Pierwsze 200 wierszy.
Bisakah kau nyalakan lampunya?
Bisa saja, Pak.
Nyonya tak ada.
Saya bersih-bersih. Tidak tahu.
Tidak tahu. Nyonya tak ada.
Lihat saja ini.
Seseorang merobek 6 halamannya.
Bisa kau bayangkan?
- Bicaralah pada manajer. - Dimana dia?
- Cobalah ke bagian daging. - Dasar tak bertanggung jawab.
Sudah selesai? Terima kasih.
Seorang lelaki... Telepon.
- Siapa? - Aku tak tahu namanya.
Apakah Frank, Herbert, Mr. Ostermayer mungkin?
Tak apa-apa. Sampai jumpa jum'at depan.
- Terima kasih. - Sampai jumpa.
Huber sakit lagi.
Bisakan ku kecilkan sedikit?
- Bisa kau angkat? - OK.
Hofstatter.
Bu, bolehkan aku menginap di rumah teman besok?
Teman yg mana?
Anna. Kau tak kenal dia.
Baik, tapi tanya ayahmu juga.
Slavicza telah merusakan CDku lagi.
Aku tak bisa menemukan Schubertku.
Yah, bolehkah aku menginap di rumah teman besok?
- Siapa dia? - Anna. Dia satu kelas denganku.
- Apa yg sudah ke rencanakan? - Mendengarkan musik, belajar matematika.
- Dimana tinggalnya? - Mereka tinggal di rumah susun.
- Menurutmu bagaimana? - Tak masalah buatku.
Baiklah.
Kita harus mencari tempat tinggal yg baru.
Bangunan ini sudah usang.
Selamat menikmati.
Apa pekerjaan orang tua temanmu?
Ibunya punya toko. Ayahnya aku tak tahu.
Aku selesai. Bye.
- Tidur yg nyenyak. - Semoga lemburnya baik.
Dia tak ada, Dia sedang tugas.
Rumah sakit Rudolph.
Sampai jumpa.
- Siapa tadi? - Untuk ibu.
Kamar 408, Ny. Machant.
Machant - tak berubah.
Kovac juga - tak berubah.
- Tebak siapa yg menelpon kemarin. - Siapa?
- Schneider. - Schneider siapa?
Dr. Schneider.
Apa yg ia inginkan?
Blah, blah, sedang apa aku, Kabarnya bagaimana, apa semua baik-baik saja?
Apakah aku masih berenang setiap minggu? omong kosong seperti itulah.
Ku katakan padanya aku tak punya waktu untuk hal seperti ini...
- Ny. Reichold? - Muntah dua kali.
Dia tak menjadi lebih baik kayaknya.
Lalu tiba-tiba dia:
Ny. Keinrath, Aku akan menelponmu beberapa jam lagi. Bye.
Isterinya mungkin berjalan disebelahnya.
Ny. Zipfer... Akan keluar besok.
- Cucunya yg menjemput... - Benarkah? Gadis yg baik. Aku suka padanya.
Lalu beberapa jam kemudian dia sungguh menelpon...
Pakaian yg terakhir tak ada kantongnya.
Kita telah kehilangan pandangan soal itu, Itulah keadaan global kita saat ini.
Ayo tidur, Memangnya kita?
Pakaian yg terakhir tak ada kantongnya.
Tidak.
Aku tak mengantuk.
Aku ingin berpikir.
Jika bukan aku, tak seorangpun akan.
Apa yg kau pikirkan?
Kau tak tahu.
Kau tak bisa memaksa dirimu untuk berpikir,
Kau harus melepaskannya.
Baru kemudian ide datang padamu.
Cobalah seperti itu kalau kau ada waktu
Akan kubuatkan kopi lagi.
Apa dia tertidur?
Tidak juga, Dia hanya tidur-tiduran.
Malam ini suasananya tenang.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
- Bagaimana? - Tenang.
- Selamat pagi. - Selamat pagi.
- Apa yg kau lakukan di Vienna? - Aku ingin bertemu kamu lagi.
Darimana kau tahu aku bekerja disini?
Aku menghubungi nomormu.
Apa itu puterimu?
Ku kira kita tak bisa bertemu lagi.
Berapa lama kau akan tinggal?
Aku mungkin akan kembali malam ini.
Akan ku tunggu disini.
- Apa yg menahanmu? - Sesuatu menjadi kacau semalam. Bye.
Hallo. Kau terlambat.
- Kopi? - Ya, tolong.
Itu sungguh kacau sekali.
Penulis kata-kata jorok di elevator beraksi lagi...
Ya, aku tahu.
Aku tugas jaga lagi malam ini.
Tapi kita punya tiket konser malam ini.
Aku tahu, tapi Uschi sakit dan Monika sedang libur.
Maafkan aku.
Kenapa kau tak menghubungi saudaramu?
Dia selalu mengatakan dia kesepian.
Dia mengunci dirinya sendiri lagi. Betapa tololnya.
Aku akan joging.
Bisakah sedikit pelan? Ibumu sedang tidur.
Selamat pagi. Apa tidurmu lelap?
Dengarkan ini:
Apartmen di gedung baru,
Lokasi ditengah kota, 120 m persegi,
Desain terbuka, Teras luas,
Halaman yg tenang. Menurutmu bagaimana?
- Sepertinya bagus. - Haruskah aku menghubungi ini?
Bisakah kita melihat-lihat dulu?
Hofstatter. Ya, terima kasih. Sampai jumpa.
Besok jam 1 siang.
Orang yg menulis kata-kata jorok kembali lagi...
- Kau sudah mengatakannya tadi. - Kapan?
- Pagi tadi. - Benarkah?
Dia melakukannya dengan keinginan yg dalam.
- Apa kau sudah selesai? - Sebentar.
- Nikmati konsernya. - Terima kasih.
- dan sampaikan salam untuk Edith. - Pasti. Bye.
Selamat malam. Bisakah kau sambungkan dengan Mr. Tomasz...?
Aku lupa nama belakangnya.
Ada di lantai tujuh, Kamar...
Lupakan saja.
Ingin cumbuan?
- Ayo langsung ke tempatmu. - OK.
Segelas anggur?
- Kau sudah menyiapkannya dari tadi? - Ya.
Apa kau suka?
Tunggu. tunggu.
Bolehkah aku menutup matamu?
Berapa lama kau bisa tinggal?
Sampai besok pagi.
Kalau begitu ayo keluar makan malam.
Ada masalah apa?
- Apa kau kenal dia? - Kurasa tidak.
- Apa kau kenal dia? - Tidak.
Kau kenal, Kau kenal dengannya.
- Tidak, bagaimana bisa? - Kau bohong.
Kau kembali dari rumahnya?
Dan orang tua temanmu membiarkannya keluar selarut ini?
Aku dari rumah sakit. Lelaki yg kau lihat bersamaku
adalah rekan kerja. Kami berjalan bersama.
Sampai ketemu besok.
- Menunduklah. - Apakah ini yg kau mau?
Pramusaji hotel itu melihatmu mencumbuku.
Dia masih muda, rambutnya gelap.
Aku ingin dia melihat kita.
Aku melihatnya masuk.
Berikan kameranya.
Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu.
Aku mencintaimu.
Aku tak pernah bersetubuh seperti ini.
Lakukan apapun yg kau mau.
Renggangkan kakimu.
Sekarang usap dirimu sendiri.
Aku tak bisa.
Apa kau sudah menikah?
Anak?
Usianya?
Lima dan tujuh.
Berapa lama kau tinggal?
Pesawatku berangkat besok pagi.
Aku tak bisa datang nanti malam.
Jangan berhenti.
Ini nomerku di rumah sakit.
Telepon kesini saja, jika kau mau.
Aku akan merindukanmu.
Sebaiknya aku pergi. Hati-hati.
- Bagaimana? - Sepi.
- Dan konsermu? - Bagus.
- Kita mau melihat tempatnya hari ini. - Kapan?
- Jam 1. - Aku tidur dulu kalau begitu.
- Bagaimana dengan sarapannya? - Aku sudah makan di tempat kerja.
Mimpilah yg indah.
Bagaimana denganmu?
- Apanya? - dengan temanmu?
Uhm... baik.
Kami mau melihat apartemen. mau ikut?
Tidak, aku harus belajar.
Kita akan berangkat 15 menit lagi.
Aku segera bersiap.
- Aku tak mengerti. - Mungkin dia lupa.
- Ayo pulang. - Biar kuhubungi dia.
Ini Hofstatter. Kita punya perjanjian jam 1.
Kenapa anda tak disini? kami sudah menunggu anda.
Kami sudah sekitar 20 menit disini. kenapa anda tak memberitahu pembatalan?
Apa yg anda bilang?
Bagimana dengan waktu kami?
Dia tak akan datang, Tempatnya sudah disewakan.
Dia tak perduli dengan waktu kita. Aku tak terima dengan hal ini.
Akan ku hubungi agennya. Dasar manusia tak berperasaan.
- Mesin penjawab. - Ini hari minggu.
Aku tak akan biarkan mereka menipuku seperti ini.
Bisakah kita pulang saja?
Dia sudah gila. dia tak normal.
No comments yet. Be the first to leave one.