Pierwsze 200 wierszy.
Apa? Ada apa, Sakura?
- Cepat turun! - Perutmu sakit?
Berani-beraninya menjadikanku sebagai alat jalan.
Pagi, Kotoha.
Nenek Sato?
Cepat turun!
Aku harus turun dari ketinggian ini?
Kamu pikir orang tua itu apa?
Aku remukkan juga tulangmu!
Dasar, sungguh tidak pengertian.
Lah?
Tadi bilang punggungnya sakit sampai tidak bisa berdiri!
Aduh, duh, sakit.
Punggungku sakit sampai susah jalan.
Apanya yang sakit? Itu bisa jalan!
Tapi, yah...
Meski begitu, kamu memang anak Furin, ya.
Aku jadi tertolong, terima kasih.
Sial! Aku pergi dulu!
Oh, Sakura! Sebentar!
Apa lagi?
Roti lapis telur dengan buah-buahan segar.
Nikmatilah.
Upacara masuknya hari ini, ya?
Namun, bukankah mulai setelah siang?
Sekarang masih pukul 10.
Tidak sabar, ya?
Bukan! Aku cuma mau jalan-jalan dulu!
Yah, tidak sabar juga boleh-boleh saja.
Apalagi banyak orang yang menarik di sana.
Di-Dibilang juga bukan!
Kotoha!
Oh, Nirei, pagi!
Pagi, Nenek Sato!
Bagaimana, Kotoha?
Lihat seragam Furin milikku ini! Keren, kan?
Masih ada label bajumu di belakang.
Benar juga.
Hah? Aneh banget, susah diambil.
Astaga aku ini, label celanaku juga belum dilepas.
Lah?
Yang begini anak Furin?
Betul.
Mulai sekarang kalian satu angkatan.
"Yang begini" apanya?
Aku bahkan belum pernah melihatmu di sini.
Apa kamu datang dari luar kota?
Benar.
Dari mana pun bukan masalah, kan?
Selain itu, apa ini?
Rambut dan matamu itu!
Apa?
Stres, ya?
Pasti berat, ya. Padahal masih muda.
Stres? Stres?
Hei!
Maaf, maaf.
Nirei, dia ini Sakura.
Dia baru datang ke kota ini kemarin.
Terus, dia adalah Nirei.
Sakura.
Aku belum pernah dengar nama Sakura dari luar kota.
Kenapa orang tak dikenal begini datang ke kota ini?
Dia tidak bermaksud jahat, kok. Memang begitu orangnya.
SMA Furin itu bukan sekadar sekolah biasa, lo!
Apa kamu tahu?
Orang-orang Bofurin itu,
orang-orang yang berdiri untuk melindungi kota.
Membantu yang lemah, mengalahkan kejahatan.
Benar-benar pahlawan keadilan!
Mereka yang datang ke Furin, pasti mengagumi senior-seniornya,
dan membuat diri sendiri ingin melindungi orang-orang kota.
Pokoknya keren banget!
Tentu saja, aku salah satunya!
Meski begitu...
Kenapa orang tidak memiliki hubungan apa pun dengan kota ini...
dan tidak dikenal datang ke Furin?
Untuk mengincar puncak di sana.
Memang keren jadi pahlawan keadilan yang melindungi kota.
Sepertinya di sana juga ada orang yang kuat.
Kalau bisa jadi nomor satu di antara mereka,
sepertinya aku bakal puas.
Yang seperti itu...
Tidak mungkin bisa dilakukan.
Kalau kamu bilang seperti itu...
Kalau mau mengincar itu...
Kamu bisa botak, lo.
Kurang ajar! Ayo kita kelahi!
Ada apa?
Sudah jam sebegini!
Kotoha, aku pergi dulu.
- Tidak mau sarapan dulu? - Hei, tunggu dulu.
- Tidak mau sarapan dulu? - Hei!
- Hari ini aku cuma mau pamer seragam. - Dengarkan aku dulu!
Aku mau patroli keliling kota tiga kali sebelum upacara.
Soalnya hari ini aku juga termasuk pahlawan keadilan.
Aduh!
Lihat, orangnya menarik, kan?
Iya, menarik banget!
Pertama kali aku lihat orang kikuk yang tidak mau dengar perkataan orang!
Selain itu, apaan pula dia? Culun banget.
Yang begitu mau masuk Furin?
Seharusnya pahlawan keadilan itu terlihat lebih keren.
Oh? Aku tidak menyangka kamu menilainya dari penampilan.
Kopinya mau tambah?
Bukan soal penampilannya.
Orang yang cuma mementingkan penampilan,
biasanya langsung kabur kalau ada perkelahian.
Malah jadi kelihatan culun banget.
Perkataanmu berani banget, ya.
Soalnya sering lihat.
Sampai bikin muak.
Begitu.
Hei, Sakura.
Apa kamu tahu warna buah kopi?
Cokelat... seperti warna kopi?
Warnanya merah.
Yang halus seperti ceri.
Awalnya, aku pikir buah kopi itu biji yang memang ada di stoples.
Namun, ternyata itu baru benihnya saja.
Kita tidak akan tahu bentuk aslinya kalau dilihat dari satu sisinya saja.
Kita memang bebas memikirkan apa pun,
tapi bukankah terlalu cepat untuk menilainya?
Harus bicara dulu, benar-benar melihatnya, dan saling mengerti.
Kamu masih belum tahu tentang orang itu, kan?
Aku melihat dirimu, Sakura.
Karena itu, kamu juga harus melihat kami.
Apa dia...
sebenarnya jago berkelahi?
Standar nilaimu cuma itu, ya?
Kita memang bebas memikirkan apa pun,
tapi bukankah terlalu cepat untuk menilainya?
Namun, memang nyatanya begitu.
Halo, Nak! Mau roti?
Baru dipanggang, lo.
Kenapa?
"Kenapa" katamu? Soalnya...
Kami selalu terbantu oleh anak-anak Furin.
Makanya kami ingin membalas budi sedikit.
Kamu yang kemarin bertarung di sini, kan?
Kemarin semua bicara soal beruntungnya ada dirimu.
Sekarang... aku tidak lapar.
Lah...
Ya sudah, bawa saja buat dimakan siang-siang.
Roti kami disimpan lama pun tetap enak, kok.
Selamat berangkat!
Halo, Nak! Terima kasih yang kemarin!
Hei, Nak! Kemarin kamu keren banget!
Kakak ini kuat banget, ya!
Bagaimana kalau kita adu minum?
Jangan aneh-aneh, Babe!
Situasi macam apa ini?
Terlebih lagi, kenapa orang-orang kota di sini?
Sok kenal sok dekat banget dengan orang sepertiku.
Orang yang sepertiku...
Apa asal menilai?
Bahwa tidak mungkin mereka melihatku seperti itu?
Maaf!
Kamu orang Furin, kan? Tolong aku!
Hadeh, padahal lagi asyik-asyiknya mengobrol sama cewek.
Kenapa kamu mengganggu?
Ceweknya sendiri saja tidak mau begitu!
Apa maksudmu? Alasan saja kamu ini.
Sok-sokan jadi Bofurin pelindung kota.
Jelas-jelas kamu sendiri yang butuh dilindungi.
Benar banget.
Hei, masih belum paham juga?
Kamu ini tidak mungkin jadi pahlawan!
Pulang saja minta peluk ibumu!
- Lucu banget. - Benar, tuh!
Begini, ya. Aku juga bisa marah, tahu.
Siapa pun yang...
Hah? Apa?
Yang membawa rasa sakit!
Membawa kehancuran!
Membawa niat jahat!
Semua orang tanpa terkecuali...
akan dibersihkan oleh Bofurin!
Hah?
Teriak-teriak biar jadi kuat itu cuma ada di film-film.
Lepaskan aku!
Batu banget kamu ini!
Mau Bofurin atau Bofufu aku tidak peduli!
Satu-satunya dibersihkan itu...
justru kamu!
Kenapa kamu menolongku?
Apa-apaan kamu ini?
Anak Furin juga, ya?
Datang mau menolong rekan?
Sendirian?
"Menolong"?
Rekan?
Jangan salah paham, bego!
Aku cuma tidak suka orang yang mengira dirinya kuat padahal lemah.
Bikin jijik.
Apa kamu bilang? Dasar bocah tengik!
Mustahil sendirian!
Gi...
Gila.
Sekejap?
No comments yet. Be the first to leave one.