لومړۍ 200 کرښې.
Vikram...
Vikram.
Vikram.
Vikram, tolong Vikram. Aku takut.
–Lepaskan aku! –Sushmi
Vikram...!
Sushmi...!
Vikram, tolong Vikram!
Aku takut.
Lepaskan aku! Kumohon.
Kalian siapa?
Vikram!
Hei, lepaskan dia!
–Sushmi! –Jangan!
Jangan! Kumohon... Kumohon...!
Vikram...!
Aku tidak suka mengatakan ini.
Tapi kamu harus berhenti dari kepolisian, Vikram.
Aku serius dengan ucapanku.
Apa?
Aku tidak mungkin berhenti.
Apa kamu belum paham?
Ini stres pasca trauma klasik.
Dan tahapannya sudah bahayakan organ vitalmu.
Tekanan darahmu tinggi sekali.
–Jika terus begini maka... –Aku tahu.
Cukup berikan saja obatnya.
–Aku tidak bisa berhenti dari kepolisian. –Obat tidak akan membantu, Vikram.
Masalahnya...insiden kecil dalam pekerjaanmu selalu mengingatkan masa lalumu.
Seperti pemicu.
Itu sebabnya kamu alami serangan panik.
Jika organ vitalmu terus terpengaruh, bisa berbahaya buat jantungmu.
Tetap rahasikan ini, Roopa. Terimakasih.
"Luka yang mengejarku..."
"Entah apa dosaku..."
"Berapa jauh ku harus pergi... agar menemukan damai..."
"Duri masa lalu ada di mataku... Jalan di depanku penuh ranjau..."
"Jati diri yang masih dirahasiakan... Menyisakan banyak pertanyaan..."
"Kenangan diam-diam menjadi musuhku"
"Sebuah peperangan yang kulawan sendiri"
"Masa lalu datang menghunus pedangnya... Mimpiku penuh dengan darah..."
"Waktu membentuk badai dalam hatiku..."
"Kekacauan terbuka saat masa lalu membalaskan dendamnya..."
"Biarkan kebencian datang menghampiri... Tapi aku tidak akan kalah..."
"Hidup sudah tak sama lagi... Tapi aku tak bisa berlari..."
"Entah mimpi ataukah ilusi... Aku tak bisa mengingatnya lagi..."
"Entah mimpi ataukah ilusi... Aku tak ada bukti..."
Hai, Vikram.
Pagi, Pak.
Bisa hentikan suara bisingnya?
Hei, matikan mesinnya.
Kami dapat informasi bahwa ada mayat di tempat ini.
Sudah kami cari selama 6 jam tapi tanpa hasil.
Area pencarian juga luas.
Pak Vishwa perintahkan kami minta bantuanmu dan tetap komunikasi.
Pak, bukan disitu... Semua orang....
Roni, beri hormat.
Kenapa dia memetik semak liar, Pak?
Lihat saja...
Panggil semua petugas kemari.
Semua ini semak liar.
Jika kalian lihat ketiganya tumbuh di titik yang sama, laporkan aku.
Siap!
Rohit, kamu tangani.
–Bagi dua tim dan berpencar. –Siap!
Kalian kesini dan kalian ke sana.
Siapa namamu?
Seenu.
Kamu tidak sekolah?
Katakan sejujurnya atau aku tangkap.
Tidak.
Panggil majikanmu kemari.
Pak.
Gali ini.
Mana orang dari forensik?
Saya, Pak.
Hei...
Pelan-pelan.
–Anak-anak... –Pak.
–Ambil tandu, cepat! –Siap, Pak.
–Tutup mayatnya dengan baik. –Govind, cepat!
Bawa ke van.
–Tunggu, aku akan kembali. –Kamu baik-baik saja?
–Anak-anak cepat. Terus jalan.... –Ayo pergi!
Tahu dari mana lokasi mayatnya?
Kamu tahu alasan petani menyingkirkan gulma?
Gulma lepaskan biokimia tertentu ke dalam tanah, seperti racun.
Sehingga tanaman lain tidak dapat tumbuh di sekitarnya.
Lalu?
Jika kita gali tempat gulma tumbuh, biokimia dalam tanah terganggu.
Semak lain bisa tumbuh.
Aku hanya identifikasi titik yang digali baru-baru ini.
Kamu sudah sampai?
Akan kuberitahu Abhilash. Tolong jangan saling ribut.
Aku atasanmu! Berhenti gunakan emot dan ketiklah!!
Perintahkan tim forensik untuk mengumpulkan sampel.
–Aku butuh laporannya segera. –Siap, Pak.
Apa yang kalian lakukan disini?
Pak Vishwa yang menyuruh kami.
Aku belum menerima informasinya.
Pak...
Pak...
Tapi saya bisa tangani sendiri.
Siap, Pak.
Dia dan jenggotnya...
Apa dia terlihat seperti seorang polisi?
Bukankah sudah seharusnya, Pak?
Pak, untuk berbaur dengan masyarakat umum...
Maaf, Pak.
Apa yang terjadi?
Jangan sok pintar.
Sudah jelas ini kasus bunuh diri.
Tapi entah kenapa kamu dikirim kemari.
Sudah lihat sendiri 'kan?
Kenapa kalian anggap ini kasus bunuh diri?
Ini....ada bukti videonya.
Kalau dulu ditulis di kertas.
Karena tehnologi sudah maju, mereka sekarang membuat video.
Aku bertanggung jawab atas kematianku sendiri, maafkan aku.
Coba sini...
Apa kamu bodoh? Abhilash....
Terus siapa yang hentikan video setelah kematiannya?
Aku yakin ada orang kedua yang hentikan videonya.
Di ponselnya tidak ada aplikasi untuk hentikan video sendiri.
Dan kamu juga menyentuhnya tanpa sarung tangan.
Apa kalian tidak curiga mencium bau menyengat di ruangan ini?
Kalian tahu apa ini?
Ini disebut tinta pernis.
Benda ini hanya digunakan oleh pelukis, tukang kayu dan pekerja pabrik tinta.
Tidak ada kerusakan di jendela maupun pintu rumah.
Artinya korban sendiri yang membuka pintu dan kenal orangnya.
Tersangka kemudian kabur lewat jendela.
Ada jejak sepatu.
Kotoran di sepatu pasti tercecer saat dia melompat.
Selidiki daftar kontak korban yang berprofesi sebagai pelukis, tukang kayu atau pekerja pabrik tinta.
Itu petunjukmu.
Korban dipaksa bunuh diri.
Hei Abhilash, untuk menangani kasus yang digunakan bukan ini tapi ini.
Lain kali gunakanlah.
* Laboratorium Sains Forensik Daerah Hyderabad, Telangana *
Apa Srinivas menelfonmu?
–Minggu lalu dia hubungi kita. –Kabari aku jika ada masalah.
Aku...
–Hai. –Hai.
Kamu datang terlalu cepat. Aku masih butuh waktu.
–Aku tunggu. –Kamu yakin?
–Hai, Rohit. –Hai, Neha.
Mau kupesankan kopi?
–Tidak usah. –Santai saja.
–Selesaikan pekerjaanmu, kami tunggu. –Oke, nanti aku kembali.
Hai, Dokter. Hasilnya sudah keluar?
Ya, 2 jam lagi.
Akan kami kebut.
Idealnya tehnik pencocokan DNA harus selesai dalam satu jam.
–Kabari aku. –Oke
–Pak Ramana, laporan balistik sudah siap? –Hampir selesai.
Email laporannya ke Pak Venkatesh, oke?
Kabar ibumu bagaimana?
Keadaannya tidak bagus.
Dokter merujuknya ke Mumbai.
Saudaraku yang disana akan membawanya dalam seminggu.
Jangan sungkan jika butuh bantuan.
–Dahulukan orang tuamu. –Tentu saja.
Coba perjelas lagi atau penyidik akan mengirimnya kembali.
Lakukan yang terbaik.
–Swapna bagaimana? –Dia baik.
Kenapa tidak mampir?
–Kamu belum mampir ke rumah baru. –Mungkin minggu depan.
–Hai, Vikram. –Hai, Shinde.
Neha membuatmu menunggu lagi?
Aku sudah mengirim email, periksalah.
–Dia sedang kerjakan kasus... –Maaf, ayo pergi.
–Shinde, ayo ikut. –Tidak...tidak.
Aku hanya menyapa, lanjutkan saja.
–Sampai nanti. –Sampai nanti, Shinde.
Oke Vikram, aku harus pergi. Dia pasti menungguku.
–Ya. –Sampai nanti, Neha.
Jadi?
Bagaimana harimu?
Cukup bagus.
Roopa menelfonku.
Kenapa dia tidak bisa rahasiakan informasi pasien?
Kamu akan menyelidiki kami juga?
Tolong bawa masuk.
Mau minum kopi?
Ya, tentu.
Kenapa Vicky?
Apa salahnya jika berhenti demi kesehatanmu?
Hentikan, Neha.
Kamu kenapa, Rohit?
Kamu mencemaskan ibumu?
Kamu tidak perlu memikirkan itu.
Sudah minum obatmu?
Tolong pikirkan aku, Vicky. Aku tidak mau kehilanganmu.
–Tekanan darahmu terus naik. –Neha, tolong...
Aku tahu kamu bicara untuk kebaikanku. Tapi jika berhenti kerja, aku lebih menderita.
Jelaskan alasannya...
–Kabar Vikram bagaimana? –Dia baik.
Kenapa tidak kamu ajak mampir? Dia belum tahu rumah baru kita.
Sudah, bilangnya kalau ada waktu.
No comments yet. Be the first to leave one.