200 baris pertama.
Bagus!
Hei, Sayang. Aku sudah sampai. Di bawah.
Aku baru pulang.
Aku sudah sampai.
Kau tidak lihat karena aku di pojok, aku segera masuk.
Sebentar. Sudah kubawa. Tenang.
Ya, Sayang, aku sudah sampai. Tentu aku bawa sampanye.
Aku bawa sampanye. Semuanya. Aku sudah sampai.
Sebentar. Aku sudah lari cepat.
Ya. Aku sudah sampai.
Ya, tenang, aku sudah sampai. Aku apa?
Terlambat? Tentu.
Tentu saja aku pakai kostum. Aku mampir ke penatu.
STUCK WITH YOU
Tunggu!
Sandi?
Bu. Tentu aku tahu sandinya.
Tidak lihat bawaanku? Aku mau bertemu teman.
Dia tidak peduli.
Selamat Tahun Baru. Kuharap ini tahun terakhirmu, Nenek Sihir!
Aku tahu sandinya!
Tenang, sebentar saja, lalu kau bisa meniduri pelacur mana pun.
Ya, tentu. "Aku tidak berbuat apa pun." Pétain berkata sama.
Marshal Pétain. Si Yahudi. Bukan itu intinya, aku ke sana.
Halo?
Malah ditutup.
Tidak, kurasa karena pintunya tertutup, jadi sinyalnya…
Maaf, paham sopan santun?
Percuma menekan tombol.
Mungkin korsleting, itu sebabnya berhenti.
Kau tukang lift?
- Bukan. - Sip, terima kasih.
Sial, kita terjebak.
Kita hanya bisa menunggu.
Ada orang? Kami terjebak. Astaga!
Ada orang? Kami terjebak!
- Tidak ada. - Kau selalu berkomentar?
Tunggu saja, nanti menyala lagi.
Jadi, kau tukang lift.
Bukan, tapi aku dan temanku, Ben, pernah terjebak, saat di sekolah…
Ini bukan waktunya bercerita.
Sial, panas.
- Kita bisa nyalakan alarm. - Ide bagus. Silakan.
Pernah dengar?
Seperti di Beverly Hills Cop .
- Astaga. - Itu sudah rusak.
Tidak, tadi belum rusak. Tadi berbunyi "wiu-wiu".
Kau merusaknya. Minggir. Awas.
- Berdering. - Ya, berdering.
Terima kasih sudah menghubungi.
Semua teknisi kami saat ini sedang bertugas.
Astaga.
Kami akan berusaha merespons secepatnya.
- Pesan suara. - Masa? Aku tidak tahu.
Kau tahu, menjadi tukang itu berat. Plus, ini Tahun Baru, mereka pasti sibuk.
- Kau tahu gaji tukang? - Siapa peduli?
Itu sebabnya tidak ada jawaban.
Panas, tidak?
Tidak panas?
Tidak, biasa saja.
Panas gila. Kita akan sesak.
Aku akan sesak.
Aku benar-benar sesak. Kita akan sesak!
Aku mengalami serangan.
- Gangguan saraf? - Bukan, aku klaustrofobia.
- Aku ragu. - Sungguh.
Jika iya, kau akan sulit bernapas dan merasa dindingnya menyempit.
Aku sulit bernapas.
Baiklah.
- Dengar. Semua akan baik. - Jangan sentuh aku.
Dengar dan lihat aku.
Tarik napas.
Embuskan.
- Tarik napas. - Jangan pegang. Dindingnya menyempit.
- Embuskan. - Menyempit!
- Tidak. - Iya.
- Itu hanya pikiranmu. - Tidak, aku akan mati. Buka!
- Baik. Kau mengalami serangan. - Astaga. Ya.
Sayangnya, hanya ada satu solusi. Maaf.
- Kau menamparku? - Tidak.
Itu taktik distraksi untuk membantumu…
Membidik anuku.
Kau benar, aku merasa enakan.
Baik.
Bisa bantu aku melepas ini?
Jika ada pilihan, tidak.
Baik.
Kemarilah. Astaga.
Baik.
- Halo? Ada orang di sana? - Ya, halo? Kami terjebak.
- Jangan panik. - Saya sudah bilang.
Terima kasih. Kami terjebak. Bisa keluarkan kami?
Tenang, Bu. Sedang kami urus. Tetap tenang.
- Saya sudah bilang. - Baik.
Pukul berapa Anda terjebak?
- Pukul 8.45. - Pukul 8.50.
- Spesifik. - Jadi, mana yang betul?
- Apa itu penting? - Terserah Anda, Bu.
- Baik, tulis 8.47. - Itu lebih adil.
Baik, sudah dicatat. Ada yang punya penyakit jantung?
- Tidak. - Tidak.
Baik, ada yang hamil di lift?
Tidak.
Yakin? Saudari temanku Ben mengira dia tidak…
Aku yakin!
- Ya atau tidak? - Tidak, Astaga!
Baik. Apa ada anak di dalam lift?
- Anak seperti apa? - Di bawah sepuluh tahun.
Tidak ada!
Bagus. Berapa nomor identifikasi kabinnya?
- Di atas. - B-Y-0-18.
Bukan, itu bukan nol, itu huruf "O".
- Bukan, itu angka. - Kau tukang angka?
Memangnya itu ada?
- Anda sudah menemukan kami? - Itu bukan nol, tapi "O".
Menurut komputer tidak ada malafungsi.
Kami terjebak di sini sejam. Itu bukan malafungsi?
Bukan menurut saya, tapi komputer. Jangan marah-marah.
Tenang.
- Baik, maaf, Pak. - Maaf.
Baik, saya akan kirim teknisi.
Akhirnya!
Besok pagi pukul 8.00.
Maaf, tidak ada orang lain. Semuanya bertugas.
- Astaga. - Selamat Tahun Baru!
Pokoknya, jangan coba membuka pintu.
- Selamat Tahun Baru. - Selamat apanya!
Aku enggan terjebak di peti mati ini semalaman!
- Kita dipermainkan? - Terima kasih sudah menghubungi.
Semua teknisi kami saat ini sedang bertugas.
Kami akan berusaha merespons secepatnya.
Pesan suara.
Tahu! Aku enggan menunggu sampai besok. Tidak. Bantu aku.
- Bantu apa? - Keluar!
Tidak. Dia bilang jangan coba…
Jangan…
Astaga, kita jatuh. Aku akan mati. Kita akan mati.
Ya, kita mungkin mati dan itu salahmu.
Dia melarang kita membuka pintu. Kenapa kau tidak paham?
- Bagaimana kita keluar? - Entahlah! Berhenti berteriak!
- Aku tidak berteriak! - Iya!
Tidak! Di mana kau?
Di sini. Sebelah sini.
Kenapa?
- Taktik distraksi. - Hentikan.
Aku merasa enakan. Maaf. Kau tak apa?
Tidak.
Sulit dipercaya.
Malam Tahun Baru terjebak di lift dengan orang asing.
Menyebalkan.
Kau seharusnya bersyukur.
Bagaimana jika aku psikopat atau pembunuh berantai?
Atau lebih buruk.
Calimero.
- Gadis hitam dengan telur di kepalanya? - Bukan.
Calimero! Pria yang menyanyi…
Dalam ringannya tubuh
- Calogero. - Bukan.
- Calimero. - Calogero.
- Calogero. - Bukan.
Calimero.
100%.
Mau berkenalan?
Apa-apaan?
Gaël, senang bertemu.
Hannah.
Dengan dua H.
Di awal dan akhir. Siapa peduli, kau tidak akan menulis surat untukku.
Ayolah, ini Tahun Baru. Seharusnya malam ini seru.
Kata siapa hari ini wajib bahagia? Tidak tertulis di mana pun.
- Tidak ada aturannya. - Kau tadi mau pergi ke pesta.
Asal kau tahu, aku mau memutuskan pacarku. Puas?
Serius?
Di Malam Tahun Baru? Itu jahat! Dia salah apa?
Apa urusanmu? Dia bukan temanmu, 'kan?
Kau bukan orang Paris, banyak tanya, dengan kostum bodoh itu.
- Aku memang bukan dari Paris. - Dari mana asalmu?
Serius mau tahu?
Kampung halamanku dekat Cap Ferret. Tahu?
Tentu, semua orang tahu Cap Ferret. Pascal Obispo.
Aku jatuh cinta padanya
Rumahku, Menara Eiffel
- Aku tidak tahu. - Yang benar saja.
Tapi besar di tepi laut itu keren.
Tergantung dengan siapa.
Wah, indah sekali.
Ya.
Di sinilah kuhabiskan masa kecilku. Rumah kami di semenanjung.
Lihat anak kecil itu? Itu aku.
Yang diikat ke tiang.
Dua lainnya sepupuku.
Buka mulutmu.
Kunyah.
- Kunyah! - Lalu, telan.
Jijik! Kuadukan ke…
Ayah!
Sekarang? Sudah mau air pasang?
- Jangan! - Ya, ayo.
Jangan! Ayah!
Masa kecilmu berat.
No comments yet. Be the first to leave one.