De eerste 200 regels.
:: Episode 11 ::
Kau tak perlu mengantarku pulang.
Tak apa. Masuklah.
Ya, terima kasih.
Nona!
Kondisimu belum membaik! Kau dari mana saja?
Tuan Muda Yoon Kang...
Bukan. Ayo masuk.
Tunggu...
Tuan Muda masih hidup?
- Sudah kubilang bukan! - Apa maksud Nona? Sudah jelas memang dia!
Tapi kenapa dengan rambutnya?
Agak aneh.
Sudah kubilang bukan! Cepat masuk! Masuk!
Hati-hati di jalan, Tuan Hanjo.
- Ya, jaga dirimu. - Baik.
Suaranya juga sama!
Dasar! Sana masuk!
Apa yang Kau lakukan di sini?
Kau mengagetiku!
- Ada apa? - Cuaca panas, jadi aku ingin istirahat sebentar.
Di sini lumayan sejuk. Ah, aku sibuk. Sampai nanti!
Katakan padaku. Kenapa Kau mengawasi rumah ini?
Ini rahasia. Aku tak bisa bilang padamu.
Ini rumah Nona Soo In. Katakan padaku.
Aku tanya apa yang terjadi?
Penembak?
Tampaknya Ayah Nona Soo In sudah diincar mereka.
- Dan? - Aku sembunyi untuk berjaga-jaga.
Aku juga akan ke Istana Nambyul, tempat digelarnya pertemuan besok.
Istana Nambyul?
Istana Nambyul sebenarnya rahasia, tapi aku sudah terlanjur memberitahumu.
Hanya Yoon Kang yang akan melepas tembakan hanya demi menyelamatkan Yeon Ha.
Tuan Muda Yoon Kang.... mungkin masih hidup.
Di suatu tempat.
Siapa itu?
Kenapa Kau bersembunyi di sana?
Aku tidak bersembunyi, tapi sedang berjalan-jalan di sekitar rumah dan...
Jadi, bumi ini berputar dengan matahari sebagai pusatnya?
Ya.
Ternyata ada juga orang aneh sepertimu di Italia.
Kita akan mengirim talenta muda dan mengutus mereka untuk belajar merakit senjata baru.
Selain itu, kita akan mendatangkan 500 senapan baru
dan melatih pasukan modern untuk melindungi Joseon.
Ini adalah rincian perencanaannya.
Bagus.
Bersiap-siaplah.
Jika pertemuan besok berjalan lancar,
kita bisa selangkah lebih dekat untuk menjadi negara kuat.
Baik.
Pasukan modern menandakan Yang Mulia bersiaga penuh.
Dengan membentuk pasukan seperti itu...
berarti beliau berniat melawan kita secara paksa meski kita yang memiliki kuasa militer.
Bagaimanapun, kita harus menghentikan pertemuan itu!
Memang itu yang akan terjadi.
Jangan terlalu khawatir.
Apa tak masalah jika kita bersikap tenang?
Kita akan berhasil.
Kali ini, justru nyawanya yang akan berada dalam bahaya demi tuntasnya ini.
Kau sudah berusaha keras.
Perjuangan anda sungguh mulia.
- Bersiaplah di posisimu. - Baik.
Jatuhkan senapanmu.
Ho Kyung!
Aku melukai tangan kiri salah satu dari mereka.
Pasti akan ada bekas lukanya.
Ternyata Kau!
Penembak yang membunuh Kepala Pengawal Istana Park Jin Han!
Ke arah situ!
Kejar mereka!
Apa?
Penembak muncul?
Lalu bagaimana dengan Jung Hwe Ryung? Apa yang terjadi pada Jung Hwe Ryung?
Untungnya, beliau selamat.
Kim Ho Kyung yang tertembak demi menyelamatkan Tuan Jung Hwe Ryung.
Kirimkan tabib kerajaan sekarang juga.
- Obati dia segera! - Baik, Yang Mulia.
Sang penembak membuat keributan bahkan saat pertemuan antar negara!
Bagaimana hal ini bisa terjadi?
Kumohon tenanglah, Yang Mulia.
Sampai kapan aku harus diam melihat sikap barbar mereka?
Sampai kapan?
- Kami akan kembali sekarang. - Baiklah, terima kasih.
Ayah...
Kak Ho Kyung baik-baik saja?
Tapi dia masih belum sadar.
Bagaimana ini bisa terjadi... bagaimana...
Istriku, mari pergi.
Kakak...
Ternyata Kau!
Penembak yang membunuh Kepala Pengawal Istana Park Jin Han!
Ayah...
Ada apa?
Apa Ayah terluka?
Ini bukan apa-apa.
Aku jatuh dari kuda saat perjalanan pulang.
- Ayah tak apa? - Ya, aku tak apa.
Kudengar ada insiden penembak lagi di Ibukota siang tadi.
Juru Tafsir Jung hampir tewas.
Lalu, apa Dia baik-baik saja?
Ya, untungnya.
Justru Sarjana Ho Kyung tertembak demi menyelamatkan Juru Tafsir Jung.
Pasti ada banyak penembak selain yang datang ke rumah kita waktu itu.
Kudengar, penembak yang muncul hari ini
telah menyebabkan tempat pertemuan menjadi sangat kacau.
Bagaimana bisa Ibukota jadi seperti ini...
Jangan terlalu dipikirkan.
- Polisi yang akan mengurusnya. - Tetap saja...
Aku agak lelah.
Kembalilah ke kamarmu.
Baik.
Istirahatlah, Ayah.
L e a v 3 5 t
Kakak, Kau sudah sadar?
Bagaimana dengan Tuan Jung?
Ayahku telah menungguimu sepanjang waktu, tapi beliau baru pergi.
Aku akan memanggilnya.
Diamlah di sini sebentar.
Tetaplah seperti ini sebentar saja.
Terima kasih...
sudah berjaga di sisiku.
Saat kubuka mataku...
Aku merasa tenang karena kau di sisiku.
Kakak...
Itu jelas luka pedang yang diceritakan ayahku.
Bagaimana dengan wajahnya?
Aku tak bisa memastikannya.
Kau harus bermitra dengan kelompok pedagang lagi.
Kau harus membuat dia dipihakmu, entah itu suka atau tidak...
agar kau bisa menemukan petunjuk tentang sang penembak.
Dengarkan dengan baik.
Aku tidaklah bermurah hati untuk memberi makan anjing pemburu yang gagal berburu.
Jika kau gagal sekali lagi
Aku akan menurunkanmu dari posisi Ketua Kelompok Pedagang.
Jangan lupa...banyak orang yang mendambakan posisi itu.
- Di Ibukota? - Benar!
Kudengar ada kekacauan besar karena penembak!
Beberapa orang juga melihat jasad-jasad penembak!
Dunia sudah kacau, Aku heran apa yang terjadi...
Tuan Yamamoto akan segera ke Joseon.
Kenapa begitu tiba-tiba?
Aku menerima surat.
Sesampainya di sini, Tuan Yamamoto bisa berpikiran buruk terhadap kita.
Di samping itu, pendirian tambang bersama Kelompok Pedagang Gyeonggi juga terhenti.
- Bagaimana Kau akan menjelaskan ini? - Jangan mendesakku.
Aku sudah mewaspadai itu.
Kita perlu mengisi gudang lebih dulu.
Aku akan bertemu lebih banyak tengkulak.
Suruh Je Mi menyelesaikan pencatatan penundaan pemesanan dalam tiga hari.
Baik.
- Tuan Hanjo. - Apalagi sekarang?
Keadaan terburuknya adalah kau bisa dipulangkan kembali ke Jepang.
Bersiaplah.
Tuan Hanjo.
Aku ingin minta maaf atas nama Ayahku.
Kumohon, Tuan Hanjo.
Tolong beri kami kesempatan terakhir.
Tegakkan kepalamu. Kau tak perlu seperti ini.
Tapi... Aku ingin minta maaf dari lubuk hati terdalam.
Ayahku juga sangat menyesalinya.
Kenapa Dia terus melakukan hal yang membuatnya menyesal?
Payahnya...
- Maaf. - Sudah cukup.
Perkataanku tak kutujukan untukmu. Jadi, Kau tak perlu minta maaf.
Aku tak bisa bersikeras hati melihatmu bersikap seperti ini.
- Berarti... - Segera tunjukkan hasil yang memuaskan.
Aku memberi kesempatan ini untukmu, bukan karena ayahmu tapi karena dirimu.
Terima kasih, Tuan Hanjo. Terima kasih banyak.
Kami takkan mengecewakanmu lagi.
- Akhirnya Kau tersenyum. - Apa?
Ya, tersenyumlah. Kau lebih baik saat tersenyum.
Bagaimana keadaanmu?
Tidak...
Tetaplah berbaring saja.
Saya baik-baik saja.
Terima kasih, kondisi saya semakin membaik.
Soo In merawat saya dengan baik.
Terima kasih.
- Aku berhutang besar padamu. - Jangan seperti itu.
Saya cukup senang Anda selamat.
Bisa berbahaya jika terus ke Istana.
Siapa yang tahu apa yang terjadi berikutnya?
Aku tak bisa menghentikan sesuatu yang kuyakini hanya karena takut.
Ayah...
Justru itu yang mereka inginkan... aku menjadi takut dan menarik diri.
Apa yang Ayah maksud, 'mereka'?
Wakil Perdana Menteri atau Penasehat Negara?
Yang kumaksud bukanlah satu orang.
Aku bicara tentang semua orang yang hanya berusaha melindungi milik mereka.
Pertarungan memang selalu seperti ini.
Pertarungan antara mereka yang berusaha melindungi milik mereka
dan mereka yang ingin berubah demi kebaikan banyak orang.
- Tapi jika sesuatu terjadi pada Ayah... - Jangan berpikir yang tidak-tidak.
Takkan ada yang terjadi.
Oh... ada apa kemari tanpa memberitahu lebih dulu?
Aku hanya mampir.
Kenapa? Kau tak merasa nyaman ada aku di sini?
Kenapa berkata begitu...
Silahkan duduk.
Terima kasih.
No comments yet. Be the first to leave one.