Pierwsze 162 wierszy.
RAPI FILMS MEMPERSEMBAHKAN
Mesinnya panas. Akhirnya tidak kuat lagi, turun lagi ke bawah.
Ini dimuat di koran.
Jalur satu ke arah...
Keretanya bergerak tanpa masinis.
Menurut kabar, hal gaib begitu sering muncul di atas pukul 12 malam.
Mungkin kejadiannya dua atau tiga tahun yang lalu.
Aku dengar ada kereta melaju tanpa masinis.
Mungkin sekitar pukul dua hingga empat dini hari.
Menurut kabar saja, bukan mengalami.
Sekarang, kami berada di Jalan Arif Rahman Hakim, Depok.
Kami akan menemui Pak Memed,
penjaga perlintasan pintu rel kereta api di sini
untuk mendengar kesaksian seseorang yang mengaku pernah naik kereta hantu.
Malam itu sekitar pukul 23.30, aku lihat dia sedang bingung.
Setelah dia sadar, dia berkata padaku bahwa dia baru turun dari KRL.
Tapi, tiba-tiba ada di tengah rel.
Aku naik kereta dari Universitas Pancasila, Pak.
Semua tampak normal.
Penumpangnya ramai.
Ada penjual tahu, rokok, minuman.
Tidak ada yang aneh.
Aku duduk di samping pria tua yang membaca koran,
kupinjam korannya dan lupa kukembalikan.
Ini korannya.
Setelah aku amati, koran itu terbitan tahun 1953.
Koran tahun 1953?
- Benar. - Lama sekali.
Aku juga bingung.
Koran itu sudah rapuh sekali.
Tulisannya pun memakai ejaan lama, sesuai pada zamannya.
Mahasiswa itu lemas lalu pingsan
setelah aku jelaskan bahwa pukul 23.30 tidak ada kereta yang melintas.
Berarti itu kereta hantu, ya, Pak?
Begitulah. Tapi, percaya atau tidak, itu terserah diri masing-masing.
Ya, Pak Memed. Terima kasih.
Bagaimana? Cukup?
Cukup.
Halo?
Belum, Ma.
Mama. Jangan paksa Rossa.
Emily sering seperti ini. Pergi tanpa kabar dan ponselnya padam.
Tiba-tiba sudah ada di rumah.
Ya sudah. Nanti Rossa kabari lagi. Mama harus tenang, ya?
Dia menyusahkan saja!
Sudah tanya tantemu yang di Bogor?
Emily tak pernah sampai ke Bogor.
Ini sudah mau sepekan, tapi kita tidak tahu keberadaanya di mana.
Ros, kau tahu cerita tentang kereta hantu?
Kereta hantu?
Apa maksudmu? Kenapa tiba-tiba membahas hal seperti itu?
Kemarin, aku menceritakan masalahmu pada temanku.
Dia suka dengan cerita mistis. Namanya Bobby.
Katanya,
kemungkinan besar adikmu hilang saat naik kereta hantu.
Maksudnya?
Aku juga tak begitu percaya, tapi...
tidak ada salahnya kau membuka diri untuk mencari jalan keluar.
Tari, ini sudah jauh di luar akal sehatku.
Aku hanya ingin memberimu informasi saja.
- -
Ayo masuk. Tidak apa-apa.
Bob, ini Rossa, yang kuceritakan kemarin.
Rossa, ini Bobby.
Situs web apa? Aku tidak pernah mendengarnya.
Sesuai dengan nama situsnya. Kami mengumpulkan berita supernatural.
Ada kuntilanak, genderuwo, rumah hantu, terowongan maut, dan lainnya.
Ri.
Ada apa?
Kenapa kau ajak aku ke sini? Hanya buang waktuku saja.
Siapa tahu Bobby bisa membantumu.
Lebih baik lapor polisi.
Kau sudah lapor, tapi belum ada hasilnya.
Adikku hilang bukan karena diculik hantu.
Adikmu memang tidak diculik hantu,
tapi aku yakin adikmu hilang karena naik kereta hantu.
Tunggu, Dod.
Aku lupa.
- Satu lagi. Bagus. - Ya.
Halo.
Bob, fotonya tidak ada.
Kata Ki Anom, wewe gombel tidak ada di lokasi.
Mungkin sedang kencan dengan pocong.
Padahal kamera sudah dibacakan mantra oleh Ki Anom.
Ya.
Dod, Peg. Kenalkan teman kuliahku, Rossa.
- Hai. - Hai.
Tapi, berita dan kesaksian dari penduduk setempat
dapat, 'kan?
Itu ada banyak, Bob. Tenang saja.
- Komplet. - Lalu?
Bagaimana wawancara Pak Memet?
Aman.
Ada semua di kamera.
Tapi aku tidak dapat bukti koran terbitan tahun 1953-nya. Bagaimana?
Ya sudah. Tulis saja dahulu.
Untuk gambar wewe gombel, pakai sketsa dari Ki Anom saja
untuk diunggah ke situs web.
Bob, kau bisa bantu temanku, bukan?
Aku tidak janji.
Baiklah. Aku pergi dahulu.
Kau sungguh keras kepala!
Kenapa lagi, Ros?
Aku bebas untuk pergi ke mana pun!
Aku tak suka kau pergi dengan gengnya Alex!
Apalagi sampai pagi!
Jangan asal bicara! Kau tahu dari mana?
Ada apa dengan kalian berdua? Setiap hari selalu ribut.
Mama jenguk kalian ke sini supaya kalian bisa tenang.
Ma, harusnya Rossa yang dimarahi.
Emily baru saja pulang dan masuk rumah, tapi malah dimarahi dan difitnah.
Ma, Emily yang seenaknya.
Rossa hanya mengingatkan saja.
Ros, jangan terlalu mengekang adikmu.
Dia baru di kota ini. Baru kuliah. Dia harus cari teman dan wawasan.
Mama yakin dia pasti bisa jaga diri.
Itu karena Mama tidak tahu perilakunya selama satu semester.
Apa maksudmu?
Kau juga. Kau belum tentu bisa jaga diri sendiri.
Rasakan itu!
Serahkan rokokmu.
- Pergilah. -
Ma.
Mama seharusnya jangan terlalu memanjakan Emily.
Nanti dia merasa bebas melakukan apa saja.
Ros, kau harus tahu
bagaimana menderitanya mama waktu melahirkan Emily.
Apa kau tahu bagaimana kondisi Emily
setelah dia lahir?
Berat badannya di bawah standar.
Dia lemah.
Tubuhnya ringkih.
Kasihan Emily.
Tapi Mama tidak perlu terlalu memanjakan Emily.
Kau memang selalu iri pada adikmu.
Mama, kalau Emily terjerumus, masih akan membela dia?
Diam kau!
- -
- Bagus, Peg. - Asyik, ya?
Judulnya juga pas.
"Penampakan Wewe Gombel di Bawah Jembatan Gantung."
Tentu saja. Aku hebat, 'kan?
Hai, Dod.
Hei, mau lihat sesuatu yang baru?
Apa? Ada apa?
Ini gambar hasil kesaksian korban kereta hantu yang kutemui.
Seperti kereta listrik biasa.
Jumlahnya empat gerbong.
- Persis terawangan Ki Anom. - Katanya saat itu
suasananya biasa saja, tidak ada yang mencurigakan.
Setelah kereta meluncur,
dia baru sadar bahwa dia sudah terjebak di alam gaib.
Ini pasti gambar hantunya.
Ya. Saat kereta itu terus melaju tanpa henti di tiap stasiun...
ternyata semua penumpang adalah setan.
Bagaimana dia bisa selamat?
Dia terus berlari
sampai dia tersadar bahwa dia sedang berlari di atas rel.
Setelah itu, dia pingsan.
Kalian tahu?
dia berada di mana saat siuman?
Bandung! Padahal tujuannya ke Bogor.
No comments yet. Be the first to leave one.