Pierwsze 200 wierszy.
Selamat makan.
Apa caraku sudah benar?
Lils, cukup.
Oh, terima kasih.
Lils. Lily.
Tenanglah.
Ayolah, kamu tidak butuh riasan itu.
Aku tahu, tapi aku menyukainya.
Hei. Ini tampak cantik padamu.
Uh, tidak.
-Anak-anak! -Kami datang!
Lily, tolonglah.
Apa yang akan mereka lakukan? Ini hari terakhir.
Benar, tapi jangan terlambat, ya?
Aku tidak akan terlambat.
Anak-anak!
-Yang terakhir keluar -- -Tertinggal.
Kami tahu!
Kalian akan terlambat.
Ibu, dia segera menyusul.
-Ayo, Lily! -Aku datang.
Tunggu. Sekarang giliranku.
Baik. Mari berfoto
-sebelum kamu pergi. -Ibu, ayolah,
-kami akan terlambat. -Cepatlah.
Dekatkan kepala kalian. Ayo.
-Baiklah. -Siap?
Ya. Kalian cantik sekali.
Aku tidak percaya ini hari terakhir si kembar.
Ibu, tidak apa-apa, masih ada ujian.
Aku tahu, tapi ini momen besar.
Lihatlah, dua monster kesayanganku.
Mari swafoto.
-Baiklah. -Siap? Satu, dua, tiga.
Selesai. Mari berangkat. Kita terburu-buru.
Ayo, berangkat. Baiklah.
Kita terburu-buru karena kamu, Lil.
Bukan karena aku. Ini karena kamu sekarang.
Cemburu?
Tidak sedikit pun.
Halo.
Abs, sampai jumpa di dalam.
-Ya. -Selamat pagi, Tampan.
Selamat, para siswa A-Level,
atas hari terakhir kelas kalian.
Hanya saja...
selalu ada aku, Ibu, dan Lily, tahu?
Aku mengerti, tapi kuliah itu penting.
Mereka akan bangga padamu.
Aku diterima karena surat rekomendasimu.
Kita tahu itu tidak benar.
Kamu murid terbaikku.
Esai tentang aliran romantik yang kamu tulis,
menunjukkan kamu sangat memahami maknanya.
Aku belum pernah melihat itu...
Sejak zamanku dahulu.
Abby, saat aku bertemu murid sepertimu,
aku ingin melihatmu sukses.
Dunia luar sangat luas,
terutama bagi orang sepertimu.
Terkadang orang terdekat tidak menyadari hal itu,
karena mereka terbiasa melihat kita dari satu sisi saja.
Kamu paham maksudku?
Aku rasa begitu.
Aku menghargaimu, Abby.
Aku bangga padamu.
Terima kasih, Pak Tampan.
Hanson. Pak Hanson.
Aku maklum kamu mengucapkannya,
karena ini hari terakhirku menjadi gurumu.
Dan sekarang, kamu boleh memanggil namaku, Rick.
Terima kasih, Rick.
Ayo, segera masuk ke kelas berikutnya.
Abby.
Hai.
Bagaimana bincang-bincangnya?
Berhenti.
Maaf.
Sweter yang keren.
Ya, sampai jumpa nanti.
-Sampai jumpa. -Dah.
Lils.
Hai.
Akhirnya bebas.
Ya.
Sampai jumpa nanti?
Ya, sampai nanti.
Hei, ayolah.
Mari pergi.
Aku kira kita akan merayakannya malam ini.
Apa? Makan malam spesial?
Ayolah, saat Ibu pulang nanti,
paling hanya ada
makanan instan dan cokelat.
Bukan soal makanan. Kita bisa mengobrol.
-Tersenyumlah. -Berhenti.
Aku tidak akan telat, oke?
Jika Ibu bertanya, tolong--
Ya, aku mengerti.
Baiklah.
Hei, aku menyayangimu.
Aku menyayangimu.
-Sampai nanti. -Sampai nanti.
Hei. Ya, aku sedang di jalan.
Tidak, Ibu sedang bekerja.
Hanya ada Abby, dia sedang membaca seperti biasa.
Ya, baiklah, sampai jumpa di sana.
Kita akan bersenang-senang.
Ya, kita akan berpesta di sana.
Oh, dia membawa barangnya.
Teman-teman.
Ah!
Kamu sungguh bodoh.
Tapi aku membawa barangnya.
Mm! Tunggu.
Halo, Ibu.
Halo, sayang. Kalian berdua di rumah?
Ibu tidak bisa menghubungi Lily.
-Dia sedang mandi. -Ah, baiklah.
Ada apa, Ibu?
Dengar, Ibu akan pulang terlambat.
Shelley memintaku menggantikannya, dan--
Bisakah kalian cari makan sendiri?
Ibu janji kita makan malam spesial akhir pekan nanti.
Ya, jangan khawatir. Akan aku sampaikan pada Lily.
Terima kasih, sayang.
-Dah, Ibu. -Dah.
Aku menyukainya.
Barang bagus, bukan?
Mau lagi?
Tidak, sudah cukup.
Awasi dia, kawan, dia mengekangmu.
Bagus.
Baiklah, ayolah. Ambil satu lagi.
Ayo.
Hei, apakah itu--
Sial, apa yang dia lakukan di sini?
Tidak, jangan coba-coba.
-Biarkan dia ikut berpesta. -Dia tidak akan mau.
Tidak apa-apa.
-Halo. -Hei.
Kamu mabuk?
-Itu jaketku. -Ya, maaf, aku--
Jangan pakai barangku, penguntit.
Tunggu, apa kamu lewat jalan pintas?
Ya.
Abs, kamu tahu tidak boleh lewat jalan itu.
Aku hanya ingin berkumpul.
Sejak kapan kamu suka berkumpul?
Karena kamu tidak pernah ingin di rumah.
Jangan membuatku merasa bersalah. Aku tidak berminat.
Apa kamu memakai narkoba?
-Apa? Tidak. -Kamu memakainya.
-Apa dia memaksamu? -Ya Tuhan, Abby.
Ini bukan masalah besar. Hanya satu pil.
Jika bukan masalah besar, mengapa aku tidak boleh di sini?
Karena aku sedang bersama teman.
-Aku saudaramu. -Tepat, kita bisa bicara kapan pun.
Tampak hebat, Abs.
Abby baru saja ingin pulang.
-Tidak, aku tidak ingin. -Ya, kamu harus pulang.
-Dia boleh tinggal sesukanya. -Dia tidak ingin di sini.
Apa masalahmu?
Hei, teman-teman, jangan bertengkar.
Kami tidak bertengkar!
Bisa tunggu aku di sana, Wes?
Maaf.
Apa ini soal kuliah?
Apa, kamu sudah tahu?
Tentu saja.
Dan kamu diam saja?
Untuk apa? Itu hidupmu.
Tunggu, kamu juga memakai riasan wajahku?
-Tidak. -Ya, kamu memakainya.
Abby, pulanglah sekarang.
Kamu tampak gila.
Apa ini masa depan yang kamu inginkan?
Bergaul dengan para pecundang?
Apa kamu bercanda?
Kembalikan jaketku. Lepaskan.
Kamu pikir dia hebat?
Maaf, aku lupa kamu suka pria yang lebih tua.
Ayolah, Abigail, dengan guru Bahasa Inggris itu?
Ya, Pak Tampan dan puisi romantis.
Persetan. Aku pergi.
Nasibmu akan sama seperti Ibu.
Kamu akan terjebak di tempat ini,
bekerja kasar di rumah sakit, dan hamil
lalu ditinggal oleh pria--
-Hajar! Hajar! -Mereka akan bertengkar!
-Perang saudara! -Diam kalian.
Abby, aku minta maaf. Aku tidak bermaksud--
Aku benci kamu!
Lily!
-Lils! -Kamu mau ke mana?
Wes, biarkan dia sendiri.
Apa yang kamu katakan? Mengapa dia memukulmu?
-Abs. -Jangan panggil aku begitu.
Kamu tidak mengenalku.
Anak kembar gila.
No comments yet. Be the first to leave one.