147 baris pertama.
CERITA ORISINAL OLEH KANEHITO YAMADA / TSUKASA ABE
DUA PULUH SEMBILAN TAHUN SEJAK HIMMEL THE HERO WAFAT
PEGUNUNGAN SCHWER DI KONTINEN UTARA
Nona Frieren sebentar lagi ketiduran.
- Dia ketiduran. - Ya sudah, biar kugendong saja.
Tapi kau membawa kapak.
Tapi tanganku kosong.
- Biar aku saja yang menggendongnya. - Kenapa?
Tak apa-apa.
Benar saja, Raja cuma memberi kita sepuluh koin tembaga.
- Pelit sekali. - Bisa dimaklumi.
Hingga kini, banyak pahlawan yang sudah berangkat,
tapi gagal mengalahkan Demon King.
Yah, tak ada salahnya juga mencari biaya perjalanan sendiri
dengan menyelesaikan misi penaklukan.
- Pertualangannya jadi lebih seru. - Benar.
Itu Pedang Pahlawan, bukan?
Ini cuma replika.
Seorang pedagang yang datang ke desaku pernah kuselamatkan dari seekor monster.
Dia memberiku ini sambil berkata, "Untuk calon pahlawan."
Dia cuma bercanda.
- Karena itukah kau jadi pahlawan? - Tidak.
Ada seorang bocah menyebalkan bernama Heiter di panti asuhan itu.
Katanya,
"Karena pedangmu palsu, kau hanya bisa menjadi pahlawan palsu."
"Oke, akan kubuktikan dan jadi pahlawan sejati kelak."
Itu yang kupikirkan.
Suatu hari nanti, aku akan memiliki Pedang Pahlawan sungguhan
dan mengalahkan Demon King.
Tapi waktu memang tak mengenal belas kasih.
Heiter, yang dulu suka bicara besar,
kini jadi Priest gadungan yang pekerjaannya cuma minum-minum.
Aku Priest sungguhan.
- Rupanya itu cuma mimpi... - Nona Frieren.
Akhirnya kau bangun.
Pemandangan ini seperti dejavu.
- Pasti aku masih bermimpi. - Wah, menyenangkan.
Aku terlalu meremehkan cuaca di pegunungan ini.
Teruslah ke utara.
Desa yang kita tuju seharusnya ada di sana.
Baik.
Nona Frieren, bisa berjalan sendiri?
- Tidak. - Begitu, ya?
Wangi sekali.
Astaga...
Kau pasti lelah karena sudah lama menggendongnya.
Fern, akan kugantikan.
Dasar mesum.
Kok mesum?
Badai saljunya sudah mulai mereda.
Tadi aku hampir mati kedinginan.
Benar-benar ada desa antah-berantah di pegunungan ini?
Kami menantimu, Nona Frieren.
Kau kepala desa yang sekarang? Muda sekali.
Ya, aku kepala desa yang ke-49. Aku mewarisi jabatan ini.
Selamat datang di Desa Pedang.
Ada pondok yang hancur di luar desa ini.
Dulu kami menggunakan itu sebagai pondok berburu.
- Itu ulah Penguasa Gunung. - Penguasa?
Desa ini punya penguasa?
Jadi, inikah Desa Pedang?
Kau tahu soal desa ini, Tuan Stark?
Ini adalah desa yang melindungi Pedang Pahlawan.
Di tempat suci dekat desa ini,
ada Pedang Pahlawan yang katanya dianugerahkan oleh Sang Dewi.
Sejumlah pahlawan
mencoba mencabutnya selama ini, tapi tak pernah berhasil.
Semuanya berubah 80 tahun lalu.
Menurut legenda...
Yang bisa mencabut Pedang Pahlawan itu
hanyalah pahlawan yang ditakdirkan menghentikan kiamat.
Nah, itu.
Jadi, Tuan Himmel yang berhasil mencabut pedang itu?
Benar.
Kisahnya cukup populer. Kau pernah mendengarnya?
Tidak, Tuan Heiter tak pernah memberitahuku soal itu.
Sudah sampai.
Hangat sekali.
Ini tidak bisa diterima, Nona Frieren.
Padahal, kau sudah berjanji akan kembali dalam setengah abad.
Biasanya aku penyabar, tapi untuk urusan ini, aku geram.
Itu kata-kata terakhir nenekku, kepala desa dua generasi sebelumku.
Kubilang desa ini akan baik-baik saja selama 80 tahun lagi.
Orang-orang desa yang selama ini menjaga Pedang Pahlawan
seharusnya bisa melindungi diri sendiri.
Memang, itu benar.
Tapi kau juga harus melaksanakan tugasmu.
- "Tugas?" Apa maksudnya? - Membasmi monster.
Monster kerap muncul di sekitar desa ini.
Baru-baru ini, Penguasa Gunung juga mulai bertingkah.
Baik, kita mulai besok.
Sebaiknya ini diselesaikan secepat mungkin.
Banyak sekali monster yang berkeliaran di dekat desa ini.
Kenapa kau tak merekrut
petualang lain kalau situasi desamu semendesak ini?
Kami bisa saja merekrut petualang lain, tapi...
Himmel jugalah seorang pahlawan.
Sumpah, monsternya banyak sekali.
Mereka berkumpul di dekat gua itu.
Frieren! Ini...
Itu Penguasa Gunung.
Begitu rupanya. Pantas saja aku tak mengenalmu.
Kau pendatang baru.
Pikirmu 80 tahun bisa menjadikanmu penguasa?
Stark, kau masih bisa bergerak, 'kan?
Kau tahu betul cara memanfaatkan orang!
Kerja yang bagus.
Kini, tugasku sudah selesai.
Frieren, bisa jelaskan?
Itu Pedang Pahlawan.
Inilah yang menarik perhatian monster.
Monster tak bisa menerobos penghalang tempat suci ini,
tapi juga tak bisa melawan insting untuk menghancurkannya.
Setakut itulah mereka pada Pedang Pahlawan.
Bukan itu maksudku.
Ya.
Himmel tak bisa mencabut pedang ini.
Jadi, pahlawan yang kali ini juga bukan pahlawan sejati?
Himmel...
Lantas kenapa kalau aku bukan pahlawan sejati?
Aku akan mengalahkan Demon King dan mengembalikan kedamaian dunia ini.
Maka itu, tak penting apa aku pahlawan "sejati" ataupun "palsu".
Dan Himmel berhasil melakukannya.
Dia buktikan bahwa dia bisa selamatkan dunia tanpa pedang itu.
Dia adalah pahlawan sejati.
Lantas kenapa fakta itu disembunyikan?
Itu keputusan orang-orang yang mengidolakan Himmel.
Cerita yang kurang menarik, seperti ketidakmampuannya
mencabut Pedang Pahlawan tak diperlukan bagi seorang pahlawan.
Pahlawan selalu
diagung-agungkan oleh generasi mendatang.
Dan seiring berjalannya waktu, kebenaran menjadi benar-benar terlupakan.
Aku tahu kau pasti akan datang dan membantu kami, Nona Frieren.
Terima kasih banyak.
Itu juga kata-kata terakhir nenekku.
Kata-kata terakhir macam apa yang nenekmu tinggalkan?
Baiklah, sampai jumpa setengah abad lagi.
Lain kali, jangan terlambat, ya!
DUA PULUH SEMBILAN TAHUN SEJAK HIMMEL THE HERO WAFAT
WILAYAH APETIT DI KONTINEN UTARA
Setelah menaruh barang di penginapan, waktu kita luang sampai malam.
Sudah lama aku tak lihat kota. Akhirnya aku bisa bersantai.
Apa rencanamu sore ini?
Mau berbelanja bersama?
Kau saja. Aku mau bersantai sambil membaca grimoire-ku.
Begitukah? Baik, aku pergi sendiri saja.
Oh, aku jadi ingat...
No comments yet. Be the first to leave one.