Musim 2

Maklumat siaran

One Hundred Years of Solitude 2024 S02E01-07 SPANISH NF WEB h264-EDITH
Ulasan oleh tedi
Retail NF

Tag

webdl
Diterbitkan pada: 2026-08-05
Muat Turun: 7
Masalah Pendengaran: No

Pratonton sari kata Indonesian

200 baris pertama.

Dalam momen luar biasa itu,

petunjuk akhir dari Melquiades dipahami oleh Aureliano Babilonia.

Dia melihat tulisan pada lembaran itu tersusun sempurna

dalam ruang dan waktu manusia.

Yang pertama dari garis keturunan itu terikat di pohon,

sementara yang terakhir sedang dimakan semut.

ONE HUNDRED YEARS OF SOLITUDE

Di tengah lingkaran kapur yang hanya bisa dia masuki,

Kolonel Aureliano Buendía memutuskan nasib dunia

dengan perintah singkat dan tegas.

- Kolonel. - Ya?

Beberapa wanita di luar ingin bicara.

Biar mereka menunggu.

- Aureliano José. - Ya, Pak.

Ambilkan pinset.

Bebaskan Moncada!

- Moncada tak bersalah. Bebaskan dia! - Bebaskan dia!

Nyonya-Nyonya,

kalian melanggar jam malam.

Pulanglah sekarang.

Kau sudah kuasai lagi kota ini, Aureliano.

Apa itu belum cukup?

Jika masih ada yang ingin disampaikan,

ajukan petisi resmi ke pengadilan militer.

Selamat siang.

Kau boleh bicara sesukamu.

Tapi jangan lupa, Aureliano,

selama Tuhan memberiku hidup, aku tetap ibumu.

Mau serevolusioner apa pun dirimu,

Ibu bisa memelorotkan celanamu dan memukuli bokongmu jika perlu.

Bebaskan Moncada!

Bebaskan Moncada!

Bebaskan Moncada!

Kau begitu takut pada kematian hingga tak berani bicara dengan terpidana?

Ya, begitu.

Tatap mataku sebelum kau eksekusi aku.

Biar kujelaskan, José Raquel.

Bukan aku.

Revolusi yang akan mengeksekusimu.

Persetan kau, Aureliano.

Kau tahu betul, setiap pengadilan militer cuma sandiwara.

Jawab aku.

Bukankah kau akan lakukan hal yang sama jika jadi aku?

Tentu saja.

Ya.

Tapi aku tak khawatir soal eksekusi.

Yang kukhawatirkan adalah

karena kebencian mendalam terhadap militer,

kau malah jadi seperti mereka.

Semuanya, perhatian!

Jam malam berlaku untuk seluruh Macondo.

Tak ada yang diizinkan pergi!

Mau ke mana selarut ini?

Melihat eksekusi.

Bukankah ada jam malam?

Kau mau ikut?

Kenapa kau mau melihatnya?

Mereka juga mengeksekusi ayah kita.

José Arcadio Segundo dan Aureliano Segundo

tak tampak seperti dua bersaudara,

melainkan seperti tipuan cermin.

Mereka selalu begitu mirip

hingga Santa Sofía de la Piedad, ibu mereka sendiri pun,

tak bisa membedakan mereka.

Prajurit!

Bersiap!

…yang ada di Surga,

dikuduskanlah nama-Mu,

datanglah kerajaan-Mu…

Bidik!

Tembak!

…tetapi bebaskanlah kami dari yang jahat. Amin.

Dia masih hidup!

- Prajurit, tangkap dia! - Dia masih hidup!

- Dia masih hidup! - Itu keponakan Kolonel.

Dia masih hidup!

- Bawa dia! - Kalian akan kubur dia hidup-hidup!

- Ayo. - Pembunuh!

- Tangkap dia! Sialan. - Pergi.

- Bawa pergi. - Dia masih hidup!

- Jalan. - Dia masih hidup!

Pembunuh! Kalian akan menguburnya hidup-hidup!

Dia masih hidup.

Pembunuh!

José Arcadio Segundo sangat terguncang oleh kematian Jenderal Moncada

hingga sejak itu, dia membenci perang

dan memutuskan berlindung di gereja desa.

Kita di sini untuk memberi penghormatan kepada pria hebat,

yang dipanggil Tuhan ke kerajaan-Nya pagi ini.

Jenderal José Raquel Moncada.

Tuhan tak memanggilnya, Pastor!

Dia dibunuh bajingan Liberal itu.

- Ya! - Kolonel membunuhnya.

- Kolonel pembunuh! - Ya, Kolonel.

Kolonel keparat!

Harap tenang, Tuan-Tuan!

Kita berada di rumah Tuhan,

bukan di alun-alun.

Sementara itu, asyik membaca buku yang dia temukan,

Aureliano Segundo segera mengenali Melquiades.

Salam, Anak Muda.

Memori warisan itu telah diturunkan dari generasi ke generasi.

Dan memori itu sampai kepadanya dari ingatan sang kakek.

Apa itu?

Sejak saat itu, mereka bertemu setiap sore.

Melquiades menceritakan dunia kepadanya.

Dia mencoba menanamkan kebijaksanaan kunonya pada dirinya.

Tapi dia menolak menerjemahkan manuskrip itu

karena tak boleh ada yang tahu maknanya sebelum 100 tahun berlalu.

Sampai jumpa.

"Aku terus memperkuat ikatan yang membuat kita bangga

menjadi bagian dari tempat ini."

Siapa yang menulis omong kosong ini?

Pakai gula?

Ada apa, Ayah?

Hei, ada apa?

- Tolong! - Ada apa, Kawan?

- Bernapaslah, Kawan. - Dokter!

- Bernapaslah. - Aureliano, ada apa?

- Panggil dokter! - Aureliano!

Bu Úrsula, Aureliano diracun!

Santa Sofia, siapkan keranjang isi telur, cuka, dan dua tangkai adas sowa.

Tinggalkan aku dengan putraku.

Kubilang pergi!

- Ayo. - Ayo pergi.

Si Cantik Remedios menginjak usia 20 dengan berjalan telanjang di rumah.

Kenakan sesuatu.

Karena sifatnya menolak segala jenis konvensionalisme.

Aureliano José.

Maafkan dia.

Kami tak bisa menghentikan dia.

Itu bukan tabiat buruk, Bu. Aku kepanasan.

Bagaimana kondisi ayahmu?

Nenek masih bersamanya.

Mereka memberinya cukup striknina untuk membunuh kuda,

tapi Úrsula bilang dia akan selamat.

Amin.

Mau kusiapkan kamarmu untuk malam ini?

Tidak, terima kasih.

Aku cuma mau ambil sesuatu. Barangku masih di sana?

Úrsula melarang kami menyentuh apa pun.

Dia masih berharap kelak kau akan sadar kembali.

- Permisi. - Masuklah.

Aureliano José kemudian tahu dia harus apa.

Sebab dia bukan lagi anak kecil yang takut gelap,

melainkan serigala medan perang.

- Siapa itu? - Amaranta, ini aku.

Biarkan aku masuk.

Berhenti. Kubilang berhenti.

Tolong dengarkan aku.

Dalam pertempuran, aku bertemu kolonel Liberal

dan cerita tentang kita.

Aku tahu kau nekat!

Kusampaikan aku ingin menikahi bibiku.

Selain nekat, kau juga bodoh.

Dia bilang itulah tujuan perang ini.

Aku cuma tak menyusuimu saja.

Bisa dibilang, aku ibumu.

Pergilah sekarang.

Aku serius kali ini, Aureliano José.

Jangan pernah kembali.

Atau aku bunuh diri.

Entah sejak kapan José Arcadio Segundo

mulai membunyikan lonceng menara …

untuk membantu Pastor Antonio Isabel dalam Misa

dan merawat ayam-ayam di pastoran.

Dia menjadi mahir dalam trik teologis

seterampil dalam trik sabung ayam.

Mulai pertarungannya!

Bunuh!

Bunuh!

Terima kasih, Bu.

Kau akan tinggal di Macondo sampai merasa lebih baik?

Jika begitu, semoga Tuhan melindungimu, Nak.

Bersiaplah, Tuan-Tuan.

Kita berangkat hari ini, sesuai rencana.

Maaf, Aureliano, tapi kau harus istirahat beberapa hari.

Aku menunjukmu sebagai kepala sipil dan militer.

Macondo butuh seseorang yang bisa dipercaya.

Dan aku ingin kau mengurus para bajingan yang coba membunuhku.

Di mana putraku?

Di mana Aureliano José?

Aku tak tahu.

Mereka yang tak ingin jadi bagian revolusi

seharusnya tak perlu ikut.

- Kau sudah dengar tentang Kolonel? - Tentu. Mereka hampir membunuhnya.

Mustahil. Ajalnya sudah dekat.

Kau membicarakan Kolonel?

- Aku cuma mau minum, oke? - Oke, jangan khawatir. Tak apa.

- Selalu saja begini. - Macondo itu Liberal!

Hei, kenapa kau ini?

Kuharap mereka membunuh Kolonel di sana!

Aku sungguh berharap begitu!

Bunuh para Liberal!

Silakan.

Terima kasih.

Bagaimana aku bisa sampai sini?

Kau lebih suka bangku taman?

Punya yang lain?

Ambil yang ini.

More Indonesian subtitles for One Hundred Years of Solitude

Komen

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left