200 baris pertama.
DELAPAN BULAN SEBELUMNYA DI SUATU TEMPAT DI PINGGIRAN BENGALURU
Sinar matahari yang membakar
HARI INI
Musim panas yang terik
Mengalir menyusuri jalan ini
Jalanan sangat jauh
Namun bergerak maju
Perjalanan di dalam dinding kota
Seperti api merah yang menyala
Di mata itu, di dalam cahaya itu
Tugasmu
Andai laut datang mendekat…
- Baiklah. - Ya.
Akankah pantai mengulurkan tangannya?
Akhirnya, esok datang
- Hei, di mana bosmu? - Dia di sana.
- Kemari. - Pak.
- Sudah siap? - Ya, Pak.
Pak, cek ejaannya.
Sudah benar. Bungkus ini.
Wahai pikiran, apa kau terikat oleh akar Pohon beringin di pinggir jalan ini?
Apakah kau meregang Mencari sedikit gerimis?
Apakah kau bergerak maju Di jalur pegunungan tidak berujung ini?
Akankah ini berakhir Pertempuran sia-sia melawan takdir ini?
Melampaui batas, melampaui pengetahuan
Akankah cerita mengubah arahnya?
Saat malam tiba Akankah hari cepat berlalu ini jadi akrab?
Seperti api merah yang menyala
Di mata itu, di dalam cahaya itu
Tugasmu
Andai laut datang mendekat
Akankah pantai mengulurkan tangannya?
Akhirnya, esok datang.
KANTOR POLISI ALUVA
Saji…
ambil laddoo lalu pergi.
Putriku diterima masuk MBBS.
- Pagi, Pak! - Latheef, ejaannya benar?
- Ya, Pak. - Ambil satu, Bung.
- Ada acara apa? - Lakshmi diterima kuliah.
Begitukah? Kalau begitu ini tak cukup.
Tidak tersambung, Pak.
Ya, Pak.
Baik, Pak.
Pak.
Aku kabari saat dia datang.
Ya, Pak.
Aku akan cek itu, Pak.
Baik, Pak.
Masalah tepat saat fajar.
- Shyam, kemari. - Pak.
Lihat lagi.
- Mungkin jatuh. Cek lagi. - Itu tidak ada di tas.
Kau yang mengambilnya.
- Ada apa? - Kau bilang apa, Bu?
Aku yakin itu.
Pak, seseorang mencuri kalung di bus.
- Kalung siapa? - Kau lihat kami mencuri?
Wanita tua itu.
Katanya itu miliknya.
- Membantumu kini jadi mimpi buruk. - Cek di bawah sana.
- Tidak ada di bawah sana. - Kami harus kerja.
Kalian bertiga, turun.
- Menuduh kami… cari ke bawah. - Tidak dengar? Turun.
Bukankah kau pegangi dia untuk masuk bus?
- Kami membantunya saat tersandung. - Turun.
- Kau melihatnya? - Kami bantu dia naik bus, jadi…
Bukankah kami membantunya? Sekarang kami jadi repot!
Apa kau ambil kalungnya?
Pak, tidak. Selain itu, di bus itu bukan hanya ada kami!
Tunjukkan tas itu.
Ini, lihatlah.
- Di mana rumahmu? - Di dekat Gereja Desom.
Kalau semuanya mau kerja tepat waktu,
aku beri lima menit.
Kalau ada yang ambil kalungnya,
jatuhkan ke lantai diam-diam.
Mengerti?
Tidak ada yang ambil.
Kau ikut aku.
- Kemari. Parkir busnya di sana. - Ya, Pak.
- Jangan ada yang keluar. - Ya.
Sekarang, takkan ada yang tahu.
Kalau kau ambil, kembalikan.
Pak, kami tidak mengambilnya.
Pak, bukankah kau cek tasnya?
Apa kau dapat apa pun? Tidak, 'kan?
Itu tak ada di bus atau di tas.
- Pak… - Kalau tidak di bus, ada padamu.
Kami akan dipecat kalau terlambat sampai.
CI segera datang.
Saat itu, bukan tugasku.
Kau kembalikan sekarang, selesai.
Omong kosong apa ini, Pak?
Kalau suamiku atau warga tahu, aku harus akhiri hidupku!
Pak! Inspektur datang.
- Oh. - Pak Saji, dia datang.
KANTOR POLISI
KANTOR POLISI
Diam.
Pak.
Pak, mereka duduk tepat di belakangku.
Seolah kami curi itu dengan duduk di belakangmu!
Kalau menuduhku pencuri…
- Hentikan. - Kau akan menyesal buat masalah denganku!
- Hentikan! Bicara sopan! - Sopan apa?
Bukankah kami dalam masalah?
Diam!
Apa tidak ada batas untuk bicara omong kosong?
Apa kasusnya?
- Pak, mereka mencuri dari wanita… - Pak,
mereka mencuri kalungku di bus.
Apa tidak ada polwan?
Pak, dua pergi ke kursus KEPA.
Yang ketiga cuti hamil.
Berikan kalungnya.
Pak, wanita itu gila. Kami tidak ambil.
Silakan geledah kalau mau, Pak!
- Pak! - Tugasku bukan menggeledah
- tubuhmu… - Pak, jangan.
Pak, aku hamil.
- Biarkan saja meledak! - Pak!
Oh, tidak!
- Tolong. - Jangan.
Kalungnya ada padaku. Akan kuberikan.
Kumohon, Pak.
Hamil, apanya!
- Kalian tidak tahu dengan melihatnya? - Pak.
Kenapa repot berseragam kalau tidak bisa berpikir?
Pak.
Putriku diterima di MBBS.
Silakan ambil, Pak.
Pak,
perlu aku buat dakwaan pada wanita itu atas tuduhan pencurian?
Agar wanita tua itu membusuk di pengadilan?
Lepaskan mereka.
Pak,
kau menendangnya.
Kalau kita lepaskan tanpa cek medis,
bagaimana kalau dia dirawat di rumah sakit?
Kau ceramahi aku setelah beri manisan?
Aku tahu cara menjaga pekerjaanku!
Pak, tetapi untuk keamanan kita…
Maaf, Pak.
Ya, katakan.
Pak, ada kasus penjambretan pagi ini.
Saat dia mengklaim hamil,
Inspektur menendang abdomennya!
Kalau dia memang hamil,
kami bisa dipecat, Pak.
Sekarang, dia bilang tidak perlu
membuat berkas laporan atau tes medis.
- Aku akan bicara padanya. - Baik, Pak.
- Ini. - Sial!
Apa yang terjadi?
Hari bergabung kembali setelah skorsnya hari ini,
dan dia sudah buat masalah!
- Hari, sudah sampai? - Sudah.
Kau mengantarnya ke kampus?
Hari,
sudah minum obatnya?
Akan kuminum.
Hari, minum obat tepat waktu.
Jangan lupa.
Matikan. Ada telepon masuk.
- Pak. - Minta semua orang berbaris!
Pak.
DYSP SHAHUL
Aku kenal semua orang… kalian semua pintar.
Jangan datang padaku dengan omong kosong sok pintar!
Selama aku di sini
kalau kalian tidak bisa ikuti perintahku, pergilah atau cuti sakit!
Dan…
siapa pun yang lapor ke petinggi tentang kejadian di sini,
tak akan tinggalkan pos ini dengan damai!
Mengerti?
Pak, Delta menelepon.
Aku tahu kenapa kau telepon.
Lakukan satu hal.
Ambil kursiku dan jalankan tempat ini!
Ada apa?
Pak, aku staf di Sreeram Finance.
Dia datang pagi ini menggadaikan kalung.
Itu emas palsu.
Itu bukan emas palsu, Pak.
Aku ke sana menggadaikan kalung untuk bayar operasi istriku.
Mereka simpan yang itu dan kini menunjukkan kalung lain.
Apa mereka pernah lihat kalungmu untuk buat imitasinya?
Aku bukan pencuri, Pak.
Aku kondektur bus.
Aku membelinya untuk
ulang tahun putriku.
Itu benar, Pak.
Berapa sovereign itu?
Sekitar dua sovereign.
Kau ingat dari toko mana membelinya?
Dari Anaswara Jewellery.
Seperti kubilang,
aku beli itu untuk ulang tahun putriku.
Tanggal 2 Agustus,
No comments yet. Be the first to leave one.