Pierwsze 185 wierszy.
- -
Kursi goyang?
Iya, Pak.
- Buat ibu menyusui? - Iya, Pak.
Dari kayu?
Fisha, kamu itu datangnya belakangan.
Saya sendiri sudah menangani lima mahasiswa.
Jadi, kami sarankan
supaya kamu mencari dosen pembimbing.
Ini saya rekomendasikan.
- Dia lulusan sini. - Oh, iya.
- Gelarnya doktor. - Terima kasih banyak, Pak.
Terima kasih, ya, Pak.
Fisha.
Gimana? Beres?
Alhamdulillah, beres, Mas.
Tapi aku disuruh hubungi orang ini.
Ya, itu.
Fisha. Selain orang ini?
Ya, enggak ada.
Gara-gara aku paling terakhir majunya,
Pak Bambang kasih referensi orang yang ini.
- Gimana toh, Mas? - Aku bantu cari, ya.
Kamu tahu banget
ini penting banget buat aku. Iya, 'kan?
Percaya sama Mas-mu. Kamu tahu beres aja.
Aku hubungi orang ini lagi, ya.
Oke?
Itu jangan sampai lecek, loh.
Iya.
- Mbak Fisha. - Mm?
Kalau misalnya Mbak Fisha mau mulai, kabari Amira, ya.
Tapi ya, Mbak.
Kalau misalnya Amira disuruh desain...
Amira itu kepingin desain...
Desain bikini untuk muslimah, Mbak. Gimana?
Aduh.
Dik, sini. Sini.
Mbak kasih tahu sama kamu.
Makanya kamu sering-sering main ke kolam renang.
Itu sudah banyak yang bikin.
Namanya burqini.
Ya, enggak apa-apa dong, Mbak. Daripada ini. Ini nih.
Kursi goyang. Kenapa harus kursi goyang?
'Kan kuno, Mbak.
- Kuno, tahu? - Enak saja.
Ini Mbak bikinnya susah banget, tahu enggak?
Memang kalau misalnya ibu mau menyusui
- harus begitu ya, harus di kursi goyang? - Entar kamu rasain
- kalau sudah punya anak. - Oh, gitu.
- -
Di mana, ya?
Waduh.
- Dik. - Hmm?
Mbak pinjam tas kamu yang pink itu, ya?
- Ya? - Mau ngapain?
- Mau ke Jakarta. - Loh?
Mbak Fisha mau ngapain ke Jakarta?
Mbak Fisha mau ngapain sih, ke Jakarta?
Mau ke mana, Fisha?
Bu, Fisha pamit ke Jakarta ya.
- Ke Jakarta? - Sehari doang.
Yang penting Fisha dapat arahan dan tanda tangan
dosen pembimbing. Ya?
Pamit ya, Bu.
Ada Hamzah di luar.
Bagus, Mas.
- Tapi aku duluan, ya. - Mau ke mana?
- Aku mau ke Jakarta. - Loh? Buat apa?
Aku sudah dapat loh. Dosen pembimbing buat kamu.
- Mas. - Di sini.
- Kamu enggak perlu repot ke Jakarta. - Mas, enggak bisa.
Aku sudah keburu bilang iya.
- Aku pake bilang tepat waktu lagi. - Bilang aja enggak jadi.
Ya, nggak enak lah, Mas. Pokoknya nanti kutelepon, ya.
Fisha, tunggu.
Tunggu, tunggu, tunggu.
- Apa lagi? - Dilihat dulu.
Kebalik. Siapa ini?
Ahli desain?
Seniman. Tinggalnya di situ, di Kampung Seniman.
Doktor, bukan?
- Kok enggak ada titelnya? - Setara doktor.
- Setara profesor malah. - Mas.
Akademi enggak begitu cara kerjanya. Aku duluan ya.
- Fisha, tunggu. - Apa lagi?
- Ya sudah. Aku antar, ya. - Enggak usah.
Daripada kamu telat, terus pertemuan kamu gagal, hayo?
Kamu pilih mana?
- Pelan-pelan, Mas. - Yo.
Eh.
- Kamu enggak mau ke Kampung Seniman dulu? - Mas, ada becak!
Wii...
Mas. Sudah sampai, Mas.
Alhamdulillah.
Sudah bagus motormu nggak mogok, Mas.
Aku pamit dulu, ya. Nih helmmu.
- Yuk, asalamualaikum. - Fisha. Tunggu!
Apa lagi?
- Ayo, aku antar sampai naik kereta. - Mas, nggak usah.
Kalau sampai peron, kamu harus bayar lagi.
- Sudah. - Nggak papa, ayo.
Eh, Mas.
Lah itu motor mau diapain?
- Mas, ini ada uang. - Mas Hamzah!
Ini helmku. Nah, ini motorku.
Parkirin ini yo?
Ayo, ayo.
- Ayo. - Kamu ini, Mas.
Permisi, permisi. Fisha!
- Permisi ya, Mbak. -
Asalamualaikum.
- Siapa, Mas? - Ya.
Aku lagi ngantar Fisha dulu nih, Taz.
Iya, berdua aja.
Nanti aku jelasin, Taz. Darurat soalnya.
Tenang aja. Kami di tempat yang ramai kok.
Ya? Asalamualaikum.
- Siapa? - Ustaz.
Ustaz yang kasih kontak Kampung Seniman tadi.
Tanya kabar aja paling.
Pokoknya bilang sama Pak Ustaz makasih ya.
Terus Pak Ustaz bilang apa lagi?
Yang pasti dia mau ceramah soal muhrim bukan muhrim dulu.
- Tuh, 'kan, Mas. - Fisha, Ustaz itu baik sebenarnya.
Cuma kadang-kadang kita butuh luwes sedikit. Iya, toh?
Iya sih, Mas. Luwes-luwes, tapi jangan sampai
kita dikira bablas.
Ya sudah.
Aku berangkat ya.
- Ya udah. - Makasih, Mas.
- Asalamualaikum. - Fisha. Waalaikumsalam.
Hati-hati di jalan.
Bagus!
- Asalamualaikum. - Selamat pagi.
Selamat pagi, Bu. Saya ada janji sama Pak Fikri Syarifuddin.
- Siapa ya? - Saya Fisha, Bu.
"Pisha"?
Bukan "Pisha", tapi Fisha. Pakai F.
Iya, pakai "ep", tahu.
Pisha. Sama aja.
Nama sekarang susah-susah. Sebentar ya.
- -
Pak, ada tamunya.
- Mbak. Siapa tadi namanya? - Fisha. Pakai F.
Pisha. Pakai ep.
Oke.
- Mbak Pisha. - Ya.
Mari saya antar.
Bu? Bu, maaf.
Kalau saya boleh tanya, Pak Fikri ini
sudah berapa puluh tahun di dunia desain, ya?
Maksudnya?
Soalnya desainnya... unik ya, Bu, ya?
- Unik? - Iya.
Ini bukan unik. Kuno.
Mbaknya tunggu dulu ya.
Oh iya. Makasih, Bu.
Mau salat?
Enggak.
Kalau mau salat, bisa dipinjemin mukena kok.
Enggak papa kok, Mas. Justru saya ada janji sama
Pak Fikri, cuma sepertinya beliau belum datang. Mungkin...
Mas juga ada janji pasti ya?
Jakarta lagi macet, ya.
Kecuali...
Pak Fikri?
Iya.
Saya minta maaf, ya. Sori, sori.
Soalnya saya kira Pak Fikri itu bapak-bapak...
Maksud saya lebih dewasa
karena desain di luar itu...
Sengaja saya desain kayak gitu, biar cocok sama penghuninya.
- Ibu... - Bu Astuti.
Tapi Bu Astuti bilang kalau desain itu kuno.
Dan ruangan ini didesain khusus
untuk disesuaikan sama penghuninya juga?
Tuh, mau ditaruh di mana?
Taruh di bawah aja, Bu.
Di bawah aja.
Nanti siang
Dubes Iran mau datang. Terus, suruh duduk di lantai juga?
Entar kita pikirin ya, Bu. 'Kan lagi ada tamu.
Bu Astuti.
Bisa temenin kita ngobrol sebentar?
No comments yet. Be the first to leave one.