Dengar.
- Ya, Nona? - Seberapa jauh Palankhet dari sini?
Kalau pakai gerobak sapi perlu 28 jam.
Kalau pakai bus desa perlu 5 jam.
Dan kalau pakai taksi Raja Hindustani hanya perlu 3 jam.
Raja Hindustani?
Namamu Raja Hindustani?
Ya, Nona? Apakah tidak bagus?
Itu bagus. Tapi agak aneh.
Ya, Nona. Memang aneh. Namaku berbeda dari yang lain.
"Raja" artinya aku yang berkuasa atas hatiku.
Tak ada yang berhak mengaturku.
Dan "Hindustani" karena
di negara ini, mau itu Hindu atau Muslim,
Sikh atau Katholik, bangsawan atau bukan,
semuanya adalah Hindustani.
Lagipula, aku yatim piatu.
Orangtuaku meninggal saat aku kecil.
Sekarang aku adalah anak bangsa.
Kau orang yang menarik, Raja Hindustani.
Iya, 'kan?
Terima kasih, Nona.
Sayang!
Sayang!
Apa ini?
Kenapa? Ini lagu berbahasa Inggris. Orang kota biasanya suka.
Aku tidak suka. Matikan saja.
Baik, Nona.
- Aku bergoyang dan menari - Keren, Bos.
Apa lagi ini?
Ini lagu terkenal di India.
Aku tidak suka. Tolong matikan saja.
Baik.
Kenapa lagunya dimatikan?
Lagunya bagus. Mainkan lagi.
Nona, itu bukan suara kaset, tapi suaraku.
No comments yet. Be the first to leave one.