Pierwsze 200 wierszy.
Putramu mengutil di tokoku.
Itu kalau,
kau tunjukkan ketulusanmu.
Pak Manajer.
Dua puluh tiga tahun lalu, di wilayah ini,
terjadi perampokan mobil pengangkut uang
milik Bank Yamato Trust cabang Mitsuba.
Pelaku, Nobukazu Oshima,
mencuri 30 juta yen tunai
dan kabur ke hutan sejauh lima kilometer.
Dia bertemu Polisi Kiyohara.
Di sana,
keduanya saling tembak dan tewas.
Oshima diduga punya kaki tangan,
yang membawa kabur 30 juta yen dan pistol milik Polisi Kiyohara,
tapi 30 juta yen dan pistol
tak pernah ditemukan dan tak diketahui.
Kami pikir sudah
sembunyikan pistol bersama kejahatan yang kami berempat lakukan
saat masih SD.
Tapiโฆ
Pistol yang hilang 23 tahun lalu,
ternyata dipakai dalam kasus ini
dan itu sangat serius.
Pistol itu mempertemukan kami lagi.
Ada 14 kamera CCTV terpasang di seluruh toko
dan semua kamera direkam di sini.
Di mana rekamannya disimpan?
Di komputer ini.
Tampilkan rekaman 16 Januari.
Tanggal 16 Januari.
Ini dia.
Detektif Tobina, kamera nomor 14 merekam apa?
Bagian dalam toko dari arah belakang.
Itu lorong camilan.
Sesuai dugaanku.
Rekaman hari Jumat dari kamera nomor 14 satu-satunya yang hilang.
Aku penasaran apa rekaman itu
memuat sesuatu yang merepotkan seseorang?
Bu Makiko Iwamoto
jelas berbohong.
Boleh kulihat rekaman 17 Januari?
Ya, Bu.
Rekaman kamera 14 ada di sini.
Bu Nara, kenapa kau yakin Bu Makiko Iwamoto berbohong?
Dia bilang hari Jumat, sehari sebelum insiden,
dia datang ke pasaraya untuk mengantar dompet putranya.
Putraku menelepon, katanya dompetnya hilang,
jadi aku ke sana memberinya uang.
Putramu meneleponmu dari ponselnya?
Tidak, dia tak punya ponsel.
Lalu, bagaimana putranya, yang tak punya ponsel,
bisa menghubunginya?
Telepon umum?
Di mana telepon umumnya?
Di sini atau sekitarnya tak ada telepon.
Lagi pula, bagaimana dia bisa menelepon tanpa dompet atau uang?
Kau benar.
Mungkin dia pakai telepon kabel milik pasaraya.
Akan kuminta catatan panggilannya.
Tidak perlu diminta.
Catatan itu segera tiba.
Bu Nara, catatan panggilan dari pasaraya sudah diterima.
Serahkan pada Detektif Tobina.
Ya.
Silakan masuk.
Ada catatan panggilan dari kantor Smile Sakuma ke salon Bu Iwamoto.
Ini dia.
- Benarkah? - Ya.
Belum tentu putranya yang menelepon.
Benar.
Halo?
Makiko?
- Junichi? - Ya.
Ada apa?
TUTUP
Beginiโฆ
Jangan-jangan,
aku dipanggil ke polsek lagi, ya?
Tidak.
Bisa kita bicara secara pribadi?
Kapan?
Hari ini, kalau bisa?
Oke.
Datanglah ke salonku. Aku senggang seharian.
Aku mau membahas hari sebelum insiden.
Tentu. Hari Jumat?
Ya.
Kau bilang datang ke pasaraya setelah ditelepon putramu.
Ya.
Kau tahu dia menelepon dari mana?
Kurasa dari pasaraya.
Pakai yang di mana?
Aku tak tahu pasti,
tapi mungkin telepon di kantor toko atau semacamnya.
Bukan telepon umum?
Dia tak mungkin pakai telepon umum karena tak bawa dompet.
Benar juga.
Tunggu, aku menjadi tersangka?
Tidak.
Bukan begitu.
Kau datang sebagai detektif, 'kan?
Kau tak perlu khawatir.
Semua aman.
Yakin?
Maaf mengganggu waktumu.
Karena kau sudah di sini,
akan kupotong rambutmu.
- Sekarang? - Ya.
Aku sedang tugas.
Tidak akan ada yang sadar.
Justru ketahuan kalau rambutku menjadi rapi.
Aku tak akan potong rambutmu dengan rapi.
Akan kubuat gaya unik dan nyentrik.
Itu malah lebih mencolok.
Junichi,
kau teman kecilku, jadi biayanya 100 ribu yen saja.
Itu mahal sekali.
Seratus ribu, gila.
Wajar saling membantu.
- Kita teman kecil. - Kau serius?
Aku kadang potong rambut Naoto juga.
- Benarkah? - Ya.
Dia selalu bawa kue setiap datang.
Mont Blanc?
Apa?
Kau ingat aku suka Mont Blanc?
Yaโฆ
Baru teringat sekarang.
Kalau begitu, kau ingat yang itu juga?
Itu?
Saat kau mencoba menciumku.
Kau pernah cium seseorang?
Apa?
Omong-omong,
aku tak pernah potong rambut Keisuke
sejak kami bercerai empat tahun lalu.
Kami tak berpisah karena saling benci atau semacamnya.
Begitu, ya.
Kami pindah ke rumah ini setelah menikah.
Keisuke bekerja di firma arsitektur di Yokohama,
lalu membuka firma baru di Tokyo dengan rekan seniornya.
Dia sangat sibuk dan jarang pulang,
jadi menyarankan kami pindah ke Tokyo.
Katanya rumah ini bisa dijual, beli apartemen di Tokyo
dan salon ini disewakan.
Tapi aku punya pelanggan tetap di sini
dan ada Masaki juga.
Sejak SD,
dia menargetkan masuk SMP Hamadai di Yokohama
dan bahkan ikut bimbel juga.
Akhirnya, tak ada yang mau mengalah
dan tak bersepakat,
jadi diputuskan bercerai.
Begitu, ya.
Kalau kau, Junichi?
Kau sudah menikah?
- Belum. - Punya pacar?
Ya.
Kau punya, ya?
Hei, bisakah kita berempat bertemu?
- Kau mengalihkan topik. - Bukan begitu.
Kita berempat berkumpul.
Ide bagus. Kapan?
Besok.
Itu mendadak sekali.
Acara melayat kakak Naoto besok.
Aku berniat datang, tapi kalau kau, Makiko?
Besok, ya?
Ya.
Katanya acara kecil, keluarga saja.
Begitu, ya.
Ayo, datang bersama.
Bisa beri tahu Keisuke juga?
Oke.
Kapan pun mau potong, datang saja.
Oke.
- Sampai besok. - Ya, sampai besok.
Dah.
Kau pulang cepat.
Ada apa?
Hai.
Selamat datang.
Aku harus pergi lagi.
Aku hanya ambil baju ganti.
Apa?
Besok aku ada rapat dan acara melayat di Mitsuba,
jadi malam ini aku menginap di sana.
Itu urusan kerja, 'kan?
Akhir-akhir ini kau sering ke Mitsuba.
Aku tahu itu kerja, tapiโฆ
Kau khawatir soal aku dan Makiko?
Aku dan Makiko hanya bertemu soal Masaki.
Ya.
Maaf membuatmu cemas.
Kau baik-baik saja?
Aku baik.
Si kecil sering menendang.
Bayinya sehat.
Junichi datang memastikan ceritaku.
No comments yet. Be the first to leave one.