Pierwsze 200 wierszy.
Para iparku masih terus menggangguku.
Mereka khawatir aku lupa menjemput Ayah lagi.
Tentu saja.
Kau berbuat salah sekali dan menebusnya seumur hidup.
- Aku tahu. Benar sekali. - Sial.
Jawab saja.
Hei! Apa kabar?
Kenapa teleponku tak dijawab?
Maaf. Aku sibuk.
Kau ada waktu sekarang? Aku ingin mengajak makan malam.
Sayang sekali, aku ada acara keluarga.
Acara keluarga? Kau butuh teman kencan?
Sudah punya. Dia ada di mobil bersamaku.
Jangan usil. Katakan ini memakai pengeras suara.
Itu ayahku.
Hei, Jagoan. Kau si dokter proktologi?
Benar. Bintangku Pises, jika kau penasaran.
Aku akan mampir nanti.
Baiklah.
Jadi, apa kalian sudah berbaikan
atau kau hanya memberi harapan palsu?
Bagaimana kabar pacar-pacar Ayah?
Luar biasa.
- Tak apa. - Ayah!
Seniman keluarga kita gambar apa?
Hal yang kau lihat di sabung ayam? Ada beberapa karakter menarik.
- Armando. - Apa kabar?
- Kalian mirip. - Santita.
Perkenalkan calon besan kami,
Armando dan Gloria, orang tua Montse.
Senang berkenalan. Selamat datang di keluarga.
Terima kasih. Senang berkenalan denganmu.
- Santita. Nama yang menarik. - Jangan tertipu.
Dia lebih mirip iblis daripada malaikat.
Itu sebabnya kita belum bertemu. Mereka menyembunyikan Iblis.
Ayah.
- Sayang. - Ya.
Aku dikurung di loteng dan dikeluarkan jika ada acara istimewa
dengan syarat bersikap baik.
Ya, tapi kau tak pernah patuh.
Kurasa sikapku sebaik para tamu lain yang hadir di sini.
Bahkan, ada yang lebih buruk.
Apa kau buta, tak sadar kekuranganmu,
atau pura-pura bodoh? Entahlah.
Hei, soal gugatan itu, aku masih terbuka untuk bernegosiasi.
- Gugatan? - Tidak, dia bercanda.
Selera humor saudariku agak aneh.
Agak?
Sayang, tambah anggur.
- Tambah segelas. - Ya.
Katakan.
Bisakah kau berhenti buat onar?
Astaga, entahlah. Aku akan coba.
Aku ingin melihatnya.
Itu racun.
Benar. Lebih kecokelatan.
Ya, aku tahu.
Selamat makan, Semua.
- Terima kasih. - Selamat menikmati.
Terima kasih.
Kau akrab dengan Montse?
Ya. Dia agak sombong, tapi aku menyukainya.
Kalian berteman?
Tidak, dia lebih muda dariku.
Setidaknya dia bukan sahabatmu.
Aku tak perlu memikirkan saat menginap di rumahnya,
kau meniduri ayahnya.
Ya, Lía.
Hal seperti ini selalu ketahuan.
Orang suka bergosip.
Semua akan tahu. Hal ini yang menghancurkan keluarga.
Semua akan baik-baik saja.
Lagi pula, kau bisa meniduri siapa pun dan kau tahu itu.
Namun, aku kenal kekacauan
dan ini benar-benar kacau.
Maaf, aku terlambat.
Kalian sudah mulai atau menungguku kalah telak?
Kita lihat saja.
Hidup penuh kejutan.
Aku mengundang teman lama.
- Apa kabar? - Senang bertemu, María José.
Apa kabar?
- Baik. - Baik?
Ya. Kau?
Aku baik.
- Aku juga. - Bagus.
Ya.
Ini Ceci, maaf.
Aku harus jawab atau dia panik.
- Ada apa? Maaf. - Silakan.
Ada apa?
Ada apa?
Apa maksudmu?
Jadi…
Dia teman lama kita semua, 'kan?
Ya.
Lagi pula…
Apa aku harus minta izin mengundang seseorang bermain poker?
Tidak. Kutahu kau melakukannya karena suka drama.
- Ya, benar. - Sudah lama, María José.
Sudahlah.
Kau memfitnahku, Sobat,
dan itu kejahatan.
Benar, Dolores?
Tidak, sejujurnya,
beberapa tahun terakhir tak menarik.
Apa maksudmu? Kau tinggal di berbagai belahan dunia.
Ya, tapi tak banyak bedanya
antara pembangkit listrik di Irlandia dan Argentina. Sama saja.
Mari dengar kisah sedih pria yang menghasilkan banyak uang
dan keliling dunia melakukan hal sia-sia.
Giliranmu.
Saat ini, aku tak tahu. Seperti…
Kenangan akan suatu tempat…
Tempat itu lebih…
Tidak terlalu penting, tidak… Tidak terlalu menarik.
- Penatu di Jepang. - Astaga.
- Tidak. - Kios tako di Etla, Oaxaca.
Aku mau tinggal di sana.
Bangku kecil di sisi kiri di La Concha, San Sebastián.
- Dua malam di sana. - Masa?
- Aku tidur di sana. Tak punya uang. - Keren. Di San Sebastián?
- Ya, bagus. - Aku keluar.
Lalu Vancouver?
Aku keluar.
- Seribu untuk ikut. - Ikut.
- Tidak, terlalu banyak. - Ada ratu, di mana?
Kartu.
Mari lihat kartumu.
Empat raja.
Dia tak mungkin menang.
Berengsek!
Astaga!
- Komandan sialan, Santita. - Beruntung sekali!
Apa boleh buat. Terkadang kartunya bagus, terkadang jelek.
- Kau licik. - Hanya dengan yang mengenalku.
Simon, berapa harga ini?
Tidak, Santita.
Aku jauhari, bukan pegadaian.
Jadi, apa ini? Sebuah perhiasan.
Tidak, ayolah, Mari.
Mari, itu kenang-kenangan dari ibumu. Ayolah.
Kupinjamkan uang jika kau mau.
Aku tak mau uangmu.
Istirahatlah, Santita. Buat roti lapis.
Jangan ikut campur, Dolores.
Aku akan segera beruntung.
- Jadi? - Baiklah.
Baiklah. Coba kulihat.
Ini dia.
Itu milik ibuku. Jangan kurang ajar.
Santita sialan, kau tak pernah kalah.
- Ini berat. - Untukmu.
Ini klasik. Cantik. Empat ratus.
Letakkan di sana. Kau suka mencuri.
Jadi?
Aku keluar.
Tidak. Cukup.
- Kau lihat kartuku? - Kau simpan di sana.
- Aku juga keluar. - Tidak, dasar curang.
Aku juga keluar. Hei, aku juga keluar.
Option.
Empat ratus.
- Sialan. - Lagi?
- Sial, dia ambil semua cip. - Ya, selesai.
Jadi, bagaimana? Kartumu bagus atau payah?
- Komandanku. - Kau boleh pergi.
- Dia takut. - Ya.
- Aku keluar. - Sudah waktunya.
- Ya. - Akhirnya.
- Ale sialan. - Bagus.
Tidak.
Kau mengalah, Bajingan?
Tidak, kartuku jelek.
Kalian percaya dia?
Semua bebas melakukan apa pun.
Tak ada yang mengalah, Santita. Sudahlah.
Dasar Santita, kau mulai gila, jujur saja.
Kami menyukaimu, tapi tak sebanyak itu.
- Ini lagi. - Ini tak menutupi bunganya.
- Hei, tenang. Hei! - Persetan kalian.
- Jangan pergi. Kita teman! - Tetap di sini!
- Jangan marah. - Santita!
Dia selalu melakukan hal yang sama.
Terima kasih.
Apa maumu?
Teman kita sama.
Kau sangat manipulatif.
Kau datang, memujiku, dan meniduriku.
Kau memenuhi kepalaku dengan ucapan gombal.
Lalu kau coba menyuapku dengan mengalah.
Menyuapmu?
Persetan. Kenapa kau kira aku ingin menyuapmu?
- Aku ingin membantumu. - Apa imbalannya, Bajingan?
Sudah kuputuskan.
Apa aku akan melompat dari jembatan
atau menembak kepalaku. Entahlah.
Kukira kau akan membantu.
Kau salah.
Selamat pagi.
No comments yet. Be the first to leave one.