Pierwsze 184 wierszy.
Mereka mengelabui kita.
Energi gaibku jadi kacau.
Itu serangan seorang master sejati.
Apakah ayahku yang dibawa oleh Suku Kehampaan
atau naga di dalam dirinya?
Sulit diketahui.
Namun, aku bisa bilang, ayahmu akan merepotkan.
Dia mampu menghindari seranganku dan Taizan
dan menguasai mantra dan seni bela diri.
Dia bahkan berhasil lolos tanpa luka.
Sejujurnya, aku enggan melawan saat dia dalam kondisi prima.
Masalah kita makin menumpuk.
Jangan takut, Nona!
Aku dan Senya akan memburu dan membalas mereka untukmu!
Kau?
Ya!
Nona, kenapa?
Lord Taizan?
Kau yang memberi Tsukiko kekuatan aneh itu, bukan?
- Aku sulit bernapas. - Kokugetsusai.
Kau menyadarinya juga.
Kokugetsusai?
Benar.
Kukira jiwamu telah meninggalkan ragamu.
Kau manusia hebat, bisa merasuki raga Dewa Bumi.
Jadi, Tsukiko.
Kundur yang kau punya itu.
Berikan kepadaku.
Itu alat yang berbahaya.
Ia berkekuatan mencuri energi gaib dari tanah.
Kekuatan pelahap bumi serupa yang dimiliki Rubah Ekor Seribu.
Memang berbahaya.
Hei, Tsukiko.
Senya. Maafkan aku.
Maaf, kau tak bisa memilikinya.
Baik.
Akan kuambil saja darimu.
- Mungkin sekalian kulahap dirimu. - Nona!
Aku ingin segera menyembuhkan lukaku.
Aku mungkin akan ambil jiwamu, seperti kesepakatan kita, Tama.
Ini gawat. Senya cedera. Jika dia menyerang, kami tak bisa...
Maaf, tapi akan kubawa nona-nona ini.
Hei, Kokugetsusai.
Aku ragu kau bisa mengejarku dengan cedera separah itu!
Senya! Nau!
Tsukiko! Tama!
Sampai berjumpa lagi, putri gunung kesayanganku!
Nona!
Aku lelah sekali. Cederaku parah.
Sudah kuduga itu akan terjadi.
Aku harus istirahat dan memulihkan diri.
Senya.
Ya?
- Kuserahkan kepadamu. - Apa?
Tolong gantikan aku membereskannya.
Tak masuk akal...
Hanya kau harapan kami, Senya.
Benar.
Namun...
Jangan terlalu dipikirkan.
Kau cuma perlu kalahkan Jinun,
kemudian Suku Kehampaan, dan Rubah Ekor Seribu.
Hancurkan kundur Tsukiko dan keluarkan Kokugetsusai dari Taizan.
Semua masalah itu bisa kau bereskan dengan kekuatan.
Kau kuat, bukan?
Masalah yang bisa beres dengan kekuatan.
Jadi, aku hanya bisa bertarung.
Kau mau bawa kami ke mana, nau?
Aku ingin Senya bertemu seseorang.
Kau mengenal baik orang itu.
Lama tak berjumpa.
Kau memang sudah besar, Senya.
Lord Yazen?
Jadi, kau mau tahu apa?
Rubah Ekor Seribu?
Permata Seribu Keajaiban? Kokugetsusai?
Mungkin perihal ayah dan ibumu?
Akan kuberi tahu kau semua yang kutahu.
Lagi pula, aku diperintahkan begitu oleh Putri Mitsuchi Oyama.
Nadare sang Raja Dewa Naga?
Dia akan sangat berguna bagi kita.
Kekuatan gaib seekor naga dan seni beladiri seorang master.
Ini akan bantu kita kalahkan Senya.
Ya.
Begitu Nadare pulih sepenuhnya, kita akan serang Senya.
Masih terlalu dini.
Apa?
Senya memiliki singularitas gaib.
Dia semacam tokoh penting sejarah.
Bisa dibilang, kekuatan takdirnya setara dengan pahlawan legendaris.
Kita akan butuh beberapa alat tangguh jika berniat mengalahkan Senya.
Jadi, ciri terkuat Senya bukan kemampuan tempurnya,
melainkan kekuatan takdirnya?
Jadi, menurutmu apa tindakan kita?
Kita tak memanfaatkan Nadare?
- Kita akan buat pasukan Katawara. - Pasukan?
Pasukan iblis yang dipimpin Nadare sang Raja Dewa Naga
melawan Senya dan kawanan seribu iblisnya.
Pahlawan di kisah kita pantas mendapatkan kematian yang mulia.
Kita akan siapkan panggung besar dan mengalahkan dia secara spektakuler.
Itulah cara mengalahkan kekuatan takdir.
Aku mengerti. Ini mulai bisa dipahami.
Itulah yang diharapkan dari Orang Bijak.
Hentikan itu.
Aku ikut di misi ini dengan memakai kekuatan sendiri.
Tak terkait dengan asal-usulku.
Bukankah kalian berdua dipilih hanya karena berambut perak dan bermata peri?
Kau pun berambut perak dan bermata peri.
Tanpa kekuatan takdir dan gaib yang cukup,
mustahil untuk selamat dari perjalanan lintas dimensi.
Begitulah keadaannya.
Terserah. Asal tahu, aku yang memimpin mulai kini.
Paham?
Baik.
Kita akan buat pasukan Katawara biasa. Kita utamakan jumlah.
Sejumlah besar pengamat akan berpengaruh besar pada takdir.
Benar.
Aku setuju akan rencana ini jika tak perlu merasuki Dewa Bumi lagi.
Ya.
Jika salah satunya melihat negeri kita dihancurkan di dalam pikirannya,
itu akan jadi masa depan yang terobservasi yang membuatnya sulit dihindari.
Benar.
Meteor raksasa yang menghancurkan peradaban kita? Konyol.
Kita akan kalahkan Senya,
mendapatkan singularitas gaib kedua,
dan mengubah takdir kita menjadi kala meteor itu tidak jatuh.
Senya! Nau!
Kau selamat.
Kau tampak bimbang.
Kuduga kau diperintahkan untuk mengejarku dan hancurkan kundurnya?
Ya, tapi belum akan kulakukan.
Belum?
Lord Yazen memberitahuku, kunci untuk mengembalikan wujud Jinka
terletak pada Kokugetsusai dan kundur itu.
Kau bertemu Yazen?
Ya.
Namun, Jinka ada di balik penghalang di pulau itu, benar?
Kita tak bisa membobolnya.
Aku ingat sesuatu yang mungkin bisa membantu.
Sesuatu yang bisa memindahkan dan memiliki energi gaib Dewa Bumi.
Kita butuh benteng bergerak.
Benteng bergerak?
Benar.
Kutemukan yang cocok selagi mengintip ke dalam Nadare.
- Ia... - Ia...
- ...Katawara Awan, Banshou-ou. - ...Katawara Awan, Banshou-ou.
Sialan! Keluarkan aku dari sini!
Berapa lama lagi aku dikurung di sini? Biarkan kulahap manusia!
Aku juga haus!
Hei. Kau begitu bersemangat.
Tuan...
- Itu berkat Tuan. - Sudah bertobat?
Ya! Sudah! Aku tak akan mengulanginya!
Kau bisa kupercaya?
Ya! Tolong percaya aku!
Baik, aku akan percaya.
Terima kasih sudah memercayaiku.
Bercanda!
Maaf! Maafkan aku! Entah apa yang merasuki diriku!
Ini. Rasanya lebih enak dari manusia.
Nasi kepal?
Kau datang untuk memberiku ini?
Ini lezat.
Shinsuke Kazamatsuri.
Astaga. Apa jadinya dirimu tanpa aku?
Kau selalu melindungiku.
Tentu saja.
Terima kasih.
Berjalan-jalan dengan muka bodoh itu!
Cepatlah jadi milikku!
Itu mustahil.
Berapa lama lagi kau akan terus begini?
Mengubah Katawara jadi warga desa?
Siapa tahu?
Aku pun tak punya pilihan. Senya dan Tsukiko selalu membawa mereka...
Kami kembali.
Selamat datang.
Lagi?
Nau?
Baik...
Jadi, Tama tak bisa bertemu Jinka?
Benar.
Namun, aku ingat sesuatu.
Katawara Awan, Banshou-ou, ia mungkin bisa membobol penghalang itu.
No comments yet. Be the first to leave one.