Pierwsze 200 wierszy.
Episode 7
Hei!
Hei!
Kenapa kau selalu tidur di sini?
Membuatku ingin melindungimu.
Bagaimana kau bisa tahu nomorku?
Kau juga tahu nomorku.
Baiklah, kita impas. Apa maumu?
Kau suka ramennya?
Kau juga mau makan?
- Kau pikir aku menelepon karena aku merindukanmu? - Kenapa persahabatan kita berubah?
Aku akan membangunkan temanmu.
Bangun!
Kim Tan ada di sini.
Kenapa berisik sekali?
Apa yang kau lakukan di tempatku?
Kenapa kau ini... Benar-benar.
Apa yang sedang kalian lakukan? Apa yang kau lakukan di sini?
Dia sedang apa?
Ada apa dengan kalian?
Bukannya kau ke sini untuk menemuinya?
Kemarilah.
Kenapa aku mau menemuinya?
Aku tak tahu apa yang kalian berdua lakukan.
Tapi, kau bisa membuat masalah untuk orang-orang disekitarmu.
Ini bukan tempat yang tepat.
Dia baru saja pergi. Pergilah ikuti dia.
Aku ke sini bukan untuk menemuinya.
Lalu, ini hanya suatu kebetulan?
Jadi, memangnya kita sedang janjian?
Makanlah lalu pergi.
Dia pintar berdebat.
Aku bisa kalah. Aishh!
Ah, kaget!
Kenapa kau tidur di sana? Kau tidak takut?
Aku tidak ingin pulang dan aku tidak tahu harus kemana.
Kenapa kau tidak tahu mau kemana? Banyak kafe di sini.
Menghabiskan waktu sama saja dengan menghabiskan uang.
- Aku masuk duluan. - Kita belum selesai bicara.
- Kenapa kau menemui Choi Young Do? - Aku tidak menemuinya. Aku bertemu dengannya.
Dia ada di sana saat aku bangun.
Sudah berapa kali kubilang menjauh darinya.
Dia bilang apa? Dia mengancammu?
Tidak, dia bilang ingin melindungiku.
Itu ancaman!
Kau harus mendengarkan ucapanku.
Menjauhlah dari Young Do.
Ini bukan nasehat. Ini peringatan.
Itu bukan sesuatu yang bisa kukendalikan.
Kau harus berusaha semampumu.
Sebenarnya, ada apa antara kau dengan Choi Young Do?
Aku lupa.
Aku hanya tahu kalau kami saling membenci sekarang.
Aku masuk duluan. Tunggulah 5 menit baru masuk.
Tak bisakah kita hanya kebetulan bertemu di taman?
Tapi aku harus berusaha sebaik mungkin untuk tidak begitu.
Aku sudah pulang.
Pulanglah lebih awal! Aku harus mengambil ini sendiri.
Maafkan aku.
Ibu! Air.
Seharusnya kau panggil saja. Kau tak perlu ke dapur.
Nak! Air!
Kalian sudah pernah bertemu?
Dia putraku, Kim Tan.
Dia putra kedua Grup Jeguk.
Kau tahu Ahjumma yang bisu itu kan? Ini putrinya.
Senang bertemu denganmu.
- Aku sering melihatmu. - Benarkah?
- Kapan? Di rumah? - Di sekolah.
Aku ingin tahu siapa pecundang itu. Kau rupanya?
Senang bertemu denganmu. Kita akan sering bertemu.
Kau takkan sering bertemu dengannya.
Kau tidak bertemu dengannya di sekolah?
Tidak.
Benarkah? Sekali bertemu pasti sulit untuk melupakannya.
Benarkan?
Ada yang aneh dengannya.
Aku naik dulu.
- Kalau begitu, aku juga permisi. - Kau lihat wajahnya?
Huh?
Sekarang, karena kau sudah melihatnya, kau harus melaporkan padaku semua kegiatan Tan di sekolah.
Melaporkan?
Kenapa? Kau tak perlu membayar uang sekolah. Itupun kau tak bisa?
Bukan begitu.
Aku bukan memintamu menjadi temannya.
Hanya karena kalian tinggal satu rumah dan satu sekolah...
...kau jangan bertingkah seperti temannya.
Sama seperti posisimu di rumah ini...
...posisimu di sekolah juga sama.
Kau tidak boleh memanggil namanya meskipun umur kalian sama.
Kau mengerti maksudku, kan?
Ya.
Dia itu tuan muda.
Benar! Itu dia!
Aku tahu kau pintar.
- Segelas air juga untukku. - Baik.
Kenapa kau belum istirahat? Tidurlah sebentar.
Ibu! Apa ini? Darimana Ibu mendapatkannya?
Kau pikir darimana ibu mendapatkannya? Ibu membelinya.
Ibu membelinya?
Ibu! Harganya beberapa won dari sejuta. Dengan uang itu, kita bisa...
Kau bisa membiarkan Ibu mengurusnya.
Cobalah. Kita lihat apa putriku cantik memakainya.
Biasanya juga aku pakai apa saja tetap cantik.
Terima kasih, Ibu! Sebenarnya aku sangat menyukainya!
Haruskah aku menyetrikanya?
Apa?
- Mengambil apa? - Foto keluarga.
Aku akan menunjukkannya di upacara pertunanganku. Fotonya juga akan ada dalam undangan.
Ibu, kau sakit? Foto keluarga apa?
Suaramu! Apa yang kau lakukan? Itu urusan orang!
Apa yang sedang Ibu lakukan? Kenapa aku harus berfoto bersama mereka?
- Foto keluarga takkan menjadikan kita keluarga yang sebenarnya. - Ambilkan yang lain untukku.
Menangis adalah kebiasaanmu sampai kau berumur tiga tahun.
Dan hidupku dalam pengawasan Ibu sampai aku berumur 3 tahun.
Aku tidak peduli apakah kau sedang melakukan foto keluarga atau foto pernikahan.
Aku tidak akan pergi.
Kau mau kemana? Ibu sudah selesai kerja!
Kau sekarang ada dimana?
Kau sudah dengar soal foto?
Bukan hanya kau yang merasa kesal.
Apa tak ada jalan untuk membatalkan pertunangan ini?
Kau mau kencan denganku?
Sekarang aku bukan bicara soal pertunanganku.
Tak bisakah kau serius?
Aku tak bisa membatalkan pertunangan, tapi aku bisa membatalkan pengambilan foto.
- Benarkah? - Apa imbalanmu bila aku bisa membatalkannya?
Kita bicarakan setelah kau melakukannya.
Kau tidak ingin berfoto keluarga, ya?
Apa yang kau inginkan?
Akankah kau memberikannya padaku, tak peduli apapun itu?
Auhhh... Dinginnya!
Oh ! Apa yang kau lakukan di sini pagi-pagi begini?
Supirku bahkan belum datang kerja!
Aku tak pernah melihatmu pagi-pagi, jadi aku penasaran kapan kau keluar.
Kau ke sekolah pagi begini untuk menghindariku?
Bukan hanya menghindar darimu. Aku pergi duluan.
Aku tak bangun sepagi ini untuk membiarkanmu pergi duluan.
- Hei. - Kau takkan mau berdebat lama-lama.
CCTV.
SMA Jeguk.
Anak-anak suka pada Kim Tan.
Karena dia ganteng.
Kim Tan pintar sekolah.
Karena dia ganteng.
- Kim Tan ... - Apa yang kau lakukan?
Laporkan itu pada Ibuku.
Aku sudah mendengar semuanya.
Jadi kau mau aku berbohong?
- Bagian mana yang bohong? - Lupakan saja.
Kau bilang, "Ya" begitu dia menanyakanku padamu.
- Kau mau pekerjaan ini? - Sulit bagiku untuk bilang tidak di rumah itu.
Karena itu, kenapa kau selalu bilang tak mau padaku.
Benar juga.
Apa alasan kau pergi pagi-pagi begini?
Sebenarnya apa yang membuatmu menghindar?
Mobil. Aku memperhatikan mobil.
- Mobil? - Pak Supir.
Bisakah kau turunkan aku di sana?
Tolong ke sekolah saja.
- Kita tak bisa keluar dari mobil yang sama. - Jam segini siapa yang ada di sana?
Hari ini biar saja kita sama-sama. Besok aku takkan bangun sepagi ini.
- Tetap saja... - Oh!
Aku capek. Karenamu aku bangun pagi-pagi.
Apa yang kau lakukan?
Ayo kita turun mobil bersama.
Kau cantik pakai seragammu.
Apa yang kau lakukan?
Jangan ikat rambutmu di sekolah.
Kembalikan.
Kau cantik bila rambutmu terurai.
Pergilah seperti itu. Mengerti?
Hentikan! Bagaimana jika seseorang melihat kita?
- Siapa yang jam segini...? - Kim Tan?
Ah! Orang kaya baru!
Bagaimana kalian bisa bersama?
Hei! Sebenarnya apa yang kau lakukan jam segini?
Kau bangun di sini? Kau terlihat baru pulang dari klub.
Kau benar.
Besok aku mungkin bangun di sini jika Ibuku tahu.
Ayo masuk.
Kenapa?
Kau menginjaknya.
Oh ini? Kau boleh menginjaknya. Ini palsu.
Palsu? Bukannya seseorang mati di sana?
Seseorang terus menggambarnya. Dia menggambarnya lagi bila terhapus.
Ini seperti protes.
- Siapa yang begitu bersemangat? - Aku tak tahu.
Mungkinkah Joon Young?
Hei, Orang kaya baru! Pernahkah kita bertemu sebelumnya?
Sepertinya aku pernah melihatmu jam segini.
Entahlah.
- Dia tidak pergi ke klub. - Bagaimana kau tahu?
Klub tidak menerima sembarangan orang.
Gayanya sedikit kolot tapi dia tak jelek.
Ish.
Hei!
Ini rumahmu?
- Indah sekali! - Kau suka?
Rumah ini istana!
No comments yet. Be the first to leave one.