لومړۍ 200 کرښې.
NETFLIX MEMPERSEMBAHKAN
3.850 SUKA, 559 KOMENTAR, 61 DIBAGIKAN
Cukup!
2.653 SUKA, 187 KOMENTAR, 61 DIBAGIKAN
Dapat pekerjaannya?
4.850 SUKA, 197 KOMENTAR, 23 DIBAGIKAN
SAUMYA MEHRA MERASA GILA
4.440 SUKA, 332 KOMENTAR, 1.212 DIBAGIKAN
KENANGAN
Selamat!
4.440 SUKA, 1.932 KOMENTAR, 812 DIBAGIKAN
KENANGAN
Berhasil!
Kau sangat manis saat masih kecil. Apa yang terjadi padamu?
Aku terlahir manis, paham?
4.430 SUKA, 132 KOMENTAR, 112 DIBAGIKAN
4.530 SUKA, 432 KOMENTAR, 612 DIBAGIKAN
4.587 SUKA, 572 KOMENTAR, 247 DIBAGIKAN
APA PUN YANG KUKATAKAN, ITU KEBENARAN
Arjun Pathak, bagaimana perasaanmu? Papan iklan pertamamu.
Kau kesal?
Aku? Kesal?
Kau kesal saat menyebut nama lengkapku.
Dan saat aku bahagia?
Pak Pathak.
Ayo, Pak Pathak!
5.716 SUKA, 672 KOMENTAR, 254 DIBAGIKAN
3.577 SUKA, 498 KOMENTAR, 210 DIBAGIKAN
Pak, kami dari media.
- Kami punya izin. - Media dilarang masuk!
- Sudah cuci wajahmu? - Ya.
Saumya.
4.328 SUKA, 562 KOMENTAR, 227 DIBAGIKAN
Pergilah!
Kumohon!
3.571 SUKA, 289 KOMENTAR, 97 DIBAGIKAN
Selamat ulang tahun
3.164 SUKA, 725 KOMENTAR, 82 DIBAGIKAN
Setidaknya sikat gigimu!
5.485 SUKA, 685 KOMENTAR, 187 DIBAGIKAN
KENANGAN
Aku bisa, Sayang.
ARJUN PATHAK, JURNALIS TERBAIK TAHUN INI
Aku ingin mendedikasikan anugerah ini untuk istriku yang cantik,
yang mengajariku mengatakan kebenaran.
Terima kasih, Bu Pathak.
Aku, Saumya Mehra Pathak, sungguh-sungguh bersumpah mengatakan "Aku mencintaimu"
dan hanya "Aku mencintaimu."
Aku mencintaimu, Pak Pathak.
Apa kau mencintaiku?
SAUMYA MEHRA PATHAK VS. ARJUN PATHAK SURAT PERCERAIAN
TANPA PRASANGKA KESEPAKATAN BERSAMA DRAF PERCERAIAN
MENIKAH
BERCERAI
Sudah siap, Arjun.
Baik, siaran langsung.
Dan kita siap.
MENGUDARA
Ini hari Minggu. Pukul 09.30.
Ini Arjun Pathak, hanya di Radio Bharosa .
Akan ada pekerjaan konstruksi di Sea-Link sampai pukul 10.00.
Bagi yang menggunakan Sea-Link, kusarankan berangkat agak terlambat,
atau mengambil rute alternatif.
Setelah pukul 10.00, kau bisa memakai Sea-Link.
Sekian informasi lalu lintas.
Mari langsung bahas topik hari ini.
Mari bicarakan rabat pajak perusahaan.
Dan ini penelepon pertama kami.
- Kau sedang mengudara. Halo? - Halo, Pak Arjun.
Halo. Beri tahu kami nama dan asalmu.
Aku Raghubeer Mhata dari Mumbai.
Raghubeer, apa pekerjaanmu?
Aku pekerja konstruksi.
Pekerja konstruksi?
Bagus.
Apa pendapatmu tentang topik kami?
Pak Arjun, aku hanya punya satu kipas angin dan satu televisi di rumahku.
Namun, tagihan listrik bulanannya 1.000 rupe.
Aku beberapa kali ke Departemen Listrik.
Tapi petugas memintaku membayar tagihan, atau mereka akan memutus listrik kami.
Raghubeer, topik hari ini adalah pajak.
Ditagih untuk listrik adalah soal pajak.
Apa hanya orang kaya yang membayar pajak?
Orang miskin juga membayar untuk semua. Dari korek api hingga tagihan listrik.
Pemerintah harus membuat listrik dan air sumber daya yang gratis.
Aku mengerti rasa sakitmu.
Penelepon berikutnya.
Pak, tunggu. Tolong jangan ditutup. Jangan… Aku belum selesai…
Hai, Arjun. Aku Kritika.
Aku penggemar beratmu.
Dahulu aku sangat menyukaimu di TV. Aku sangat senang bicara di sini.
Apa pendapatmu soal topik hari ini, Kritika?
- Sebagai pelajar, kurasa… - Kau seharusnya tidak menutup teleponku.
Halo?
Maaf, Kritika. Mari bicara setelah jeda.
BISU OTOMATIS
- Pak Arjun, kau dengar aku? - Apa itu tadi?
- Tak kusambungkan. - Arjun, dia tidak bisa diputuskan,
dua menit lagi kita kembali.
Kenapa ditutup saat aku belum selesai?
- Kau pikir aku gila? - Pak, terima kasih sudah menelepon kami.
Kenapa berterima kasih? Kau bahkan tidak mendengarkanku.
Nasib orang miskin tak didengar?
- Tak bisa diputus? - Pak Arjun!
Pak, tak bisa kuputus dari sini.
- Sistemnya diretas. - Dengar aku baik-baik.
Kurasa dia harus memutuskan panggilannya.
Aku punya bom.
Dan aku akan meledakkan Sea-Link.
Kau mendengarkan?
Aku serius.
Kau sadar telepon iseng seperti ini bisa membuatmu terkena masalah?
Tutup atau kupanggil polisi.
Silakan. Siapa yang menghentikanmu?
Silakan. Hubungi mereka.
Aku akan menunggu.
Aku banyak memikirkan ini dan tak punya pilihan lain.
Kau mendengarkanku? Akan sungguh kuledakkan.
Lakukanlah!
Aku ingin melihatnya meledak. Silakan.
Aku tidak bohong, Pak Arjun.
Kalau begitu, kumohon ledakkan agar bisa ke penelepon berikutnya.
Kau pikir ini lelucon?
Aku sungguh punya bom. Aku hanya memperingatkanmu.
Kau hanya anjing menggonggong yang diam saja.
Jika ingin meledakkannya, lakukan. Atau enyahlah, Berengsek.
Dia memutus panggilannya. Mau kembali siaran?
Kurasa kendaliku sudah kembali.
Jangan khawatir. Ini acara baru dan hal seperti ini bisa terjadi.
Mari kita siaran.
MENGUDARA
Radio Bharosa meminta maaf atas ketidaknyamanannya.
Jadi, kami sedang membahas rabat pajak…
Aku bisa merasakan tanahnya bergetar.
Hari ini, kami membahas rabat pajak…
Astaga…
Apa-apaan…
Ini aku.
Aku akan meneleponmu lagi dalam 15 menit. Tepat 15 menit.
Pak Raghubeer, halo?
Nomor ini tidak aktif.
Ruang Kontrol Kepolisian Mumbai.
EKSKLUSIF
Halo, Ruang Kontrol Kepolisian…
Halo?
Siapa ini?
Maaf, salah sambung.
Asif, apa yang kau lakukan?
Menelepon polisi.
Tutup teleponnya. Kau gila? Tidak ada yang tahu soal ini, bukan?
Benar.
Dan semua yang terjadi belum disiarkan, bukan?
- Benar. - Benar.
- Bagus! Kau merekam panggilannya? - Ya.
Simpan ini di nomor pribadiku.
Jadi, kita tidak melaporkan ini?
Bukankah dia akan menghubungi 15 menit lagi?
Benar.
- Kita rekam dia nanti. - Kurasa kita harus melapor.
Sejak kapan kau peduli dengan hukum?
Kau tidak tahu?
Hanya kita yang tahu kisah ledakan itu. Beruntung sekali, bukan?
Hanya kita yang meliputnya. Mengerti? Kau dan aku.
Ini berita eksklusif kita. Mengerti?
Bersiaplah.
Aku akan membahas berita ini dan kembali nanti.
- Baik. - Mengerti?
Arjun? Ponsel.
Ya.
MENGHUBUNGI… BOS ANKITA
Siapa orang dari PCR? Aku ingin jurnalis senior.
Rekaman eksklusifnya harus jadi milik kita.
Sekarang pergilah dan dapatkan rating. Arjun, jangan sekarang.
Apa kau tahu alasan di balik ledakan ini?
Kepalaku mau pecah. Apa maumu?
Dengarkan ini.
Aku punya bom, dan aku akan meledakkan Sea-Link.
Semuanya, diam. Siapa itu?
Pria ini meneleponku sebelum meledakkan bomnya.
Apa?
Dan ini disiarkan?
Belum. Kau orang pertama yang kutelepon.
Baiklah. Naiklah membawa rekaman itu.
Itu mustahil, Bos. Dia akan meneleponku sepuluh menit lagi.
Kenapa dia meneleponmu?
Lingkaran kehidupan, Bos.
Hidup ini memang lucu.
Saumya dan aku berpisah. Kemudian, karena alasan sepele,
kau menurunkanku dari pembaca berita televisi
menjadi penyiar radio.
Hidupku hancur.
Arjun, tenang. Ayo, naiklah.
- Kita akan mencari cara. - Kurasa tidak, Bos.
Ini kesempatan terbesar dalam hidupku.
Apa maksudmu?
Kau tak bisa mengambil kesempatan dariku lagi.
Apa maumu Arjun?
Kembalikan jam tayang utamaku.
Baiklah. Aku akan bicara dengan Presdir. Apa maumu sekarang?
Hanya satu kamera. Aku akan berterima kasih.
No comments yet. Be the first to leave one.