De eerste 200 regels.
FILM INI ADALAH KARYA FIKSI, TERINSPIRASI KEHIDUPAN MITHALI RAJ
Kami melihat secercah harapan saat diberi tahu CAI mendukung kami.
Kami pun bermain untuk India, Pak.
Kami juga punya identitas.
Kau suka kriket?
Kriket adalah hidupku, Pak.
Sebutkan lima…
pemain kriket wanita.
Ada tiga?
Maaf, Pak.
Sebutkan satu nama.
Maaf, Pak.
Itu identitasmu.
Pak, kami juga punya identitas.
Kami pun bermain untuk India, Pak.
TAHUN 1990
Gadis tak bisa melakukannya, Bodoh.
Pukulanmu tak akan menyelamatkanmu.
Sungguh? Tunjukkan.
Akan kutunjukkan.
Bagaimana? Ya!
Apa katamu tadi?
Aku tak bisa? Aku mengalahkanmu.
Kau sebut aku bodoh? Kau yang bodoh.
Ayahmu bodoh.
Seluruh keluarga, teman, sekolahmu,
bodoh.
Kau bodoh.
Bodoh.
Bodoh.
Bodoh.
- Aku pasti diet cabai, - Diam.
saat mengandungmu.
- Aku mau bermain. - Kau seperti preman.
Sikapmu mirip pria.
Ayahmu akan menghabisiku jika tahu.
Pakai ini.
Jangan berpakaian mirip pria. Masuk.
Ayo, jalan.
Halo, Bu. Namaku Shagufta.
Ya?
Jadikan dia perempuan.
Namun, dia perempuan.
Maaf, Bu.
Mungkin, tapi sikapnya seperti pria.
Bicaranya kasar seperti pria.
"Kuhabisi kau. Sampai nanti. Kau bisa kuhajar nanti."
Itu cara bicaranya.
Dia bisa belajar beberapa hal jika datang kemari
dan bersikap seperti perempuan.
Siapa namamu?
Noorie.
Bagus.
Kau tahu apa artinya?
- Tak tahu. - Artinya "sinar".
Matamu bersinar seperti namamu.
Mau belajar Bharata Natya?
- Ya, boleh saja. - Noorie.
Mithali.
Jaga mulutmu.
Noorie, dia Mithali.
Murid terbaikku.
Mithali, dia Noorie.
Dia sahabat barumu.
Apa?
Jadi sahabat tak semudah itu.
Aku akan tahu setelah kita bermain bersama,
jika dia layak.
Tentu. Bermainlah sesukamu setelah kelas usai. Ya?
Baik. Tunjukkan kukumu.
Mengapa kuku?
Dia mungkin mencakar jika tak menyukaiku.
- Anak kucing. - Hei.
Di mana tangan berada, mata mengikuti
Di mana mata berada, pikiran mengikuti
Saat pikiran mengikuti, muncullah ekspresi
Saat ada ekspresi, muncullah perasaan
Di mana tangan berada, mata mengikuti
Di mana mata berada, pikiran mengikuti
Saat pikiran mengikuti, muncullah ekspresi
Saat ada ekspresi, muncullah perasaan
Kurasa gurunya sudah gila.
Sudah lama, Noorie.
Jika kau tak cepat belajar, guru akan marah.
Aku tak tertarik mempelajari semua ini.
Ini sangat mudah. Akan kuajari.
Perhatikan.
- Tak mau. - Ayo.
- Aku tak mau. - Ayo. Ini mudah.
- Tak mau. - Ayo.
Ayo. Letakkan tanganmu di sini.
Ke atas.
Sangat bagus.
Tekuk lututmu.
Ya, benar. Sekarang…
Tai-yum
Tai-yum
Ta-tha
Ta-tha
Tai-yum
Tai-yum
Paham?
- Ta-ha. - Ta-ha.
Perhatikan gerakanku yang dipercepat.
Ke posisi.
Tai-yum…
Astaga, aku sungguh lupa.
Aku harus beri Horlicks ini ke Mithun.
- Mau ikut? - Ayo.
Ini baru tempat yang ingin kudatangi.
Ayo masuk.
Aku ingin bermain kriket seperti Mithun saat dewasa nanti.
- Kau juga suka kriket? - Ya.
Sachin adalah favoritku.
Tunggu.
Apa yang kau lakukan di sini?
Mundur. Pergi.
- Tangkap. - Ayo.
Seorang gadis menangkap bola.
Itu adiknya.
Hei. Mengapa kau menangkapnya?
Aku menyuruhmu untuk tetap di luar.
Kupukul kau jika kulihat lagi di sini.
Tidak jika aku memukulmu lebih dulu, Gendut.
Tidak, jangan.
- Noorie, berhenti. - Ada gadis memukulinya.
- Pergi, Noorie. - Noorie.
Noorie.
Noorie.
Dia memukulinya.
Dia dipukuli seorang gadis.
Noorie.
Teman Mithali memukuliku di depan teman-temanku.
Sungguh?
Mereka tak mau aku ikut pelatihan.
Aku tak akan pernah dipilih Pak Sampath.
- Itu tak benar, Mithun… - Mengapa dirahasiakan?
Ini salahmu, Bu.
Pak Sampath…
Ya, Pak Sampath.
Dia melatih di bawah U-13 dan U-16 dari distrik kita.
Beberapa pemain pun masuk tim nasional.
Oh, ya.
Yang hanya main satu pertandingan uji coba.
Namun, tak berkembang.
Dia pemain bagus. Lumayan.
Permainanmu akan meningkat jika dia melatihmu.
Mithun, makanlah.
Ibu.
Bu, aku harus tetap bugar selama seminggu.
Aku harus fokus pada latihanku.
Jadi, tak ada lagi tugas.
Tak ada yang akan mengganggumu, Sayang.
Aku enggan makan dari piringnya.
Semoga besok sukses.
Bermainlah seperti Sachin.
Baik.
Namun, jauhi dia.
Dia selalu di sini.
Hei, Gendut.
Jauhi gorengan, atau kau akan kentut di lapangan.
Nenek, Noorie meneriakiku lagi.
Lihat kemari.
Akan kupatahkan lenganmu jika kau sentuh anakku lagi.
Kau pikir kau siapa?
Kupotong tangan dan kakimu untuk diberi ke kelelawar.
Ya. Hati-hati.
Ini tempat rahasia kita.
Kakak gendutmu tak akan mengganggu kita.
Kau memukul, aku melempar.
Aku belum pernah bermain kriket.
Astaga.
Aku akan jadi pelatihmu.
Ingatlah tiga hal untuk bermain kriket.
Bola rendah, bola S, Howazat. Paham?
Ya.
Kau akan kesulitan.
Noorie dan sinarnya akan bantu.
Ada apa?
Kita butuh penangkap.
Rekha, Sujata, Kavita, Supriya, Veena, Meenakshi, Devki, Karuna.
Grup tari kita.
Itu nenek tuamu.
Aturannya, pukul bola di antara mereka tanpa menyentuhnya.
Jika bola menyentuh, kau keluar. Jika mengenai Nenek, enam poin. Paham?
Nenek seorang wanita tua, Noorie.
Aku ingin balas dendam.
Dia membuatku kesal.
Ayo bermain.
Kau tak bisa memukul bolanya.
Baik.
Tutup matamu.
Anggap kau tak bermain kriket.
Bayangkan…
kau sedang berlatih Bharata Natya.
Ingat yang diajarkan guru tari?
"Di mana tangan berada, mata mengikuti."
Di mana tangan berada, mata mengikuti
Di mana mata berada, pikiran mengikuti
Ke mana pikiran pergi Di situ ada ekspresi
No comments yet. Be the first to leave one.