Kartini and Mr. Postman

Kartini and Mr. Postman (Surat Cinta Untuk Kartini)

د Indonesian ژباړه ډاونلوډ کړئ

د خپرونې معلومات

Surat Cinta Untuk Kartini WEB NF[CC]
د لخوا تبصره MarBot
Retail from Netflix

تګونه

web
په خپور شو: 2020-12-03
ډاونلوډونه: 16
د اوریدلو معیوبیت: No

د Indonesian سرليکونو مخکتنه

لومړۍ 187 کرښې.

Pak, tunggu, Pak.

Guru baru, ya?

Saya bantu.

Saya duluan.

Selamat pagi, anak-anak .

Selamat pagi, Bu .

Seperti janji Ibu Dian kemarin, hari ini Ibu Dian akan bercerita.

Ayo, siapa yang bisa tebak Ibu Dian akan bercerita apa?

Cerita apa, ya?

Cerita apa, ya?

Ibu Dian ingin bercerita tentang Ibu Kartini lagi, ya?

Betul.

Vito pintar, ya.

Dari dandanan Ibu Dian, sudah bisa diterka.

Ibu mulai ceritanya sekarang, ya.

Tidak mau!

Tidak mau!

- Kami mau cerita lain. -

Tidak mau, Bu!

Anak-Anak, jangan berisik.

Bu Dian, buat apa lagi cerita tentang Ibu Kartini?

Di buku sejarah juga ada, 'kan?

Tapi Ibu Kartini itu juga pahlawan kita.

Nah, Pak Rangga juga punya cerita baru.

- Cerita apa, Pak? - Ya, cerita apa, Pak?

Pasti Ibu Kartini lagi.

- Bosan, Pak. - Bukan. Kalau cerita tentang tukang pos,

ada yang sudah pernah dengar?

- Tukang pos? - Apa?

Tukang pos? Ada banyak tukang pos.

Jangan berisik, ya.

Kalau kalian semua sudah siap,

kita akan kembali ke tahun 1901.

Nama tukang pos itu adalah Sarwadi.

Ningrum. Ningrum!

- Topi Bapak. - Baik, Pak.

Nah, yang tadi itu anak perempuan Sarwadi.

Namanya Ningrum.

- Umurnya tujuh tahun, seperti kalian. - Ini, Pak.

Ningrum anak yang ceria dan juga baik hati.

- Terima kasih, ya, Sayang. - Ya, Pak.

Permisi, Bu.

- Ya, Pak? - Rum!

Bapak berangkat, ya.

Hati-hati, Pak.

- Nanti masak untuk Bapak. - Ya.

Hari itu, hari pertama Sarwadi

bertugas sebagai tukang pos di Jepara.

Sarwadi memiliki seorang sahabat bernama Mujur.

- Ayo. - Mereka sangat akrab.

- -

- Sarwadi. - Selamat pagi, Tuan Peter.

Selamat pagi, Sarwadi. Selamat bertugas.

Terima kasih, Tuan Peter.

Duluan, ya, Mas.

- Pagi! - Ya.

Pak Pos!

Pak Pos.

Pak Pos.

Pak Pos.

Terima kasih.

Terima kasih banyak.

Bu. Ibu.

Ya?

Tante Katri melahirkan.

- Anak-Anak! - Anak-Anak!

Permisi.

Mbak Warga, ayo cepat.

Baik, Tuan Putri.

Ayo, Mbak.

Beraninya kamu masuk sampai sini.

Bibi Dewi.

Siapa kamu?

Ternyata benar.

Sarwadi.

Aku Wadi, temannya Mujur.

Wadi?

- Yang dulu kecil? - Ya.

Ya ampun, sekarang sudah besar, gagah.

Aku hampir tak mengenali.

Kalau mau antar surat

ke Ndoro Ajeng, lewat aku saja.

Ndoro Ajeng?

Ya. Ndoro Ajeng Kartini,

putri Pak Bupati.

Putri Pak Bupati?

Pak Bupati?

Kamu mau apa?

Ndoro, ada surat.

Trinil!

Ya, Ayah.

- Yu, titip surat. - Baik, Ndoro.

Satu, dua, tiga.

Bapak ini hujan-hujanan terus.

Nanti bisa sakit.

Kalau seperti ini, yang jadi orang tua itu siapa?

Kamu atau aku?

Kamu itu cocoknya menjadi ibuku.

Hari ini, Bapak antar surat ke mana?

Bapak antar surat ke rumah Pak Bupati.

Bapak melihat langsung seperti apa Pak Bupati itu.

Seperti apa putri-putrinya Pak Bupati.

Seperti apa Ndoro Putri di sana, Pak?

Apa dia baik?

Jur!

Ndoro Ajeng Kartini itu ningrat,

tapi tak seperti kebanyakan ningrat.

Ya, memang.

Dari semua saudaranya, Ndoro Ajeng itu yang paling terkenal.

Aku tahu.

Pasti karena Ndoro Ajeng Kartini tidak sombong.

Bukan.

Karena Ndoro Ajeng Kartini itu aneh.

Aneh bagaimana?

Aneh seperti itu.

- Ndoro Ajeng itu seperti apa? -

Ndoro Ajeng itu gesit, bertanya ini dan itu, tak mau berhenti.

Dia pandai di kelasnya.

Apalagi kalau tertawa, satu rumah…

- bisa mendengar. - Sungguh?

Ya.

Apalagi kalau Pak Bupati memanggil dia.

- "Trinil!" - Trinil?

Ya, Trinil.

Seperti burung yang tak bisa berhenti bernyanyi itu.

"Cuit, cuit," seperti itu.

Di, kenapa kamu bertanya-tanya soal Ndoro Ajeng Kartini?

- -

Kamu cari siapa?

Cari Bibi Dewi.

Kamu ini ada-ada saja.

Lain kali, supaya tidak merepotkan Bibi Dewi…

Wadi saja yang mengantarkan surat ini langsung ke dalam.

Kenapa? Sana pulang!

Pulang sana! Pulang!

Apa kata Mama Abendanon, Kak?

Mama Abendanon mendukung niatku

untuk mendirikan sekolah Bumiputra.

Sekolah?

Kakak mau jadi guru?

Pendidikan itu penting, apalagi untuk perempuan.

Nantinya, mereka akan menjadi ibu dan mendidik anak-anaknya.

Kak, kalau sekolah sudah ada…

Dinah mau ikut mengajar.

Ya, Kak. Mini juga mau.

Kamu itu,

ingin menikah dengan Ndoro Ajeng?

Bisa.

Tapi dalam mimpi.

Atau kamu lahir jadi bangsawan.

Jadi, pilih yang mana?

Bermimpi terus,

atau lahir kembali menjadi bangsawan?

Sudahlah.

Diam saja. Jangan diungkit lagi.

Di.

Kalau berkaca itu di cermin.

Jangan di sungai, agar lebih jelas.

Hai.

Ndoro Ajeng itu ningrat.

Raden Ajeng Kartini.

Putri dari

Raden Mas Adipati Aryo Sosroningrat.

Sedangkan kamu?

Hanya Sarwadi.

Ya sudah, apa susahnya bikin nama panjang?

Aku juga bisa.

Mulai sekarang, kamu panggil aku Sarwadi…

Putra Raja Langit.

Sudah putra raja, raja langit.

Kurang hebat apa?

Kamu itu memang seharusnya mencari ibu untuk Ningrum.

Cari istri lagi, supaya tidak ngawur.

Supaya tidak berfantasi seperti itu!

Bermimpi saja. Ngawur!

Aduh, jatuh. Sial.

Sekolah saja.

Sudah. Jangan banyak tanya. Ikut Bapak saja. Ayo.

- Pak, kita mau ke mana? - Tidak usah banyak tanya.

Ikut Bapak saja. Sini!

- Aduh. - Ayo.

- Pak, pelan-pelan, Pak. - Sudah, ayo!

Cepat kamu selesaikan pekerjaan dari Bapak Bupati.

- Ini? - Ini…

Sebentar lagi selesai.

Cepat kamu selesaikan, ya. Jangan merokok saja.

Ya, Bi.

Kartini and Mr. Postman subtitles in other languages

تبصرې

No comments yet. Be the first to leave one.

Keep it about this subtitle — sync, quality, typos.500 characters left