لومړۍ 200 کرښې.
Diterjemahkan oleh: faridusman
LATAR TEMPAT, KARAKTER, DAN KASUS TIDAK TERKAIT DENGAN KEHIDUPAN NYATA
Dunia dipenuhi amarah.
Karena dunia ini tidak rasional.
Karena hukum tidak adil.
Marah untuk keadilan?
Namun demikian, aku tidak percaya kemarahan.
Bang Joon-seo, 28 tahun. Orang ini secara brutal menyerang dan membunuh pacarnya, dan naik di posisi teratas dalam daftar pembunuhan.
Dia tidak berharap melarikan diri, jadi surat perintah penangkapannya dibatalkan,
dan dia ditemukan tewas di atap sebuah gedung di dekat rumahnya.
Ini adalah pembunuhan ketiga.
Tidak ada lagi. Umumkan pencarian terbuka.
Karena sudah begini, berikan juga untuk Min Woo-cheon.
Pembunuh berantai, dan pembunuh bayaran.
Jika kemarahan tidak dapat mendapat jalan keluar, dan meluap begitu saja,
tidak ada yang tahu ke arah mana dia akan pergi.
Kemarahan dengan mudah berubah arah. DUKINGAN PEMBUNUHAN BERANTAI LUMUT MAWAR PEMBUNUHAN KETIGA SUDAH TERJADI
Dan bergegas.
TERGUGAT PEMBUNUHAN MIN WOO CHEON, 29 TAHUN, LAKI-LAKI PYO IN SOOK, 28 TAHUN, PEREMPUAN
Di sana!
Setelah itu, dia mengamuk seperti ombak dengan kecepatan tak terkendali,
dan melenyapkan kebenaran.
Seperti itu, menyerang segalanya,
dan menjadi infeksi. KEMARAHAN MENJADI INFEKSI EPISODE 12
TANAH KEMATIAN, TUTUP HOSPICE! MELINDUNGI PEMBUNUH
LENYAPKAN ACHIMUI BIT HOSPICE
Semuanya jadi berantakan! Anda membaca komentar kebencian lagi, bukan?
Tidak.
Apa orang-orang tahu hobi Anda membaca komentar kebencian?
Kau tahu kenal aku membaca komentar kebencian?/ Kepuasan perwakilan?
Aku mencoba memahami kemarahan.
Kritik dan makian yang dimuntahkan sembarangan tak lain adalah kotoran.
Kemarahan seperti itu tidak bisa menghadapi keadilan.
Ketika sampai pada amarah, bahasa dan sikap yang halus dibutuhkan.
Tidakkah perlu memahami kemarahan untuk menenangkannya dengan benar?
Ya. Pertama-tama, kurasa kita perlu meredakan kemarahan ini.
Banyak pasien yang bilang mereka juga akan meninggalkan Hospice!
Berapa?
Apa yang akan Anda lakukan? Anda sudah lihat artikel tentang pembunuhan ketiga, bukan?
Orang-orang menjadi gila karena bilang Min Woo-cheon dan Pyo In-sook membunuhnya saat dalam pelarian.
Itu tidak akan benar.
Aku tidak tahu lagi! Aku tidak bisa memastikan bahwa itu tidak benar.
Mereka sedang jatuh cinta./ Apa?
Kekasih macam apa yang melakukan pembunuhan?
Kau pikir dia akan datang saat kau sedang duduk di gang sempit ini?
Dia akan datang? Dia bisa datang?
Jika dia tidak punya tempat untuk pergi, harusnya dia ke sini agar aku bisa memberinya makanan.
Dia akan datang saat kalian duduk di sini seperti ini?
Dia masih hidup, kan?
Dia tidak meninggal di suatu tempat, kan?
Belum ada yang dikonfirmasi.
Belum ada?
Ingatlah. Dia kabur karena kalian menggonggong di pohon yang salah!
Kau tidak bisa menangkap pembunuh sebenarnya dari awal,
kau menyiksa anak malang itu,
kau mengambil seorang anak yang sedang sekarat...
In-sook bilang dia tidak membunuh mereka....
Bukankah menangkap penjahat adalah pekerjaanmu?
Seharusnya kau jangan duduk di sini, tangkap pelaku sebenarnya!
Nenek!
Nenek!
Tolong bangunlah.
Sudahlah. Aku baik-baik saja.
Karena aku baik-baik saja, berikan San-ah padaku, dan bekerjalah.
Tidak.
Pergilah. Meski dunia sedang meredup, kau perlu bekerja untuk makan.
Ikut nenek.
Ikut dengan nenek ke Hospice. Nenek harus membuat makan siang.
Mengumumkan pencarian terbuka untuk Min Woo-cheon terlalu berlebihan.
Perhatian dan kecemasan publik berada di ambang kegilaan.
Semua ini terjadi karena kalian tidak bisa menangkap mereka!
Itu sebabnya kita tidak bisa menghentikan pembunuhan ketiga!
Ini bukan pembunuhan berantai.
Dia berada di urutan teratas daftar pembunuhan, dan lumut mawar ada di rambutnya,
tapi kenapa bukan pembunuhan berantai?
Buktinya kurang.
Pyo In-sook tidak bisa menjelaskan bagaimana dia membunuh Park Du-jin,
dan ada banyak aspek mencurigakan dari TKP pembunuhan ketiga.
Bawa dulu buktinya!
Jangan terus bicara tentang tidak ada bukti, dan bawa buktinya!
Ada satu orang saksi.
Di mana?/ Stasiun Gosan.
Kau baik-baik saja?
Sebentar.
Semua sudah berakhir./ Kita hanya perlu melangkah lebih jauh.
Kenapa foto itu?/ Apa?
Itu foto yang sangat tidak aku sukai.
Saat foto itu diambil, aku menolaknya,
tapi nenekku mendandaniku dengan pakaian merah itu.
Tapi latar belakangnya merah.
Semuanya seperti itu kecuali wajahku merah.
Seperti leherku yang bermasalah sendiri.
Tapi karena foto itu keluar dan dicap sebagai pembunuh berantai,
itu terlalu cocok.
Tidak, itu cantik.
Terus kenapa kau juga? Kenapa kau juga dicari?
Itu bukan kau. Jika kau juga terjerat...
Aku tidak apa-apa.
Jika kita tertangkap seperti ini.../ Kita tidak akan tertangkap.
Dengarkan. Kita hanya perlu melangkah lebih jauh.
Selama kita keluar dari sini, tidak akan ada CCTV.
Kita hanya perlu berlari sedikit lagi.
Kau masih bisa lari?
Ayo.
Sungguh tidak bisa dipercaya...
Apa-apaan ini? Mereka membunuh orang lain?
Woo-cheon yang pertama kali meletakkan lumut mawar itu.
Tapi mayat lain dengan bunga itu muncul lagi...
Terus yang lainnya? Apa Woo-cheon sebenarnya-
Kita yang memulai ini.
Tapi... setelah itu, aku sungguh tidak tahu apa yang terjadi.
Pembunuh berantai dan pembunuh bayaran?
Bukankah ini terlalu dramatis?
Tapi, kurasa In-sook terluka.
Dia pingsan.
Apa-apaan? Orang-orang ini melakukan penilaian wajah pada saat seperti ini?
Dasar sialan.
Brengsek, lihat dulu dirimu sebelum bicara!
Ayo kita ke Venesia.
Hah? Bagaimana bisa kita ke luar negeri dalam situasi seperti ini?
Tae-il Hyung akan menyiapkan paspor dan tiket palsu.
Bertahanlah di sana sedikit lebih lama.
Tidak apa-apa.
Ada saat-saat di mana hal-hal sungguh mendesak.
Saat aku terlambat untuk membuat janji... atau saat ada hal yang mendesak,
Aku berlari seperti angin dan menaiki bus,
dan melihat ke luar jendela. Untuk menghilangkan rasa gugupku.
Karena selama 30 menit ini saat aku di bus,
tidak ada yang berubah, tidak peduli apa yang aku lakukan.
Jadi aku pikir, "Ayo istirahat, lepaskan".
"Bersikap gugup tidak akan mengubah apa pun."
Kita akan baik-baik saja selama satu jam.
Setelah itu, matahari akan terbenam. Lalu kita akan bergerak.
Tapi apa katedral ini... benar-benar aman?
Ya. Terlalu jauh, jadi kita akan baik-baik saja.
Bagaimana kau tahu tempat ini?
Aku datang kadang-kadang.
Untuk apa?
Berdoa.
Doa apa?/ Aku tidak ingat.
Mungkin saja aku memohon sesuatu.
Kita coba sekali.
Apa ada sesuatu yang mau kau doakan?
Tidak ada.
Tidak ada?
Ya.
Karena sekarang aku baik-baik saja, karena kau ada di sisiku.
Semuanya baik-baik saja.
San-ah!
Kau baik-baik saja sekarang?
Baguslah. Kalau begitu, boleh kita bermain di luar?
Tentu.
Kami akan bermain di halaman.
Baiklah, pergilah.
Kau datang untuk memasak di tengah semua ini?
Kau akan baik-baik saja?
Aku merasa seperti dirasuki hantu.
Kau tidak membaca keberuntungan? Bisakah kau membaca milikku?
Bagaimana ini terjadi?
Aku bukan orang yang melihat hal-hal seperti itu.
Lalu apa yang kau lihat?
Mungkin maksudmu aku bisa melihat energi orang.
Setiap orang memiliki warna, aku melihatnya dan membaca keberuntungan mereka.
Dia penipu.
Kau tahu warnamu cukup gelap, kan?
Tidak ada yang jelas, hanya gelap sepanjang jalan.
Jadi, aku akan hidup jika aku gelap sepanjang jalan?
Apa warnamu berubah saat kau mati?
Bukan itu! Kau mati ketika kau menjadi putih.
Menjengkelkan!
Ini masuk akal?
In-sook baru saja bilang kalau dia ingin melihat wajah Woo-cheon satu kali,
dia lari untuk menemuinya bahkan satu kali.
Karena polisi tidak bisa menangkap pelaku sebenarnya,
mereka disalahkan.
Benar, kan? Itulah yang terjadi, kan?
Meski begitu, cukup menyegarkan. Pria yang memukuli pacarnya sampai mati, justru yang terbaik dia mati.
Mereka bahkan tidak berdoa untuk jiwa orang seperti itu.
Mungkin karena aku juga punya anak perempuan,
tapi aku mulai gemetar saat melihat artikel itu. Bagaimana bisa dia memukuli seseorang seperti itu?
Benar dia manusia?
Pembunuh bayaran?
Apa masalahnya sampai banyak yang bilang Woo-cheon melakukan hal itu?
Apa In-sook berakhir seperti ini karena dia terlibat dengannya?
Kau melihat In-sook Eonni?
Sebelum dia pergi dari sini?/ Ya.
Dia benar-benar sakit.
Apa dia sekarat?
Semua orang di sini sekarat.
Kenapa kau bilang sesuatu seperti itu bahkan menganggap bukan apa-apa?
Jelas bukan apa-apa...
Ibuku juga meninggal.
Kau tidak apa-apa?
Kau merindukan ibumu, kan?
Karena ibuku tidak ada di sini... terkadang aku lupa.
Lebih baik aku lupa saja, jadi aku terus berusaha.
Ibuku benar-benar pergi...
Saat aku merasa seperti itu, aku benar-benar takut.
Semuanya akan baik-baik saja jika aku punya ibuku, tapi dia satu-satunya hal yang hilang.
Bagaimana kalau aku juga tinggal di sini bersamamu?
No comments yet. Be the first to leave one.