Pierwsze 197 wierszy.
Kau suka sekali jjajangmyeon, ya?
KAU SIAPA?
Wah, makanmu lahap sekali.
Apa seenak itu?
Pak Ga!
Bapak baik-baik saja?
Astaga. Maaf.
Kau baik-baik saja?
Gawat.
Siapa para malaikat ini?
Apa yang membuat kalian turun dari kayangan
ke gubukku yang reyot ini?
Apa kalian bedebah
yang melukainya?
Astagaโฆ
Ini lucu sekali.
Kita kedatangan tamu.
Ambilkan minuman penyambutan.
Jangan cuma diam saja.
- Buatkan teh. - Jaga anak-anak itu.
Kami bisa.
Kau pasti bisa.
Kau terluka?
- Tapiโฆ - Tenang, dia bisa.
Apa mengganggu anak-anakโฆ
Kalian anggap seru?
Kenapa, sih, bedebah-bedebah ini?
- Apa-apaan? - Hei.
Hei, Bocah!
Kau sudah gila, ya?
Hajar dia!
Nah, begitu!
Dasar kauโฆ
Apa maumu?
Kau baik saja? Sepertinya begitu.
- Ayo, lawan aku. - Hei.
Apa pantas seorang guru bersikap seperti ini?
- Dia punya pisau! - Guruโฆ
Kau
siapa, Berengsek?
Aku? Aku guru sastra Korea.
Mantap, guru sastra Korea.
Jangan lihat.
Ayo.
EPISODE 12
Jadi, bagaimana solusinya?
Kita anggap ini tak pernah terjadi.
Minta maaf ke anak-anak ini.
- Maaf. - Maaf.
Apa kalian bakal muncul lagi?
- Tidak. - Tidak.
Jika aku melihat kalian lagi,
kalian benar-benar akan kuhabisi.
Seorang dukun ternama pernah bilang
aku akan berumur panjang dan sehat.
Sampai jumpa, Pak Guru.
Bukan, Bos.
Maksudku, Bos Guru.
Baiklah. Ayo pergi.
Ayo.
Apa-apaan? Bedebah itu kenapa, sih?
Katanya dia guru sastra Korea, ya?
Kok, bisa berkelahi seperti itu?
Dia benar-benar serius
saat bilang akan membunuh kita jika bertemu lagi.
Sorot matanya seperti ingin membunuh.
Apa-apaan? Siapa mereka?
Bagaimana jika dia diculik?
Ji-a tinggal di panti dan kerja sambilan.
Staf apa?
Panggilan Anda takโฆ
Kenapa dia tak menjawab?
MEMBUKA KEDOK DEMI KEADILAN
Kenapa dia tidak cek?
Kau membuatku takut setengah mati. Aku sangat khawatir!
Kabar tentang Ji-a saja sudah cukup menakutkan,
ditambah kau tak bisa dihubungi.
Pikiranku jadi ke mana-mana, kupikir kau juga kena.
Kau tak menjawab telepon atau mengecek pesan.
Tak ada yang tahu kau ke mana.
Kau tahu betapa takutnya aku?
Aku menyukai Pak Ga.
Apa?
Seharusnya aku cerita padamu kalau aku menyukainya,
tapi aku tak sanggup.
Kukira kau mungkin tak paham setelah kita mengejeknya
dan aku pun ragu dengan perasaanku.
Jadi, aku bingung.
Makanya
aku malah menyakitimu.
Maaf, ya.
Aku sakit hati karena kau tak terbuka padaku.
Aku tak peduli jika kau juga suka Dong-ju.
Tapi aku sedih kau tak mau jujur padaku.
Kau selalu memberitahuku apa pun.
Aku orang pertama yang kau ceritakan soal sembelitmu.
Kau yang paling penting bagiku. Kau tahu itu, 'kan?
Hei.
Jika aku dan Dong-ju jatuh ke danau, siapa yang kau selamatkan duluan?
Dulu kau ikut lomba renang balita.
Ih.
Jadi, apa terjadi sesuatu?
Meski kuceritakan pun, kau takkan percaya.
Apa?
Cepat, ceritakan.
Awalnya, para gangster itu
meremehkan Pak Yoon.
"Apa? Dia pikir dia siapa?"
Lalu?
Lalu, dia menegur mereka dengan nada dingin.
Bukan suara lembut yang biasa dia pakai dengan kita.
Pokoknya, sangat serius.
"Apa mengganggu anak-anak kalian anggap seru?"
Dia bilang begitu.
Aku sampai merinding mendengarnya.
Setelahnya, yang ada cuma tendangan depan, belakang, dan tendangan terbang.
Dia sampai menarik kerah mereka
dan meninjunya.
Seperti di film.
Setelah itu,
lengan bajunya robek.
Robek?
Dia punya tato besar. Kau tahu Medusa, 'kan?
Di bagian sini
ada tato beberapa makhluk mirip naga
yang melilit dan menggeliat.
Besar sekali.
Dong-juโฆ
Punya tato?
Ya.
Tatonya sudah agak pudar, kurasa itu sudah lama,
tapi itu jelas Medusa.
Sepertinya itu menutupi bahunya sampai ke punggungnya,
tapi punggungnya tak terlihat.
Berarti.
Dong-juโฆ
Kurasa
dia dulu seorang gangster.
Kau baik-baik saja?
Dong-ju
dulu seorang gangster?
Mending tak kuceritakan.
Tidak! Tunggu.
Aku belum menyentuhmu.
Tunggu.
- Siap? - Akuโฆ
- Diam. - Bibirnya juga.
Jangan bergerak!
- Stop. Sakit. - Sudah.
- Nanti sajalah kuperban. - Sakit.
Aduh, kalau dia begini terus, aku bisa stres.
Coba lihat tanganmu.
Tanganmu penuh luka. Kau mau bagaimana?
Setidaknya yang kiri aman.
Bagaimana keadaanmu?
Aku sudah bersumpah takkan berkelahi lagi.
Tapi lihat yang terjadi.
Di depan murid pula.
Apa boleh buat.
Mereka bahkan melihat tatoku.
Aku harus bagaimana?
Apa kau ingat?
Saat aku kelas 11,
kau kecelakaan motor dan pingsan.
Kubawa ke rumah sakit,
tapi begitu kau sadar,
kau meninjuku, dan berteriak, "Kau orangnya, ya?"
Sialan.
Kukira kau yang menabrakku.
Kau bahkan membelikanku bubur.
Itu aneh sekali.
Entah kenapa kau membeli bubur setelah aku memukulmu tanpa sebab.
Saat itu musim dingin.
Kau cuma pakai sandal jepit.
Kau tampak lebih muda dariku,
dan kuduga kau kesulitan di kerja sambilanmu.
Kau yang pertama baik padaku tanpa berharap imbalan.
Jadi, aku merasa malu.
Kupikir jika aku terus di jalan itu, aku akan melakukan hal yang buruk.
Aku kepikiran apa aku bisa seperti dirimu.
Jika aku tak bertemu denganmu,
hidupku pasti masih seperti itu.
Saat itu,
kupikir kau orang aneh.
Tapi aku merasa kita akan bertemu lagi.
Kenapa?
Entahlah.
Aku tak tahu.
Saat orientasi kampus,
ternyata aku ketemu si wajah bulat ini.
Aku cukup senang bertemu kau.
Kau juga, 'kan?
Kalian tahulah.
Dia tampak agak bodoh.
- Sialan kau. - Itu sudah pasti.
- Sekarang pun masih bodoh. - Terserah, Bodoh.
Kenapa kau membedakan dirimu yang sekarang dan yang dulu?
No comments yet. Be the first to leave one.