De eerste 200 regels.
Air.
Tanah.
Api.
Udara.
Dahulu kala, keempat negara hidup dengan damai.
Semuanya berubah saat Negara Api menyerang.
Hanya Avatar,
penguasa empat elemen, yang dapat menghentikannya.
Namun, saat dunia membutuhkannya,
dia menghilang.
Seratus tahun kemudian,
aku dan kakakku menemukan Avatar yang baru,
Pengendali Udara bernama Aang.
Semenjak menyelamatkan Suku Air Utara,
Aang telah berlatih menjadi Pengendali Air yang hebat.
Tinggal dua elemen yang harus dikuasai.
Tanah dan api.
Namun, seiring Negara Api yang kian merajalela,
makin sedikit waktu kami untuk menghentikannya.
Masih banyak yang harus dipelajari,
tetapi kami yakin Aang bisa menyelamatkan dunia.
- Ayo. Kita harus terus berjalan. - Percuma.
Aku tahu kau kesakitan,
tapi kita harus jalan terus.
Dari arah sana, prajurit mengejar.
Tapi dari sana, Pejuang Kyoshi akan datang menolong kita.
Tidak akan ada penyelamat.
Untuk apa kita kabur?
Lebih cepat mati terbakar.
Tak ada yang akan menolong kita.
Kalau begitu, selamatkan diri.
Aku tak mau mati semudah itu.
Aku akan mati setelah berjuang. Kau juga harus begitu.
Saatnya pergi.
Ayo.
Serbu!
Itu dia!
Serang!
Hei, Kepala Api!
Ada yang terlupa?
Ya, lupa berapa kali aku menang.
Mau bantu mengobatinya?
Cepat atau lambat kau harus belajar.
Sulit dipercaya.
Banyaklah beristirahat.
Itu setelah perang ini usai.
Sudah lama kita tak berjumpa.
Ya.
Kau makin tinggi saja.
- Ya, 'kan? - Masa?
Tidak.
- Hei. - Ya?
Kau hebat tadi.
- Tidak. - Masa?
Coba kau…
Selisih sedikit.
Hampir sama.
Senang sekali bisa melihatmu.
Melihat kalian.
Kenapa kembali ke Kerajaan Tanah?
Untuk menolong guru pengendalian tanahku.
- Kau tahu Bumi ditahan di mana? - Ya.
Ditahan di menara besi di Omashu.
Sulit keluar dengan kekuatannya.
Tak peduli. Aku harus berlatih pengendalian tanah.
Akan kutolong temanku.
TEMPAT YANG AMAN
Hei!
Berhenti!
Kalian pasti pegang kuncinya, ya?
Aang!
Harusnya jangan kemari.
Bumi, akhirnya.
Kau biasanya bertamu seabad sekali. Ini terlalu cepat.
Kulihat kau berubah dimakan waktu.
Seperti banyak hal lainnya. Bintang, planet, dan sejenisnya.
Baik. Ayo kita pergi.
Ajari aku pengendalian tanah, lalu kita lawan Raja Api.
Tidak mau!
Tidak! Aku terlalu sibuk.
Bumi. Ini bukan waktunya bercanda.
Benar. Ini waktunya kau pergi.
Sekarang juga.
Kau ingin tetap di sini?
Itu alasanku menyerah.
Kau menyerah?
Saat aku berangkat, kau memerangi mereka.
Kini Omashu hancur dan rakyatmu menjadi pengungsi.
Apa yang kau lakukan?
Berdiam!
Aku berdiam saja.
Itu hal tersulit yang pernah kulakukan.
Aku bisa saja berperang dan rakyatku rela mati berjuang.
Tapi demi menyelamatkan mereka, aku memilih diam.
Paham?
Aku harus merasai segala hal
hingga akhirnya mati rasa
karena itulah kunci agar bisa merasakan segalanya.
Apa yang kau ketahui soal jing?
Biksu bilang itu energi yang muncul saat bertarung.
Jing positif itu menyerang. Jing negatif itu mundur.
- Dan sekarang kita harus mundur. - Kalau jing netral?
Ada jing ketiga?
Ada 85 jenis jing.
Momo tahu semuanya. Halo.
Semua orang menggunakan jing tanpa menyadarinya,
tapi kau wajib menyadarinya, Aang.
Kau harus menguasai jing netral
untuk mempelajari pengendalian tanah.
Menguasai jing netral?
Menguasai "diam saja"?
Mungkin terlihat begitu,
tapi jing netral itu mendengarkan dan menunggu
saat yang tepat
untuk menyerang.
Tapi justru ini momen yang tepat.
Kalau kau ikut aku, kita bisa mengalahkan Raja Api.
Kumohon, Bumi.
Kau teman terlamaku…
Kumohon…
Jadilah guruku.
Gurumu haruslah ahli jing netral.
Guru yang menunggu dan mendengarkan.
Mungkin dia teman barumu.
Pergilah, Aang.
Sebentar lagi pergantian penjaga.
Kalau kau ketahuan, kebebasanmu saat ini
akan berakhir detik itu juga.
Sampai jumpa di lain waktu, Kawanku.
Ada apa ini?
Waktunya mengeteh?
Terima kasih.
Hujannya terasa syahdu, ya?
Paman harus lebih cepat lagi.
Jika buru-buru, tak bisa menikmati harum kulit buah
dan sensasi lumpur halus di kulit Paman.
Kalau terus membantu orang lain, makin ringan kantong Paman.
Itu cara pandang yang buruk.
Dunia memang buruk.
Tempat ini buruk.
Ubi melon juga buruk.
Kita awalnya memanen ubi melon.
Lalu kale dan tomat.
Lalu kacang hijau, plum lada, kubis.
Kini kita memanen ubi melon lagi.
Sampai kapan bisa begini?
Bersembunyi seperti buronan.
Kita memang buronan.
Kau akan bilang apa?
Kebenarannya. Raja pasti sudah tahu.
Kebenaran pun relatif.
Jenderal Li, bagaimana situasi pendudukan kita di Kerajaan Tanah?
Setelah penaklukan gemilang kota Ozai Baru oleh Putri Azula,
bentrokan kecil masih berlanjut.
Bentrokan?
Ada banyak kekalahan, Raja Api yang Agung.
Pandai juga bersilat lidah.
Cocok sebagai kata-kata terakhirnya.
Jenderal, kau dibebastugaskan.
Begitu juga kau, Laksamana Kaga.
Dan itu mutlak.
Kami terima, Baginda.
Beri jalan untuk dua sipir baru di bawah tanah.
Putri Azula,
keluarga kita selalu diberkati dengan anak kedua yang arif.
Silakan bicara.
Sementara Jenderal berlarut-larut dan terseok-seok bertempur
di rimba Kerajaan Tanah…
Perang darat dengan Kerajaan Tanah.
Kesalahan klasik.
…pasukanku memanfaatkan Pengendali Tanah yang ditawan
untuk segera merambah wilayah tersebut.
Tak lama lagi, kita bisa
menggerakkan artileri berat dari kapal kita ke daratan
menuju gerbang mereka.
Memercayakan penyerangan Omashu kepadamu
terus terbukti membuahkan hasil.
Selanjutnya, kita rebut Kerajaan Tanah dengan merenggut jantung mereka.
Kota yang konon mustahil ditembus.
Kota besar yang tak tergoyahkan.
Pusat dari kekuatan pengendalian tanah.
Ba Sing Se
akan jatuh.
Sang Naga Barat pun gagal.
Apa anak sekarang tak belajar sejarah?
Pengepungan Ba Sing Se sebelumnya gagal total.
Rencananya cacat dan eksekusinya mandek
karena pengkhianatan Jenderal Iroh.
Lalu apa strategi barumu?
Aku terinspirasi ajaran Baginda,
lalu kupoles lagi.
Kita himpun pasukan dalam jumlah besar di luar temboknya.
Kita alihkan perhatian mereka pada tank bor dan balon perang.
Lalu kita serang dari bawah tanah.
Tawananku menggali terowongan bawah tanah,
lalu tentara kita akan meluluhlantakkan kota dari dalam.
Mereka pasti lengah.
Hanya tiga orang di dunia
yang punya kuasa untuk menentukan masa depan.
Baginda Raja Api,
No comments yet. Be the first to leave one.