لومړۍ 200 کرښې.
Dokterku, Dokter Edwards,
memberitahu semua yang kutahu tentang penyakit kakek.
Kakek mengidap Alzheimer.
Pengidap Alzheimer lupa banyak hal.
Maksudnya, aku lupa mengerjakan PR atau menggosok gigi,
tapi berbeda dengan kakekku.
Dia lupa hampir semuanya.
Orang tuaku ingin membawa kakek ke panti jompo,
tapi itu hanya akan memperburuk keadaan.
Jadi, aku membawanya ke Venesia agar membaik.
Kakek ingat banyak hal tentang Venesia,
meskipun sudah 100 tahun berlalu sejak dia,
dan nenek berbulan madu di sana.
Hai, Ibu. Hai, Ayah.
Aku dan kakek bersenang-senang.
Dan aku bawa inhalerku, jadi tidak usah panik.
Sekarang kami sedang sarapan di kereta.
Kakek, kau ingin mengatakan sesuatu?
- Ke siapa? - Ibu dan ayah.
Halo?
Kami bersenang-senang.
Tidak ada orang. Tutup saja.
Ya, tutup saja. Sampai jumpa besok.
Atau mungkin lusa.
- Aku mencintaimu. - Sampai jumpa!
Sampai jumpa!
BOLZANO.
Kau mau ke mana?
Ke toilet.
Baiklah.
Oh, sial! Kakek!
Kakek!
Itu adalah kami. Kakekku Amadeus dan aku.
Sepertinya aku mengerti kenapa kakek seperti itu.
Ibu dan ayah menghabiskan hidup untuk khawatir tentang apa yang akan terjadi,
di kantor, di rumah baru, padaku,
atau terus memikirkan masa lalu.
Tapi terkadang lebih baik fokus pada apa yang terjadi sekarang.
Semuanya dimulai saat nenek meninggal.
Margaret adalah...
perempuan paling memesona di komunitas kecil kami.
Menurutmu mereka akan mengkremasinya?
- Siapa? - Nenekmu, Bodoh.
Apa kau gila? Tidak mungkin.
Baiklah, artinya dia akan dimakan cacing-cacing.
Nenekku di dalam peti mati.
Cacing bisa mengunyah peti mati.
Gigi cacing kecil yang tajam.
- Ya. - Bisa kita ganti topiknya?
Seperti apa Inggris? Kau punya teman baru?
Tidak juga.
Apa kau bertemu Ratu Inggris?
Iya, kami bertemu.
Dia titip salam.
Kematian Margaret meninggalkan duka yang besar di hati kita.
Tapi selama seseorang hidup dalam kenangan kita,
dia tidak akan terlupakan. Dia tidak akan terlupakan.
Amadeus akan menyampaikan beberapa patah kata.
Terima kasih.
Maggie-ku orang yang luar biasa.
Dia memiliki hati luas,
dan payudara terbesar.
Payudara besar yang indah.
Dia selalu tertawa saat mendengar lelucon bodohku.
Sampai akhir.
Burung apa yang menghasilkan susu?
Payudara.
Dan aku selalu makan pai apel buatannya.
Kalian tahu,
yang ada pinggiran kayu manis dan krim kocok.
Sudah bertahun-tahun dia tidak membuatnya.
Ya, aku tahu.
Sejujurnya, aku tidak begitu suka dengan pai itu.
Tapi aku selalu memakannya saat dia membuatnya.
Karena manusia hanyalah makhluk.
Makhluk kebiasaan.
Aku ingin sesuatu yang berbeda.
Mungkin kue buah? Tidak, tidak.
A... aku tidak suka kue buah.
Pai pecan, mungkin?
Atau apa sebutannya? Itu...
Kue sus.
Ada yang membuat kue sus terbaik,
di persimpangan jalan sana...
Di mana... ada rumah baru...
Mereka...
Mereka mengubah rumahnya, mereka...
Mereka memasukkannya...
Aku tidak...
Mereka... ah, persetan!
Persetanlah!
Tapi, aku ingin sepotong pie itu sekarang.
Elizabeth-ku sayang.
Elizabeth.
Itu nama ibunya.
Nick, aku harap suatu hari kau akan menemukan,
wanita sehebat ibumu bagiku.
Apa yang akan aku lakukan tanpamu?
Selamat tinggal, cintaku.
Selamat tinggal.
Selamat tinggal.
Nenek.
Setelah pemakaman,
Ayah bertanya kepada kakek apa dia mau tinggal bersama kami di Inggris.
Tapi kakek menolaknya.
Kakek bilang dia tidak bisa meninggalkan nenek sendirian.
Jadi, kami kembali ke Inggris tanpa kakek.
Tapi tiga bulan kemudian,
kakek menelepon,
dan memberitahu ayah kalau dia tidak ingat jalan ke pemakaman lagi.
DOKTER HEWAN AMADEUS NICHOLAS ROSS
Tildy!
Putri kecilku!
Biar aku bawakan.
Aku pernah bertemu pria ini.
Masuklah!
Kemari. Duduklah di sini!
Baiklah. Baiklah.
- Apa kau mau kue kering? - Tentu.
Kau naik bus?
Tidak, Kakek, kami tinggal di Inggris sekarang, ingat?
Oh ya, aku tahu itu!
Kakek...
Kenapa ada susu di rak bukumu?
Tak ada ruang lagi di mesin pencuci piring.
Margaret! Maggie! Putramu datang!
Ayah.
Ibu... ibu tidak ada di sini.
Aku tahu itu.
Tentu saja.
Sudah kebiasaan.
Kau mencari sesuatu?
Di mana Roberta?
- Roberta? - Pembantu rumah tanggamu.
Aku memecatnya.
Ayah memecatnya?
Kenapa kau memecatnya?
Dia mencuri barangku.
- Apa yang dia ambil? - Perhiasan adikmu.
Ayah, aku tak punya adik.
Tapi kau selalu ingin punya adik, 'kan?
Apa ini perhiasan yang kau maksud?
Semuanya ada di sini.
Syukurlah dia kembalikan semuanya.
Mau kopi?
Kakek, bukankah seharusnya kau menyimpan itu di suatu tempat?
Sayang, jika orang Rusia datang,
kau takkan mau pistolmu dalam kondisi tersimpan.
Itu bukan pistol asli.
Lihat ini.
Kau punya susu?
Baiklah. Kopi hitam saja.
Astaga!
Ayah!
Apa kau sudah gila?
Berikan padaku!
Apa kau sudah gila?
Kau dapat ini dari mana?
Yang pasti bukan dari supermarket.
Sayang, kau baik-baik saja?
- Ya. - Oh, astaga.
Aku punya ide.
Bagaimana jika kau kembali dan tinggal bersama kami untuk sementara?
Hore!
Hanya jika ada sesuatu yang bisa aku lakukan.
Ada banyak hal yang bisa kau lakukan.
Bukan begitu, Sayang?
Kita bisa minta kakek membantu berkebun.
Kami ingin kau ikut pulang.
Tapi aku butuh...
Aku harus membawa beberapa...
- Barang-barang ini. - Ya. Ya.
Ini.
Ayah, kau bisa membawa apa pun yang kau mau.
Aku akan mengatur kontainer pengiriman atau sejenisnya.
Hanya... tidak boleh ada pistol, ya? Tidak ada pistol.
- Dan Cindy tidak keberatan? - Siapa?
- Ibumu. - Sarah?
Dia tidak akan keberatan. Aku janji.
Kau punya kamar mandi sendiri, Amadeus,
dan aku meninggalkan handuk bersih untukmu di ranjang.
Dan kakek bisa mengantarku ke sekolah.
Kamarku tepat di sebrang lorong.
- Di mana Jack? - Jack? Siapa Jack?
Anjingku.
Apa dia diikat di luar? Dia tidak suka diikat.
Jack sudah mati, Amadeus.
Natal tahun lalu, kalau tidak salah.
Ini. Kau bisa ambil Benny saja.
Dia sangat lembut.
Dan dia tidak sebau Jack.
Sayang, ini konyol. Aku harus pergi. Aku ada rapat.
- Aku tak bisa melewatkan ini. - Tidak, aku terlambat.
Aku ada presentasi siang ini.
Waktunya sudah sangat mepet.
Aku tak bisa melewatkan rapat ini.
Kau janji pindah ke Inggris untuk karierku, bukan?
Itu kesepakatannya.
Aku sudah pindah ke Amerika demi kariermu, sekarang giliranku.
- Aku tak boleh terlambat. - Sekali saja.
No comments yet. Be the first to leave one.