Pierwsze 200 wierszy.
Selamat tinggal, Pinky.
Kentang!
Kentang?
Kentang?
Pinky...
Pinky, apa maksudmu?
Oh...
Oh, Pinky.
Bebaslah, Sylvia.
Jangan khawatir.
Aku akan baik-baik saja.
Aku tidak selalu sendirian.
Masa kecilku dikelilingi banyak orang.
Hmm...
Ayah pernah bilang kalau masa kecil rasanya seperti sedang mabuk.
Semua orang mengingat apa yang kau lakukan, kecuali kau.
Tapi, masa kecilku berbeda, Sylvia.
Aku ingat semuanya,
sejak awal.
Aku selalu suka saat merasa terkurung,
nyaman, dan terlindungi.
Lahir prematur memang sangat mengejutkan.
Aku belum sepenuhnya jadi,
dan tampak seperti bayi kelinci.
Aku diberi nama Grace Prudence Pudel.
Saudara kembarku, Gilbert.
Perawatnya bilang kalau kami memiliki dua jiwa,
namun satu hati.
Mmm. Aku suka itu.
Kelahiran kami sangat berat bagi Ibu,
dan dia meninggal.
Kami keluar dari rahimnya
dan ibu masuk ke dalam liang lahat.
Induk siput juga melakukan hal yang sama
setelah mereka melahirkan.
Benar, kan, Sylvia?
Seiring dengan bertambahnya usiaku,
Aku menderita banyak penyakit.
Aku selalu kembali ke rumah sakit karena sesuatu.
Dokter bilang kalau aku mirip boneka porselen
yang bisa hancur hanya dengan tatapan mata.
Pada akhirnya, mereka harus memperbaiki bibirku yang bergelambir.
Kondisinya jadi buruk.
Aku kehilangan banyak darah,
aku butuh transfusi.
Dokter meminta pada Gilbert untuk mendonasikan darahnya untukku.
Hah?
Oh.
Dia mengiyakan,
meskipun dia menganggap kalau dia harus mati untuk menyelamatkanku.
Berapa lama lagi sebelum aku mati?
Mereka menjelaskan dengan cepat kalau dia tidak akan mati.
Tubuhnya akan memproduksi darah baru.
Oh.
Dia menjadi pahlawan bagi semua orang di malam itu.
Pahlawanku.
Untuk menghiburku,
Ayah memberikan kotak perhiasan tua milik ibu.
Ooh!
Kotak itu berisi koleksi siput ibu,
dan cincinnya.
Ibu juga menyukai siput,
dan pernah menjadi seorang malakologis.
Menuruku seharusnya Gilbert yang memiliki cincin itu.
Ooh.
Aku akan memakai ini sampai mati, Gracie.
Terlepas dari kesengsaraanku, Sylvia,
gelasku setengah penuh (aku ini orang yang opmitis) dan percaya pada hikmah.
Kalau gelas Gilbert sih setengah kosong (pesimis).
Aku ingat kalau dia sering merasa sedih.
Sepertinya ada rahasia yang ingin dia katakan.
Dia seperti Holden Caulfield, James Dean, dan Charlie Brown
yang digabung menjadi satu.
Dia melihat orang lain sebagai ancaman.
Di sekolah, dia selalu menjadi pembelaku.
Wajah kelinci, wajah kelinci,
wajah kelinci, wajah kelinci.
Berikan padaku.
Oi, goblog.
Hmm?
Agh!
... mengembang biakkan seekor ayam dengan jerapah.
Katanya dia bisa bertelur,
tapi moncongnya panjang.
Rumah adalah tempat perlindungan kami,
tempat di mana kami merasa aman
untuk membaca buku dan menonton acara kesukaan kami.
Aku suka dengan kamarku.
Semuanya sesuai dengan keinginanku.
Sudut yang tepat memberiku kenyamanan yang luar biasa,
begitu juga dengan siputku, Sylvia.
Siput-siput ini adalah teman-temanku,
jadi aku membuat lebih banyak siput.
Aku tahu kalau siput ini tidak akan pernah meninggalkanku,
menyakitiku.
Atau mati.
Aku tidak suka melihat orang mati.
Aku ingin menyelamatkan orang-orang.
Selamatkan para tunawisma.
Aku paling suka dengan James.
Aku pernah menutupi dia dengan dekorasi
supaya dia bisa merasakan keceriaan Natal.
Dia menyukai tehnya.
Hah?
Ah! Ah.
Ah...
Bagus sekali, possum kecil. Bagus sekali.
Dia pernah menjadi hakim,
tapi jabatannya dicopot karena dia masturbasi di pengadilan.
Saat itu,
aku menganggap masturbasi berarti mengunyah makananmu secara menyeluruh.
Dia pernah bilang padaku kalau
masturbasi adalah pencuri waktu.
- Ooh! - Hah?
James memberiku siput asli pertamaku.
Ah!
Ibumu, Sylvia.
Dia menyuruhku untuk menempatkan dia ke dalam toples besar
dan memberinya Vegemite.
Selagi aku sibuk berusaha menyelamatkan dunia,
Gilbert ingin membebaskan diri dari dunia.
Membebaskan orang lain.
Hah?
Ugh!
Dia pernah melepaskan burung kakatua tetangga kami.
Terbang, Mildred! Terbanglah!
Dadah, Mildred!
Gilbert bilang kalau Mildred tidak pernah terlihat sebahagia itu.
Kalau tidak melepaskan hewan,
Gilbert menyelamatkannya.
Dia tidak peduli dengan bahayanya.
Aku akan menyelamatkannya, Gracie!
- Gilbert! - Ah!
Ayo, kawan!
Agh!
Di sini, Gracie!
Gilbert sangat menyukai hewan
sampai-sampai dia menjadi vegetarian.
Aww! Sekarang dia sudah punya pacar.
Lihat, Gracie, mereka berpelukan.
Ugh...
Telur, wow!
Kami menciptakan keluarga kecil kami sendiri.
Telurnya menetas, Gracie! Bayi!
Kau menjadi favoritku, Sylvia.
Arah motif putaranmu berlawanan dengan yang lain.
Gilbert menamaimu dengan nama penulis favorit ibu.
Tapi, hal yang membuat Gilbert benar-benar unik
adalah kecintaannya pada api.
Dia ingin memakannya.
Dia menghabiskan waktu berjam-jam untuk bermain dengan api.
Aku ingat kalau bau badannya seperti korek api yang terbakar.
Di sekolah, para gadis tergila-gila.
Gilbert adalah api, para gadis itu adalah ngengat.
Tapi dia lebih tertarik membaca, dan sulap.
Menurutku dia cuma ingin menghilang.
Dan menghabiskan semua uang sakunya di Bert.
Bert adalah jenis orang
yang harus dihindari menurut orang tuamu, Sylvia.
Seseorang yang mungkin menawarkan permen lolipop rebus padamu.
Ooh.
Bert sama sekali tidak ajaib.
Impian Gilbert adalah
menjadi penghibur jalanan di Paris.
Lihat, Gracie!
Dia selalu berlatih.
Oh, sial!
Aduh, aduh, aduh!
Dan sering membakar dirinya sendiri.
Kami punya bekas luka kecil dari percikan api.
Dan saat kita menyatukan tangan,
akan terbentuk sebuah wajah.
Oh, lihat, Gracie!
Rasanya luar biasa saat kami melakukan ini.
Perasaan kami selaras.
Banyak anak kembar yang mengatakan ini, Sylvia,
dan itu benar.
Aku merasakan emosinya,
kebahagiaannya dan kesedihannya.
Yang tampak
seperti anggota keluarga kami nomor empat.
Kematian ibu meninggalkan sebuah lubang.
Ayah sudah mencoba mengisi kekosongan tersebut,
tapi... dia memiliki masalahnya sendiri.
Ayah orang Prancis,
dan pernah menjadi animator di Paris.
Dia membuat film stop-motion
dengan kamera Bolex tua.
Dia terkadang menunjukkan filmnya kepada kami.
Untuk membiayai karya seninya,
dia mengamen di jalanan.
Bonjour, tuan-tuan dan nyonnya,
Aku adalah Percy Pudel yang luar biasa.
Ibu bertemu ayah saat liburan
yang dia menangkan di majalah Woman's Weekly.
Hep-ah!
Oh!
Et voila, tuan-tuan dan nyonya.
Ohh...
Wow!
No comments yet. Be the first to leave one.