لومړۍ 200 کرښې.
EPISODE 12
Ayo lebih sering mengunjungi Ayah ke depannya.
Ibu akan luangkan waktu.
Baik.
Hampir lupa. Bagaimana ujian masuk universitas?
Apa kau diberikan beasiswa?
Ya. Namun, aku ingin menjadi anggota tim olahraga profesional saja.
Gaji yang mereka berikan besar.
Aku harap bisa satu tim dengan Yu-rim…
Apa katamu?
Kau tidak mau kuliah?
Beasiswa hanya menggratiskan biaya masuk…
Omong kosong! Uang bukan masalah sekarang!
Kau pikir sampai kapan kau bisa beranggar hingga tak mau kuliah?
Setidaknya kau harus lulus kuliah dahulu
agar bisa menjadi dosen setelah berhenti beranggar.
- Astaga. - Kenapa pikiranmu pendek sekali?
Kenapa Ibu menghina rencanaku?
Lalu, kenapa aku harus berhenti? Aku akan terus beranggar!
Yang benar saja! Aku kesal! Jangan ajak aku bicara!
Astaga. Dasar kau ini!
AYO SMA TAE YANG
Yu-rim.
Kau akan berkuliah?
Kau bisa dapat beasiswa.
Jumlah beasiswa dan gaji menjadi anggota tim tidak sepadan.
Aku harus segera cari uang.
Sebenarnya, kita bisa mendapatkan banyak uang
jika jadi warga negara asing.
Tetap saja sepertinya tidak pantas mengganti kewarnegaraan karena uang.
Kau benar.
Namun, kenapa kau bertanya? Kau mau kuliah?
Ya.
Aku ingin cari uang dengan masuk tim saja, tetapi ibuku menyuruhku kuliah.
Sungguh?
Namun, bukankah harus ikut ujian masuknya lebih dahulu?
Ya. Setidaknya aku harus dapat nilai 80.
Dapat nilai 80 dari 400?
Bagaimana kau bisa?
Aku harus isi soal bahasa Korea.
Bagaimana aku sanggup membaca semua soal membosankan itu?
Hei, Lee Ye-ji!
Aku sudah bilang jangan berkata seperti itu lagi!
Jangan terus bilang mau berhenti!
Itu semua pasti karena mental pikiranmu sudah hancur!
Pelatih, aku serius.
Aku sudah memikirkannya matang-matang
sebelum mengatakannya kepadamu.
Daripada pikirkan itu, seharusnya kau fokus berlatih.
Kau tak akan terpuruk!
Aku tak akan membiarkanmu
jika kau begini lagi.
Kau paham?
KAMI MENDUKUNG HARAPAN DAN IMPIAN KALIAN
Aku sungguh merasa…
beranggar bukanlah jalanku.
Namun, Pelatih malah selalu memarahiku,
dan menyuruhku bertahan karena aku hanya sedang lelah.
Ye-ji.
Apa kau sungguh ingin berhenti beranggar?
Kini aku tak merasa senang setiap beranggar.
Aku merasa waktuku terbuang di sini.
Jika diperbolehkan belajar,
setidaknya aku bisa mencari bidang lain sambil beranggar.
Namun, kita dilarang belajar di kelas,
jadi, aku tidak bisa berbuat apa-apa.
Keadaanku mendesak. Ini hidupku.
Kau pasti tersiksa selama ini.
Maaf karena aku tak tahu itu.
Ayo kita cari jalan keluarnya bersama.
Soal jalan keluar itu…
Apa yang akan terjadi…
jika mulai besok aku tidak berlatih?
Kak Yi-jin!
Kau tetap tampan hari ini.
Hei. Kenapa kau kemari untuk menemuiku?
Siapa yang mengajarimu begini?
Tidak ada yang mengajariku. Ini bawaan lahir, seperti tubuhmu.
Astaga. Kenapa kau ke sini?
Aku hanya mampir setelah membeli sesuatu.
Kau minta mencetak foto, 'kan?
Hanya selembar foto Hee-do.
Itu pantas dicurigai.
Itu hanya karena tidak ada yang mau mencetak foto ini.
Berapa harus kuganti?
Tak perlu, Kak Yi-jin.
Aku bisa menyatakan perasaanku kepada Yu-rim berkatmu.
- Ini balas budiku. - Apa harganya 300 won?
Jangan sembarangan. Selembarnya 320 won.
Baiklah. Terima kasih untuk fotonya. Kau beli apa di dekat sini?
Ini?
Sesuatu yang keren.
Rahasia.
Kaus yang dipakai Sin Chang-won, tahanan yang kabur dari penjara,
menjadi tren di tengah para remaja.
Kini seluruh Korea sedang terkena "Sindrom Sin Chang-won."
Bahkan, kini sudah banyak kaus imitasinya
dan sangat laku di pasaran.
Lekas masuk.
Lakukan yang benar!
- Lihat! - Kau membelinya?
Ke mana Ye-ji?
Dia belajar di kelas.
Apa? Ke kelas?
Sepertinya…
Ye-ji sangat serius
untuk berhenti beranggar.
Dia ingin mengejar bidang lain.
Kuharap Pelatih bisa mengizinkan dia untuk berhenti beranggar.
Rupanya hal seperti ini bisa juga terjadi di dalam hidupku.
Hei. Memang kau siapa berani buat keputusan begitu?
Kau mahir beranggar, tetapi dia tidak, jadi, dia boleh berhenti?
Bukan begitu.
Aku merasa senang saat beranggar,
tetapi Ye-ji bilang dia tidak senang lagi,
jadi, kupikir dia boleh berhenti.
Dahulu, dia juga pasti senang.
Dia hanya terpuruk karena merasa kemampuannya tidak meningkat.
Maka itu, dia jadi membencinya.
Mengurus keadaan mental atlet yang seperti itu
juga pekerjaanku.
Aku harus membuat atletku tak menyerah dan berani menghadapi tantangan.
Bagi Ye-ji, menyerah adalah tantangan.
Atlet menentukan jalan mereka di usia muda
dan berkomitmen seumur hidup.
Hingga kini, yang kami lakukan hanyalah berolahraga.
Bagi kami yang seperti itu,
tidak ada tantangan yang lebih sulit daripada menyerah.
Menyerah adalah tantangan katamu?
Sungguh kata-kata mutiara yang bagus.
Lantas, apa itu kegigihan?
Sebuah kebodohan?
Ko Yu-rim, cepat ke kelas dan bawa Ye-ji ke sini.
Kau tidak mendengarku?
Maaf.
Aku tidak akan ikut berlatih
hingga kau mengizinkan Ye-ji berhenti.
Apa katamu?
Sejak dahulu, aku selalu merasa aneh
karena atlet tidak boleh ikut belajar.
Ada apa dengan kalian hari ini? Berhenti di sana.
Ko Yu-rim!
Kenapa kalian tak menghentikan dia?
Aku juga tidak akan berlatih hingga kau mengizinkan Ye-ji berhenti.
Maaf.
Cepatlah duduk.
Ada apa?
Aksi lebih penting daripada perkataan.
Aku merasa tindakanmu benar.
Lihatlah aku saja. Aku memang tidak sangat tampan, tetapi tipemu.
KAU LIHAT APA?
Ya ampun, memuakkan sekali.
Kita sudah bersekolah 12 tahun,
tetapi masih ada jenjang pendidikan setelah ini. Mustahil.
Namun, ini musim panas terakhir kita bisa memakai seragam.
Aku agak merasa sedih.
- Hei, Moon Ji-woong! - Hei!
Kau memakai kaus tahanan itu.
Kau lucu sekali.
Hei, coba perlihatkan yang jelas. Buka seragammu.
Dasar kalian.
- Hebat. - Keren sekali.
Hei, ayo kita beli juga.
Haruskah begitu?
- Kau tak cocok. - Aku juga mau beli satu.
Ada guru. Ayo kabur.
Pakai yang benar.
Kemari kau.
Apa kau…
memakai kaus tahanan yang kabur?
Ini…
Dasar berandal!
Dasar bajingan tidak waras.
Kau pikir sekolah hanya lelucon?
Dasar berengsek.
Murid-murid sepertimu harus dipukuli agar sadar!
Hentikan!
Kubilang hentikan, Pak.
Sampai kapan Bapak akan terus memukuli murid?
Ini bisa dibicarakan, tetapi kenapa selalu memukul?
Memukuli murid di sekolah sudah dilarang. Tak tahu itu?
Apa katamu?
Lantas, lapor saja.
Coba laporkan aku, Berengsek.
Kalian melihat apa?
Hei, Seung-wan.
Ya. Aku dari SMA Tae Yang.
Di sini ada guru yang melakukan kekerasan kepada murid.
Ya.
Baik.
Aku pelapornya.
Bicaralah denganku.
Lekas masuk kelas semuanya. Cepat belajar!
Kenapa ada polisi?
- Cepat masuk! - Bukankah itu Seung-wan?
Lekas masuk kelas! Sekarang!
Karena di sini banyak murid-murid, ayo kita ke ruang kepala sekolah saja.
Kalian juga ikut aku.
Biar Ji-woong ke UKS dahulu.
Kau ke UKS dan obati lukamu.
No comments yet. Be the first to leave one.