Pierwsze 200 wierszy.
Apa-apaan…
Ayo. Ke tempat kalian!
Baiklah.
KONSTRUKSI DILARANG MASUK
Apa yang kau lakukan? Dilarang masuk! Itu berbahaya!
Begini… Ada itu di sebelah sana.
- Aku hanya ingin menyentuhnya. - Apa yang kau lakukan?
Jangan!
Tapi jika tak menyentuh pohon dedalu itu, aku tak bisa bersekolah.
Itu peraturanku.
Hei! Awas! Itu berbahaya! Apa kau gila?
Hei! Berhenti!
Sekalipun kuberi tahu,
tidak mungkin mereka mengerti.
Ya!
Dua menit ke toserba? Mudah!
Hei! Berhenti!
Bagiku, semua hal di dunia ini hanyalah permainan.
Berkumpul!
Begini,
meski tidak ada yang akan mengakuinya, kecuali kau berpikir seperti itu,
kita tak bisa hadapi omong kosong ini.
Di mana semangat kalian? Ulangi lagi!
Baik, Pak!
Berkumpul!
Ulangi lagi!
Berkumpul!
Lamban! Ulangi!
Kalian ingat konjugasi tak teratur S, 'kan?
"Su", "se", "shi", "su", "suru", "sure", "seyo".
Dengan begitu, mari kita bahas lagi.
Mengerti? Bagus.
Terakhir, mari kita lihat.
Setiap hari hanyalah pengulangan hal yang tak berarti.
Kau tidak tahu?
Jadi, begini…
Ada pria yang hanya membicarakan hal-hal yang mereka lihat di TV,
yang membuatmu ingin berkata, "Siapa yang peduli?"
Kau minum apa?
Madu Dokodemo.
Apa itu?
Makanan untuk kumbang badak.
Ada juga berbagai macam orang gila.
Saat semua orang adalah berandal,
menjadi waras adalah hal yang buruk.
- Shuji! - Ya?
- Mau karaoke hari ini? - Ayo!
Yang benar saja, Berengsek!
Kalian masih belum membayarku saat aku bayarkan waktu itu.
- Tentu saja! - Keren!
Sial.
Wali kelas kita, Yokoyama, ingin menemuiku sepulang sekolah hari ini.
- Apa? Tak menyenangkan tanpamu! - Bagaimana denganku?
- Tempat biasa, 'kan? - Ya.
Aku ke sana setelah selesai.
Menunggu sejuta tahun pun, aku tak akan datang.
Jangan nyanyikan laguku!
Jika memainkan peran dengan benar dan mempertahankan statusku,
aku bisa melaluinya tanpa terluka.
Baiklah. Ayo mainkan lagi
peran Shuji Kiritani yang keren, tapi suka menolong, hari ini.
Bahkan pria sempurna sepertiku
punya musuh.
Aku menemukanmu!
Kusano…
Hei! Kudengar Tuhan sudah mati.
- Siapa yang bilang begitu? - Nietzsche!
Filsuf Nietzsche mengatakannya.
Tapi apa Tuhan bisa mati? Maksudku, apa penyebab kematiannya?
Hei, ayolah. Jangan abaikan aku.
- Aku tahu hanya aku yang kau percaya. - Dengar!
Jangan beri tahu siapa pun.
- Kita teman, 'kan? - Bukan!
Dengarkan aku.
Kita bukan teman atau apa pun.
Ayolah.
Kenapa kau masih kesal?
Baiklah. Boleh kuberi tahu sesuatu sebagai teman?
Tentu.
Kau tahu kau suka mengepakkan tangan saat menuruni tangga?
- Aku tak melakukan itu. - Ya, benar.
- Buang itu. - Apa?
Sudah kubilang, berhenti mengepak.
Aku benci keberanian pria itu.
Hilang.
Pohon dedalunya hilang! Bagaimana bisa?
Hilang! Pohon dedalunya hilang!
Hilang! Pohon dedalunya hilang! Bagaimana bisa?
Ini satu-satunya tempat aku bisa menemukan kenyamanan!
Hei! Ikan! Kenapa pohonnya hilang?
Katakan!
Pohon Dedalu! Di mana kau? Kau di sekitar sini?
Pohon Dedalu!
Yang benar saja!
Tunggu…
Kau penunggu pohon dedalu?
Apa?
Apa? Apa maumu?
Hei! Apa maumu?
Pohon dedalu…
Jika kau mencarinya, itu sudah tak ada.
Akarnya dicabut tadi siang dan dibawa pergi.
Astaga.
Benarkah?
Karena itu pohon dedalu, tidak cocok untuk digantung.
Digantung?
Karena terus bergoyang dan berdesir, itu tampak seperti di dunia lain.
Itu sebabnya aku menyukainya.
Kau sakit perut?
Tidak. Kenapa?
Ekspresi wajahmu terlihat seperti itu.
Aku tersenyum.
Ternyata itu tersenyum.
Tersenyum.
Hari ketika pohon dedalu itu dicabut
adalah hari saat dia muncul.
Gadis yang tampak membenci
semua hal di dunia ini.
Berkat si bodoh yang percaya semua hal di dunia ini adalah untuknya,
kehidupan SMA-ku yang damai sampai sekarang
perlahan mulai hancur.
Aku cukup bodoh saat itu dan tak menyadari itu terjadi.
Yang berarti, bagiku…
Sebenarnya, aku tidak ingin membicarakan apa yang terjadi selanjutnya.
- Selamat pagi! - Selamat pagi!
- Selamat pagi! - Selamat pagi.
- Selamat pagi! - Selamat pagi.
- Selamat pagi! - Selamat pagi.
- Halo! - Halo!
- Aku Kondo! - Aku Hasegawa! Kami adalah…
Destiny! Senang bertemu kalian!
Kau sudah dengar?
Topik hangat belakangan ini adalah Goyokudo.
Toko buku di daerah perbelanjaan.
Toko yang hanya mengizinkan pria dan wanita rupawan untuk membaca di sana.
Kudengar Sebastian mencoba ke sana!
Benar. Pak Sebastian, yang sebenarnya pemalu,
dia mendekat dan mencoba!
DILARANG MEMBACA KECUALI PRIA DAN WANITA RUPAWAN
Dia hanya bertahan beberapa detik!
- Lalu Bando juga mencoba membaca di sana! - Si menor itu…
Bando juga dengan bodohnya mencobanya!
Hei! Biarkan aku masuk!
Apa masalahmu, Pak Tua?
- Kau baik-baik saja? - Dasar tua bangka!
Berengsek!
Apa masalahmu?
Gadis yang malang.
Jadi, dia tidak akan boleh masuk?
- Ya. - Bukankah itu kejam?
Apa ada orang yang dia izinkan membaca di tokonya?
- Aku ragu. - Bukankah ada seorang?
Siapa?
Mariko Uehara dari Kelas A.
Mariko Uehara?
Itu masuk akal.
Kurasa era Mariko Uehara belum berakhir.
Berita besar! Murid pindahan!
- Tidak mungkin! - Sungguh?
- Laki-laki? Perempuan? - Perempuan.
Kudengar dia lebih cantik dari Mariko Uehara.
- Sungguh? - Mustahil!
Luar biasa!
Itu berarti posisi puncak akan berubah!
Delapan hari sepekan, halo!
Shuji, ada murid pindahan.
Aku sudah dengar. Kusuruh Tani memeriksa ruang guru.
- Kau yang terbaik, Shuji! - Tak masalah!
KEMENANGAN
- Kau berhasil! - Kau berhasil!
Apa perempuan itu seksi?
Seperti apa dia?
Jika dia susyi, seperti uni ?
Seperti toro ?
Apa? Otoro ?
Tidak mungkin!
- Apa itu? - Pergelangan kakinya.
- Pergelangan kaki? - Bagaimana bisa tahu dari itu?
Ceritakan lebih detail! Dia mirip aktris siapa?
Akiko Yada.
- Akiko Yada? - Akiko Yada?
Kau belum pernah melihat Akiko Yada, jadi, kenapa bilang begitu?
Kau bahkan belum pernah melihat yang asli!
- Dia sangat manis! - Baik! Baiklah!
Murid pindahan.
Kau yang memotret ini?
Kebetulan.
Ini keajaiban!
Kerja bagus, Kumbang Badak. Aku akan memberimu banyak madu nanti.
Aku punya foto murid pindahan!
- Sungguh? - Mustahil!
- Berikan kepadaku! - Coba kulihat!
Dasar orang-orang bodoh.
Hei! Halo!
Kalian sudah dengar?
Ada informasi lain?
Sebastian mencoba membaca di Goyokudo.
Foto yang bagus.
Hei! Dengar!
Sebastian diusir karena mencoba membaca di sana.
No comments yet. Be the first to leave one.