Pierwsze 200 wierszy.
Dengan berkat Tuhan dan keberanianmu,...
...insiden yang disayangkan ini berhasil dihindari, Baginda.
Jika terjadi hal buruk, citra Amer akan ternoda.
Kenapa kau mencemaskan insiden yang tak terjadi, tuanku?
Baginda, menurut dokter hewan, Hawai telah diberi obat.
Karena itu, dia menimbulkan kekacauan.
Aku tahu itu, Adgha.
Aku tahu penyerangnya tahu soal hubungan antara Hawai dan aku.
Dia tahu jika terjadi sesuatu kepada Hawai, aku akan datang.
Pada saat itulah, nyawaku akan berada dalam bahaya.
Tipuan yang lihai, tapi gagal oleh kecakapanku.
- Siapa musuhnya? - Bisa siapa saja.
Tapi Baginda, kini kita harus siaga.
Itu berarti aku harus hidup dengan ketakutan.
Adgha, aku adalah raja.
Jika aku takut karena insiden kecil seperti ini,...
...bagaimana bisa aku memimpin kesultanan India yang luas?
Adgha, jika aku takut, musuhku akan menang.
Itulah yang dilakukan musuh.
Dia menyerangku sambil berharap aku akan takut.
Jika aku takut, dia akan menang.
Tapi jika aku menjalani hidup tanpa rasa takut, dia akan bingung.
- Tapi Baginda... - Adgha!
Ini bukan pertama kalinya aku diserang.
Aku sudah sering kali diserang sebelumnya.
Itu juga akan terus terjadi di masa depan, karena aku raja.
Tapi aku akan memenuhi tugasku tanpa rasa takut.
Aku akan memastikan Sukanya menikah.
Baginda, kau lebih muda dariku, tapi aku banyak belajar darimu.
Kau bisa lakukan sesukamu.
Tapi aku juga akan memenuhi tugasku.
Karena aku pembawa gelar, keamananmu adalah tanggung jawabku.
Aku akan memenuhinya.
Aku akan mengerahkan segalanya untuk menemukan dalang itu.
Aku berjanji.
Amer adalah kerajaanmu, tuanku. Kau tahu harus berbuat apa.
Aku tak bisa mendiktemu soal cara memerintah.
Kau yang lebih tahu.
Tapi boleh kukatakan sejujurnya?
Aku lebih mencemaskan Hawai daripada penyerang itu.
Hari ini, hewan bisu itu menderita karena aku.
Maaf, Yang Mulia.
Jalal telah diserang.
Jika kau diam saja, tindakan itu terkesan pengecut.
Kadang tetap diam adalah tindakan bijak, Maham.
Bahkan aku pun tahu kaum Mughal tak pengecut.
Tapi situasinya agak berbeda.
Pernikahan Sukanya sudah mulai.
Yang Mulia, kau mencemaskan pernikahan Sukanya.
Kau tak khawatir dengan putramu, Jalal?
Aku tahu kau yang mengasuh Jalal, Maham.
Tapi aku yang melahirkan Jalal.
Dia adalah darah dagingku.
Aku memedulikan Jalal sama sepertimu.
Tapi kadang kau harus dengarkan isi pikiranmu, bukan isi hatimu.
Musuhnya bisa berasal dari Amer atau Agra juga.
Kau lupa Jalal bahkan belum sampai di Amer saat dia diserang?
Tukang obat dari Gwalior dicegat datang...
...agar kondisi Jalal tak membaik.
Rakyat kita lebih tahu dari rakyat Amer...
...soal betapa Jalal menyayangi Hawai.
Penyerangnya bisa juga kita.
Jalal juga memahami ini.
Itu sebabnya dia diam saja.
Apa pun keputusannya nanti, aku akan mendukungnya.
Maaf, Yang Mulia.
Aku menyayangimu putramu, Jalal.
Itu sebabnya aku terpikir begitu.
Karena itu aku mengutarakannya. Maaf.
Maham, baik anak panah dan ucapan harus dipakai dengan hati-hati.
Jika tidak, akan selalu menimbulkan kerusakan.
Kau adalah menteri kesultanan.
Berpikirlah dengan otakmu, bukan dengan hatimu.
Baiklah.
Selamat tinggal.
Lakukan apa yang perlu dan bawa kemari...
...orang yang merencanakan ini.
Aku harus membawanya ke hadapan Baginda.
Aku tak paham bagaimana bisa menjelaskan ini.
Kenapa tak ada yang memengaruhimu?
Karena aku tak mau saranmu.
Kau bukan tuanku dan aku tak bergantung padamu.
Jangan lupa, saat ini kita berdua berada di perahu sama.
Jika perahu itu tenggelam karenamu, aku juga akan rugi.
Aku takkan menoleransi itu.
Kau lihat? Kau tak mengenai sasaranmu.
Jika sasarannya tak terkena untuk kedua kali,...
...artinya Baginda akan menjadi siaga.
Tak hanya dua kali. Aku akan mencoba seribu kali.
Sudah tugasku untuk menyerang dan tugas dia untuk kabur.
Berapa lama dia akan kabur?
Suatu hari nanti, dia pasti akan melakukan kesalahan.
Jalal pasti juga berpikir begitu.
Suatu hari, kau akan berbuat salah. Lalu bagaimana?
Kini Jalal sudah siaga.
Jika ada satu kesalahan lagi, kita akan kalah.
Aku memberi tipuan yang bagus.
Hawai yang merusak rencanaku.
Dia sangat menyayangi Jalal.
Itu dia.
Kau tahu Hawai sangat menyayangi Jalal,...
...tapi tetap saja kau memilih dia!
Aku terus melarangmu berulang kali.
Adham, kau sama sekali tak mampu untuk menyusun rencana.
Kau tak mampu menjadi raja.
Setidaknya aku terus berusaha. Kau bahkan tak bisa lakukan itu.
Kau terus saja menunggu takdir berpihak kepadamu.
Aku mau menciptakan kondisi yang menguntungkan bagiku.
Ada saat yang tepat untuk itu juga, Adham.
Aku menunggu saat itu.
Tak peduli seberapa lama kau serang, seranganmu jangan sampai gagal.
Orang yang selalu menunggu akan menunggu seumur hidup.
Waktu tak berjalan sesuai dengan kehendak kita.
Itu sebabnya kita harus bergerak menurut waktu, Adham.
Saat ini, waktu tak berpihak pada kita.
Kau paham?
Kita akan dapat banyak peluang untuk menyerang.
Kita harus menunggu kesempatan yang tepat.
Insiden tempo hari tak benar.
Kenapa gajah Baginda bisa menjadi kehilangan kendali?
Aku tak paham.
Pasti ada yang memberinya obat.
Kenapa ini terjadi semalam sebelum pernikahan Sukanya?
Jodha, kau harus jelaskan kepadanya.
Jika dia menjadi marah, keadaan akan menjadi tak terkendali.
Baginda, aku sudah siapkan obat khusus untuk Hawai.
Setelah meminumnya, dia akan segera membaik.
Bawakan obat itu.
Aku sendiri yang akan berikan kepada Hawai.
Hari ini makhluk malang itu menderita karena aku.
Mungkin jika kusentuh dan belai, rasa sakitnya akan berkurang.
Kau boleh pergi.
Semoga Baginda berumur panjang!
Aku mau bahas hal penting denganmu.
Silakan pergi.
Katakan, Adgha.
Aku sudah berusaha sebisaku. Tapi tak membuahkan hasil.
Aku tak berhasil dapat petunjuk soal penyerangnya.
Bagaimana bisa kau menemukan petunjuk, Adgha?
Tak hanya satu musuh saja yang menjadikanku sasaran.
Ada ribuan Rajput di luar sana.
Di antaranya, ada 5.000 prajuritku.
Siapa saja bisa merencanakan ini untuk menyerangku.
Bisa musuh Rajput atau Mughal mana saja.
Bahkan kau pun bisa menjadi musuh, Adgha.
Jangan khawatir.
Aku tak mencurigaimu, tapi aku juga tak percaya kepadamu.
Aku bahkan tak percaya bayanganku, Adgha.
Ratu Jodha, kenapa kemari?
Kau tak bilang kenapa kau datang kemari, Ratu Jodha.
Aku datang untuk memintamu pergi dari sini.
Kenapa?
Walaupun tahu segalanya, kenapa kau berlagak bodoh?
Kau tak bisa lihat? Hidupmu dalam bahaya di sini.
Pertama, saat berperahu di danau dan kini di podium.
Kau sudah diserang dua kali, mereka berniat membunuhmu.
Pergilah dari sini.
Kau mulai mencemaskanku, Ratu Jodha?
Tidak, aku mencemaskan pernikahan Sukanya.
Aku mencemaskan Amer.
Jika terjadi sesuatu kepadamu di Amer, pernikahan Sukanya akan dihentikan.
Kebahagiaan Amer akan berubah menjadi kesedihan.
Nama keluargaku akan tercemar karena itu.
Amer akan menghadapi banyak masalah!
Itu sebabnya kumohon kepadamu. Kau...
Syukurlah, Ratu Jodha.
Aku sempat mengira kau mulai mencemaskanku.
Terima kasih karena ternyata aku tak salah.
Kau tahu? Musuhku tak terbatas.
Hanya sedikit yang datang ke hadapanku...
...untuk menyatakan kebenciannya dan menerimanya.
Aku senang kau salah satu musuh yang datang ke hadapanku...
...serta menyatakan kebenciannya.
Kenakan ini, Ratu Jodha.
- Apa? - Kubilang kenakan ini, Ratu Jodha.
Kenakan.
Pegang pedangku.
- Kau sedang apa? - Pegang pedangku.
Aku menjadikanmu sultan.
Agar kau sadar bagaimana rasanya menjadi sultan.
Kini kaulah sang sultan.
Kehormatan mahkota kesultanan Mughal berada di tanganmu.
Tanganmu memegang kuasa pedang.
Kini kuminta kau berusaha mengerti dilemaku.
Jika aku meninggalkan Amer, semua akan berpikir aku takut.
Jika aku takut serangan, bagaimana bisa melindungi mereka?
Tapi jika aku tetap di sini walaupun tahu bisa diserang,...
...Rajput dan Mughal mana saja bisa menyerangku.
Mereka bisa pakai apa saja sebagai senjata untuk menyerangku.
Baik itu anak panah atau gajahku yang setia.
Jadi, dalam situasi macam itu, keputusan apa yang harus kubuat?
Katakan, Ratu Jodha.
Aku tak bisa beri tahu.
Itu yang kuharap darimu, Ratu Jodha.
Kau benar.
Tak ada yang bisa mengerti.
Yang harus membuat keputusan adalah yang memakai mahkota.
Ratu Jodha, kelemahan terbesar dari pakaian ini...
...adalah orang yang memakainya tak tahu siapa kawan dan lawan.
Kau paham sekarang?
No comments yet. Be the first to leave one.