Pierwsze 200 wierszy.
AMAZON KOLOMBIA HARI PERTAMA
Saat aku tiba di landasan terbang,
kata ibuku, "Lesly, kita akan terbang ke Bogotá."
Kami hendak tinggal bersama ayah tiriku.
Padahal, aku tak mau pergi.
Saat itu, aku sedang tinggal bersama nenekku, Fátima.
Aku bersekolah.
Aku bahagia di situ.
Itu kali pertamaku naik pesawat.
Saat lepas landas,
pesawatnya berisik sekali.
Aku sangat ketakutan.
Lalu pesawatnya mulai bermasalah.
Sang pilot menghubungi menara kendali
untuk meminta bantuan.
Dia kehilangan kendali.
Lalu pesawatnya mulai jatuh.
Hanya itu yang kuingat.
Aku menerima telepon pada pukul 08.30.
"Ada apa?"
"Pesawat Magdalena tak sampai, pasti jatuh di hutan."
"Saudariku, Magdalena, dan empat anaknya ada di pesawat itu."
Lalu aku dilanda rasa sedih.
Para putriku terus-terusan meneleponku,
"Ibu, jangan khawatir."
Mana mungkin tak khawatir?
Saat ada pesawat jatuh, lazimnya tak ada yang selamat.
Tak pernah ada.
Hatiku terluka.
Putriku pergi dengan anak-anaknya dan bahkan tak memberitahuku.
Magdalena sempat meneleponku,
"Aku sedang naik pesawat dengan anak-anak."
Namun, mereka tak pernah sampai.
Aku tak bisa berkata-kata.
Aku terus-terusan memikirkan istriku.
MAGDALENA USIA 33 TAHUN
Putraku satu-satunya.
Hidupnya baru saja mulai, dan bayangan kehilangan dia...
TIEN USIA 5 TAHUN
Bayi perempuanku...
CRISTIN USIA 11 BULAN
Kedua putri tiriku.
SOLEINY USIA 9 TAHUN
LESLY USIA 13 TAHUN
Impian terbesarku adalah mereka menyusulku ke Bogotá.
Apa mereka masih hidup?
Atau sudah mati?
Hari ini, sebuah pesawat Cesna-206 ringan yang terbang dari Araracuara
jatuh ke dalam hutan.
Upaya pencarian dimulai dengan helikopter.
Pencarian menjadi rumit karena lebatnya hutan.
Kemungkinan adanya korban selamat masih diperhitungkan.
LESLY Saat aku siuman,
kulihat kami tergeletak di tanah.
Ada banyak sekali darah
di wajahku dan pakaianku.
Aku merasa kesakitan.
Aku melihat Tien.
Soleiny sedang menangis.
Aku melihat ibuku.
Kakiku sakit.
Kursinya roboh
dan sepatuku tersangkut.
Aku perlu menghampiri Cristin.
Dia terperangkap di bawah tubuh ibuku.
Dia tak bisa bernapas.
Jadi, kubebaskan kakiku
dengan cara melepaskan sepatu yang tersangkut.
Dengan susah payah, kubawa keluar adik-adikku dari situ.
Aku perlu menghentikan pendarahan di kepalaku.
Aku menemukan kotak P3K.
Cristin menangis tanpa henti. Dia haus dan lapar.
Kubongkar isi tas-tas
dan kutemukan tempat tidur gantung, kelambu,
dan botol Cristin.
Aku menata beberapa dedaunan...
dan kami semua berbaring.
Cristin tak bisa dihibur dan ditenangkan.
Aku tak bisa tidur. Kepala dan kakiku terlalu sakit.
Selama lima hari, angkatan udara Kolombia terbang mengelilingi area itu
demi mencari pesawat yang hilang.
Namun, mereka tak menemukan apa pun.
Setiap hari,
peluang mereka ditemukan hidup-hidup makin kecil.
Komando atas menelepon
dan berkata, "Pedro, bergabunglah dalam pencarian.
Saatnya turun ke lapangan."
HARI KEENAM
Ini misi penyelamatanku yang pertama.
Kami jarang dapat peluang menyelamatkan orang.
LETNAN PASUKAN KHUSUS
Sebagai Pasukan Khusus, biasanya kami sibuk
memerangi pasukan gerilya.
Dengan sinyal terakhir pesawat itu,
kami menetapkan area pencarian sebesar 320 kilometer persegi.
Medannya sangat rumit.
Hutan ini tak tersentuh, pohonnya mencapai tinggi 40 meter
dan dipenuhi binatang berbahaya serta ular berbisa.
Namun, risiko terbesarnya adalah tersesat dalam hutan.
Hutan ini seperti karpet raksasa.
Bagai mencari jarum dalam tumpukan jerami.
MONTIEL KAPTEN, PASUKAN KHUSUS
Kami bergerak cepat untuk mencari pesawatnya
dan yang masih hidup, jika ada.
Kita maju lebih lagi.
Waspadalah terhadap suara tak lazim.
Ayo.
Kami siap menghadapi kemungkinan terburuk.
Kelompok gerilya narkotika seperti FARC beroperasi di area sini.
Sudah 60 tahun kami berperang melawan mereka.
Dahulu FARC menguasai
banyak wilayah di Kolombia.
Mereka melakukan tindakan kekerasan, perdagangan narkotika, dan penculikan.
Kami kehilangan banyak prajurit selama memerangi mereka.
Kami berusaha tak kasatmata
agar tak terdeteksi oleh musuh.
Saat ini, ada 60 komando
yang memegang harapan akan menemukan penyintas.
Manuel Ranoque menjalani hari-harinya dengan ketidakpastian dari tragedi ini.
Keempat anakku dan istriku menghilang.
Aku tak bisa diam saja dan menunggu pasukan militer menemukan pesawatnya.
Aku akan pergi mencari keluargaku.
MANUEL "CARRAMÁN" MILLER AYAH TIRI LESLY
Aku tak akan kembali sampai menemukan mereka.
Aku perlu bantuan teman-teman pribumiku
dari komunitas Araracuara.
Kami terbiasa menjelajahi hutan ini.
JAIR TIM PENCARIAN PRIBUMI
Hutan ini adalah bagian dari kami
karena kami tumbuh besar di sini.
Aku menawarkan diri membantu tanpa mengharapkan imbalan.
Karena yang dalam bahaya adalah bagian dari keluarga pribumi kami.
FAUSTINO TIM PENCARIAN PRIBUMI
Perjalanannya panjang.
Sekitar 12 jam berperahu dari kota terdekat.
Tak ada penghuni di bagian sini.
Kami percaya hutan ini menghubungkan manusia dengan alam,
dan lewat alam, manusia dihubungkan dengan Pencipta.
Namun, hutan ini sangat berbahaya.
Karena hal-hal yang bisa dilihat,
tetapi khususnya karena
hal-hal yang tak bisa dilihat dengan mata manusia.
Saat kami memasuki hutan,
cuacanya berubah total.
Hujan deras tanpa henti.
Para tetua kami dahulu percaya
saat sebuah roh atau makhluk ajaib sedang marah,
badai akan muncul.
Aku tertinggal dari rekan-rekanku.
Kupanggil mereka, tetapi mereka tak ada di mana-mana.
Kutelusuri kembali jejakku tiga kali.
Apa ada roh yang mempermainkanku?
Aku ketakutan.
Tak bisa kusangkal.
Aku berdoa,
"Jangan marah. Aku ini anak hutan ini.
Aku orang pribumi.
Aku bukan datang untuk merugikan hutan ini,
melainkan mencari apa yang menjadi milik kami."
Dalam sekejap, rekan-rekanku tampak lagi.
Kami khawatir.
Bagaimana bisa menemukan pesawatnya dengan cuaca hujan begini?
HARI KELIMA BELAS
Kami tak melihat adanya jejak.
Benar-benar tak ada apa pun.
Hari-hari terus berlalu.
Kami mulai kehilangan harapan menemukan pesawat itu.
Tiap hari, kami mencari
di antara pepohonan,
semak-semak, dan tanaman menjalar.
Di segala arah, semuanya hijau.
MIRANDA SERSAN, PASUKAN KHUSUS
Lalu aku melihat sesuatu yang menonjol.
Sesuatu berwarna merah muda.
Botol bayi kecil di tengah-tengah hutan luas ini!
Berapa persentase kemungkinan menemukan botol dalam hutan seukuran ini?
Otak kami berputar dan kami mulai berandai-andai!
Mungkinkah botolnya terlempar keluar dari pesawat?
KONTAK TERAKHIR BOTOL BAYI
Kami sudah menyiapkan mental
untuk menemukan korban mati.
Di mana ada burung pemakan bangkai,
di situlah kami akan menemukan pesawatnya dan mayat-mayatnya.
Kami melihat hering raja.
Kami mengikutinya.
NÉSTOR TIM PENCARIAN PRIBUMI
Lalu kami melihat burung pemakan bangkai itu
di atas benda putih.
Rasanya ada yang tersangkut di tenggorokanku.
Ny. Magdalena terbaring di atas kursi.
Ini mengerikan sekali.
Bagaimana reaksi Manuel nanti mendengar berita ini?
Tak kusangka dia menelantarkanku.
Magdalena mengabdikan dirinya kepada anak-anak.
Kepada rumah kami.
Kami membangun masa depan bersama.
Apa pun yang terjadi, dia selalu menerimaku kembali.
Terlepas dari kesalahanku.
Magdalena, putriku yang malang...
Aku punya sembilan putri.
No comments yet. Be the first to leave one.