لومړۍ 200 کرښې.
KING THE LAND
Baiklah.
Ini adalah jamuan utama hari ini.
Kau tidak apa?
Tidak terluka?
Ya.
Semuanya jadi basah.
Yang penting kau tak terluka.
Tidak masalah.
Apa aku…
dapat izin?
Ini dia.
Bukan main.
Ini untukmu.
Terima kasih.
Ini enak juga
walau bentuknya absurd.
Padahal tadinya aku ingin membuatkan hidangan terbaik.
Yang tadi pun sudah enak.
Itu makanan terenak
yang pernah kumakan. Suasananya pun menyenangkan.
Terima kasih atas apresiasinya.
Nanti kubuatkan lagi.
Lain kali biar aku yang memasak.
Kapan?
Besok?
Bukan.
Lantas, kapan?
Pada hari aku paling terlihat cantik.
Bersulang.
Ayo makan.
Tampaknya kau memang serbabisa.
Tentu saja.
Walau makanan ini agak absurd.
EPISODE 9
Padahal hanya kurang 500 dolar dari target.
Harapan kita kandas.
Mal tutup sebentar lagi,
tetapi tak ada pelanggan satu pun.
Ha-neul, apa perlu kugesek beli tas?
Daripada terbelit cicilan demi trip insentif,
pakai saja uang itu untuk berlibur.
Lebih menyenangkan kalau kita pergi bersama.
Nanti kutraktir berlibur jika menang lotre.
Kau bahkan tak pernah beli lotre.
Aku akan beli mulai kini.
Terima kasih atas kerja keras kalian sampai belum pulang.
Kutraktir makan usus sapi sepulang kerja.
Ayo tutup toko.
- Baik. - Baik.
Baik.
Selamat datang di Alanga.
- Selamat datang! - Selamat datang!
Silakan masuk.
- Sebelah sini. - Apa kau suka ini?
Ini tas model baru.
Terima kasih.
Terima kasih. Nikmati perjalananmu.
- Terima kasih. Nikmati perjalananmu. - Terima kasih. Nikmati perjalananmu.
Mari bersulang untuk merayakan kenaikan pangkat Oh Pyeong-hwa.
- Bersulang. - Bersulang.
- Selamat. - Selamat.
Kalian kenapa? Jangan begitu.
Memang kenapa?
Bu Yoo bilang penilaian promosi kali ini dilihat dari penjualan produk.
Tingkat penjualan pribadimu dan tim nomor satu.
- Sudah pasti naik pangkat. - Benar.
Perjuanganmu selama ini tak sia-sia.
Bu Oh, saat ke atas sana, tolong jangan lupakan kami
dan ajak kami naik.
Aku akan setia kepadamu.
Cukup.
Sudah kubilang jangan berlebihan.
Bu!
Selamat malam.
Kenapa kau terlambat?
Kami bosan tanpamu.
Kelihatannya sama sekali tak bosan.
Kalian pasti lebih senang tanpa aku.
Astaga, jangan bilang begitu.
- Silakan duduk. - Terima kasih.
- Minta satu bir tong. - Ya.
Kerja bagus, Semua.
Terutama bagi orang yang paling berjasa membawa kita dari tim
yang selalu peringkat akhir
menjadi tim dengan penjualan tertinggi, Oh Pyeong-hwa. Tepuk tangan!
Semua berkatmu. Terima kasih.
Tim kita menjadi nomor satu
berkat kalian.
Ini hadiah dariku.
Aku tak enak menerima hadiah sendiri, padahal semua sudah bekerja keras.
Kau berhak menerimanya.
Jangan sungkan. Pakai saja.
Terima kasih banyak.
Baiklah. Selain itu, puncak acara hari ini adalah
sebuah pengumuman penting.
Ada salah satu dari kita yang dipromosikan menjadi purser.
Orangnya adalah…
SELAMAT ATAS PROMOSIMU, OH PYEONG-HWA
Selamat atas promosimu menjadi purser.
Terima kasih atas kerja kerasmu, Mi-na.
Aku?
Ini syal pursermu.
Terima kasih.
Aku akan bekerja keras. Terima kasih.
Selamat atas promosimu, Bu Mi-na.
Terima kasih.
Luar biasa.
Sudah kuduga kau cocok pakai itu.
- Jangan cerca aku - Jangan cerca aku
- Dengan sebutan wanita keji - Dengan sebutan wanita keji
- Demi kebaikanmu - Demi kebaikanmu
Aku hanya memilih untuk berpisah sesaat
Maafkan aku.
Aku lancang sekali melangkahimu,
seniorku yang terhormat.
Tidak masalah.
Jangan hiraukan aku.
Kerja bagus, Mi-na. Selamat.
Tidak masalah apanya?
Kau iri, 'kan?
Jujur saja kalau kau iri.
Sok biasa malah lebih terlihat menyedihkan.
Berhenti minum.
Kau mabuk.
Itu dia. Siapa suruh kau ada di sini?
Kenapa kau membuatku
merasa serbasalah pada hari sebahagia ini?
Kau membuatku merasa bersalah.
Apa-apaan ini?
Aku tidak nyaman.
Kenapa kau diam di sini saat dingin begini?
Kau bisa terkena flu.
Terima kasih.
Kau baik-baik saja?
Tidak.
Aku tidak baik-baik saja.
Aku malu…
karena begitu berharap.
Pyeong-hwa.
Apa kau ingat perkataanmu dahulu?
"Aku hanya suka terbang."
Dahulu memang begitu.
Sekarang pun masih.
Konon orang kerap bingung
menilai apa yang dia ingin dan apa yang dia suka.
Bukankah yang kau inginkan itu penerbangan yang indah?
Bila aku menjadi purser,
bukankah penerbangan akan terasa lebih indah?
Kini kau sudah cukup keren.
Aku bertekad ingin menjadi pramugara sepertimu.
Seperti aku?
Kau lihat apa selama ini?
Kau tidak lihat nasibku?
Aku bisa lihat.
Aku selalu melihatmu.
Kau selalu bekerja maksimal demi kenyamanan
dan keamanan penumpang.
Alih-alih Oh Pyeong-hwa sebagai purser,
lebih keren Oh Pyeong-hwa
sebagai pramugari.
Terima kasih.
Walau tak menghibur,
aku akan lebih bersemangat.
Mari berjalan.
Kenapa hari ini kau mendadak mengajak berjalan?
Ini hari yang indah.
Cuaca maupun suasana hatiku bagus.
- Sesekali kita harus jalan. - Aneh sekali.
Bau segar apa ini?
- Kau pakai parfum? - Ini wangi,
bukan bau.
Wangi!
Wangi parfum.
Ada-ada saja.
Terserah aku mau pakai atau tidak.
- Selamat pagi. - Ya, selamat pagi.
Pak Gu.
Dia adalah pegawai paling lama di hotel kita.
Sudah 30 tahun.
Tinggal lurus ke situ, lalu belok kiri.
Dia sungguh hebat.
Tiga puluh tahun?
Kenapa?
Tidak apa-apa.
Selamat pagi.
Pagi yang indah.
Ya.
Pagi yang indah.
Hari ini akan menyenangkan.
"Pagi yang indah?"
Jangan.
Ada apa?
Kenapa kau tampak begitu senang?
Kau salah lihat.
Tidak, aku tidak salah. Aku yakin ada sesuatu.
Benar, 'kan, Sa-rang?
Aku tidak yakin.
Lihat ke depan.
Kenapa tidak yakin, ya?
No comments yet. Be the first to leave one.