لومړۍ 200 کرښې.
"Episode 19"
Kenapa Pak Joo membuat kita mengawasinya seketat ini?
Pasti ada alasannya jika dia menyuruh kita mengawasi Yoo.
Itu maksudku. Kira-kira kenapa?
Mana kutahu.
Setelah pertandingannya, dia terus di rumah.
Tampaknya dia juga sudah berbaikan dengan istrinya.
Lalu hari ini dia mengundang teman-teman putrinya,
Yong Dae, dan anak buahnya untuk menghadiri pesta.
Membosankan sekali. Kenapa kita mengawasi dia? Tidak ada apa-apa.
Dasar bedebah tengik. Kamu banyak bicara.
Kita turuti saja perintahnya. Kenapa kamu banyak bicara?
Aku bukannya protes.
Aku hanya penasaran.
Omong-omong, Yoo Ji Cheol...
- Dia menang besar. - Benar.
Jika kamu iri, menikahlah juga.
Yang benar saja.
Pil Doo.
Apa yang terjadi?
Dia tidak membawa apa-apa,
berarti dia bukan pengantar piza. Siapa dia?
- Perlu kuperiksa? - Tunggu di sini.
- Jangan lakukan apa pun. - Sial.
Ke mana mereka pergi?
Kurasa
Anda salah orang.
Ya, sebenarnya,
aku ke sana untuk mendapatkan uang.
Tapi aku didiskualifikasi
sebagai subjek tes atau entah apa, jadi, aku langsung kembali.
Tahukah kamu
kenapa kami mencari
subjek tes?
Suplemen gizi.
Ya, kudengar untuk suplemen gizi.
Obat yang kami kembangkan
adalah obat jenis baru untuk pasien
dengan penyakit saraf dan otot yang tidak bisa disembuhkan.
Jika orang berkondisi normal mengonsumsi obat itu,
kerja saraf dan ototnya
akan meningkat
selama tiga menit.
Obat yang luar biasa.
Aku tidak tahu soal itu.
Kuharap Anda selesai membuat obat itu
demi para pasien tersebut.
Kalau begitu, sampai jumpa.
Kami tidak bisa menyelesaikannya.
Obat baru kami
sangat beracun.
Astaga, tidak perlu memberi tahu itu kepadaku.
Tidak ada seorang pun sampai hari ini
yang bisa menahan akumulasi racun
saat mereka mengonsumsi lebih dari empat dosis.
Jika ada orang
yang tidak keracunan jika meminumnya empat kali,
orang itu bisa merampungkan obat kami.
Aku melihat video pertandinganmu.
Kamu tampak pusing setelah meminum pil itu.
Sejauh ini,
kamu sudah mengonsumsi berapa banyak?
Astaga.
Aku tidak tahu alasan Anda memberi tahu ini kepadaku.
Pak Yoo.
Tolong bekerja sama dengan kami dan izinkan kami meneliti
bagaimana caramu menetralisir racunnya.
Jika kamu bersedia,
itu akan sangat membantu dalam pengembangan obat baru.
- Aku permisi. - Kita bisa menyelamatkan
banyak jiwa dengan obat ini.
Ayah.
Aku mau tidur.
Baiklah.
- Kamu sudah bekerja keras, Nak. - Ya.
Selamat malam.
Mimpi indah.
Hei.
- Tidurlah dengan nyenyak. - Baik.
Kamu berjuang keras hari ini.
Anak-anak menyukainya.
Bagaimana kamu bisa terpikirkan ide itu?
Itu...
Bukan apa-apa.
Aku sangat bersyukur,
tapi di lain sisi,
kamu berjuang dan berdarah-darah demi menghasilkan uang itu.
Kurasa kamu perlu menikmati uang itu untuk dirimu sendiri,
alih-alih untuk kami.
Kami memahami perasaanmu.
Hari ini, kamu mencurahkan kami terlalu banyak kasih sayang.
Kamu ayah yang sempurna hari ini.
Kalau sebagai suami?
Apa perlu kukatakan?
Ayolah.
Terima kasih.
Kamu sudah bekerja keras hari ini.
Aku tidak bekerja keras.
Kamulah
yang hari ini
bekerja keras.
Jangan terlalu cemas lagi.
Tidak perlu merendahkan suaramu dan bicara serius. Ayolah.
Sebagai suami,
apa yang harus kuberikan untukmu?
Kamu dapat 100.
Kuberi kamu nilai 100.
Beri aku nilai 102. Itu sangat sedikit.
- Kuberi nilai 103. - 103? Nilai 103?
Ada apa kemari pukul sebegini?
Ini hari ulang tahun Jae Sung.
Kamu sibuk. Tidak perlu repot-repot.
Astaga, aku merasa terhormat.
Masuklah.
Paman Min Woo datang.
- Paman! - Hai, Jae Sung.
- Kabarmu baik? - Min Woo, kamu datang.
- Halo. - Paman, hari ini
- Kak Jae Sung berulang tahun. - Ya, karena itu paman datang.
Halo.
Jae Sung, selamat ulang tahun.
Ini bukan apa-apa,
tapi ini yang terbaru.
Ulang tahunku tiga bulan lagi.
Baiklah, Nak. Tunggu sebentar lagi.
Jika ditarik sedikit lagi, dia pasti menang.
Astaga, dasar anak kecil.
Kamu tahu apa yang sebenarnya terjadi?
- Sudah kubilang. - Sudah larut.
Kalian harus tidur.
Jae Sung, kamu juga.
Paman, aku berulang tahun tiga bulan lagi.
Baiklah.
Astaga, berandal kecil itu.
Kenapa? Mereka manis.
Jika menurutmu mereka manis,
cobalah menikah
dan punya tiga anak.
Lihat apakah mereka masih manis.
- Begitukah? - Hei.
Kamu begitu yakin tidak akan menikah.
Aku hanya penasaran
akan kehidupan orang-orang yang sudah berkeluarga.
Apa? Apa katamu?
Bukan apa-apa.
Astaga, sudah sangat larut.
Sebaiknya aku pulang. Aku pamit.
Anak-anak tumbuh begitu cepat.
Kamu benar.
Terimalah ini.
- Apa ini? - Biaya les yang terlambat.
- Ayolah. - Kenapa?
Kamu mengajariku yuyitsu
dan banyak hal lain saat kali pertama aku datang.
Itu sudah lama berlalu.
Tidak bisakah kamu terima saja?
Aku benci berutang kepada orang lain.
- Terima kasih, Min Woo. - Tidak perlu.
Kamu sudah berbuat lebih banyak untukku.
Sampai jumpa.
Soal Ji Cheol...
- Bagaimana? - Apa maksudmu?
Aku menonton pertarungannya,
tapi menonton berbeda dengan melawannya sendiri.
Kamu benar.
Jangan memancingku.
Dahulu dia memang salah satu petarung terbaik,
tapi kalau boleh jujur, tidak kusangka aku akan kalah.
Dia mungkin tidak terbiasa dengan peraturannya,
dia juga sudah tua.
Tapi aku salah.
Ketangkasannya, kekuatannya, dan pukulannya
sungguh luar biasa.
Dia pasti berlatih keras.
- Sungguh? - Tapi yang terutama,
aku takut.
Belum pernah kulihat seseorang
yang tidak ambruk padahal tangannya patah
dari serangan judoku sampai hari ini.
Saat itulah aku mulai muak.
Aku sadar dia tidak akan mengaku kalah
sampai dia mati.
Aku sadar tidak bisa menang melawan dia
sebelum membunuhnya di dalam ring.
Aku membuatnya tampak begitu hebat hanya karena dia menang melawanku?
Tapi itulah yang kurasakan.
Tidak.
Kamu sudah bekerja keras.
Sampai jumpa.
Terima kasih.
Tentu.
Masuklah.
Ya, bergegaslah.
Segera kabari aku begitu hasil tesnya keluar. Ya.
Ya, terima kasih.
Kenapa kamu begitu sibuk?
Aku harus memeriksa sesuatu.
Tidak boleh ada rahasia
di antara rekan kerja.
Ayah Jun Young membawa pulang ini.
No comments yet. Be the first to leave one.