200 baris pertama.
Semua itu ideku.
Aku melakukan sesuatu yang biasa dibilang "tipikal Amerie".
Kau masuk tanpa izin, merusak properti,
dan meninggalkan pekerja karnaval dalam keadaan sekarat untuk apa?
Memberi pelajaran untuk St. Brunos?
Benar.
Namanya #OperasiPalkon.
Kepala ibis SMA Hartley ganti kepala St. Brunos.
Darren Rivers, 175 cm,
posisi sekarang pekerja lepas.
Bisa dijawab saja?
Aku ada di sana,
tapi aku bareng sahabatku, Quinni, di samping toilet portabel.
Ususnya bermasalah.
Spider tak berada di dekat wahana. Dia tak suka burung.
Aku bukannya tak suka burung, tapi burung yang tak suka aku.
Aku siap digeledah bugil.
Itu tak perlu. Kau bisa pakai lagi bajumu.
Kau kerja di karnaval?
- Apa mereka yang memprovokasi? - Tidak.
Kami saja yang berengsek.
Apa kau menyalakan wahananya?
Tidak. Tentu tidak.
- Tentu tidak. - Tidak.
- Tidak. - Tidak.
- Bukan aku pelakunya. - Tidak.
Aku cuma tahu itu.
Apa sudah selesai?
KEPOLISIAN NEGARA BAGIAN
Kalian didakwa karena masuk tanpa izin
dan secara lalai menyebabkan cedera berat.
Kalian wajib menghadiri sidang pendahuluan
dan tunduk pada persyaratan jaminan yang ketat.
Jika ketentuan ini tak dipatuhi, kalian dapat dikenakan hukuman tambahan.
Apa kalian paham?
Serius, ini benaran?
Tenang saja.
Aku…
tak bisa dipenjara.
Kita tak menyalakan wahananya,
tapi kenapa malah kita yang disalahkan?
Karena andai kita tak ke sana, ini takkan terjadi.
Kini kita anak nakal. Tercatat. Selamanya.
Belum lagi kita sudah dikeluarkan.
Hidup kita benar-benar tamat.
Ibuku bakal coret aku dari KK.
Aku minta maaf, oke? Aku cuma…
Aku tak mau sampai begini.
Serius? Itu doang?
- Spider… - Tidak.
Jangan membelanya. Dia yang mengadukan kita.
Yah, setidaknya kasih peringatan dulu.
Kau mengadukan ke Woodsy biar kami terseret juga, 'kan?
Kita semua terlibat.
Oke? Kita semua bikin kacau.
Aku minta maaf jika kalian…
tak mau menghadapinya, tapi aku harus.
Aku tak mau lagi mengabaikan masalah.
Itu cuma bikin tambah parah.
Berat rasanya datang ke kelulusan saat kita dikeluarkan.
Sebagai pembuka upacara,
mari kita saksikan penampilan dari sejumlah murid kita yang lulus.
Oh, ya, ya
Sepertinya kita berhasil
Lihat betapa jauhnya Kita melangkah, Sayang
Kita mungkin menempuh jalan yang panjang
Kita tahu bahwa kelak akan sampai juga
Mereka bilang, "Aku yakin mereka tak akan berhasil"
Tapi lihatlah kita bertahan
Kita masih bersama
Masih tetap kuat
SMA Hartley
Kaulah sekolah yang kami tuju
Tempat kami benar-benar bernaung
Kau tetap sekolah pilihan kami Sepanjang hidup
SMA Hartley
Kaulah sekolah yang…
Ini menyiksa banget.
Satu-satunya…
Entahlah. Menurutku, dia berhasil.
Bukan itu.
Selamat tinggal
Untuk SMA Hartley
Kita berhasil!
- Hore! - Keren, Zoe.
Satu, dua, tiga.
Hai, Semuanya.
Sebagai satu-satunya anggota di struktur OSIS
yang tak dikeluarkan atau sakit perut,
jadinya aku yang menyampaikan pidato ini.
Ini sungguh kehormatan.
Dan untuk merayakannya, aku ingin membukanya dengan puisi.
Aku sudah menulis haiku.
Mending pergi.
Sejak kelas tujuh
Lorong Hartley yang sakral
Membentuk kami…
Sial.
Kejadian lagi!
Astaga!
Harap tetap di tempat!
Hei!
Jangan, jangan lari.
Taz, kau dalam masalah besar!
Wah.
Oke, Jesse, sudah berapa kali kubilang kalian berdua jangan kabur?
Sob, maafkan aku.
- Aku cuma duduk di sana. - Taz?
Apa? Sasha pantas menerimanya.
Kurasa aku juga pantas.
Tersenyumlah, Nak.
Oi, Sayang, ayo ikut foto.
Ibu memberi cucuku kesempatan kedua saat dia sangat membutuhkannya.
Ini semua berkat Ibu.
Oh, kau baik sekali.
Darren, ayo foto.
Senyum, Bu.
Bagus.
Selamat, Douglas.
- Ini sungguh membahagiakan. - Makasih, Bu.
- Ya. - Eshay!
Hei!
- Peluk! - Hei.
Aku bangga banget padamu.
Aku harus mengecek kapsul waktu yang akan ditanam.
Mau kita rayakan di mana?
Kayaknya tak ada yang minat.
Ngawur, ini momen penting.
Kita semua akan minum-minum di klub boling.
Tak semuanya ikutan.
- Harus semuanya. - Kau tak ikutan?
Ikut kelulusan atau tidak, kalian sudah selesai sekolah.
Dan Nenek takkan biarkan momen ini lewat.
Wet Pussies untuk semuanya.
- Ini untuk kalian. - Makasih, Nek.
Makasih, Nek.
- Untuk penjara. - Untuk penjara.
- Astaga. - Biarkan.
Nenek tahu kau bisa, Dougie.
Aku tak percaya. Aku berhasil.
Hei.
Ayo gabung. Mereka bakal oke, kok.
Kalau tidak, serahkan saja padaku.
Jadi, apa rencanamu sekarang?
Cuma bersiap ke penjara.
Apa?
Kukira kau sudah punya rencana baru yang heboh
untuk cari pelaku sebenarnya.
Tidak.
Ini kayak bukan Amerie, deh. Aneh.
Aku mencoba jadi orang normal.
Apa itu? Normal apa?
Yang tak menyeret teman-temannya ke penjara.
Atau cewek yang selera cowoknya lebih bagus.
Jangan tersinggung.
Kenapa? Memangnya Noah berbuat apa?
Kami ribut hebat di Kukuk.
Ternyata dia ada di karnaval malam itu.
Apa? Apa yang dia lakukan?
- Bukan dia yang menyalakannya. - Tahu dari mana?
Karena dia bilang begitu.
Oke, bagus. Itu jelas membereskan semuanya. Bagus.
Pertanyaan bagus.
Jadi sarjana hukum, partner, pengadilan tinggi, sambil mencari istri.
- Cewek rambut coklat. Maaf, Mam. - Hei!
- Santai. - Tapi tak secantik Mami.
Lalu lulus dengan predikat kehormatan atau yang lebih tinggi.
Ya. Kalau kau?
Tentu saja.
Ya. Aku…
Waratahs, Wallabies, Piala Dunia, 'kan?
Satu stadion meneriakkan namamu…
- Oi! - Astaga, apa itu?
Maaf. Permisi, Semuanya. Biar aku yang urus.
Maaf.
Hei.
Tadi aku mau menelepon.
Buktikan bukan kau yang menyalakan wahananya.
Apa? Kok dibahas lagi?
Kau membohongiku berminggu-minggu.
Aku tak bisa memercayaimu.
Apa kau
akan memaafkanku?
Mungkin.
Apa perlu kita panggil satpam?
Maaf. Aku tak tahu di sini ada lantatur.
Mobilmu punya kamera dasbor. Ada kamera dasbor.
Itu bisa membuktikannya.
- Ya, kita harus lihat rekamannya. - Kenapa?
- Kau tak perlu tahu. - Kalau begitu, kau tak bisa lihat.
Ayolah, Seb.
- Sebagai teman, aku memintamu… - Aku tak suka menolong.
Permisi, panna cotta-ku sudah mengeras.
Maaf, Amerie. Aku tak punya
pilihan.
- Hai! Aku Amerie. - Halo!
- Hai. - Halo.
Sebastian, pantas saja kau masih panggil Papi.
- Boleh, ya? - Minumlah.
TEKUILA
No comments yet. Be the first to leave one.