Pierwsze 200 wierszy.
Hai. - Hai.
- Kau masih tinggal dengan orang tuamu? - Tidak, hanya saja...
Hanya untuk saat ini, sementara kami sedang merombak.
Kami? Kami siapa?
- Berikan itu padaku. - Siapa yang merombak?
Kau punya pacar? Kenapa tidak memberitahuku?
Tidak bisakah dia mengantarmu ke sana? Apa dia tidak bisa mengemudi?
Bisa. Tahu cara kerjanya?
Tidak.
- Ini otomatis, kau akan terbiasa. - Tunggu, Paulius.
Apa orang tuamu ada di rumah? Boleh aku menyapa?
- Ibuku sedang tidur. - Dan ayahmu?
Ayah tidak tinggal di sini lagi.
Indre?
Selamat siang.
Dia terjaga.
- Ya. - Mungkin dia tidak tidur?
- Bu, aku sudah mengantarnya. - Bagus.
Siang.
Apa kabar? Kapan kau kembali?
Dua bulan yang lalu.
- Kami masih punya beberapa barangmu. - Bu, aku sudah mengantarnya.
Aku akan mengambilnya ketika aku kembali. Terima kasih.
- Berapa lama kau akan berada di sini? - Hanya selama musim panas.
Bu, kami harus pergi.
Syukurlah kalian tetap berhubungan.
Punya jaket?
Katanya akan hujan malam ini.
Ya, aku punya.
Apa yang kau lakukan saat itu?
Entah, aku pergi keluar, mungkin.
Bagaimana denganmu?
Aku tidak ingat.
Belok kanan di sekitar sini.
Di situ.
Siapa yang kau kirimi pesan?
Dengan siapa kau tinggal di rumah ibumu?
- Halo. - Hai.
- Selamat siang. - Lama menunggu?
Tidak, kami baru saja tiba.
Kuncimu.
Ini.
Silahkan.
Maaf.
Hei, gendut kecil. Bisa menunggu di sini?
Ibu akan segera kembali.
Duduk.
Kau meninggalkannya seperti itu? - Apa?
- Anakmu. - Ya.
Kau tidak takut?
Siapa yang akan mengambilnya di sini?
Paulius, hujan!
Dia mendarat kira-kira sekarang.
Itu adalah pesawat terakhir.
Penumpang naik bus di sana.
Matas menyebrangi tempat parkir itu,
berjalan di sepanjang trotoar ini,
lewat sini - mencari toko.
Pergi ke sana untuk membeli rokok.
Hujan, ayo pergi.
Menepi.
Menepi.
Disini...
Di sinilah mobil Vytenis berada.
Mobil menghadap ke sana dengan bagasi di sebelah sini.
Halo.
Hai, aku akan membersihkannya sebentar lagi, duduklah.
Tidak. Boleh kami bicara dengan Ieva?
- Siapa? - Ieva. Dia pelayan di sini.
- Kapan itu? - Setidaknya empat tahun lalu.
- Berapa tahun? - Empat.
Aku tidak mengenalnya. Kembalilah besok dan bicara dengan pemilik.
Terima kasih.
Matas menaiki tangga ini.
Lalu ke bar.
Ieva menjual sebungkus rokok padanya.
Lalu dia kembali dan...
Di sini.
Vytenis duduk di sini.
Dia dan Matas bertengkar.
Matas menaiki tangga itu dan pergi ke sana.
Vytenis mengikutinya. Matas tidak mendengar atau melihatnya.
Kemudian dia memukul kepalanya dan memasukkannya ke dalam bagasi.
Tepat di situ.
Di belakang pagar itu.
Dia dimasukkan ke dalam bagasi saat semua orang duduk di sini, makan, minum.
Dan tidak ada yang melihat atau mendengar apa pun!
Paulius...
Pegang ini.
Disana.
Apa kau bodoh?
Dia keluar lewat sini.
Berikan itu padaku.
Dan kemudian dia merangkak ke sini.
Paulius, sandalmu.
Terima kasih.
Itu dia.
Dia mencapai pagar ini dan tidak bisa melewatinya.
Lengannya memar semua, kuku rusak.
Dia mencoba untuk melewati pagar tapi kakinya patah.
Di sini mereka menemukan potongan kulitnya.
Dan tidak ada yang melihatnya?
Tidak.
Serius?
Seseorang datang kemudian.
Mereka melihat sesuatu saat mengemudi, tapi mereka kita itu adalah seekor anjing.
Dia terbaring di sini selama dua jam.
Vytenis melihat rubanah kosong, lalu menemukannya di sini dan menyeretnya kembali.
- Percaya tidak? - Apa?
Pagar ini tingginya 91 cm.
Jadi tidak ada yang memperhatikannya?
Sedang apa kau di sini?
Tidak ada apa-apa, kenapa?
Dimana gadismu?
Aku sendirian.
Kau butuh tumpangan?
Aku baik saja, terima kasih.
Indre.
- Ingin duduk di sini sebentar? - Tidak, aku mengantuk.
Aku meninggalkan mobil di jembatan. Diseret ke mari.
Saat itu gelap, aku tersandung, hampir jatuh ke air.
Ditendang tulang rusuknya. Dia menangis, terengah-engah.
Aku menendangnya lagi.
Lalu aku menyeretnya ke bawah jembatan.
Memukulkan kepalaku di tepi beton ini.
Kemudian aku mendudukkannya.
Mencengkeram tenggorokannya seperti ini.
Aku menampar bagian belakang kepalanya, menampar wajahnya.
Kubilang,
"Buka mulutmu, kau harus memuaskanku."
Itu di dekat bendungan. Kita akan pergi ke sana.
Kau sering menontonnya?
Tidak.
Tidurlah, Paulius.
Paulius?
Kau tidak apa apa?
Selamat pagi.
Kami kemari karena rumah itu. Melihat iklan online.
Cucuku menjualnya.
Kami harusnya sudah bicara dengannya.
Namanya Jurgis, bukan?
Agaknya kami sedikit lebih awal. Dia tidak beritahu kami akan datang?
Ya, kami pasti datang di waktu yang tidak tepat.
Tapi kami datang jauh-jauh dari Vilnius.
Boleh kami melihat-lihat karena kami sudah di sini?
Tentu.
Terima kasih.
Ini dulu bengkel suamiku.
Dia seorang tukang kayu.
Dia membuat semua jendela seperti gereja ini.
Ini semua kayu solid, ek. Semuanya buatan tangan.
Sayangnya, dia tidak bisa menyelesaikannya.
Ini adalah ruang tamu.
Aku dan suamiku seharusnya tinggal di lantai ini.
Lantai atas dimaksudkan untuk mendiang putriku
serta suami dan anak-anaknya.
Hati-hati, tidak ada pagar.
Kami ingin menggunakan loteng sebagai kamar anak.
Karena kedua cucuku laki-laki, kami ingin menempatkan tempat tidur seperti ini.
- Di mana cucumu tinggal sekarang? - Jurgis tinggal tidak terlalu jauh.
Dan yang satunya?
Mana yang satunya?
Itu adalah
kedua rumah kaca kami.
Kami dulu menanaminya mawar ketika suamiku masih hidup.
Sekarang keduanya benar-benar reot, tapi...
Bisa kau perbaiki kalau mau. - Boleh kami melihat gudang?
- Gudang apa? - Yang itu, yang ada jendela.
Tapi tidak ada apa-apa di dalamnya. Kami tidak menyimpan apa pun di sana.
Tetap saja, kami ingin melihatnya karena kami berpikir untuk membeli tempat itu.
Takutnya bisa kebanjiran.
Terima kasih.
Aku tidak akan masuk. Sulit bagiku untuk keluar karena punggungku.
Kami bisa mengurusnya.
Mereka punya kolam renang.
Itu disini.
- Rumahmu? - Katanya mereka akan membelinya.
Mereka datang dari Vilnius.
Kenapa kau biarkan mereka masuk ke sana?
Mereka ingin melihat-lihat semuanya.
Gudang, rumah kaca.
Kenapa pergi ke gudang?
Kau pergi duluan.
Aku tidak tahu, melihat-lihat.
Hai.
Nenek, ini saudaranya. Kau tidak ingat?
Aku sudah lupa.
Ingatanmu payah. Jangan khawatir, kami akan pergi.
Selamat tinggal, maaf.
Bagaimana dengan ingatanmu?
- Membodohi orang tua... - Diam, bodoh.
Kalian harusnya malu, datang ke sini dan membodohiku.
Bisakah kalian bayangkan apa yang telah kami lalui?
Dan cucuku... kalian binatang!
Aku akan kembali malam ini dan membunuh kalian berdua.
- Ya Tuhan... - Dasar orang bodoh.
Dia orang dungu.
Kau lihat itu?
- Selamat siang. - Hai.
Boleh kami bicara dengan pemilik?
No comments yet. Be the first to leave one.