De eerste 200 regels.
Musim panas.
Waktu paling menyenangkan dalam setahun.
Matahari, pantai, pesta,
foto di tempat-tempat indah, hanya untuk pamer di IG.
Apalagi tentunya kalau punya uang.
Tapi bukan karena itu musim panas asyik.
Musim panas itu asyik karena ini waktu terbaik untuk melupakan
rutinitas sehari-hari yang membosankan.
Untuk bermimpi terbang ke bagian dunia yang lain
dan tidak pernah kembali.
Kalau beruntung, kita akhirnya merasa tak ada yang kurang.
Misal, ada di tempat yang kita mau, dengan orang yang kita mau.
Kita ingin diam di momen itu selamanya.
Tapi kemudian,
semua yang baru saja kita miliki tiba-tiba lenyap.
Tolong angkat teleponnya.
Sial.
Tolong angkat teleponnya.
Sial, Dani, ini aku. Tolong angkat.
Tidak!
Kita sadar akan mengingat musim panas itu seumur hidup.
Bukan karena alasan yang kita kira.
GARIS POLISI DILARANG MELINTAS
Apa hubunganmu dengan Celia, gadis yang hilang itu?
Kenalnya bagaimana?
Menurut catatan hotel, ini pertama kalinya kau menginap di sini.
Aku tiba dua hari lalu.
Sebelumnya belum pernah bertemu dia.
Lalu itu apa?
Cinta pada pandangan pertama?
Dari yang kami lihat di kamera,
kalian tampak lebih dari sekedar teman.
Apa maksudmu?
Mungkin si lelaki hilang kesabaran.
Kau tidak suka ditolak, 'kan?
Tidak.
- Anakku tidak seperti itu. - Jika tahu sesuatu…
- Miguel, biar aku yang bicara. - Kau berhak diam.
- Tapi aku tidak mau. - Tolong.
Tidak perlu beri tahu sampai detail.
Tapi lebih banyak cerita, lebih baik.
Aku dan Celia bercumbu.
Tapi jangan samakan aku dengan itu. Aku tahu arti kata tidak.
Baiklah, Daniel.
Ceritakan semuanya kalau bisa karena nyawa Celia dalam bahaya.
48 JAM SEBELUMNYA
…kapal layar 15 meter yang indah menunggu kita.
Besok bisa 10-12 knot. Memberi tahu saja.
Tidak cukup menaklukkan daratan, laut pun harus kau taklukkan.
Lucu sekali.
Kenapa memilih kalau bisa dapat semuanya?
Aku butuh asisten yang andal, Dani.
Kau akan cepat belajar.
Siap, Kapten.
Kalau tidak, tahu bisa ngapain?
Menyajikan sampanye.
Sebaiknya tidak.
Kalau kau jatuh ke laut, aku takkan memaafkan diriku, Sofi.
Ayolah, Dani, liburan ini akan tak terlupakan.
Pasti. Tahu bagaimana supaya lebih indah lagi?
Kalau salah satu temanmu kau ajak.
Hei! Teman-temannya asyik.
- Terutama si pirang yang kau… - Awas!
Ya ampun.
Awal yang bagus.
KAMERA 03
Keluarga Castaño-Alarcón, ya?
Ini putriku, Sofía.
Sara dan putranya, Daniel.
Kalau masuk saja sulit…
Bayangkan pas mau keluar.
Silakan masuk.
Terima kasih.
KAMERA 02
Lihat yang kami punya di sini.
Dani, kalau orang tua kita mau pura-pura kita keluarga bahagia, itu bagus.
Tapi kau urus urusanmu, aku urus urusanku.
- Tidak perlu dijelaskan. - Jaga-jaga kau bingung.
Astaga. Denganmu? Tak pernah terlintas.
Halo. Apa kabar?
Tn. Castaño, Ny. Alarcón, selamat datang.
Saya Luis Baselga, direktur Oasis Infinity. Apa kabar?
Senang bertemu. Kami dengar hotel ini bagus.
Kami berhasil menipu seseorang sesekali.
Celia? Tolong kemari.
Tidak harus lapor masuk sekarang.
Nah, kumat lagi mata keranjangnya.
Sifat orang aneh-aneh. Aku cuma peduli urusanku, kau peduli urusan semua orang.
Kenalkan putriku, Celia.
Senang menyambut kalian.
- Sudah kami tunggu. - Makasih.
Ajak yang muda-muda berkeliling.
- Pasti mereka tertarik. - Tentu. Dengan senang hati.
- Mari ikut saya. - Baiklah.
Boleh kutaruh di sini?
- Bagaimana perjalanannya? - Baik.
Jika berkenan, kita bisa mulai dari area restoran.
Maaf, kalau aku ingin tur berpemandu, aku akan ke MoMA.
Tahu ke kolam renang lewat mana?
Ya, lewat sana.
Terima kasih banyak.
Semoga saya tidak menyinggung adikmu atau…
Dia bukan adikku.
Tak ada hubungannya denganmu. Santai.
Dia menggemaskan kalau tidak ada.
Oke, kita mau pesan apa?
Oke.
Margarita grapefruit. Kurasa dia mengada-ada.
- Kurasa itu tidak ada. - Hai.
- Coba kita lihat, sedikit Martini… - Hai.
Boleh di sini?
- Hai. - Hai.
- Ada orangnya. - Ada orangnya.
Maaf, apa harus reservasi?
Pertama kali ke sini?
Ya.
Kami punya tradisi di sini.
Semua orang punya tempat sendiri dan kami suka mengikuti itu.
Oh, begitu.
Kalau itu? Boleh duduk di sana?
- Atau sudah dipesan juga? - Duduk saja. Hanya saja…
Entahlah.
Sofi? Ya ampun!
- Astaga! - Ya ampun.
- Kalian saling kenal? - Ya.
Dia teman sekamarku di asrama.
- Masa? - Seperti kita.
- Kapan datang? - Baru saja. Belum lama.
Gila. Kenalkan, ini Leo dan Maca.
Sahabatku di sini. Kami ke sini tiap tahun.
Berapa lama?
- Enam. Enam tahun. - Masa?
Kami baru bertemu beberapa menit lalu.
Mereka sangat baik.
Teman-Teman, arah jam tiga.
- Baiklah. - Berapa nilainya, 8,5 atau 9?
- Tidak seksi dari depan. Bukan tipeku. - Sungguh?
Hei, Celia!
- Berangan-angan tinggi, ya? - Selalu.
Aku tidak mengerti. Dia membosankan sekali.
Seperti yang laki-laki.
Kau kenal dia?
Ibunya bersama ayahku.
Lalu?
Tidak. Tidak akan. Aku lebih baik mati. Jangan harap.
Lagi pula, tipeku beda. Entahlah, aku suka yang lebih…
seperti yang itu.
Pablo?
Maca, cewek baru ini mau merebut pacarmu.
Coba saja kalau mau.
Tapi dia tak setampan itu dari dekat.
Oke, dah.
Manisnya. Penuh aura kasih.
Cemburu?
- Tidak sedikit pun. - Ya.
- Aku harus pergi. Nanti telat main golf. - Serius? Jangan.
- Lau! - Ayolah, di sini saja.
Dia tidak akan bolos golf. Pelatihnya terlalu seksi.
Dasar konyol.
Aku janji nanti kita nongkrong.
Dah!
Dah, Laura!
Hai.
Ini ruang ganti wanita.
Handuk di ruang ganti kami habis.
Lalu bagaimana maumu?
Kau bisa beri handukmu ke aku kalau mau.
- Handukku? - Ya.
Baiklah. Bisa kulepas kalau mau.
Tapi pacarmu mungkin tidak akan suka.
- Maca, 'kan? - Ya.
Masih pacar.
Dia sangat cantik, omong-omong.
Dan…
- Seleranya bagus. - Begitu, ya?
Itu kesamaan kami.
Kau benar-benar mengira aku akan telanjang.
Kau terlalu manja.
Bawa saja handuknya.
Baiklah.
- Tak apa-apa. - Benar.
Lumayan. Tujuannya adalah mendekat sedikit demi sedikit,
tidak langsung bisa pertama mencoba.
Mau coba lagi?
- Ayo. - Ayo.
Lihat.
Ikuti gerakan ini.
Ya?
Baiklah.
Bagus sekali!
Lihat?
Sekarang aku harus bisa tanpa bantuanmu.
Laura!
Nenekku.
- Kalau nenekmu mau ikut… - Sebaiknya jangan.
Oke. Sampai jumpa besok.
- Sampai besok. - Pukulanmu tadi bagus.
Yang terakhir.
- Dah. - Dah.
- Berapa lama kau di sini? - Kau mau mengusirku?
No comments yet. Be the first to leave one.