Pierwsze 200 wierszy.
Setiap kemiripan dengan orang dan peristiwa nyata
adalah disengaja.
Kau belum melepasnya?
Maksudku, sebelum semuanya berakhir. - Semuanya sudah berakhir.
Tidak bisa menunggu sampai selesai pemakaman?
Tidak. Mereka kembali. Cincin masih di jarinya.
Aku yakin mereka melepasnya untuk disimpan dengan aman.
Pasti karena kejadian sebelumnya. - Apa?
Bahwa seseorang melupakannya.
Kita tidak melupakan apa pun. Katamu, kita meninggalkannya.
Kita tidak bisa melepasnya ketika dia masih hidup.
Tidak, tapi itu ada di sana dan mungkin hilang selamanya.
Pilihan apa yang ada? Mengambil itu darinya ketika dia berbaring di sana?
Seolah mengatakan: "Mulai sekarang, kau sendirian."
Itulah dirimu. - Apa?
Sendirian.
Ya, tapi tak ada yang harus dibuat lebih sendirian.
Ketika jari membengkak, kau harus melepas cincin dengan paksa.
Merobeknya. - Aku yakin mereka punya cara.
Mari hubungi mereka dan berkendara ke sana besok.
Besok? - Ya, ke rumah sakit.
Kembali ke Helsinki? -Ya.
Kita tidak bisa hanya pergi ke sana. Masih banyak yang harus kita lakukan.
Ruang pemakaman, lokasi kuburan. Dan lagi, van itu sangat kotor.
Itu tidak akan seharian.
Tidak ada istirahat, sampai semuanya beres.
Elsa. - Turut berduka.
Bagaimana kau sampai di sini? - Nisse, untukmu, tentu saja.
Untuk menemani adikku dalam kesedihan.
Tapi bagaimana kau sampai di sini dari stasiun? - Berjalan kaki.
Kau bisa saja menelepon, kami pasti menjemputmu.
Kalian terlalu sibuk.
Aku sudah terbiasa mengatur sendiri.
Bagaimana dia tahu? - Aku meneleponnya dari rumah sakit.
Kapan kau pergi ke Swedia?
Dua minggu lagi. Aku harus mengosongkan apartemen sebelum itu.
Seseorang selalu menjaga Nisse.
Pertama, ibu kami dan kemudian ibumu.
Apa itu? - Lampu.
Dimana lampu gantungnya? - Sudah lama tidak tergantung di sana.
Lampu gantung ayah ada di sana. - Tidak sejak ayah meninggal.
Dan sudah ratusan kali kau tanyakan itu.
Kau tidak waras? -Jangan perlakukan aku seperti salah satu pasien gilamu.
Sakit jiwa adalah kata yang tepat. Aku tidak bekerja di sana lagi.
Jika aku bertahan tahun ini, Aku akan pertahankan ini.
Memangnya aku tidak tahu bagaimana berduka?
Aku merawat Ayah ketika dia sakit. - Aku tidak pernah bilang tidak.
Asal kau tahu, itu tidak mudah. - Tolong, jangan sekarang.
Ini dia.
Sekarang ayahmu sendirian, dia pikir bisa bertindak seenaknya.
Apa salahnya aku meletakkan kaki di atas meja di rumahku sendiri? - Ya, rumahmu.
Pikirkan Stefan, jika tidak mau pikirkan aku.
Kau tidak mengerti. Kau urus saja diri sendiri.
Ayah, tolong. - Pikirkan Stefan.
Dia tidak masalah dengan minuman anehku. Kau tidak mau?
Jadi, aku tidak sopan? - Aku tak pernah ngomong begitu!
Aku melakukan apa yang aku suka di rumahku sendiri. -Tidak perlu teriak.
Ini bukan Helsinki di mana semuanya bisa didengar. Aku akan gila.
Tidak semua orang bisa memilih tempat tinggalnya.
Jika bukan aku yang ambil rumah ayah, itu akan jadi reruntuhan sekarang.
Aku tak pernah permasalahkan itu. - Kau bisa apa jika boiler rusak?
Aku bisa menelepon seseorang. - Benar.
Tipikal orang kota, berpikir hanya perlu menelpon seseorang.
Asal kau tahu, itu tidak bekerja begitu. - Kapan kau pernah menelpon?
Aku datang ke sini sendiri. - Selalu mengkhawatirkan bagaimana aku menanganinya.
Apapun yang aku lakukan, itu tidak pernah cukup.
Aku akan pulang, jika kau terus berteriak.
Apa yang kau lakukan? - Matikan lampunya!
Nisse?
Binatang sialan.
Aku datang.
Binatang sialan! -Tupai rupanya.
Aku harus dapatkan itu sebelum burung menetas. - Sudah berkembang biak?
Tinggal menunggu masa.
Itu tersedia cemara, aspen atau birch.
Kayu pinus. Itu saja. Terima kasih.
Terima kasih. -Baik.
Itu tersedia dengan polesan. Putih atau hitam?
Baiklah, kami ambil yang itu. - Yang mana?
Yang mana? - Polesan, putih atau hitam?
Putih. - Putih. Dicat atau dilapisi?
Ya, kain putih atau hitam?
Kami akan selesaikan ini pada Sabtu siang.
Kau akan bahas semua detailnya dengan pastor via telepon rumah.
Telepon rumah?
Kami hanya ingin pemakaman cepat,
tanpa embel-embel, sesegera mungkin.
Itu tidak akan lama. Di kota-kota, kau menunggu setidaknya sebulan.
Dua minggu! Bagaimana bisa begitu lama untuk memakamkan seseorang?
Tidak habis pikir Pada saat itu, seluruh dunia akan tahu.
Mereka akan tahu cepat atau lambat. - Semakin lambat semakin baik.
Aku tidak ingin banyak orang asing di sana. Hanya kau dan aku.
Nisse! -Dan dia, tentu saja.
Ada telepon! - Dan Nenek Brita.
Ini Nisse.
Ya, nomornya sama. Tidak pernah berubah.
Ya, itu betul. Kau sudah tahu?
Ya, kita lihat saja tanggalnya.
Kita akan berkomunikasi nanti.
Ya, terima kasih. Sampai nanti!
Jalang sialan! - Siapa itu?
Sepupu Leila. Entahlah. - Apa yang dia katakan?
Turut berbelasungkawa padanya.
Kenapa ayah marah padanya? - Bukan padanya!
Pada Brita! Nenekmu!
Sial, dia sebarkan berita pada semua orang.
Bagaimana dia bisa tahu? - Dari Nenek, ayah bilang begitu.
Benar, tapi bagaimana nenekmu tahu?
Astaga, kau juga sudah bicara dengannya?
Tidak ada yang berjalan sesuai rencana.
Jika dia tidak peduli ketika Leila sakit,
dia mungkin juga menjauh sekarang.
Tapi dia ibunya. -Memang.
Dengan kepergian Leila. Ucapan selamat untuknya.
Tidak benar kalau dia tidak peduli.
Ya, dia memang peduli.
"Aku melawan kanker dengan berpikir positif. dan kau pun sebaiknya merasa begitu".
Omong kosong itu dia bawa kesini! Ketika Leila sekarat!
Kapan kau beritahu dia?
Setelah akhir pekan, hari Senin.
Kita harus menunggu sampai hari Senin? Besok adalah hari kerja.
Itulah waktu yang mereka berikan kepadaku. - Ganti.
Apa? -Ya.
Sekali saja, kau buatlah panggilan yang berguna.
Apa kata mereka? - Boleh aku pakai ini?
Apa? - Untuk pemakaman.
Apa kata mereka? - Ya, tentu.
Apa kata mereka? - Mereka akan memeriksa dan meneleponku nanti.
Nanti itu kapan? - Kita tunggu saja.
Tunggu? Kita sudah lama menunggu.
Ayah saja menelpon mereka.
Apa ini sesuai?
Jika kau mencari kopi, itu ada di tempat biasa.
Belum usianya. - Ya, aku tahu.
Aku tahu aku tidak diterima di sini.
Tapi kupikir itu mungkin berbeda sekarang.
Dari dulu! Selalu ada di kepalamu bahwa kau tidak diterima.
Kau tidak cocok dengan Leila, tapi itu salahmu.
Dia berusaha bersikap baik. - Ya, dia baik.
Tapi aku sadar ketika aku tidak diterima.
Kau berkata begitu hanya karena Leila menjadikan ini rumahnya dan rumahku.
Kuberitahu, jangan kau ubah apa pun saat aku pergi!
Adakah yang mau jawab?
Jangan jawab! -Stefan Nurmi.
Sangat kesal pada orang-orang yang mengganggu.
Dan mengingatkanmu tentang semua hal lama itu.
Makanya aku berpikir aku akan mengubah banyak hal.
Untuk membantumu melupakan hal-hal lama, meninggalkan dan melangkah maju.
Itu besok.
Pengamatannya, besok.
Harus kuakui bahwa aku terkejut dalam hal positif.
Dia benar sekali. - Nenek Brita?
Tidak, Elsa! Kau harus meninggalkan hal-hal lama untuk maju.
Kita harus selesaikan ini sebelum dia melakukan lebih banyak kerusakan.
Elsa? - Tidak, Nenek Brita! Sebelum dia memberitahu semua orang.
Ya, Sabtu pekan depan.
Sedang apa dia di sini? - Nenek.
Jam dua belas.
Mereka datang.
Itu Stefan dan Nisse. Aku akan memasukkanmu ke dalam daftar.
Ya, pasti. Selamat datang.
Salam dari Elsi dan Bobi, mereka...
Mereka menyampaikan belasungkawa.
Apa? Mawar? - Ya.
Itu seharusnya anyelir.
Apa Nisse meninggalkan mawar? - Aku.
Apa dia hanya menunggu di sana? Dia tidak ingin masuk? - Kita lihat saja nanti.
Dan yang itu...
Yang itu harus kau tempatkan di sini,
di tempat iblis itu.
Aku akan masuk sekarang, Nenek. - Ya.
Silahkan masuk.
Semua sudah diatur?
Jadi, apa katanya?
Nenekmu, apa katanya? - Obrolan biasa. Dia menangis.
Dia pasti mengatakan sesuatu.
Dia bertanya kenapa ayah tidak masuk.
Sialan
Sibuk dengan semuanya. Apa hubungannya dia dengan itu?
Apa lagi yang dia katakan? - Dia menangis.
Dia berkata...
Bahwa terakhir kali dia melihat ibu, dia ingin memeluknya, menghiburnya
dan berkata semuanya baik-baik saja.
Benar, tidak tahu itu serius, atau tidak mau tahu.
Kurasa dia tahu.
Tapi kau bisa langsung tahu bagaimana akhirnya itu.
Aku tidak bisa.
Hai! - Halo!
Ini. Beberapa bunga.
Terima kasih. - Sampai nanti!
Tunggu.
Kau dengar itu?
Tinggal menunggu masa, apa kataku.
Jadi, bagaimana hasilnya? - Membeli mawar putih.
Dan nenek? - Dia beli anyelir.
Anyelir?
Bukankah itu sedikit biasa? - Sangat biasa.
Itulah yang dia inginkan.
Dari tadi berdering, tapi tidak kujawab. - Kenapa tidak?
Itu bukan urusanku. - Apa ini?
No comments yet. Be the first to leave one.