I Stand Alone (Seul contre tous)

I Stand Alone (Seul contre tous) (Seul contre tous)

Muat Turun Sari Kata Indonesian

Maklumat siaran

istandalone1998 720 x264pahe in
Ulasan oleh Sukroco
Cukup menantang, bobot eksistensialis similikitis dialektika sudah didowngrade ke paradigma milenialis. Konstruksi kata banyak yang dirobah.

Tag

x264
720
Diterbitkan pada: 2019-03-27
Muat Turun: 78
Masalah Pendengaran: No

Pratonton sari kata Indonesian

200 baris pertama.

Moral.

Tahu apa itu moral?

Biar kuceritakan.

Moral itu cuma buat orang yang berharta.

Tahu kan, siapa yang selalu benar?

Cuma yang berharta, yang miskin selalu salah.

Keadilan.

Sudah paham moral itu apa?

- Maksudnya apa? - Apaan?

- Kau tidak akan nyesal. - Masa sih?

Kau pasti kaget. Karena ini moralku.

Ada nilai moral di dalam sini.

Paham maksudnya ini?

Soalnya mister Moral yang bajunya berkerah, oke?

- Kenapa? - Mereka menang terus,

oke?

Dengan moral sempaknya.

Bagiku... Inilah keadilan.

Entah mereka benar...

atau salah...

gak ngaruh sama sekali, man.

Film yang mengisahkan mantan tukang daging yang berjuang sendirian di negaranya.

Pertentangan Jiwa.

Yang manusia, yang bermoral.

Sebuah riwayat yang mengisahkan kehidupan orang yang malang.

Kisah seperti biasanya orang.

Bermula di Perancis, tanah yang dipenuhi keju dan penjahat.

Dia lahir di dekat Paris tahun 1939.

Tahun 1941, ibunya kabur. Tidak pernah ditemukan.

Di hari kemerdekaan, dia tahu siapa ayahnya.

Anggota komunis yang tewas di kamp konsentrasi.

Menginjak 6 tahun, mentalnya mulai goyang.

Perjaka-nya dicuri atas nama Yesus, saat dia dibesarkan.

Untuk menyambung hidup, dia jadi penjagal, pada umur 14.

Sepuluh tahun dia kerja dengan berbagai orang...

disimpan setiap receh, demi memulai usaha.

Usaha mulai saat umurnya 30. Awalnya terasa berat...

tapi setelah dua tahun, usaha mulai lancar.

Penghasilan sudah tetap. Dia bertemu buruh pabrik...

diperawanilah dia,

di hotel l'Avenir, di seberang pabrik.

Dari sini awal ceritanya.

Sembilan bulan berlalu, anaknya diberi nama Cynthia.

Tapi calon ibu tidak mau.

Dia ditinggalkan lagi, tapi saat ini bersama putrinya.

Tahun demi tahun berlalu. Usaha tetap lancar.

Dia membeli apartemen, di mana putrinya tumbuh diam.

Di usia remajanya. Dia sudah menjadi wanita.

Sang ayah membujang, harus melawan nafsunya.

Takdir berkata tidak. Putrinya datang bulan.

Karena sakitnya tidak jelas, dia kabur dari toko.

Di jalan, ada buruh yang menggodai dia.

Ada tetangga melihat, langsung diseret dia ke ayahnya.

Dia melihat darah di roknya, dikira anaknya diperkosa.

Diambil pisau, lalu dicari penjahatnya.

Dia melihat buruh itu di pelabuhan.

Sang penjagal, menyobek wajah orang itu.

Langsung, sang penjagal dilempar ke penjara...

dan putrinya dilarikan ke institusi.

Sang ayah selalu mengirim putrinya surat.

Di akhir surat, dia berkata akan menjual apartemen dan tokonya.

Akhirnya dia bebas, tapi menjadi tuna wisma.

Untuk menyambung hidup, dia menjadi bartender.

Dia pacari bosnya.

Dijual kedainya supaya bisa memulai hidup baru, di kota lain.

Uangnya cukup untuk menyewa toko daging.

Tapi tidak cukup beruntung.

Dia pergi mengunjungi putrinya.

Pamit, tapi sang anak merasa ayahnya menyimpan rahasia.

Esoknya sang ayah pergi dari Paris bersama istrinya...

berharap keluar dari kelamnya kehidupan.

Di Lille, mereka tinggal di rumah mertua...

sampai mendapat rumah dan toko.

Dibanding Paris, di sini jalanannya begitu sepi dan abu-abu.

Pertama kalinya, dia merasa terasing.

Dia melihat mendiang ayahnya.

Sang penjagal tidaklah ada bedanya, hanya makhluk yang berusaha hidup.

Dia lupakan masa lalunya, serta putrinya yang dia khianati.

Termasuk cinta padanya,

walaupun perasaan itu tetap ada.

Tidak semua orang paham, apa itu cinta.

Karena dia itu adalah aku. sebagian hidupku.

Aku mulai lagi hidupku, dari awal.

Tuan dan nyonya. Penghapusan masa lalu.

Kampungan Lille. Utara Perancis. 3 Januari 1980.

- Malam anakku. - Malam ma.

Maaf.

Itu tempat biasanya ayahku tidur.

Aku sudah cukup hangat.

Tidak usah basa-basi.

Kalau masih rese, kupecahkan kepalanya.

Sekalian bayi di perutnya.

Besok jadi nyari toko?

Ya.

Saya suka.

Sayang, kemahalan.

Harga di sini murah 10%.

Sewa harusnya diturunkan.

Atas nama Anda?

Bukan, nama saya.

Jelek tempatnya.

Aku mending simpan uangnya, sampai lahiran.

Gak begitu janjinya. Terus, aku harus apa?

Cari saja dulu kerjaan sementara. Ayo.

Makasih.

''Dicari: Ahli babi.''

Coba dilihat dulu, siapa tahu cocok.

Aku tidak main babi.

Lebih gampang, dibanding buka toko sendiri.

Betul juga.

Ngapain?

Kenapa, tidak suka?

Uangku, aku hamil. Bebas dong.

Bebas.

Sosis busuk, Wine kecut.

Keluarga tolol, kota mati.

Kalau ada toko, tidak akan seperti ini.

Pasti hidupku lebih baik.

Lihat orang-orang bau ini...

bisa-bisa toko langsung tutup, pas petugas inspeksi masuk.

Yang sudah tua...

mata sama kupingnya sudah jelek, makanya bau.

Nyai gembrot, sudah tidak heran lagi.

Apa orang tua masih ada?

Sudah dibilang, dia itu yatim-piatu.

Maaf, lupa.

Jangan lupa senyum.

Paham?

Siapa tahu pelanggan jadi mau borong.

Ha?

Ini supermarket. Musik, ada.

Heh, buat pelanggan nyaman.

Paham?

Senyum ke saya.

Malas bangat senyum doang.

Sudah, sana.

Minggat.

Sana.

Pemalas!

Begitu, mau kerja.

Apa? Motong babi saja tidak bisa?

- Kau mau seharian di depan TV? - Tidak.

Kalau kau tidak merki, kita sudah buka toko.

Sudah diam!

Untuk menaklukkan Roubaix, kondisi harus sangat bugar.

Dan harus paham setiap jalur yang ingin dilewati.

Jangan mengikuti arah yang ditunjukkan gembala.

Ini dia menantuku. Ini Dr. Choukroune.

Masalahmu selesai.

Dia mencari penjaga malam panti jompo, tempanya kerja.

Ibu sudah menceritakan semuanya ke saya.

Apa Anda bersedia?

Sudah saya kasih tadi, alamat rumahnya?

Silakan langsung datang.

Sampai jumpa, pak.

Cakep, dikira aku ini penjaga, melihat nenek-nenek lagi.

Nenek-nenek minta ditepak pantatnya.

Kalau malam kerja, berarti aku tidak melihat Nyai Gembrot.

- Ada pengalaman kerja malam? - Tidak banyak.

Kedengarannya mudah, tapi bisa mengurangi kewarasan.

Udah pernah kerja di panti?

Gembel ini tempat.

Gak ada seru-serunya.

Aku sering berharap bisa pergi dari sini...

tapi, yang terjadi di balik pintu-pintu ini...

Kau akan tahu sendiri.

Ini kantormu.

Dua minggu berlalu.

Tidak pernah merasa sebaik ini, sejak keluar penjara.

Tempat ini tidak seburuk penjara. Malah sebaliknya.

Hanya baunya saja.

Orang tua baunya memang parah.

Panti Jompo, Debussy. 18 Maret 1980, 4 AM

Tidak kuat aku, sama tas-tas di kamar.

Tapi jangan sampai ada yang menganggapku payah.

Untung nenek di sini kaya...

bebas merintah apa saja.

Beginilah kehidupan di sini. Berjuang demi uang.

Berjuang demi steak. Tidak ada yang akan membantuku.

Kau lihat pak dokter?

Tidak.

Ada yang sesak. Bisa nolongin. Cepat.

Iya, tapi saya tidak tahu...

Cepat.

Pegangi tangannya.

Papah...

Jangan tingalkan aku...

Segalanya mulai gelap.

Kematian itu tidak kenal pintu.

Kematian itu bukanlah hal yang istimewa.

Setiap orang pasti turut gotong-royong.

Jika dilihat dari dekat, hal ini tidaklah serius.

Cuma tubuh tanpa nyawa, sudah.

Manusia sama saja dengan hewan.

Kalau cinta, silakan dikuburin.

Pertama kali aku menyaksikan ini.

Ternyata wanita ini pun sama.

Jelas, karena ia terlihat hancur.

Jujur, ini membosankan.

Sebaiknya, aku antar dia pulang.

Komen

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left