Pierwsze 146 wierszy.
Esensi dari pedang sejati
bukanlah untuk mendorong dan memotong dengan kekerasan.
Singkatnya, pedang sama seperti pisau dan gergaji.
Saat menebas dan memotong, itulah ketika ketajamannya paling efektif.
Memotong saat ditarik.
Bukankah itu hal terbaik bagi Anda yang jago kabur?
Tapi cara memotong ini tak bisa merenggut nyawa musuh.
Paling cuma sampai kulit atau dagingnya.
Tidak apa-apa. Itulah pedang si jago kabur.
Tangan kiri yang diangkat berfungsi sebagai pembidik.
Tunggulah saat di mana arah pedang musuh melewati celah antara tangan dan pedang Anda.
Ini dia!
Putar tubuh bagian atas ke kiri sambil menurunkan pedang dengan beratnya sendiri...
Tebas ke kanan, kabur!
Menebas pergelangan tangan, ya?
Bagian ini sulit diincar musuh dan tak ada zirah karena jadi sulit bergerak.
Kau tahu sekali kelemahan prajurit berzirah, ya.
Tapi ini bukan kelemahan yang penting.
Butuh waktu sampai kehilangan kesadaran karena pendarahan di pergelangan tangan.
Kau pikir bisa selamat
sampai saat itu tiba?
Di ruangan sempit ini,
kau akan...
kupojokkan sedikit demi sedikit.
Aku akan menebasmu dan membuatmu pendarahan pelan-pelan.
Rasa ngeri apa itu tadi?
Pengguna naginata ini...
Tidak membiarkan kami maju!
Mampus!
Ringan, kecil, kurang pengalaman!
Kalian akan mati di sini.
Sayang sekali.
Padahal kalian bisa jadi pendekar hebat 10 tahun lagi.
Dan kalian bisa merasakan banyak kenikmatan.
Kenikmatan orang dewasa memakai kekuatan dan tubuh untuk mengalahkan orang lemah.
Kenikmatan mencuri. Kenikmatan memerkosa.
Yang memungut dan mengajariku itu saat bocah adalah tuanku sekarang.
Suwa Yorishige tuan kalian yang suci tak mungkin bisa melakukannya.
Bukan Tuan Yorishige.
Hah?
Tuan kami sekarang.
Benarkah? Siapa pun sama saja.
Tuan yang tak berguna.
Dia tak bisa mengajarkan kenikmatan pada bocah dan membiarkan kalian mati di desa mungil ini.
Kok diam? Berarti benar?
Ya, tuan kami memang orang baik yang suka kabur dan berwawasan sempit.
Tapi dibanding kalian yang untung karena mengorbankan orang lemah,
Kakanda yang memerintah kami untuk melindungi orang lemah
jauh lebih pantas sebagai seorang samurai.
Dih. Kau masih di situ?
Dasar sampah yang melawan pakai mainan anak-anak!
Kau menyebalkan, Bocah.
Mustahil bocah masuk ke jarak serang naginata orang dewasa...
Dari tadi...
berisik sekali ngoceh bocah!
Jangan ngomong seenak jidat masih terlalu cepat 10 tahun.
Tinggal satu tahun setengah sampai hari yang diramalkan Tuan Yorishige.
Kalau kami yang 10 tahun tak bisa mengalahkan orang dewasa,
kami takkan siap untuk perang besar Tuan Muda!
Bisa-bisanya aku dipecundangi bocah-bocah tak dikenal ini.
Bertemanlah dengan iblis di neraka.
Tuan kami adalah Hojo Tokiyuki.
Apa?!
Tuan dari Kamakura
yang merupakan penerus sah takhta!
Ini...
tidak mungkin.
Tidak kena!
Gawat. Aku harus cepat menghentikan pendarahannya.
Tidak cuma pedang, dia bahkan menghindari cipratan darah!
Dia monster!
Arah tebasan pedang berubah-ubah!
Jarang ada ilmu pedang yang mampu kendalikan ujung pedang dengan begitu rumit seperti itu.
Pasti ada guru yang mengajarimu teknik ini.
Siapa nama gurumu?
Tidak perlu kukatakan.
Air yang tenang itu menghanyutkan.
Jika menunjukkan kemampuan di organisasi,
mereka akan dimanfaatkan sampai mati seperti keroco dan pemimpin pada umumnya.
Bermain sebagai badut di sisi orang berkuasa dan mengambil keuntungan sebanyak mungkin.
Cakar tajam itu cuma dipakai sebentar.
Saat membunuh orang yang sadar dengan kemampuanku
atau saat membunuh pemimpin untuk merebut kelompoknya.
Menyembunyikan adalah kunci untuk bertahan di masa sulit!
Cepat mati kau!
Menyembunyikan, ya?
Mati!
Tebasan yang datang lurus seperti biasa
dan tebasan unik yang dibelokkan dengan pergelangan tangan.
Kedua tebasan pedang itu disembunyikan hingga saat terakhir, jadi sulit dibedakan.
Namun, saat dia mengayunkan pedang, ketinggian sikunya sedikit berbeda.
Berarti tidak sepenuhnya disembunyikan.
A-Apa?
Jika disembunyikan dengan sempurna, itu teknik pedang yang mengerikan,
tapi penggunanya tak paham kunci dari tekniknya.
Ternyata tidak menyembunyikan hal yang menakjubkan.
Aku kecewa.
Mengendalikan dua pedang dan menguasai bela diri juga...
Bocah ini menyembunyikan trik sebanyak apa?
Nilai strategis desa ini.
Nilai taktis anak-anak desa.
Saat menemukan permata tersembunyi,
tubuh yang dingin jadi terasa sedikit hangat.
Aku tertarik secara misterius padanya karena dia menyembunyikan hal besar.
Oh, aku sudah tidak peduli denganmu.
Nah, yang di sana sudah waktunya, ya.
Tuan Chojumaru.
Aku putus asa. Aku akan mati.
Sebelum membunuh bocah ini, aku akan kehilangan banyak darah.
Tidak. Kesadaranku sudah hilang...
Hidupku berakhir di sini...
Ayahanda, apa maksudnya tidak ada tanah yang diwariskan padaku?
Maaf, ya.
Akibat membagikan tanah ke semua leluhur dan saudara,
sekarang tinggal tersisa tanah kecil ini.
Sekarang aku akan memberikan semua wilayah ke putra sulung seperti orang dari tempat lain.
Kau tinggallah di sini bersama kakakmu dan bantu dia.
Maksudnya aku jadi pelayan Kakak?!
Alasanku berlatih seni bela diri dan strategi adalah untuk melindungi wilayahku!
Seorang samurai tanpa wilayah bukanlah samurai!
Kalau menginginkan tempat,
aku harus merebut.
Setelah itu gelap gulita.
Entah sejak kapan, merebut jadi kenikmatan bagiku.
Aku menjual anak,
menyeretnya ke dalam kegelapan tanpa masa depan sepertiku untuk memuaskan diri.
Tidak ada tempat beristirahat saat dikejar.
Aku ingin membalikkan keadaan dengan ikut perang besar,
tapi aku tidak bisa menaikkan namaku karena kalah perang.
Kau selalu berada dalam kegelapan, ya.
Larilah ke tempat yang jauh sampai tak ada pengejar lagi.
Pasti ada tempat benderang entah di mana itu.
Jangan bohong, Tuan Kusunoki.
Cahaya tidak ada di mana pun.
Apa yang bersinar di depanku?
Mana mungkin aku menang.
Yang tersenyum polos di neraka ini bukanlah manusia.
Dia bersedia tersenyum di hadapanku...
Buddha...
Dengan pedang belas kasih, semuanya dimulai.
Saat berakhir, gambaran neraka.
Yang menaklukkan iblis di masa perang, iblis ataukah Buddha?
Pedang Buddha Iblis.
Tuan Muda benar-benar hebat!
Padahal dia orang hebat yang tak bisa kami hadapi!
Itu berkat jurus yang diajarkan Tuan Fubuki.
No comments yet. Be the first to leave one.