Pierwsze 200 wierszy.
"The IT Crowd"
Kau tak boleh mencuri tas jinjing.
Kau tak boleh mencuri mobil.
Kau tak boleh mencuri bayi.
Kau tak boleh menembak polisi dan mencuri helmnya.
Kau tak boleh buang air besar di helmnya,
lalu mengirimnya ke janda polisi yang berduka,
lalu mencurinya lagi.
Mengunduh film adalah mencuri.
Bila kau melakukannya, kau akan menghadapi akibatnya.
Astaga. Iklan anti-pembajakan ini semakin kejam.
Menurutku, kita duduk terlalu dekat ke layar.
Lantainya menjadi lengket di sini.
Baiklah. Mari kita mundur.
- Menurutku, masih terlalu dekat. - Duduklah di wastafel.
Aku tak mau duduk di wastafel lagi.
Baiklah, Tuan Putri.
Apartemenmu terlalu kecil untuk televisi ini.
Omong kosong.
- Ada apa denganmu? - Aku harus ke toilet.
Pergilah.
Aku akan menahannya.
- Halo? - Halo, Roy.
Halo, Jeff.
Roy, kau tahu, aku telah mengubah namaku.
Aku takkan memanggilmu Dominator, Jeff.
Tapi, aku memang Dominator!
Terserah. Aku takkan memanggilmu itu.
Lupakan.
Aku ingin tahu,
apa kau sudah menonton film Tarantino yang baru?
Ya, sebenarnya, aku mau menontonnya.
Aku sudah menontonnya.
Pada akhirnya nanti, ada kejutan yang tak biasa.
Tidak.
Kini, aku mengetahui akan ada kejutan!
Kini, aku akan mencoba menebaknya di sepanjang film.
Sialan kau, Dominator.
Cobalah untuk melupakan ada kejutan di sini.
Bagaimana kau bisa melupakan, ada kejutan di sini.
Kau ini kenapa? Ayolah!
Bila tak menontonnya hari ini, Jeff akan menemukan cara
untuk mengatakan kejutannya.
Aku tahu itu. Ayolah.
Menyalalah.
Aku harus pergi
Moss.
Hei. Kau ini kenapa?
Aku tak bisa melakukan ini lagi.
Melakukan apa? Moss, apa maksudmu?
Biar kubantu.
- Jauhi aku. - Kita hanya menonton film, Moss.
- Ayolah, Roy. Kau tak melihatnya? - Melihat apa, Moss?
Kita menonton film, sesekali ke pub, mungkin makan malam.
Tapi itu terus terjadi, setiap tahun. Kita terpaku di sini.
Kau membuatnya terdengar
seolah-olah kita pasangan menikah yang sudah tua.
Tapi, kita memang begitu. Kau tak bisa melihatnya?
Kau adalah istriku, Roy. Kau istriku.
Kita seharusnya menikahi wanita, tapi kita justru saling menikah.
Kau adalah istriku.
Berhentilah menyebutku istrimu.
Kau adalah istriku, Roy, dan aku tak tahan lagi.
Bila terjadi sesuatu, akulah suaminya.
Apa ini?
Ayolah.
Kita bahkan tak memiliki ventilasi di sini.
- Aku akan berdiri di sini. - Aku tak peduli. Tidak.
Aku tak mau pergi ke jalan. Terlalu...
...Soviet di luar sana.
- Soviet? - Ya.
Sangat dingin. Semua orang tampak tertekan.
Aku ingat saat merokok terasa mengasyikkan.
Semua anak keren melakukannya.
Kini, setiap kali ingin rokok, aku harus ke Taman Gorky.
Jangan dijawab.
- Kenapa? - Aku tahu, itu siapa.
Itu seorang pria bernama Dominator,
yang ingin memberi tahu soal kejutan di sebuah film
yang sudah lama ingin kulihat.
- Jangan diangkat. - Dominator?
Nama aslinya Jeff Hawthorne.
- Kita harus menjawabnya. - Tidak.
Dengar. Dia akan berhenti sebentar lagi. Aku mengenal Jeff.
DIa harus ke toilet sekitar dua nada sambung lagi.
- KIta akan mengangkat telepon. - Tidak.
- Kau tak apa, Moss? - Aku sedang sedih, Jen.
Kenapa?
Aku dan Roy menjadi pasangan menikah tua.
Berhentilah mengatakan itu. Akulah suaminya!
Kami sepertinya selalu melakukan yang sama setiap hari.
Aku terpaku, Jen, seperti sebungkus keripik di atap.
Yang tampak bagiku,
kalian berdua terlalu lama menghabiskan waktu bersama.
Kalian harus keluar dan bertemu orang lain.
Orang lain?
Ya.
- Maksudmu, orang selain Roy? - Ya.
Orang lain ini, di mana mereka berkumpul?
Entahlah. Kau bisa mencoba kursus malam.
Tunggu.
Lalu, apa yang harus kulakukan bila dia berkeluyuran
dengan kursus malamnya?
Kau juga bisa bertemu orang lain.
Ya, aku tak menyukai orang.
Itu tak adil, Roy. Apa kau sudah bertemu mereka semua?
Aku bertemu cukup banyak.
Orang-orang.
Dasar berengsek semua.
Stephanie. Ya, halo.
Tentu saja. Baiklah. Dah.
Aku pergi.
- Douglas turun. - Douglas? Kenapa?
Jujur, dia melakukan penjajakan.
Dia melakukan hal-hal kecil
...seperti mengajakku naik helikopternya.
Aku mau naik helikopter.
Tumbuhkan payudara di dadamu.
Ketahuilah, bila aku punya payudara,
aku takkan keberatan seseorang menikmatinya
agar aku bisa naik helikopter.
Lihat, siapa yang datang? Aku.
Jen, punya waktu?
Tidak. Aku sibuk sekali.
Aku tak mau naik helikopter.
Bukan itu yang ingin kutanyakan.
Lalu, apa yang kau inginkan?
Sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaan.
- Ini departemen apa? - Maaf?
Bila berkaitan dengan pekerjaan,
kau pasti mengetahui, nama departemen ini.
Ini departemen apa?
Departemen para homo?
- TI. Ini TI. - TI.
Aku mengetahuinya. Itulah yang kuinginkan.
Komputerku rusak dan aku ingin itu diperbaiki.
Roy tepat untuk itu.
Bagaimana kalian bisa bekerja
bersama ayam seseksi itu.
Bila aku, kakiku akan selamanya menjadi tiga.
Apa ini? Kelihatannya bagus.
Ya, sebenarnya, aku ingin menontonnya.
Ya? Mau ke rumahku? Kita bisa menontonnya di sana.
Aku memiliki sistem sinema yang keren.
Alatku rusak, tapi sepertinya,...
- aku mungkin akan menontonnya. - Bagus. Kita sepakat.
Pukul 19.00 malam ini.
Aku akan meminta asistenku meneleponmu,
dengan nama dan alamatku.
Selamat tinggal.
Astaga.
Itu bukan kantorku. Selamat tinggal.
Yang bagus untuk angsa, pasti bagus untuk angsa jantan.
Akulah angsa jantannya.
Kudengar, balet di Praha bagus musim ini.
- Halo, Jorg. - Halo, Jen.
Mengerikan, 'kan? Setiap tahun semakin buruk.
Pertama, mereka menghilangkan ruang merokok kita,
lalu mengusir kita keluar.
Aku penasaran, kapan mereka akan memutuskan
untuk mengakhiri ini dan membunuh kita.
Astaga, Jorg.
Kau pesimistis sekali.
- Apa dia sudah pergi? - Siapa?
- Bruce Wayne. - Sudah lama pergi.
Meski Roy akan melakukan kencan pria dengannya.
Ini bukan kencan pria. Aku bukan wanita pria.
Kami tak menikah dan aku bukan istrimu.
Kau dengan suka rela menghabiskan waktu bersama Douglas?
Aku harus segera menonton film ini.
Omong-omong, aku menuruti nasehatmu soal kursus malam itu.
- Aku akan belajar memasak. - Aku senang sekali, Moss.
Harus kukatakan, wanita menyukai koki.
Aku baru saja menjawab sebuah iklan daring.
Bulan depan, bila kau menginginkan masakan Jerman,
akulah yang kau butuhkan.
- Masakan Jerman? - Apa masakan Jerman tak enak?
Kedengarannya enak.
Tak ada yang lebih romantis
dari segelas anggur dan daging babi.
Bagus, karena biasanya saat aku mencoba yang baru,
akhirnya selalu buruk.
Ada balasan untuk iklanku.
Maurice Moss.
Dia kedengarannya enak.
Selamat malam. Halo.
- Halo, aku Moss. - Ya.
Aku Johann. Masuklah.
Televisi yang bagus.
Jarak yang bagus dari sofa.
Kau mau minum?
Ya. Minuman White Russian.
Aku tak tahu itu. Bagaimana cara membuatnya?
Aku juga tak tahu.
- Kita mungkin bisa segera mulai. - Sungguh? Berani sekali.
Begitu membulatkan tekad, aku akan melakukannya.
Itu amat mengagumkan.
Jadi, lakukan apa saja yang kau inginkan.
Aku siap untuk apa saja.
Baiklah. Sepertinya,...
No comments yet. Be the first to leave one.