Pierwsze 200 wierszy.
Oh tidak, bukan begitu!
Suaramu tidak pas dengan musik. Benar-benar tidak pas.
- Ada pak, Pak? - Tak ada nyawa dalam suaranya.
Tenggorokannya mungkin sakit.
- Ada apa, Kiran? - Ia tidak bilang apapun. Aku tahu.
Semua gadis jaman sekarang berkeliaran hingga larut malam bersama teman mereka.
Ia sering teriak.
Dan makan sembarangan. Apa itu yang dinamakan cinta akan musik?
- Dia tak akan bisa bernyanyi bagus. - Tolong jangan berkata begitu, Pak.
Katakan Kiran, kau mau atau tidak menguasai musik klasik?
Kau harus giat untuk bisa menyelesaikan belajarmu.
Aku akan kembali lagi. Pastikan tenggorokannya sembu.
Salam, Pak.
- Apa dia punya masalah denganku? - Lupakan drama harian ini.
Kau sudah dapat tiket untuk pesta Tahun Baru?
Satu bungkus biskuit dan Roti. Apa masih kurang?
- Tidak terimakasih. Berapa? - 15 Rupee.
Rohit Kumar, tetanggamu yang di atas, berteriak seharian.
- Kau dengar, iya 'kan? - Dia sedang latihan.
Dan dia sangat cinta musik. Lagipula, aku tidak merasa terganggu.
Ya Tuhan!
Pagi-pagi begini kau sudah sibuk dengan pekerjaanmu?
Kau tidak mau nge-teh dulu? - Kau bicara apa!
Rohit Kumar sudah 3 bulan tidak membayarku.
Dia menyuruhku untuk membuatkan baju.
Tapi ia malah tidak bayar bajunya.
Dia juga berhutang banyak padaku. Tapi aku hanya saja tak bisa menagihnya.
Hei Kanhaiya! Kemarilah Ayo ngeteh.
Iya ayo minum.
Ini semua salahmu.
Kau menyewakan tempat tinggal kepada si penyanyiitu.
Dan sekarang yang kau punya hanyalah ruangan di halaman belakang.
Dia sudah bayar uang sewanya belum?
Dia akan bayar jika sudah waktunya.
Bagaimana kabarmu, Rohit?
- Halo, Selamat pagi. - Selamat pagi.
- Kemarilah, Qasim. - Sebentar.
- Aku lapar. - Kau mau apa?
- 2 telur goreng, Roti panggang, Selai, Teh spesial. - Baiklah.
Tuan Rohit kumar.
Halo, Tn. Jamshed. Bagaimana kabarmu?
Tak usah basa-basi. Uang.
Tagihannya kan masih baru beberapa bulan.
Hari ini, tanggal 1. Aku berhutan padamu tanggal 30.
Ben... ar... Apa tadi kau bilang? Tanggal 30?
- Benar. Ada selang berapa hari antara tanggal 30 dan tanggal 1? - Satu hari.
- Ia membodohi Jamshed. - Benar.
Kau bukannya tampil semalam? Kemana uangnya?
- Semalam ricuh! - Lalu?! - Kerumunan menjadi gila saat aku nyanyi.
Dan gadis-gadis gila padaku.
Ada seorang wanita yang membuat pandanganku terpaut.
Matanya cantik dan wajahnya juga cantik.
- Mantap! Lagu bagaimana? - Ia pergi setelah acaranya selesai.
Jika ia datang dalam ke hidupku, Aku akan menulis lagu terbagus di dunia ini.
Bermimpi boleh. Tapi tak semua orang bisa menjadi Elvis.
Diam Moolchand. Kau seorang penjaga toko. Tahu apa kau soal musik?
Suatu hari Rohit Kumar akan menjadi penyanyi terhebat di negeri ini.
- Bersulang. - Bersulang... Bersulang.
Tak ada yang mau mendengarkan.
Lihat... itu Mehra. Dia menghitung hasil uang dari pertunjukan semalam.
- Dia menghasilkan 50 sampai 60.000 rupee. - Dan kita tidak mendapat se sen pun.
Selamat tahun baru, Tn. Mehra.
Apa yang spesial dari Tahun Baru? Siang dan malam yang sama.
Benar. Tapi semalam adalah pertunjukan yang hebat, iya 'kan?
- Ya lumayan. - Lumayan kau bilang? - Iya.
- Lihatlah uang yang kau dapat dari semalam. - Apa yang kau lakukan?
Semua itu berkat aku, Tuan. Orang-orang kemari untuk mendengarku menyanyi.
Kau sudah menganggap dirimu seorang super star...
...hanya karena aku menempel postermu?
- Lihat saja, Tuan. Aku... - Kau harusnya berterima kasih padaku!
Berterima kasih karena telah menempatkanmu di panggung yang indah untuk bernyanyi!
Ada banyak penyanyi sepertimu berkeliaran di jalanan.
Dan tak 'kan ada yang mau memberimu uang.
Dasar kau tidak tahu berterima kasih!
- Hai. - Apa?
Beraninya kau! Kau kemari untuk bernyanyi. Bukan merayu gadis!
Aku tidak merayunya, Tuan. Aku hanya...
- Aku mau belajar bernyanyi darimu. - Dariku?
Dan, kau menulis lagu yang sangat indah. Aku sampai tergila-gila.
Sampai aku tidak bisa memikirkan hal lain.
Aku tidak bisa tidur semalam karena penampilanmu. Aku terus bersenandung.
- Bahkan aku tidak bisa tidur semalam. - Kenapa?
Karena ada nada baru yang membuatku terjaga.
Kau mau dengar?
Tentu saja.
Pegang ini.
Bagus. Luar biasa.
Lagu yang indah!
Sangat romantis.
Lagu seperti ini yang mau ku nyanyikan. Bukan lagu klasik.
Kumohon ajari aku menyanyikan lagu seperti tadi.
Aku akan rajin belajar.
- Tidak masalah. - Baguslah.
Raja Ko Rani Se Pyaar Ho Gaya "Seorang raja jatuh cinta pada seorang ratu"
Pehli Nazar Mein Pehla Pyaar Ho Gaya "Jatuh cinta pada pandangan pertama."
Dil Jigar Dono Ghaayal Hue "Kedua hatinya terluka
Teere Nazar Dil Ke Paar Ho Gaya oleh panah yang menusuk hati mereka."
Raja Ko Rani Se Pyaar Ho Gaya "Seorang raja jatuh cinta pada seorang ratu"
Pehli Nazar Mein Pehla Pyaar Ho Gaya "Jatuh cinta pada pandangan pertama."
Dil Jigar Dono Ghaayal Hue "Kedua hatinya terluka
Teere Nazar Dil Ke Paar Ho Gaya oleh panah yang menusuk hati mereka."
Raja Ko Rani Se Pyaar Ho Gaya "Seorang raja jatuh cinta pada seorang ratu"
Raja Ko Rani Se Pyaar Ho Gaya "Seorang raja jatuh cinta pada seorang ratu"
Hoo Raahon Se Raahein Baahon Se Baahein "Namun dalam menemukan jalan, dalam menemukan sebuah pelukan,"
Milke Bhi Nahin Milti "tidak lah mudah."
Hoo Hota Hai Aksar Armaan Ki Kaliyaan "Hal ini sering terjadi, sebuah kuncup...."
Khilke Bhi Khilti Nahin "...bermekaran, tidak berbunga."
Hee Phir Bhi Na Jaane Kyon Nahin Maane "Entah kenapa hati ini tidak terkendali..."
Hee Phir Bhi Na Jaane Kyon Nahin Maane "Entah kenapa hati ini tidak terkendali..."
Deewana Dil Beqaraar Ho Gayaa "....hati ini telah menjadi gila."
Raja Ko Rani Se Pyaar Ho Gaya "Seorang raja jatuh cinta pada seorang ratu"
Raja Ko Rani Se Pyaar Ho Gaya "Seorang raja jatuh cinta pada seorang ratu"
Raani Ko Dekho Nazarein Mili "Lihatlah pandangan sang ratu,"
Aankhein Churaane Lagi "Dia palingkan pandangannya."
Hoo Karti Bhi Kya Woh Sar Ko Jhukaake "Apa lagi yang ia bisa lakukan selain menundukkan kepala,"
Kangana Ghumaane Lagi "Gelangnya mulai bergemerincing."
Hoo Raaja Ne Aisa Jaadu Chalaaya "Begitulah mantra yang raja gunakan..."
Raaja Ne Aisa Jaadu Chalaaya "Begitulah mantra yang raja gunakan..."
Na Karte Karte Ikraar Ho Gayaa "Meski ia keberatan, ia setuju."
Raja Ko Rani Se Pyaar Ho Gaya "Seorang raja jatuh cinta pada seorang ratu"
Pehli Nazar Mein Pehla Pyaar Ho Gaya "Jatuh cinta pada pandangan pertama."
Dil Jigar Dono Ghaayal Hue "Kedua hatinya terluka
Teere Nazar Dil Ke Paar Ho Gaya oleh panah yang menusuk hati mereka."
Kenapa kita tidak menikah saja, Kiran?
Apa?!
Aku serius.
Aku tidak pernah berpikir begitu.
- Aku hanya memikirkan satu hal. - Apa?
Musik dan karirku.
Aku mau menjadi penyanyi terbaik di negeri ini.
- Itu akan sulit. - Kenapa?
Karena aku lah yang akan jadi penyanyi terbaik.
Kiran.
Apa akan lebih baik, jika kita berdua yang jadi?
Kita mau mencapai hal yang sama. Dan kita bisa mencapainya bersama.
Katakan padaku... Kau mau menikah denganku?
Apa yang membuatmu kemari?
Dia penyanyi terkenal.
Kau seorang penyanyi, iya 'kan?
Sebenarnya, aku seorang komposer.
Aku menyanyikan lagu yang ku buat.
Lagu klasik?
- Bukan. Aku menyanyikan lagu ringan. - Seberapa ringan?
- Aku pikir aku tidak paham maksudku. - Jadi buat aku paham.
Aku menyanyikan lagu yang menyayat hati.
Dan kau nyanyikan dimana lagumu itu?
Untuk sekarang, Aku bernyanyi di hotel. - Di hotel?
Semua orang bernyanyi di hotel seperti halnya pengamen.
Dan mengambil uang dan orang-orang yang di hotel.
Cukup. Aku kemari bukan untuk membahas pekerjaanku.
Jadi, apa yang membuatmu kemari?
Kiran, aku pergi.
Berhenti, Rohit!
Dengarkan aku...
Rohit... Kumohon Rohit.
Aku tidak mengundang Rohit untuk kau hina.
Kau anggap aku bodoh? Lihat dia dan aku tahu kenapa kau undang dia.
Berhenti bersikap bodoh. Pernikahanmu telah di tetapkan.
- Aku jatuh cinta pada Rohit. - Kau dengar apa yang dia katakan?
Kau harus pertimbangkan akibatnya. Ini tidak boleh terjadi.
Semua ilmu yang kuberi padanya jadi sia-sia!
Jika kau memang berpikir ilmu ku sudah tinggi...
...seharusnya kau setuju akan keputusanku.
Aku punya pemikiran kalau ia orang licik. Dia menjebakmu.
- Kau masih gadis polos. - Aku tidak polos, Ibu.
Lalu apa yang membuatmu begini?
Aku seorang seniman. Dan dia juga seniman.
Kau tak akan mengerti.
Kenapa?
Dia seorang seniman! Musisi jalanan!
Gelandangan tak ada baiknya! Dan dia malah mau menikahinya!
Kau akan tahu kenyataan akan hidup sebentar lagi!
Jangan kau kembali sambil menangis. Pintu kami akan tertutup.
Omongan yang kalian bicarakan ini. Membuat keputusanku semakin bulat.
Aku akan menikahi Rohit.
Kiran... Kir...
Cukup.
- Mereka akan tergila-gila akan laguku hari ini. - Boleh aku ikut?
Aku akan bersiap dalam 2 menit.
Bukannya hari ini tukang pipa akan datang?
Sampai nanti. Dah.
Terima kasih.
Bagaimana caranya kau naik ke lantai empat dalam kondisi begini?
Tapi, ini hari pertama kau rekaman. Dan aku mau bersamamu.
Aku tidak rekaman untuk film. Ini hanya lagu untuk iklan.
Kapan aku akan bertemu orang-orang? Kapan aku akan bekerja?
Ini hanya masalah beberapa bulan. Kenapa kau kesal begini?
- Halo, Farida. Sini masuk. - Kau sedang apa?
Tidak ada. Hanya masak.
- Teh? - Kenapa tidak? - Teh seduh? - Iya.
Aku jarang melihatmu dalam 4 atau 5 hari belakangan.
- Semua baik saja? - Tentu saja.
- Ada apa? Kau nampak marah. - Tidak apa-apa. Aku baik.
Bagaimana latihan bermusikmu?
Aku hampir tak ada waktu luang. Bagaimana bisa aku latihan?
Lalu karirmu gimana? Kau selalu mengurus rumah?
Kau harus sempatkan tiap hari untuk latihan.
Lihatlah aku... Aku harus jemput Sonu dari sekolah setelah aku masak.
Aku akan jemput Sonu... Benar, tidak apa-apa.
Terimakasih.
No comments yet. Be the first to leave one.