Pierwsze 200 wierszy.
GOOD JOB
Jung Il Woo
Kwon Yuri
Song Sang Eun & Eum Mun Suk
GOOD JOB
Takarir Indonesia diterjemahkan oleh ZuL X Nung
Seorang anak yang penuh rasa penasaran
dan petualangan.
Momen kecil...
dan bahagia itu.
Sebuah hadiah yang sempurna untuk ibunya,
tapi itu seindah sebagaimana...
itu menakutkan,
dan legenda menyedihkan...
yang tersembunyi di dalamnya.
Kalung terkutuk,
sekali lagi...
membuktikan bahwa legenda itu benar
dan menghilang.
Bersama dengan...
kebahagiaan keluarga kami.
[Investigasi Berkelanjutan, Di Manakah Letak Kebenarannya?]
Dan 20 tahun kemudian...
kalung ibuku yang hilang,
Air Mata Sang Ratu,
muncul kembali di suatu tempat di dunia.
Karya terakhir kami hari ini,
Karya terakhir kami hari ini,
dibuat oleh Giselle Beir, perancang perhiasan terkenal di dunia,
adalah Air Mata Sang Ratu.
Karya ini ada di sini di depan.
Mendiang Pimpinan Eunkang Group, Eun Jae Seong,
membuatkan ini khusus untuk istrinya, Yoon Sung Hee,
dan muncul kembali setelah 20 tahun.
Kita akan mulai dengan urutan tertinggi.
1 miliar won.
1,05 miliar won.
1,1 miliar won.
Ya, 1,15 miliar won.
1,2 miliar. Ada penawar 1,3 miliar won.
Permisi!
Kau tak boleh lewat sini.
Apa katamu?
Kubilang, kau tak boleh ada di sini!
Haruskah aku dapat izinmu untuk pergi ke toilet, Bedebah?
Toiletnya lewat situ.
Ini area terbatas dan area CEO—
Di mana CEO yang kau bicarakan itu?
Kenapa kau menanyakan itu?
Kau harus langsung jawab waktu ditanya.
Dasar berandal...
Permisi. Permisi!
Peringatan penyusup...
Apa? Kau sudah ketahuan?
Harusnya kamu lebih hati-hati, dong.
Kalau begitu, kamu aja datang sendiri.
Waduh, datang sekampung, nih.
Sial...
Mari lihat...
Di mana kau menyimpan buku besarnya, ya?
Enggak ada data yang mengindikasikan dari mana asal kalung itu.
Haduh...
Sepertinya ada yang bertamu saat aku sedang tak di kantor.
Permisi sebentar, CEO.
Kau berhasil sampai di sini,
kau pasti cukup terampil.
Tampaknya kau bukan tipe orang yang bekerja untuk seseorang.
Siapa, ya?
Kau ada urusan apa di sini?
Sesuai dugaan.
Kau cerdas dan matamu tajam seperti yang seorang CEO harus miliki.
Itu artinya...
aku tidak harus memberi tahumu semua detail pribadiku.
Aku menerobos kemari untuk cari sesuatu dengan mengorbankan kepercayaanmu,
jadi, mari langsung ke intinya saja.
Oke?
Lucu sekali.
Kau menerobos ke tempat berbahaya ini sendirian,
tanpa perkenalan,
dan langsung ke intinnya saja?
Coba, biar kudengar.
Apa urusanmu itu?
Jika kau mengurus urusanku,
aku akan balas budi, sebanyak apa pun itu.
Kau tahu kan soal kalung berlian yang hilang 20 tahun lalu?
Soal itu, ya?
Satu-satunya Air Mata Sang Ratu di dunia?
Bingo.
Siapa itu? Orang yang mendaftarkannya untuk dilelang.
Kau penasaran tentang orang yang mendaftarkannya,
jadi, kau menyamar dan memukuli bawahanku sampai babak belur?
Makin kudengarkan, aku makin tak mau jawab.
Kenapa kau tidak cari tahu sendiri saja?
Kurasa kau cuma otak otot, ya.
Aku sudah memikirkannya,
dan merampok rumah kosong sepertinya tidak terlalu keren.
Tapi sekarang pemiliknya sudah kembali dan aku sudah cukup menjelaskannya,
bolehkah aku berasumsi bahwa aku sudah dapat izin?
Ellie.
Aku sudah bilang jangan dekat-dengat sama orang asing, 'kan?
Itu cukup seru.
Kau harus berhenti sekarang.
Memberimu izin atau jawaban yang kau mau
itu akan sulit.
Astaga, kaget aku.
Ini Republik Korea.
Apa-apaan pistol itu?
Wah, aku tidak pernah melihatmu seperti itu,
tapi kau baru saja menembakku tanpa ampun!
Maaf, tapi...
anggap aja...
aku sudah dapat jawabannya.
Sudah kubilang cari sumber kalungnya, bukan malah bawa anjing itu bersamamu.
Tapi dia cukup manis.
Manis aja?
Dia menawan juga.
Anak anjing ini adalah kuncinya.
Kunci?
Hati-hati.
Misi selesai.
Aku akan ambil yang ini.
Aku akan segera datang.
Okey.
Oh?
Anjay.
[Kang Choon Gil, Tersangka Buronan Perampokan dan Penyerangan]
CEO, kami sudah mengirimkan barangnya.
Kami harus membersihkan tempat ini sekarang...
Cepat lepaskan dia!
Tangkap bajingan itu!
Tangkap bajingan yang mengambil Ellie-ku!
Baik.
Hei, hei, Sun Woo, tunggu. Tempat parkirnya diblokir.
Mobilku gimana, dong?
Mobil mah masalah kecil. Tunggu.
Tiga— Empat orang arah jam enam.
Lima orang arah jam sepuluh. Hei, enam orang—
Wah, masalah, nih. Datang sekampung, tuh!
Sekampung?
Mereka datang.
Lari lurus ke arah jam tiga.
Kau mau ke mana? Sudah kubilang, jam tiga!
Bacot, ah! Aku harus pergi ke mana?
Tunggu. Pergilah ke toko di Gedung A.
Aku tahu ini akan terjadi,
dan menyiapkan rencana B.
Tunggu aja, Bos.
Tangkap dia!
Berhenti!
Di mana dia parkir mobilnya?
Tunggu, kamu ingin aku nyetir itu?
Keren, 'kan? Kamu terkejut, 'kan?
Anjir...
Bisa gila, sumpah.
Kamu pasti kehabisan kata.
Hati-hati di jalan.
Hei, hei! Mereka datang, tuh!
Hei! Cepat gas!
Sial.
Apaan, tuh?
Woi, skuterku!
Skuterku!
Hei, curanmor!
- Ambil mobil. - Hei, ambil mobil! Mobil!
Berhenti di sana!
Woi!
Aduh.
I-Itu...
Dasar penipu menyebalkan itu.
Sialan.
Bukankah perasaan berpacu dengan angin itu mantap?
Kau ingin tinjuku berpacu di wajahmu?
Semantap itu? Aku ingin mengendarainya juga.
Kau bercanda? Berlari akan lebih cepat daripada ini.
Aigoo, dasar menyebalkan, Bajingan.
Percayalah pada Brum-ku dan gaskan.
Jangan keras-keras, sentuh sedikit langsung ngebut 150 km/jam .
Berhenti! Berhenti, Dasar bedebah!
Kampret...
Aku udah ngegas pool
dan masih kalah dengan para bajingan ini.
Habislah kau saat tertangkap, Bajingan!
Mereka menatapku dengan sorot kasih sayang di mata mereka.
Woi!
Berhenti!
Yang Jin Mo.
Kau lihat ini?
Pink, pink?
Hei...
Menurutmu skuter 50 km/jam itu masuk akal?
- Apa maksudmu "skuter"? - Keluar.
Tunggu...
Mainan apa ini?
Di mana Brum-ku?
Brum, palalu peang.
Di mana Brum-ku?
Memangnya aku tahu?
Aigoo!
Enggak ada kata yang bisa mengungkapkan perasaanku ini.
Memangnya kau buta?
No comments yet. Be the first to leave one.