De eerste 200 regels.
Dokter datang!
Awas! Minggir!
Jangan berkerumun!
- Panggil ibunya. - Hack! Bangun!
- Aku melakukan RJP dasar. - Hack!
Baiklah. Tolong cepat.
- Baiklah. - Sudah beri tahu ibunya?
Tenang, ya?
Denyutnya melemah.
Kau bisa, Dokter?
Sudah beri tahu ibunya?
Sudah kuberi tahu.
Panggil ibunya.
Dia menuju kemari.
Tenang.
Bawa kemari.
Ayo pergi.
Seharusnya kami bisa menolongnya.
Namun, kami tak bisa.
Siapa yang akan kuasuh sekarang? Bagaimana aku bisa hidup?
Siapa pelakunya? Kenapa ini harus menimpa putraku?
Dokter, biar kuantar.
Tak perlu. Klinikku dekat.
Aku mengerti perasaanmu, Dokter.
Aku tahu kau sudah berusaha.
Dokter…
Kau ingin merasa lebih baik?
Aku pun ingin merasa lebih baik.
Malangnya dirimu. Pulanglah.
BAHAYA
Ikatkan benang suci di pergelangan tanganmu.
Dokter.
Ikatkan benang sucinya.
Akan kuikatkan.
Semoga diberkahi hal baik dan dijauhkan dari hal buruk.
Semoga rohmu kembali kepadamu, di mana pun ia berada.
Aku menanam pisang ini untukmu.
Baiklah. Terima kasih.
Bawa ke tempat lain!
Singkirkan!
Sudahlah. Sayatan kecil begini tak akan membunuhmu.
Jaga-jaga agar tak mati.
Makanan sudah tiba.
Gigitan tokek!
Pura-pura, ya?
Kenapa tokek itu tak menggigitku?
Semoga wajahmu digigit.
Pengumuman. Ini kepala desa.
Tim dari pusat kesehatan akan ke sini hari ini
- untuk pemeriksaan demam berdarah. - Wan.
Karena wabah ini sangat berbahaya.
Sebaiknya buka hatimu.
- Cari pacar. - Penyakit itu mencapai desa kita.
- Tolong kerja samanya. - Orang yang serbabisa.
Orang yang bekerja di bidang serupa agar bisa saling memahami saat mengobrol.
Tempo hari,
dr. Toey mengirim pesan untuk mengajakku kencan.
Aku harus apa?
Coba kulihat.
DOKTER LAJANG CARI CINTA
Katamu, kau tak suka dokter.
Kataku terbukalah kepadaku.
Sial.
Kita berteman. Mana bisa jatuh cinta?
Aku tak mau jadi temanmu.
Itu ular tak berbisa. Kau tak apa, Sayang.
Kakiku mati rasa.
Coba bayangkan jadi aku.
Kau baik-baik saja.
Kubersihkan lukamu, lalu kau bisa pulang.
Bicara memang gampang.
Tolong! Dokter, tolong!
- Aduh! Sakit, Dokter! - Wut, bawa dia ke dalam!
Kakiku mati rasa.
Dokter, tolong periksa temanku.
- Dia tersayat. - Dia berdarah!
- Hentikan pendarahannya! - Pegangi!
Wan, ambilkan kain kasa. Kita akan menjahitnya.
- Sekarang! - Cepat!
Lebih cepat!
Tekan lukanya. Jangan menggeliat.
Dokter!
Sudah habis. Bibi harus mengambilnya di Puskesmas Ban Hoi.
Ya. Pergilah!
Hei, lebih cepat lagi!
Masuklah! Kalian semua!
Buka!
- Jatuhkan golokmu! - Jatuhkan!
Jatuhkan di sana.
Mundur!
Berlutut. Jangan berdiri!
Bawa yang satu lagi di sana!
Sebenarnya,
wajah Lod seperti orang udik.
Kenapa kau suka dia?
Cintaku bukan karena penampilan.
Lantas, wajahku kenapa?
Bagaimana pendapatmu soal Lod?
- Masih cinta dia? - Tidak juga.
Masih ingat rasanya?
Kenangan dari masa lalu.
Ya, aku ingat sebagiannya.
Kukira kau sudah melupakannya.
Beberapa kenangan memang indah.
Kita harus mengingat kenangan indah.
Seperti tato ini?
Kau ditato karena dia.
Kau pernah bercinta dengannya?
Jangan berpaling.
Kenapa kau mudah terpikat?
Kenapa kau biarkan dia merusak kulitmu yang halus dan indah?
Kenapa kau berpikir negatif soal tato?
Kadang, itu cuma kenang-kenangan.
Terserah.
Baiklah. Aku akan pura-pura tak tahu.
Pakai lengan panjang saat kerja.
Apa maksud senyuman itu?
Jadi, Dokter Jack,
para nenek di desa tak pernah datang untuk berobat.
Mungkin mereka sibuk bekerja.
Sibuk apa?
Hei, Wan.
Kau tak mati bersama mereka.
Paling-paling, kau bayar pemakamannya.
Kau gila, ya?
Mereka pasti senang sudah kita rawat.
Jangan berpikir begitu.
Kita butuh dokter seperti ini.
Lihat dan pelajari.
Jangan jadi dokter.
Jadi anjing saja. Sayang…
Benar, Sayang?
Sudah habis.
Ayah basah kuyup.
SUDAH RESERVASI RESTORAN. KALI INI JADI, 'KAN?
Dokter Toey, ya?
Kalian serius?
Dokter Jack.
Temani aku untuk menemuinya.
Tidak!
Tak sudi.
Kau gila, ya?
Dua dokter di satu tempat?
Tidak bisa.
Kau ingin aku mengantarmu bertemu pria yang menyukaimu,
padahal aku juga menyukaimu?
Apa yang kau pikirkan?
Untuk apa otak itu?
- Jangan keras-keras. - Cilukba!
Aduh, basah.
Tangkaplah.
- Aku? - Ya. Kau ingin aku melakukannya?
Aku pemilik tempat ini.
- Tangkap. - Berapa kilogram?
Satu kilogram untuk Jae Suay.
Pelajari caranya saat aku pergi.
Kembalianmu 20 baht.
Sudah dengar kabar soal pacar baru dr. Wan?
Jangan membahasnya seperti itu.
Itu bukan gosip, tapi fakta.
Warga desa menggunjingkannya. Semua melihatnya.
- Tak mungkin. - Apa?
- Lihat, anak ayam. - Ini, Sayang.
Kakak.
Harga kepiting 200 baht per kilogram. Ada diskon 20 baht.
Lod bilang begitu.
Ada biaya tambahan untuk salad pepaya.
Satu minuman Carabao merah juga, Kak.
Kurangi dari diskon kepiting.
Dasar pelit.
Potongannya cuma 10 atau 20 baht.
Ya ampun.
Hei, Mued.
- Ya? - Jadi…
kakakmu dan Kaew masih akur?
Ya. Kenapa?
Tak apa. Cuma dengar gosip.
Gosip apa?
Tidak penting.
Soal dr. Wan dan pacar barunya.
Apa urusanku?
Tak ada, cuma beri tahu.
Yang terpenting, pacar baru dr. Wan
tidak udik seperti kakakmu.
Rahasiakan darinya.
- Dia akan memakiku lagi. - Aku pergi.
- Dia memakiku tiap hari. - Apa maksudmu?
Kenapa mengebut, Mued?
Di mana minumanku?
Kepiting ini cukup besar.
Segar sekali!
Aku juga mau coba.
Aku masih lemas.
Mengirim kepitingmu tiap pagi…
Pagi-pagi sekali.
Jangan minta. Kau terlalu muda.
Minum satu truk pun tak ada gunanya.
Kenapa bilang begitu?
Yang adil, Lod. Dengarkan aku bicara.
Baik. Begini saja.
No comments yet. Be the first to leave one.