The Son

The Son

Download Indonesian ondertitel

Release informatie

The Son 2022 720p 1080p WEBRip x264
Een commentaar door rhaindesign

Tags

webrip
web
x264
720p
720
BRip
1080
Gepubliceerd op: 2023-02-21
Downloads: 99
Slechthorend: No

Voorbeeld van Indonesian ondertiteling

De eerste 200 regels.

Hai.

Hei Jessica, bisa kirimkan aku berkas Jackson?

Sepertinya tak ada di surel-ku.

Aku perlu memriksanya malam ini.

Oke, bagus. Terima kasih. Sampai jumpa besok.

- Ngapain kau di sini? - Kita perlu bicara.

Kau tak bisa muncul begitu saja di sini.

Sudah kucoba. Entah berapa kali. Kau tak angkat teleponmu.

Ada masalah apa?

- Soal Nicholas. - Ada sesuatu?

Ya.

Katakan.

Sore ini, mereka menghubungiku, sekolahnya.

Aku bicara dengan kepsek, dia jelaskan kejadiannya.

Saat itulah kutahu, Nicholas...

sudah hampir sebulan tak sekolah.

Apa?

Berminggu-minggu dia cuma pura-pura tiap pagi.

- Apa maksudmu? - Aku sudah jelaskan.

Dia tak sekolah hampir sebulan dan kau tak perhatikan apapun?

Dia keluar dengan tasnya dan semua yang dia butuhkan hari itu.

Seperti tak ada yang salah, kecuali dia tak sekolah.

Dan sekolahnya, mereka...

Katanya mereka mengirimiku banyak surel yang tak pernah kuterima.

Ngapain dia seharian. Kemana dia?

Entahlah. Aku tak tahu.

Dia hampir tak mau menjawab pertanyaanku lagi.

Beth. Maaf, Kate di sini cuma untuk bicara denganku soal Nicholas.

Kami baru saja tahu dia tak ke sekolah hampir sebulan.

Bukan cuma itu, Peter.

Dia sakit.

Kau perlu bicara dengannya. Entah aku harus bagaimana lagi.

Dia membutuhkanmu, Peter. Kau tak bisa tinggalkan dia begitu saja.

Aku tak meninggalkannya, kenapa kau terus ngomong begitu?

Baik.

Suatu hari...

Aku memintanya untuk...

Aku bahkan tak ingat apa itu. Untuk mengeluarkan piringnya atau sesuatu.

Dia cuma menatapku...

dengan...

begitu banyak kebencian.

Kupikir dia akan...

Apa?

Dia membuatku takut.

Baiklah, aku akan...

Aku akan menemuinya besok.

Nanti aku akan mampir.

Terima kasih.

Kami sudah pelajari kebijakan lanjutan mereka, dan menurut kami

mengakuisisi perusahaan ini akan sejalan dengan strategi hijau kami.

Mereka punya faktor lingkungan, sosial,

dan tata kelola hebat yang akan beri kami bonus besar.

Menurut kami merger dengan mereka akan bagus

untuk reputasi mereka dan juga reputasi kami.

Bagus. Menurutku aku sudah dapat semua informasi yang kubutuhkan.

Sekarang aku akan menelepon Jeffrey, lihat apa kita bisa buat mereka pindah.

- Bagus. - Terima kasih.

Silahkan.

Akan kuhubungi kembali segera setelah ini selesai. Oke?

- Terima kasih. - Baik.

Terima kasih.

Hai.

- Apa yang ayah lakukan di sini? - Apa boleh? Ayah mengganggu?

- Apa kabar? - Baik.

Ayah datang karena ayah mau..

Ayah mau bicara denganmu. Kau punya waktu?

Tentu.

Ibumu bilang katanya kau tak masuk sekolah.

Apa yang terjadi?

Tak ada.

Dengar, ayah tahu kau alami kesulitan saat ini,

dan ayah tahu kau marah pada ayah.

Tapi itu bukan alasan bagi kita untuk tak saling bicara.

- Kenapa kau berhenti sekolah? - Aku tak tahu.

Kau tak tahu?

Kau tak bisa putuskan tiba-tiba berhenti sekolah. Itu bukan pilihan.

Kau ada masalah?

Kenapa kau mendesah?

- Tak ada alasan. - Pasti ada alasannya.

Beri tahu ayah.

Aku tak mau membahasnya.

Nicholas, ayah tak bisa membantumu jika kau tak cerita pada ayah.

Ngapain kau seharian? Kau pergi kemana?

Aku jalan.

Kau jalan? Sendirian?

Ya.

Tapi kenapa, Nicholas?

Menurutmu itu bisa diterima? Dan dengan Testmu yang akan datang?

Kau sadar sekolah mau mengeluarkanmu.

Ibumu putus asa menghadapimu, kau tahu itu?

Dia mau mengirimmu ke sekolah asrama.

- Itu maumu? - Tidak.

Jadi, kau harus lakukan sesuatu. Jangan biarkan semua seperti ini.

Aku tak bisa hadapi semua itu.

Kenapa kau ngomong begitu? Apa ada sesuatu terjadi di sekolah?

Tidak.

Atau di luar sekolah?

Ayo, kita bisa saling bicara .

Jangan begitu.

Dia...

Ya?

Aku tak tahu bagaimana menggambarkannya.

Katakan saja dengan kata-katamu sendiri.

Inilah hidup.

Itu membebaniku.

Ada apa dengan hidup yang tak sesuai untukmu?

Entahlah.

Aku mau sesuatu berubah tapi aku tak tahu apa.

Kare itu kadang-kadang aku ngoming sendiri mungkin...

Katakan.

Aku mau tinggal bersama ayah.

- Dengan ayah? - Aku dan Ibu...

Kami tak akur.

Dia tak tahan lagi denganku. Aku tahu dia tak sanggup.

Saat aku disini...

Aku mendapatkan terlalu banyak kesedihan.

Dan aku mau tinggal bersama adikku.

Ya...

Jika ayah mengirimku ke sekolah asrama, aku akan jadi gila.

- Tentu saja tidak. - Ya, aku akan gila. Asal ayah tahu.

Aku merasa sangat pusing.

Kemari.

Terkadang rasanya aku jadi gila, ayah.

- Apa maksudmu? - Asal ayah tahu.

Entah apa yang terjadi padaku.

Jangan khawatir, sayang. Kita akan selesaikan.

Percayalah.

Hei, kau menghubungi Kate. Tinggalkan pesan.

Hei, ini aku. Aku baru saja bicara dengannya.

Kau telepon aku kembali saat kau terima pesan ini? Terima kasih.

Kenapa kau bersikap seperti ini?

- Seperti apa? - Dia bisa tinggal di kamar belakang.

Bagaimana dengan sekolahnya?

Kita akan pikirkan.

Pasti ada yang akan menerimanya pertengahan semester, bukan begitu?

Ya. Tentu ada.

Kau mengenalnya dua tahun.

Dan bisa kulihat...

Aku tahu kau punya kesan negatif soal dia

setelah semua yang terjadi. Tapi dia tak selalu seperti itu.

Saat dia kecil, dia sangat...

Saat aku menemuinya, dia punya...

Entahlah, tanda.

- Tanda? Seperti... - Bekas luka. Di lengannya.

Itu sangat membuatku kesal.

Dia putraku.

Hai.

Itu benar. Kau benar.

Aku merasa bersalah.

Aku tak bisa pura-pura tak bertanggung jawab atas situasi ini.

Aku meninggalkan, Beth. Aku meninggalkan.

Aku tahu. Tapi itu bukan salahmu jika dia tak sehat.

Dia lagi melalui masa-masa sulit.

Lagi pula, menurutku aku tak punya pilihan.

Aku tak bisa menyerah begitu saja padanya.

Oke. Aku mengerti.

Jangan khawatir. Aku mengerti.

Dan kau harus tanya dokter soal bekas lukanya.

Aku tahu.

Hai.

- Kau siap? - Ya.

- Bukankah kau... - Tidak, terima kasih.

- Jadi... - Ya.

Jangan lupa, kau tahu, kau selalu bisa...

- Aku tahu. Terimakasih Ibu. - Tak masalah.

- Tapi jangan kira itu karena... - Ibu tahu.

Ibu tahu apa maksudmu. Jangan khawatir.

Baiklah.

Hai.

Telepon ibu.

Tunggu.

- Hampir lupa. - Apa?

Roti pisang.

Terimakasih Ibu.

Ibu menyanyangimu.

- Hei, kebutuhanmu sudah semua? - Ya, tentu.

Kau temukan handuk yang ditinggalkan Beth untukmu?

Ya.

Baiklah. Bagus. Ayah akan meninggalkanmu.

Ayah mau tidur.

Ayah sangat senang kau ada di sini. Ayah rindu habiskan waktu bersamamu.

Bagaimana dengan Beth, dia tak keberatan aku pindah ke sini?

Jelas, Nicholas. Kami sangat senang kau ada. Kami berdua.

Ini rumahmu juga, kau tahu?

Oke? Ayo. Kau harus tidur, ini sudah larut.

Selamat malam.

Selamat malam, Ayah.

Dr. Collins, ini Peter Miller. Maaf menelepon di ponselmu.

Aku mau bicara dengan soal putraku, Nicholas.

Kurasa dia perlu menemui terapis.

Dan kurasa kau mungkin mengenal seseorang yang ahli, jadi...

Jika kau bisa telepon aku kembali. Terima kasih.

- Apa aku mengganggu? - Tidak, masuk.

Beri tahu aku.

Apa aku benar, kau berpikir untuk segera pergi ke D.C.?

Berita menyebar dengan cepat.

Katanya dia mencalonkan diri di Primaries, benarkah?

Apa sebenarnya yang dia tawarkan padamu?

Jadi bagian dari tim kampanye?

Dia tak ngomong sesuatu yang spesifik, tapi...

More Indonesian subtitles for The Son

Opmerkingen

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left