Pierwsze 200 wierszy.
S05E09 - A Simple Story ~ m o l s k i y ~
Lukanya akan sembuh.
Kau sudah menyelamatkanku.
Terima kasih.
Tapi, kalau aku tak mengampunimu,
sekarang kau sudah ada di surga.
Aku yakin kau adalah pendeta Kristen.
Bukankah kau lebih suka berada di surga?
Aku memang pendeta.
Tapi aku juga manusia.
Aku mencintai Tuhan.
Tapi juga mencintai kehidupan.
Apa yang begitu kaucintai dari kehidupan?
Kesenangannya.
Penderitaannya.
Kau juga mencintai manusia?
Tuhan kami mengasihi semua manusia.
Kasih-Nya tak bersyarat,
tak memihak.
Kasih yang besar dan merangkul.
Kau juga punya kasih yang merangkul itu, Pendeta?
Kau mengasihi pria dan wanita dengan adil?
Aku bukanlah Tuhan.
Kasih tak bersyarat, terlalu berat untukku.
Aku mencintai wanita.
Bukan hanya secara rohani.
Kami tak keberatan mencintai rohani dan jasmani.
Para Dewa kami menganjurkannya.
Berarti kau tak punya rasa bersalah?
Penyesalan?
Tidak.
Aku iri padamu.
Bertahun-tahun kujalani hidup peduh dosa.
Bahkan dalam pikiranku.
Kau lucu.
Pikiranmu adalah pikiranmu.
Tapi kalau kaulakukan hal-hal buruk,
itu berbeda.
Kenapa kau tak membunuhku?
Entahlah.
Mungkin kita akan mengetahuinya.
Kau terlalu mementingkan dirimu sendiri, Ivar.
Kita punya kesempatan dan kita kalah.
Seingatku, kau menyetujui rencananya.
Hingga saat itu,
kau memang membuktikan dirimu sebagai ahli taktik.
Aku memercayaimu.
Mungkin lain kali aku tak boleh gegabah ...
menyetujui rencanamu.
Terserah kau saja, Raja Harald.
Ivar, Paman Rollo pernah bilang padaku ...
di kapalnya, dalam perjalanan kita pulang dari Mediteran.
Katanya, kalau aku butuh bantuannya,
aku hanya tinggal meminta.
Bagaimana menurutmu?
Ayolah.
Bagaimana menurutmu?
Kau ingin bangsa Franka membantu kita?
Kurasa kau harus pergi besok fajar.
Ya, ayo!
Tahan! Aku memegangnya!
Biarkan aku lewat!
Itu yang di sana!
Aku sudah berpikir tentang Eyvind.
Tentang kelakuannya.
Kenapa?
Kaubilang padanya, kalau dia tak suka di sini,
dia boleh kembali.
Dan katanya, keputusan kita sudah tak bisa diubah ...
dan tak pernah bisa kembali lagi.
Tapi itu tak benar.
Dia bisa pulang kapan saja.
Apa yang sebenarnya menghentikannya?
Tak ada./ Tidak.
Tidak, dia punya alasan untuk tetap tinggal.
Alih-alih ingin meninggalkan pulau ini,
dia tetap tinggal karena ingin menjadi raja di sini.
Dia tak pernah bisa menjadi raja di Kattegat.
Tapi di sini, tanah tak berpenghuni, dunia baru ...
Kejam atau tidak, dia bisa menguasai semuanya.
Tapi dia harus melemahkan kekuasaanmu terlebih dulu.
Dia harus membuat orang-orang menentangmu.
Itulah yang dia coba lakukan.
Kau tak menyadarinya?
Aku sudah memperhatikan Eyvind sedari awal,
dan sebenarnya, dia sedang mencoba untuk memancing reaksi.
Dia ingin kita semua terjerumus dalam kekerasan dan kekacauan ...
dari situlah dia bisa bangkit berkuasa.
Jangan sampai kita turuti keinginannya.
Kita harus tetap tenang.
Ibu.
Aud, kau mau apa?
Hanya bicara.
Para pria selalu tak bisa tak membuat kesalahan.
Itu memang sifat mereka.
Mereka selalu berubah-ubah.
Aku tahu kau memahaminya.
Mungkin.
Tapi siapa orang yang kaumaksud?
Ketill dan Eyvind.
Mereka sama-sama orang hebat.
Sama-sama dari keluarga terpandang,
tak perlu membuktikan apa pun dalam hal keberanian dan tanggung jawab.
Andai saja kita bisa membujuk mereka.
Mengabaikan perselisihan mereka,
menemukan kesepakatan, hidup dalam damai.
Sebagai wanita, tentunya ...
kita sependapat dengan itu, 'kan?
Aku setuju denganmu,
kecuali satu hal./ Ibu ...
Ayahnya Ketill ...
membunuh saudaraku.
Mereka meributkan lahan.
Ayah Ketill ...
menghancurkan kepalanya dengan kapak.
Apa yang kaupikirkan?
Kau memikirkan anak kita?
Tentu.
Kalau begitu, aku senang.
Kalau kita perang lagi,
jangan melarangku berperang.
Jangan menyuruhku pergi.
Biar kulakukan yang seharusnya,
yang ingin kulakukan.
Aku ingin anak kita mendengarkan tangisan pertempuran.
Aku ingin dia menjadi pejuang.
Kau seharusnya berbahagia.
Tapi kau tak bahagia.
Kita baru saja kalah bertempur.
Banyak yang mati.
Kaupikir aku harus berbahagia?
Tarik!
Bagus. Tarik!
Tahan!
Hei, Bul!
Kemari bantu kami! Thor-nya berat!
Kami tak ingin berurusan dengan kuilmu, Thorgrim.
Itu urusanmu.
Dan kami juga tak mau membayar pajak apa pun.
Dari caramu bicara,
kau tak terdengar seperti banteng .
Kau terdengar seperti anjing.
Jadi, aku akan memanggilmu begitu.
Bul si Anjing.
Katakan sekali lagi.
Hentikan, Bul.
Mundur.
Katakan sekali lagi.
Bul si Anjing!
Bul, hentikan!
Hei! Hentikan!/ Hentikan dia!
Lepaskan dia!/ Jangan!
Hentikan!/ Lepaskan dia!
Ketill, lepaskan dia./ Ayah!
Ayah, hentikan.
Hentikan!
Turunkan senjata kalian.
Ayo pergi, Bul.
Anak itu sudah merasakan akibatnya.
Ayo pergi, Bul!
Kau yakin mereka pasukan Franka?
Ya, aku yakin.
Jumlah mereka banyak.
Banyak sekali.
Terlalu banyak.
Untuk apa Rollo mengirim pasukan berperang ...
untuk Hvitserk dan Ivar?
Entahlah.
Mungkin dia ada di sana.
Mungkin aku bisa bicara padanya.
Ibu ikut./ Jangan.
Ivar akan membunuh Ibu.
Aku akan pergi sendiri.
Mungkin kami bisa merundingkan beberapa kesepakatan.
Mungkin Raja Harald dan Rollo akan mengerti.
Ibu takkan mengharapkannya.
Sekarang mereka unggul kekuatan.
Di mana Rollo?
Rollo tak bisa datang.
Tanggung jawabnya terlalu banyak.
Tapi dia juga bilang akan kembali ...
dan merayakan bersama kita setelahnya.
Dia hanya minta satu hal.
Apa itu?
Kita mengampuni Bjorn.
Mungkin begitu.
Kuil ini dipersembahkan untuk Thor.
Thor Sang Pelempar.
Thor Sang Pengembara.
Putra Odin./ Putra Odin.
Dewa para petani.
Dewa yang memancing ...
dan melawan Sang Ular.
Dewa yang melawan raksasa,
yang dianugerahi sebongkah batu ...
yang selamanya bersarang di kepalanya.
Dewa Petir.
Dewa orang-orang biasa.
Dengarlah doa kami.
Dengarlah doa kami.
No comments yet. Be the first to leave one.