200 baris pertama.
"The Dick Cavett Show!"
Tamu malam ini adalah Marlon Brando!
Kalian keterlaluan, lalu menyesal besok pagi.
Senang sekali bertemu kalian.
Tamu ku terbang jauh dari Tahiti
datang malam ini, sepertinya itu rekor.
Aku terhormat menyambut beliau di sini.
Kalian pernah melihat sekilas sebelumnya
sebagai Stanley Kowalski dalam "Streetcar Named Desire,"
Zapata dalam "Viva Zapata!"
Mark Antony dalam "Julius Caesar,"
Terry Malloy dalam "On the Waterfront,"
Vito Corleone dalam "The Godfather,"
dan Paul dalam "Last Tango in Paris."
Beliau tidak suka bicara berlebihan, sering disebut
aktor terbaik di Amerika atau di dunia,
malam ini ku kesampingkan,
supaya beliau senang.
Mari kita sambut, Tuan Marlon Brando.
Kamu capek karena penerbangan?
Ya.
Ya, benar.
Ada dua buku yang sedang beredar
yang mengklaim menceritakan kisah hidupmu,
kemarahanmu, kelebihanmu, nafsu, dan mimpimu.
Aku rasa
mengutip sampul salah satunya.
Bisa dipercaya tidak? Kalau tidak,
bagaimana mereka bisa lolos?
Baik...
Aku pikir...
Aku tidak tahu harus bilang apa.
Kalau orang membayangkan Tahiti,
mereka memikirkan pasir putih dan mai tai.
Kunjungan pertama ku tidak seromantis itu.
Ingat, waktu itu
aku arsitek pemula berbasis di Los Angeles.
Ron.
Oh, maaf mengganggu, Tuan-tuan.
Bernie, ini Jack Bellin.
Aku baru cerita bagaimana kamu memulai
karya terobosanmu dengan Buckminster Fuller.
Aku dengar kamu membangun kubah besar
semacamnya, itu keren sekali.
Bisa dibilang aku antusias
merancang lingkungan efisien secara struktur
dan mudah dibangun
di wilayah paling tidak bersahabat.
Ya, aku juga, makanya aku pilih Beverly Hills.
Kamu bisa bahasa Prancis, Bernie?
Cocok buatku.
Aku ingin kamu jadi perwakilanku
untuk cari lahan bangun resor baru.
Baik, jadi,
di mana tepatnya kamu membangun resor ini?
Tahiti.
Tahiti?
Hm, dia suka, ya?
Datang ke kantor ku besok, kita lanjut berbincang.
Ron.
Tahiti.
Sabrina, tunjukkan tahiti di peta
Ya, tentu, tepat di sini, sebelah Swiss.
Apa?
Bercanda, ibu kota Polinesia Prancis,
wilayah yang terdiri dari ratusan pulau kecil
seperti Tahiti, Bora Bora,
Moorea, dan lainnya.
Sok pintar.
Hei, menurutku pekerjaan ini kesempatan bagus buatmu.
Aku banyak proyek berharga sedang ku kerjakan di sini.
Ya, memang punya proyek penting.
Kamu juga punya pekerjaan sebagai konservasionis sejarah
untuk kota Los Angeles.
memang tidak dibayar, tapi seperti yang ku bilang,
pengalaman itu sangat berharga.
Mungkin saja sepadan.
Maksudku, pastikan dibayar kali ini.
Ya, kamu harus pergi, Ayah.
Itu akan membantu mu keluar dari cangkangmu.
Cangkangku?
Apa aku kepiting?
He-he.
Kamu selalu cari kesempatan baru, pergilah.
Pergi.
Pergi.
Pergi.
Pergi, pergi, pergi, pergi!
-Pergi, pergi, pergi, pergi! -Baik, baik!
Baik, baik.
Aku pergi, aku pergi.
Siapa tahu? Pengalaman ini—
Bisa berharga.
Kalian mulai paham.
Begitulah aku akhirnya naik pesawat pertama ke Tahiti
yang kupikir hanya perjalanan singkat.
Bonjour, monsieur.
Jadi kamu membuat pilihan yang tepat?
Pilihan tepat?
Kursi 12A, kamu pesan chicken Kiev.
Ya, ya, ya.
Untuk makan di ketinggian 30 ribu kaki, itu luar biasa.
Ini perjalanan pertamamu ke Tahiti?
Ya, dan kalau semua lancar, akan ada banyak lagi.
Maksudnya?
Klienku ingin membangun hotel di sini
aku diminta menjelajah pulau-pulau
untuk cari lokasi yang cocok.
Hm, ada banyak tempat indah di Polinesia Prancis.
Ya.
Coba bilang, kamu pernah dengar pulau itu?
Ya, namanya Tetiaroa.
Indah dan terpencil, tapi itu pulau pribadi.
Aku rasa kamu tidak akan bisa masuk,
pemiliknya sangat menjaga tempat itu.
Tapi klienku katanya kenal pemiliknya
dan dia ingin aku datang untuk riset.
Serius? Dia kenal pemiliknya?
Maaf, aku harus kejar penerbangan berikutnya.
Hati-hati di luar sana.
Hati-hati? Itu tidak masalah.
Kalau pun ada, orang bilang aku terlalu hati-hati.
Hm.
Di luar teluk, memancing, bagus sekali. Bukan Tetiaroa.
Aku harus ke atol itu.
Perahu tidak bisa ke sana.
Lihat, terlindung karang.
Baiklah, kalau begitu berenang saja dari perahu.
Dekatkan saja.
Ya, dia paham, aku berenang.
Dia memanggilku popaa,
kata Tahiti untuk orang Barat berkulit putih yang gosong.
Bukan awal yang bagus.
tidak terlihat buruk.
Lihat karangnya? Tajam sekali.
Arusnya juga kuat.
Tenang saja, aku dulu Seabee di Angkatan Laut.
Seabee?
Tolong, aku bisa cari tempat lain buat kamu berenang.
Aku baik-baik saja.
Tetap di perahu saja.
Seharusnya aku dengar nasihatnya.
Setelah sebentar di rumah sakit lokal,
aku pikir aku harus bertemu
dengan pemilik misterius pulau itu.
Halo?
Oh, hei, aku, aku...
Halo?
Halo.
Bonjour.
Oh.
Aku mencari pemilik rumah ini.
Siapa kamu dan apa yang kamu lakukan di rumahku?
Oh, maaf sekali, aku Bernard Judge dan...
pintumu terbuka.
Semua pintu di sini terbuka. Tahiti, tidak ada kunci.
Kamu... kamu Marlon Brando.
Ya. Apa yang kamu lakukan di rumahku?
Aku di sini mencari lahan untuk hotel
untuk klienku, Jack Bellin,
yang katanya temanmu.
Siapa namanya tadi?
Bellin, Jack Bellin.
Jack Bellin? Tidak kenal.
Begini saja, aku telepon pihak berwenang
dan kamu akan habiskan
sisa kunjunganmu di penjara.
Oh tidak, aku—
Siapa namanya, apa, Balloon?
Bellin.
Hm? Tidak terdengar familiar.
Bellini, kamu mau Bellini?
Jack Bellin.
Jack Omong Kosong.
Baiklah...
Aku tidak tahu kamu tidak saling kenal.
Aku malu sekali.
Aku bercanda, aku bercanda.
Dia kirim telegram tiga hari lalu, bilang kamu akan datang.
Aku heran kenapa kamu lama sekali.
Jelas, kamu sibuk sekali.
Oh ya, karang menang di pertempuran, bukan perang.
Dengar, dia menjamin kamu, berarti kamu orang baik.
Kamu bisa berenang?
Ya, ya, aku perenang hebat.
-Bagus. -Di Angkatan Laut, aku Seabee.
Baiklah, Seabee,
kita berenang lewat lubang di karang.
Di luar sana seperti akuarium,
ikan-ikan besar berenang di sampingmu.
Aku ingin sekali, tapi aku tidak bawa pakaian renang.
Kita tidak butuh pakaian renang.
Maksudku, itu berbahaya, bukan?
Kamu pasti bicara kura-kura yang suka menggigit, ya?
Bukan, ikan tusuk gigi.
Ikan tusuk gigi?
Ya, dari Amazon.
Mereka berenang masuk ke saluran kemihmu
lalu tersangkut di uretramu,
dan saat membuka, seperti kail ikan,
No comments yet. Be the first to leave one.